WC Kering [kecik]

Meskipun sudah tiga ratus tahun lebih tinggal di Jakarte, ingsun ternyata masih tidak bisa lepas dari budaya udik. Dalam hampir semua urusan, ingsun tak pernah bisa melupakan asal mula ingsun sebagai—kata Ebiet—anak kampung yang tumbuh dari air gunung. Perasaan sebagai Saridin yang sedang saba kota ini pula yang selalu mengganggu ingsun tiap kali harus membuang air berukuran besar di WC kering yang biasa ingsun jumpai di hotel-hotel dan gedung-gedung perkantoran.


Pada saat seperti itu, kegiatan buang hajat berubah menjadi sesuatu yang merrresahkan (betul-betul dengan tiga r). Berada di WC kering membuat ingsun merasa seperti bukan orang Indonesia, apalagi orang Lamongan. Buat ingsun, peper dengan paper rasanya seperti belum cebok.


Ini mungkin tampak sepele. Tapi ingsun yakin, banyak orang merasakan apa yang ingsun rasakan. Terutama mereka yang sesudah itu harus menghadap Tuhan.


Selama ini ingsun hanya bisa menggerutu di dalam hati padahal ternyata pemecahannya sederhana saja. Ini tips dari seorang kawan (yang baru ingsun ketahui hari ini dan langsung ingsun coba praktikkan): Sebelum membuang air, ambil beberapa lapis tisu. Basahi di wastafel. Gunakan tisu basah ini untuk istinjak pada tahap pembersihan. Baru setelah itu gunakan tisu kering pada tahap pengeringan.


Beres, bersih, tanpa harus merasa menjadi koboi. Dengan cara ini, kegiatan di WC kering tidak lagi meresahkan. Dan ingsun tetap bisa merasa menjadi orang Indonesia, lebih tepatnya orang Lamongan, lebih tepatnya lagi, anak kampung yang biasa istinjak dengan air gunung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s