DNA Tak Pernah Berdusta [intisari]

Teknologi identifikasi manusia terus berkembang pesat. Mulai dari identifikasi sidik jari, susunan gigi, lalu iris mata, hingga yang paling mutakhir tes DNA (<i>deoxyribonucleic acid</i>). Dengan uji DNA, banyak masalah pelik bisa dipecahkan dengan jitu. Mulai dari mengungkap kasus-kasus kriminal, perselingkuhan, bayi tertukar, hingga memastikan identitas mayat tak dikenal.

– – – – –

Masih masih ingat Dr. Azahari, buron polisi nomor wahid, yang tewas di Malang tahun lalu? Saat itu polisi mengumumkan kepastian jasad ahli bom itu berdasarkan data fisik dan sidik jari. “Kami bukan hanya seratus persen yakin, tapi seribu persen yakin,” kata Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Makbul Padmanegara waktu itu.

Tapi pada saat yang sama, banyak orang meragukannya dan menuntut polisi melakukan tes DNA. Maklum, polisi punya citra yang kurang baik di sebagian kalangan masyarakat. Polemik baru mereda setelah keluarga Azahari dari Malaysia datang dan memastikan bahwa jenazah itu memang jasad Azahari bin Husin.

Dalam kedokteran forensik, teknologi identifikasi memang menjadi senjata andalan. Bukan hanya untuk kasus-kasus pidana, tapi juga perdata. Tak cuma untuk identifikasi orang yang masih hidup, tapi juga yang sudah menjadi mayat.

Sebelum tes DNA ditemukan, metode identifikasi mengandalkan data-data fisik, sidik jari, dan susunan gigi. Dasar teorinya, tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari atau susunan gigi yang sama persis meskipun keduanya kembar.

Namun dengan semakin banyaknya masalah yang rumit, kedua metode ini tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Ini misalnya terjadi pada kasus Bom Bali pertama, di mana jari korban hancur atau terbakar. Karena rusak, sidik jari tak lagi <i>sidik</i> (bisa dipercaya).

Pada kasus macam ini polisi masih bisa mengandalkan sidik gigi. Karena terlindung di bagian bawah tengkorak, susunan gigi biasanya tidak berubah meskipun seluruh tubuh korban hangus terbakar.

Tapi kompleksitas masalah tidak berhenti sampai di sini. Baik sidik jari maupun sidik gigi membutuhkan data yang sudah tersimpan sebelumnya. Polisi Indonesia maupun <i>polis</i> Malaysia tidak bisa memastikan jasad Azahari kalau mereka tidak punya data gambar sidik jari atau sidik gigi saat ia masih hidup.

<b>Senjata pamungkas</b>

Dalam proses identifikasi, tes DNA dilakukan paling akhir setelah semua proses lain selesai. Fungsinya sebagai pemasti. Sebelum pemastian, identifikasi dilakukan berdasarkan data-data lain, misalnya tampilan visual, ciri-ciri fisik, pakaian dan perhiasan yang dikenakan, dokumen, pemeriksaan medis, golongan darah, sidik gigi, dan sidik jari.

Ahli forensik membuat kesimpulan dengan cara menyingkirkan dugaan yang tidak mungkin. Jadi, harus ada daftar nama yang diduga lebih dulu, baru dokter bisa menyimpulkan. Tidak seperti ilmu dukun yang tiba-tiba bisa tahu tertuduh tanpa ada dugaan lebih dulu.

Ambil contoh kasus Bom Bali. Kalau mayatnya bule, tidak mungkin ia Dulmatin atau Umar Patek. Kalau jenis kelaminnya perempuan, lebih mungkin ia bernama Elizabeth daripada Richard. Begitu seterusnya.

Setelah dugaan semakin mengerucut, barulah proses pemastian dilakukan. “Jadi, tes DNA itu tidak <i>ujug-ujug</i> (tiba-tiba) dilakukan begitu saja,” kata Dr. dr. Djaja S. Atmadja, Sp.F, SH, DFM, ahli DNA forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Sebelum tes DNA dilakukan, semua pemeriksaan pendahuluan harus diselesaikan lebih dulu.

