Dewi Matahari Menanti Bayi Laki-laki [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Jepang bukan hanya tangguh dalam urusan teknologi. Masyarakat negeri ini juga kukuh memegang tradisi. Buktinya, kekaisaran ala Dewi Matahari ini tercatat sebagai monarki tertua di Planet Bumi. Meski telah beratus tahun melewati pasang surut sejarah, kekaisaran Jepang tak pernah goyah, apalagi tinggal sejarah.

* * *

Alkisah pada sebuah masa yang belum tercatat, di negeri surgawi, Takamagahara, hiduplah seorang Dewi Matahari bernama Amaterasu. Sang Dewi memiliki adik laki-laki, Susanoo, Dewa Badai. Suatu hari, Susanoo berkunjung ke taman milik Amaterasu. Melihat taman kakaknya yang indah tapi lengang itu, timbullah niat buruk Dewa Badai untuk memperlihatkan kekuatannya. Maka ia meniupkan angin kencang yang memorak-porandakan seluruh taman.

Demi melihat tamannya hancur berantakan, Amaterasu sedih tak terperi. Ia kemudian menyendiri di dalam gua. Berhari-hari, bermasa-masa. Akibatnya, seluruh negeri surgawi membeku dan gelap gulita karena tak ada sinar Matahari sehingga para penghuninya menderita.

Hingga suatu hari, dari tempat persembunyiannya, Dewi Amaterasu mendengar suara tetabuhan yang memikat hatinya. Maka ia pun keluar dari gua dan mendapati penghuni negeri sedang melakukan pesta untuk menghibur diri. Sejak Amaterasu muncul kembali, kehidupan negeri surgawi berjalan normal kembali. Matahari bersinar lagi. Itu adalah masa permulaan negeri Jepang. Amaterasu kemudian mengangkat cucunya, Ninigino Mikoto, yang kemudian dikenal sebagai Kaisar Jimmu, sebagai pemimpin pertama kerajaan Jepang.

Demikianlah asal-usul kerajaan Jepang. Penuh dengan mitologi. Sama seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia. Yang membedakan, meskipun sama-sama berangkat dari mitologi, dinasti kerajaan Jepang terbukti sanggup bertahan dari zaman ke zaman. Bahkan sampai zaman modern ketika mitologi dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan.

Menurut legenda yang dipercaya masyarakat Jepang, kaisar pertama itu hidup sekitar 600-an tahun sebelum Masehi. Itu artinya, kekaisaran Jepang sekarang berusia lebih dari 26 abad. Jauh lebih tua daripada kerajaan mana pun yang masih eksis saat ini. Ini membuktikan betapa teguhnya masyarakat Jepang memegang warisan leluhur. Eksistensi kerajaan Jepang bukan hanya sekadar ada, tapi memang benar-benar menjalankan fungsinya.

<b>Tak punya kekuasaan politik </b>

Sepanjang sejarah, kekaisaran Jepang beberapa kali mengalami masa-masa pasang surut. Dua periode penting di antaranya yaitu pada masa Kaisar Meiji (1868 – 1912) dan Kaisar Hirohito (1926 – 1989).

Pada masa Kaisar Meiji, Jepang melakukan reformasi yang kemudian dikenal sebagai restorasi Meiji. Sebelum diperintah Meiji, Jepang dikenal sebagai negara yang sangat tertutup terhadap kehadiran asing. Sistem sosial diangap sangat feodalistik. Tahun 1853, kekuatan militer Amerika Serikat (AS) datang dan memaksa negeri itu untuk membuka diri dalam perdagangan.

Sejak kedatangan kapal perang AS yang dikomandani oleh Matthew Perry itu, para pendekar samurai sadar bahwa di luar negeri mereka, nun jauh di seberang lautan, ada kekuatan yang layak diperhitungkan. Kehadiran para tentara berkulit bule dari arah Dewi Matahari terbit itu memaksa Jepang melakukan reformasi besar-besaran, terutama di bidang pendidikan. Jepang juga membuka diri terhadap perdagangan dan otomatis pengaruh budaya asing.

