Murahnya Menelepon Lewat Internet [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin


Biaya telepon jarak jauh mahal? Sekarang mungkin ya. Tapi tak lama lagi revolusi akan terjadi. Pesawat telepon VoIP (<i>voice over internet protocol</i>) akan masuk rumah,
kantor, dan saku baju. Teknologi ini bisa membuat biaya cakap-cakap lewat telepon menjadi amat sangat murah. Karto yang berada di Surabaya bisa mengobrol dengan George di Washington cukup dengan membayar sambungan internet saja.

—–

Internet, seperti telah diduga sebelumnya, telah dan akan terus mengubah cara hidup manusia. Sejak surat elektronik (<i>e-mail</i>) diperkenalkan, cara berkirim surat lewat amplop mulai tersisih. Dan tak lama lagi, telepon konvensional bakal menghadapi pesaing berat yaitu telepon VoIP alias telepon internet.

Telepon VoIP betul-betul pesaing berat karena telepon ini punya “kartu as” yang bisa membuat telepon biasa gulung tikar. Kartu as itu berupa tarif yang super murah, bahkan bisa gratis. Bukan karena disubisidi negara, tapi karena teknologi.

Perbedaan kedua jenis telepon ini terletak pada cara mengirim suara. Perbedaan inilah yang membuat biaya telepon VoIP bisa jauh lebih murah, terutama untuk sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) dan sambungan langsung internasional (SLI).

Pada telepon biasa, suara kita dikirim dalam bentuk paket suara melalui jaringan telepon yang selama ini kita kenal. Kalau kita menelepon dengan telepon tetap, misalnya telepon rumah atau telepon kantor, paket suara itu dikirim lewat jaringan <i>public switched telephone network</i> (PSTN). Kalau kita menelpon dengan telepon seluler, misalnya memakai kartu Mentari, suara kita dikirim lewat jaringan <i>global system for mobile</i> (GSM). Jika kita menggunakan Telkom Flexi, maka suara kita dikirim lewat jaringan <i>code division multiple access</i> (CDMA).

Ketiga jenis jaringan telepon ini mengirim halo-halo kita dalam bentuk paket suara. Tapi pada telepon VoIP, suara kita tidak dikirim dalam bentuk paket suara, melainkan paket data digital. Proses ini mirip dengan proses pengiriman <i>e-mail</i>. Saat Karto <i>ngomong</i> “Halo, apa kabar, George?”, suara ini akan diubah lebih dulu menjadi data digital. Data digital inilah yang kemudian dikirim melalui jaringan VoIP.

Begitu sampai di tujuan, data digital ini diubah kembali menjadi paket suara. Sehingga di seberang sana, George pun mendengar apa yang Karto katakan. Persis seperti telepon biasa. Tentu saja proses pengubahan dari suara menjadi data digital lalu menjadi suara kembali ini hanya terjadi dalam tempo sepersekian detik. George di seberang sana tak perlu menunggu beberapa detik sambil memilin-milin rambutnya yang keriting.

Karena dikirim lewat jaringan internet, biaya yang dikelurkan hanya biaya sambungan internet. Tidak ada tagihan telepon interlokal ataupun SLI. Tak masalah apakah Karto dan George berada di lain kota atau bahkan lain negara.

<b>Bisa pakai telepon genggam</b>

Di Indonesia, aplikasi teknologi ini masih dalam tahap permulaan. Bagi kebanyakan orang, telepon jenis ini belum begitu populer. Maklum saja, internet masih merupakan barang mahal. Pemakainya masih kalangan terbatas, seperti yang dirintis oleh pakar internet Onno W. Purbo dan anggota komunitas VoIP Rakyat (www.voiprakyat.or.id).

Di negera-negara maju, telepon VoIP sudah mulai menggerogoti pasar telepon konvensional. Di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman misalnya, telepon VoIP sudah lazim dipakai untuk menggantikan telepon biasa. Penggunanya bukan hanya perusahaan-perusahaan besar, tapi juga pemakai pribadi.