Menurut Djaja, untuk memastikan identitas, ketiga jenis pemeriksaan (sidik jari, sidik gigi, dan tes DNA) harus dilakukan semuanya. Tidak bisa hanya dua. “Kedudukannya itu <i>dan</i>, bukan <i>atau</i>,” tegasnya. Karena itu dalam kasus identifikasi Azahari, ia berpendapat, meskipun polisi sudah memastikan dengan sidik jari, bukan berarti tes DNA tidak lagi diperlukan.

<b>Semua bagian tubuh</b>

Sejak tes DNA ditemukan tahun 1985 oleh Alec J. Jeffreys, ilmuwan University of Leicester, Inggris, kedokteran forensik mengalami revolusi. Banyak masalah-masalah rumit bisa dipecahkan. Termasuk masalah-masalah yang sebelumnya tidak bisa dipecahkan dengan metode identifikasi lama.

Salah satu kelebihan tes DNA adalah sifat universalnya. Tes ini bisa menggunakan sampel bagian tubuh mana saja. Syaratnya hanya satu, punya inti sel. “Semua sel di tubuh itu punya inti sel. Yang tidak punya itu cuma sel darah merah,” papar Djaja.

Itu artinya hampir semua bagian tubuh bisa menjadi saksi di pengadilan. Mulai dari jaringan kulit, otot, rambut yang tertinggal di kemeja, kuku, sisa sperma di seprai, percikan darah, air kencing, hingga bekas air liur yang menempel di bibir gelas atau mengering di puntung rokok.

Dalam banyak kasus, sidik jari maupun sidik gigi tak bisa dilakukan, tapi tes DNA tetap bisa. Misalnya pada korban yang hangus terbakar dan giginya hancur. Dalam kondisi seperti ini tes DNA tetap bisa dilakukan dengan sisa-sisa jaringan yang ada misalnya tulang atau sisa gigi.

Kelebihan lainnya, tes DNA bisa digunakan untuk menjawab banyak pertanyan, bukan cuma menyangkut identitas seseorang. Salah satu fungsi yang cukup populer adalah untuk memecahkan masalah paternitas (hubungan ayah – anak) dan maternitas (hubungan ibu – anak).

Selama sebelas tahun menjadi ahli DNA forensik, Djaja punya banyak cerita menarik tentang masalah paternitas ini. Satu kali pernah datang kepadanya seorang bapak bersama anak gadisnya yang hendak menikah. Sejak gadis itu masih kecil, sebetulnya si bapak curiga bahwa gadis itu bukan anak kandungnya. Ia yakin gadis itu adalah buah perselingkuhan istrinya yang sudah meninggal. Tapi ia tidak tega menuduh istrinya dan tetap mengasuh gadis itu sebagai anaknya sendiri.

Saat itu ia terpaksa minta diuji DNA karena si gadis membutuhkan wali nikah yang sah. Menurut hukum agama, jika dia bukan bapak kandung, berarti dia tidak sah menjadi wali. Supaya pernikahnnya sah, gadis itu harus menikah di bawah wali hakim. Begitu tes DNA selesai, ternyata hasilnya sesuai dengan kecurigaan si bapak. Ia terbukti bukan ayah biologis dari gadis itu. “Di depan saya keduanya menangis dan berpelukan,” kenang Djaja.

<b>Tak bisa dibantah</b>

Masalah paternitas ini belakangan semakin banyak muncul seiring makin banyaknya kasus perselingkuhan. Di Purwokerto, Djaja pernah menjumpai kasus lucu sekaligus edan. Seorang kakek dituduh menghamili cucunya sendiri yang masih ABG. Kasus ini sampai masuk ke pengadilan setempat. Tapi pembuktian mengalami jalan buntu karena si kakek sudah pikun, sementara pengakuan si cucu sulit dipercaya. Pengadilan kemudian meminta tes DNA di FKUI. Ternyata hasil tes membuktikan bahwa si kakek pikun itu adalah buyut sekaligus ayah biologis dari bayi yang dilahirkan ABG tersebut.

Kasus lain, seorang wanita Indonesia menikah dengan pria Inggris. Pasangan ini datang membawa seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Mereka minta tes DNA untuk membuat surat keterangan keimigrasian bahwa anak tersebut adalah memang anak kandung mereka. Surat keterangan itu mereka perlukan agar bisa membawa anak tersebut ke Inggris.