Restorasi Kaisar Meiji berjalan sukses. Hanya beberapa dasawarsa kemudian Jepang berhasil menjadi negara adidaya. Hebatnya, meskipun Kaisar Meiji membuka pintu Jepang buat pihak asing, negeri ini tak kehilangan identitasnya. Tradisi tidak luntur. Kaisar masih memegang peranan penting sebagai pemimpin tertinggi negara dan agama Shinto.

Di penghujung abad ke-19, masih di masa Kaisar Meiji, armada laut Jepang melakukan ekspansi. Tentara Uni Soviet yang terkenal perkasa pun dipaksa mundur dalam perebutan wilayah Tsushima.

Pada masa Perang Dunia kedua (PD II), era Kaisar Hirohito, tentara Jepang menantang militer AS dan sekutunya. Pangkalan militer AS di Pearl Harbour dibombardir.

Selama 3,5 tahun, “saudara tua” kita ini sempat mengambil alih kekuasaan di wilayah Nusantara dari tangan Belanda. Tapi sejarah mencatat, kecanggihan bom atom AS sanggup mengalahkan semangat bushido serdadu Jepang. Begitu Hiroshima dan Nagasaki dibom, Kaisar Hirohito memaklumatkan kepada semua tentaranya lewat radio bahwa perang harus diakhiri. Tepat dua hari sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya, Jepang bertekuk lutut kepada sekutu.

Saat itulah kerajaan Jepang sempat mengalami masa-masa sulit. Pihak sekutu menganggap Kaisar Hirohito perlu diadili karena dianggap ikut merencanakan perang. Sebagian kalangan malah menyebut dia sebagai penjahat perang. Tapi sejarah masih berpihak pada Hirohito. Ia tetap memegang tampuk kekaisaran. Hanya saja kekuasaannya mulai dikurangi. Setelah PD II berakhir, ia hanya berfungsi sebagai simbol negara, tidak memiliki kekuatan politik.

<b>Krisis ahli waris</b>

Secara fisik, kaisar-kaisar Jepang adalah manusia biasa seperti orang-orang Jepang pada umumnya. Meski begitu, mereka dianggap sangat istimewa karena dipercaya merupakan keturunan dewa yang sengaja diturunkan ke Bumi untuk menjadi pemimpin bangsa Jepang. Oleh warga Jepang, biasanya mereka tidak disebut dengan namanya, tetapi dengan gelar kemuliaan kaisar. Itu sebabnya, di Indonesia pada masa PD II, Kaisar Hirohito lebih dikenal sebagai Tenno Heika. Ini bukan nama, tapi gelar yang artinya Yang Mulia Kaisar.

Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga kerajaan sangat dibatasi oleh berbagai aturan protokoler. Mereka tidak bisa menikmati kehidupan bebas, tidak bisa bekerja di kantor seperti kebanyakan orang. Segala sesuatu diatur. Saking terbatasnya kehidupan mereka, sebagian kalangan menganggap mereka seperti ikan hias di dalam akuarium. Sebagian malah meledek, tugas mereka hanya melambaikan tangan di depan rakyat saat acara-acara resmi.

Ini bisa kita lihat dari kehidupan keluarga Kaisar Akihito, kaisar saat ini. Karena tak memiliki kekuasaan politik, wajah kaisar Jepang ke-125 ini kalah tenar dibandingkan dengan wajah Perdana Menteri Junichiro Koizumi. Kaisar dan keluarganya bisanya hanya muncul di depan publik saat acara-acara seremonial kerajaan.

Aturan ketat tak cuma dalam urusan kegiatan sehari-hari. Dalam urusan status kebangsawanan pun, kerajaan Jepang punya aturan ketat. Aturan-aturan ini dibuat tak lain untuk menjaga kemurnian garis keturunan dewa. Seorang putri keluarga kerajaan yang menikah dengan pria golongan rakya
t biasa harus rela melepas status kebangsawanannya. Tapi peraturan ini tidak berlaku bagi pangeran. Seorang pangeran kerajaan boleh menikah dengan wanita dari golongan rakyat biasa tanpa harus melepas status kebangsawanan.