Di Indonesia, pesawat telepon VoIP kini sudah tersedia di pasaran. Harganya sekitar Rp 2 juta rupiah. Salah satu produsennya adalah Cisco Systems, Inc. Pesawat telepon VoIP tersedia dalam beberapa bentuk pilihan. Ada yang bentuknya persis seperti telepon rumah, berkabel. Ada pula yang <i>wireless</i> (nirkabel). Kalau mau yang murah, kita bisa membeli <i>analog telephone adapter</i> (ATA) yang harganya sekitar Rp 1,5 juta. Alat ini berfungsi untuk menyambungkan telepon biasa ke sistem VoIP. Kalau mau lebih murah lagi, kita pun bisa ber-VoIP dengan memakai <i>headset</i> biasa yang harganya beberapa puluh ribu rupiah.

Agar bisa menelepon, yang diperlukan hanya satu set komputer yang telah di-<i>install</i> dengan program VoIP. Program ini pun bisa diunduh dari internet secara gratis. Salah satunya dari Skype (www.skype.com).

Dengan perangkat sederhana ini kita bisa melakukan pembicaraan dengan sesama pemakai jaringan VoIP di seluruh penjuru dunia secara gratis. Tanpa ada tambahan biaya lain di luar biaya sambungan internet. Persis seperti saat kita melakukan <i>chatting</i>.

Saat mengobrol, komputer memang harus tersambung ke internet. Tapi bukan berarti kita harus duduk di depan komputer seperti saat kita mengetik. Kita bisa menelepon seperti yang biasa kita lakukan selama ini. Bahkan jika menggunakan pesawat telepon VoIP nirkabel, kita bisa mengobrol sambil mondar-mandir di ruangan.

Tak lama lagi pilihan model telepon VoIP akan bertambah. Pesawat teleponnya akan tersedia dalam pilihan <i>mobile phone</i> yang bisa dimasukkan ke dalam saku dan dibawa ke mana-mana. Di kuartal akhir tahun ini, rencananya Nokia Indonesia akan meluncurkan produk <i>handphone</i> berbasis VoIP. Dua seri pelopor yang akan dirilis pertama adalah E61 dan E70. Dengan hadirnya dua produk yang dibanderol antara Rp 4 – 5 juta ini, menelepon lewat jaringan VoIP tidak harus dilakukan di depan komputer.

Cuma, kata Trisnawan Tjipto, manajer pemasaran produk Nokia Indonesia, produk ini belum ditujukan untuk pemakai pribadi, tapi lebih diperuntukkan buat perusahaan. Terutama buat mereka yang bekerja di bagian mesin uang perusahaan, di mana setiap panggilan telepon berati uang masuk.

Sebagai penyedia jaringan, Nokia bekerja sama dengan Avaya dan Cisco Systems. Jaringan yang dipakai bukan Skype, tapi jaringan <i>internet protocol private branch exchange</i> (IP PBX). IP PBX ini berfungsi sebagai pemancar yang akan menghubungkan satu pesawat dengan pesawat lain. Mirip dengan sistem ekstensi yang kita kenal selama ini. Sistem ini akan mempermudah dan mempermurah percakapan antarpersonel di satu perusahaan.

Semua percakapan yang dilakukan antarpersonel di jaringan itu gratis <i>tis</i>. Persis seperti saat kita mengobrol lewat saluran ekstensi. Kelebihannya, karena berupa <i>mobile phone</i>, saluran ekstensi ini bisa dibawa ke mana-mana, selama masih dalam jangkauan IP PBX.

Dengan sifat mobil ini, seorang staf penjualan akan terus tersambung dengan ekstensinya meskipun ia sedang berada di ruang rapat, sedang makan siang, atau bahkan saat berada di kamar kecil. Ini berbeda dengan saluran ekstensi yang kita kenal selama ini, yang hanya bisa berdering-dering ketika kita berada di luar ruangan.

Saat karyawan berada di luar kantor pun, <i>hape</i> VoIP ini tetap bisa dipakai asalkan ia berada di jangkauan <i>wireless fidelity</i> (WiFi). Area ini biasa disebut sebagai <i>hotspot</i>, bisa dijumpai di mal-mal atau gedung-gedung tertentu. Sebagai ilustrasi, jika Karto sedang <i>ngopi</i> di Starbucks Australia, ia bisa menelepon ke kantor secara gratis asalkan IP PBX di kantor sedang aktif.

