Pohon Purba yang Menyebar Bersama Agama [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Seperti zaitun, nama pohon ini disebut-sebut di dalam kitab suci agama-agama samawi. Bibel menyebutnya <i>fig tree</i>. Alquran menyebutnya <i>at-tin</i>. Nama ini bahkan diabadikan menjadi nama salah satu surat di dalam Alquran, <i>At-tin</i>. Tapi selama ini sebagian besar dari kita hanya pernah mendengar sebutannya, tak pernah melihat sosoknya.

—–

Ini sebuah anekdot (dengan sedikit modifikasi) yang berasal dari Timur Tengah, tempat pohon tin berasal.

Suatu hari Nasruddin Hoja pergi ke istana untuk menghadap raja. Sebagai oleh-oleh, ia membawa sekeranjang buah kelapa. Di tengah perjalanan menuju istana, ia bertemu dengan seorang penjual buah tin.

Kepada Nasruddin, penjual buah tin itu bilang bahwa raja tidak suka dengan kelapa. Ia lebih suka diberi oleh-oleh buah tin karena daging buahnya lebih lunak, katanya memberi alasan. “Kau pasti menyesal membawa kelapa ke istana,” bujuk penjual yang seharian dagangannya tidak laku. Tanpa berpikir panjang, Nasruddin segera memborong buah tin dan memberikan kelapanya kepada penjual buah itu secara gratis.

Sampai di istana, ia pun memberikan hadiahnya itu kepada raja. Tapi, rupanya raja tidak berkenan dengan hadiah itu. Ia menganggap buah tin adalah buah remeh yang tidak layak untuk dipersembahkan kepada raja. Merasa murka, raja pun melemparkan buah itu ke muka Nasruddin.

Tiap kali mengenai muka Nasruddin, buah tin itu bonyok. Yang aneh, tiap kali terkena satu lemparan buah, Nasruddin malah berujar lirih, “Alhamdulillah!” Pengawal raja yang mendengar suara lirih itu heran dan bertanya tentang ucapan yang dianggapnya aneh itu. Jawab Nasruddin, “Penjual buah tin itu benar. Untung saja saya membawa buah yang lunak. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya tadi membawa buah kelapa.”

<b>Arab, Spanyol, Amerika</b>

Di Indonesia, tanaman ini mulai naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Para penghobi tanaman hias memburunya untuk dikoleksi. Di pameran Flona di Jakarta dua bulan lalu, tanaman ini menjadi salah satu tanaman langka yang diburu penghobi. Harga per tanaman mencapai beberapa ratus ribu rupiah.

Di samping penghobi, beberapa pesantren juga mengoleksi tanaman ini. Mereka mendatangkan bibitnya langsung dari Timur Tengah. Alasannya tentu saja bukan karena kelangkaannya, tapi lebih karena keistimewaannya dijadikan sebagai nama surat di dalam Alquran. Di Jakarta, kita bisa melihat sosok tanaman ini di depan mesjid At-tin, Taman Mini Indonesia Indah.

Dalam bahasa Inggris, tanaman ini disebut <i>fig tree</i>, <i>common fig tree</i>, atau <i>edible fig tree</i>. Di Indonesia, lucunya, tanaman ini dalam ucapan sehari-hari lebih sering disebut sebagai buah tin, meskipun yang dimaksud adalah pohonnya. Saat membeli pohon tin anakan, pembeli menyebutnya “bibit buah tin”.

Dalam hal kekerabatan taksonomi, pohon tin (<i>Ficus carica</i>) masih satu keluarga dengan beringin (<i>Ficus benjamina</i>) dan pohon bodhi (<i>Ficus religiosa</i>), pohon yang menaungi Siddharta Gautama saat mengalami pencerahan spiritual.

Tanaman ini diyakini berasal dari kawasan Timur Tengah, tempat agama-agama samawi berasal. Para ahli tanaman meyakini pohon tin tergolong tanaman purba yang telah ada di bumi sejak ribuan tahun lalu. Sebagai tanaman purba, pohon tin sudah dibudidayakan sejak tiga ribu tahun sebelum Masehi di lembah Mesopotamia, yang kini masuk wilayah negara Irak.

Pada era setelah Masehi, tanaman ini menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya mengikuti penyebaran agama-agama ibrahimi, terutama Islam dan Kristen. Dari semenanjung Arabia, tanaman ini menyebar ke daratan Eropa melewati selat Gibraltar, pintu masuk penyebaran Islam ke Spanyol.

Dari Eropa, tanaman ini selanjutnya dibawa oleh para misionaris Kristen dari Spanyol dan Portugis ke benua Amerika sekitar tahun 1520-an. Di wilayah Kalifornia, Amerika Serikat, jejak ini masih bisa dilihat dari nama salah satu varietas tin yang disebut tin mission atau tin fransiscan. Menurut catatan California Invasive Plant Council, Amerika Serikat, varietas ini dibawa oleh para misionaris ke Kalifornia pada paruh akhir abad ke-18. Sekarang, Kalifornia adalah salah satu penghasil buah tin terbesar di dunia setelah Turki dan Yunani.