Tapi hasil tes DNA menunjukkan bahwa anak laki-laki itu tak punya hubungan apa-apa dengan mereka. Dia bukan anak biologis dari si pria bule itu maupun si wanita tersebut. Ternyata dari hasil pemeriksaan lanjutan diketahui bahwa wanita itu adalah mantan PSK langganan si pria bule. Mereka telah menikah. Ketika si wanita hamil, suaminya pergi ke luar negeri. Saat hamil muda, kandungannya gugur. Karena takut dimarahi dan ditinggal suaminya, si wanita diam-diam mengambil anak dari seorang kawannya. Dia tidak tahu bahwa tes DNA bakal mengungkap kebohongannya.

Masih banyak kasus paternitas lain yang pernah ditangani oleh Djaja. Termasuk kasus di kalangan selebriti dan orang-orang beken yang luput dari endusan wartawan <i>infotainment</i>. Penikmat acara gosip di televisi cuma tahu idolanya bersengketa soal bapak biologis dari anaknya. Tak banyak yang tahu bahwa ketika mereka diam dan menarik gugatan, sebetulnya karena mereka telah mengetahui hasil tes.

Ini memang salah satu kelebihan tes DNA. Asalkan dilakukan dengan benar dan teliti, ketepatan hasilnya tak bisa dibantah. “Akurasinya bisa sampai 99,999 persen,” tandas Djaja. Mungkin karena alasan ini pula, banyak pasangan takut melakukan tes DNA karena takut hasilnya tidak sesuai dengan tuduhannya.

Seperti kita tahu, belakangan banyak pasangan <i>seleb</i> yang sibuk menggelar jumpa pers tentang masalah perselingkuhan di rumah tangganya. Padahal kalau mau, mereka sebetulnya bisa menyelesaikan masalahnya dengan tes DNA. “Bukan hanya <i>bisa</i>, tapi <i>harus</i>!” tegas dr. Evi Untoro, kolega Djaja di FKUI. Yang Evi maksud, daripada ribut di media massa, para selebriti itu harusnya menyelesaikan masalahnya dengan tes DNA.

Dari situ nanti akan terbukti siapa yang benar. Tak perlu saling baku serang lewat media massa. Tes DNA bisa memastikan pemilik rambut yang tertinggal di pakaian dalam seorang suami; memastikan ayah dari janin yang gu
gur; juga memastikan ayah dari anak yang lahir dari wanita yang melakukan hubungan seksual dengan beberapa pria.

Soal biaya, tes DNA mungkin masih tergolong mahal buat kebanyakan orang Indonesia. Sekadar gambaran, untuk menentukan hubungan paternitas, biayanya sekitar empat juta rupiah. Tapi semahal apa pun, biaya ini tentu terhitung sangat murah buat kalangan selebriti.

Kalau mereka mau dan berani.

Boks

<b>KTP DNA</b>

DNA adalah rantai asam amino yang menjadi cetak biru manusia dan mengatur semua proses biologis. Setiap orang memiliki DNA yang khas. Tak ada dua orang yang memiliki profil DNA yang sama. Kekhasan lainnya, DNA seseorang selalu berasal dari orang tuanya. Separuh dari ayah, separuh dari ibu. Itu sebabnya tes DNA bisa memecahkan masalah hubungan anak – orangtua.

Negara-negara maju biasanya memiliki basis data profil DNA warganya. Sama seperti sidik jari di negara kita. Menurut catatan <i>Scientific American</i> tahun 2003, FBI (Federal Bureau of Investigation) AS menyimpan 40 juta data sidik jari dan 1,2 juta profil DNA. Sebagian besar berasal dari para pelaku tindak kriminal.

Sejauh ini sidik DNA belum dimanfaatkan sebagai tanda pengenal manusia sebagaimana sidik jari atau iris mata. Justru manusia kalah dengan ikan arwana. Semua ikan arwana yang dijualbelikan pasti memiliki sertifikat dan <i>barcode</i> pengenal DNA yang ditanam di bawah kulitnya. Cara ini untuk membedakan ikan arwana hasil budidaya dan arwana liar yang dilindungi.

Tapi, kata Djaja, di masa depan setiap orang akan memiliki kartu pengenal yang berisi profil DNA-nya. Seperti sidik jari di SIM atau KTP. Persoalannya hanya masalah waktu. Entah kita masih berkesempatan hidup di masa itu atau tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s