Sambil <i>nyeruput</i> Frappuccino, ia bisa memberi laporan kepada bosnya tentang rencana ekspor ke Australia. Jikas bosnya sedang main golf pun, Karto tetap bisa di menghubunginya asalkan lapangan golf itu masuk dalam jangkauan WiFi.

Keuntungan ini tidak mungkin Karto dapatkan jika ia menggunakan ponsel berkartu GSM. Tidak juga ia dapatkan
jika menggunakan telepon PSTN. Hanya telepon VoIP yang bisa memberikan kemudahan sekaligus kemurahan ini.

<b>Pakai nomor luar negeri</b>

Dari tampilan fisiknya, pesawat telepon VoIP tidak berbeda dengan pesawat telepon biasa. Yang model telepon meja, bentuknya sama dengan telepon meja yang biasa kita pakai. Yang model <i>mobile phone</i>, bentuknya pun sama dengan telepon genggam biasa. Deringnya juga sama dengan dering telepon rumah atau <i>hape</i> yang selama ini kita kenal. Yang membedakan adalah perangkat VoIP di dalamnya.

Pesawat telepon VoIP umumnya <i>dual mode</i>. Selain bisa dipakai menelepon lewat VoIP, juga bisa dipakai menelepon lewat jaringan konvensional.

Yang lebih hebat lagi, kata Onno, pengguna VoIP kini bisa memperoleh nomor telepon Amerika Serikat atau Inggris secara gratis lewat internet. Dengan nomor telepon ini, pesawat telepon VoIP kita bisa menghubungi dan dihubungi oleh nomor telepon konvensional. Dengan segala kelebihan itu, wajar jika telepon VoIP diramalkan bakal mengancam keberadaan telepon konvensional.

Tapi bagaimanapun, di samping kelebihannya yang sangat murah itu, telepon VoIP tetap memiliki kekurangan. Kelemahan utama telepon VoIP adalah akses terhadap jaringan internet yang tidak selalu tersedia. Pada telepon VoIP Nokia misalnya, luas jangkauan IP PBX menjadi faktor penentu yang mempengaruhi kualitas komunikasi.

Jika Karto berada di luar jangkauan IP PBX, ia bakal kehilangan sinyal. Akibatnya fitur VoIP akan mati kutu. Meski begitu, sebagai alat komunikasi, <i>handset</i> ini tetap bisa dipakai karena ia juga bisa diisi dengan kartu GSM. Jadi, kalau VoIP sedang koit, giliran jaringan GSM memainkan peran. Karto masih boleh berhola-hola, tapi tentu saja dengan tarif jaringan GSM.

Kualitas suara telepon VoIP juga sangat dipengaruhi oleh kualitas koneksi internet. Jika koneksinya lambat, kecepatan pengiriman suara juga ikut lambat. Suara yang terdengar tidak bisa <i>real time</i>. Saat karto bilang, “Halo”, suara ini akan sampai di telinga George beberapa detik kemudian.

Agar bisa menerima panggilan setiap saat, telepon VoIP harus selalu dalam keadaan siaga sepanjang waktu. Artinya, pesawat telepon ini harus selalu <i>nyambung</i> ke jaringan internet. Ini menjadi masalah tersendiri, terutama bagi pemakai pribadi yang masih harus membayar mahal untuk sambungan internet. Tapi kelemahan ini mudah disiasati karena layanan VoIP juga punya fitur <i>voice mail</i>. Sebelum mulai berhalo-halo, penelepon bisa mengirim pesan suara kepada kawannya di seberang sana agar mengaktifkan sambungan VoIP.

Secara umum, kelemahan-kelemahan di atas bukanlah sesuatu yang sulit diatasi dari sisi teknologi. Karenanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa teknologi VoIP merupakan gerbang menuju era telepon murah. Dan kelak, ketika era itu benar-benar terjadi, penyedia layanan VoIP boleh membuat iklan sindiran: “Kalau bisa dibikin mahal, kenapa harus dibuat murah?”

Tanya kenapa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s