Zainuddin Yazid Zaidan Kupret [grundelan]

Akhir Piala Dunia pagi ini membuat inyong sulit berkonsentrasi. Bukan karena Prancis kalah dari Italia. Tapi karena Zidan menanduk Materazzi di lapangan.

Dul Kupret!

Betul-betul Kupret!

Pasti banyak orang seperti inyong, yang kecewa kepada Zinedine Zidane. Inyong jadi teringat kata mutiara di buku SMA inyong: Cintailah orang lain sekadarnya saja karena kita tidak tahu mungkin suatu saat kita membencinya.

Bagi inyong, pertandingan antara Prancis dan Italia tidak bermakna apa-apa. Seandainya pun Prancis menang, itu sama sekali tidak inyong pedulikan karena inyong lebih peduli dengan kemenangan Zidan.

Barangkali karena inyong terlalu mengagumi Zidan. Sehingga ketika dia melakukan hal bodoh, inyong jadi sangat kecewa. Sama persis seperti ketika inyong begitu mengagumi Aa Gym, lalu tiba-tiba ia menjadi bintang iklan kenaikan harga BBM.

Berharap manusia tak punya cela ternyata juga tidak manusiawi. Zidan juga manusia biasa. Inyong menduga (biasanya dugaan inyong benar), sebelum mengeluarkan tanduknya, dia dipisuhi oleh Mat Rozi. Tampaknya Mat Rozi mengucapkan kata “mbokne anc**!” di depan Zidan.

Soal mat Rozi, okelah, dia memang tetangga kampung inyong yang terkenal gemar berkata-kata kotor. Tapi, yang betul-betul kupret adalah Zidan membalas pisuhan itu dengan menanduk. Ia tidak menyadari bahwa kepalanya plontos; bahwa tanduknya belum tumbuh. Padahal sudah inyong katakan kepadanya bahwa tanduknya baru akan tumbuh enam bulan lagi.

Kupret!

Inyong mengagumi dia bukan hanya karena dia pemain terbaik yang reputasinya tidak terlalu buruk, tapi juga—yang tak kalah penting—karena dia mewaikili dua jenis golongan manusia inferior di Eropa: Islam dan imigran. Mungkin ini primordialisme agama. Tapi inyong kira primordialisme ini tidak beda dengan primordialisme negara di ajang Piala Dunia.

Di sebuah daratan di mana orang Islam diidentikkan dengan teroris, kehadiran Zainuddin Yazid Zaidan yang disegani adalah sebuah penghibur. Dan karenanya, ketika hiburan itu hilang, inyong jadi ikut-ikutan kupret.

Kupret, pret, pret, pret.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s