Sebagaimana kita tahu, tahun lalu Putri Sayako, anak bungsu Kaisar Akihito, harus melepas status kebangsawanannya setelah ia menikah dengan Yoshiki Kuroda. Kebetulan, Kuroda “hanya” pegawai pemerintah biasa. Ia seorang rakyat jelata, bukan keturunan dewa. Tapi bagi Putri Sayako, status kebangsawanan tidak lebih tinggi nilanya daripada cinta.

Soal jenis kelamin kaisar pun, kerajaan Jepang punya aturan ketat. Menurut konstitusi yang berlaku sekarang, hanya keturunan laki-laki yang bisa menjadi kaisar. Aturan inilah yang belakangan banyak dibicarakan dan dipersoalkan. Persoalannya bukan perjuangan emansipasi tapi permasalahan kelangsungan kekaisaran.

Selama 40 tahun terakhir, kerajaan Jepang hanya melahirkan para putri. Tak seorang pun calon putra mahkota. Dari pernikahnnya dengan Permaisuri Michiko, Kaisar Akihito belum memiliki satu pun cucu laki-laki. Putra Mahkota Naruhito, anak tertua Akihito, baru memiliki seorang anak perempuan, Putri Aiko. Sedangkan Pangeran Akishino, anak laki-laki kedua, punya dua orang anak. Keduanya juga perempuan, Putri Mako dan Putri Kako.

Aturan-aturan kerajaan ini konon menjadi salah satu penyebab Putri Masako, istri Naruhito, mengalami tekanan mental. Sebelum menikah dengan Naruhito, Masako adalah seorang diplomat, bukan keluarga kerajaan, yang hidupnya tidak dibatasi banyak aturan protokoler. Ditambah lagi, sebagai istri putra mahkota ia merasa terbebani karena seluruh rakyat Jepang menanti lahirnya bayi laki-laki dari rahimnya. Padahal, kehendak dewa tak bisa diatur maupun ditebak. Bisa saja dalam suatu rentang masa, dewa-dewa tidak mengirim bayi laki-laki.

Meskipun para kaisar dan putra mahkota itu keturunan dewa, mereka juga tidak bisa menentukan jenis kelamin bayi yang dikandung permaisurinya. Walapun Putri masako telah menjalani berbagai terapi medis, tetap saja ia belum memperoleh keturunan laki-laki. Tekanan psikologis ini sempat membuat Sang Putri menghilang dari hadapan publik selama hampir dua tahun.

Tak hanya Putri Masako yang dibuat repot dengan aturan ini. Rakyat Jepang pun dibuat terbelah menjadi dua kubu. Kekosongan calon pewaris tahta ini membuat sebagian kalangan mengusulkan amandeman konstutusi kerajaan. Perdana Menteri Koizumi sendiri termasuk kalangan yang pro-amandemen. Kata kelompok ini, biarlah nanti Putri Aiko yang menjadi kaisar jika memang tak ada lagi putra mahkota. Syaratnya, sang putri tidak boleh memilih sembarang suami. Tujuannya jelas, untuk menjaga kemurnian garis keturunan dewa. Tapi usulan ini ditolak mentah-mentah oleh kelompok konservatif.

Sebetulnya kaisar perempuan bukan tidak pernah ada sepanjang sejarah kerajaan Jepang. Ratusan tahun lalu, jauh sebelum restorasi Meiji, kerajaan Jepang pernah dipimpin oleh seorang maharani, kaisar perempuan. Tapi undang-undang yang dibuat belakangan hanya membolehkan kaisar laki-laki memerintah Jepang. Kini, orang-orang berpikir agar konstitusi itu dilonggarkan, <i>dikashimura</i>
.

Sambil masih berharap lahirnya bayi laki-laki, kini mereka sedang berembuk. Pilihannya, tetap mempertahankan konstitusi lama, atau memperbolehkan Putri Aiko menjadi Maharani jika dewa di langit tidak juga mengirim bayi laki-laki.

(gambar silsilah lengkap keluarga kerajaan sekarang bisa dilihat di:

http://www.kunaicho.go.jp/e01/ed01-01gr-01.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s