<b>Dikawinkan oleh serangga khusus</b>

Dari tampilan fisiknya, pohon tin bukan tanaman yang istimewa. Helai daunnya menjari, ukurannya sebesar telapak tangan. Buahnya muncul dari ketiak daun. Ukurannya sebesar bola ping pong. Ada yang bentuknya lonjong, ada yang bulat. Warnanya bermacam-macam: ungu, merah, kuning, tergantung varietasnya. Yang membuat tanaman ini punya nilai jual tinggi bukanlah perawakannya, tapi kelangkaannya.

Menurut Junaedi, staf Laboratorium Biosari, Taman Wisata (TW) Mekarsari, di seluruh dunia diperkirakan ada 200-an varietas tin. Saat ini TW Mekarsari mempunyai koleksi tiga varietas yaitu tin hijau dan ungu yang berasal dari Arab, dan tin ungu dari Yordania.

Di kalangan penghobi, pohon tin biasanya ditanam di dalam pot. Istilah keren di kalangan mereka: tabulampot (tanaman buah dalam pot). Tingginya biasanya cuma hanya sekitar 1 – 2 meter.

Tapi jika dibiarkan tumbuh alami, pohon tin bisa mencapai belasan meter. Di negara-negara Timur Tengah, tanaman ini biasa dijumpai sebagai pohon besar. Bisa sebagai pohon peneduh, sama seperti saudaranya, beringin.

Pohon ini di kalangan pemulia tanaman lebih sering diperbanyak secara vegetatif dengan cara dicangkok. Di TW Mekarsari, selain dicangkok, tanaman ini juga diperbanyak dengan metode kultur jaringan. Cara ini memanfaatkan rekayasa bioteknologi. Bibit tidak berasal dari batang yang dicangkok, tapi dari tunas yang ditumbuhkan menjadi bibit-bibit baru.

Di alam bebas, tanaman ini berkembang biak dengan biji. Buahnya yang manis dan lembut disukai burung dan mamalia. Setelah masuk perut burung dan mamalia, biji buah tin menyebar bersama kotoran hewan-hewan itu.

Sebetulnya yang disebut sebagai “buah tin” adalah buah semu, bukan buah dalam pengertian biologi. Bagian yang biasa dimakan itu bukan buah sejati, tapi bagian bunga yang berupa ratusan tangkai sari dan putik.

Bunga tin tergolong hermaprodit. Di dalam satu bunga ada bungan jantan dan betina. Sebagian varietas bunganya berumah dua. Bunga jantan dan bunga betina berada di lain pohon.

Penyerbukan bunganya terbilang unik. Proses penyerbukannya dibantu oleh serangga khusus, <i>Blastophaga psenes</i> dalam sebuah hubungan simbosis mutualisme, saling menguntungkan. Mekanismenya sedikit unik. Pada tahap awal, serangga betina masuk ke dalam bunga melewati <i>ostiole</i>, lubang kecil di ujung bunga.

Selanjutnya serangga ini tinggal di dalam rongga bunga itu sampai bertelur. Telur diletakkan di putik bunga tin. Saat telur menetas, anak-anak serangga akan makan dan merusak sebagian putik sehingga bunga menjadi mandul. Saat mereka mulai dewasa, serangga-serangga ini akan keluar dari “gua persembuyiannya”. Ketika keluar, tepung sari bunga tin menempel di badan mereka.

Begitu berada di luar, serangga-serangga itu mencari pasangan dengan cara <i>blusukan</i> (keluar masuk) ke dalam bunga-bunga lain. Saat acara mencari pasangan inilah, proses penyerbukan bunga tin terjadi. Tepung sari yang menempel di badan serangga lepas dan bertemu dengan putik. Lewat
proses ini, serangga bisa hidup dan meneruskan keturunan, sementara bunga tin juga memperoleh manfaat penyerbukan.

Saat buahnya matang, warnanya berubah sesuai dengan varietasnya. Teksturnya lembut (sehingga ketika dilempar ke kepala Nasruddin langsung bonyok). Rasanya manis madu seperti ubi cilembu. Manis tapi tidak menyebabkan lidah bosan. Rasa manis ini disebabkan oleh kandungan dekstrosanya yang tinggi.

Di samping dimakan dalam keadaan segar, buah tin juga biasa dimakan dalam keadaan kering. Di negeri asalnya, buah tin biasa dijual dalam bentuk manisan kering, seperti kurma. Saat kering, warnanya pun kehitaman mirip kurma. Dengan dijual dalam keadaan kering, buah tin bisa memiliki nilai tambah karena umurnya bisa lebih tahan lama daripada dijual sebagai buah segar.

Selain dijual sebagai buah kering, tin juga sering dipakai untuk membuat sirup. Pada saat proses pengeringan, buah tin akan mengeluarkan cairan kental yang berisi gula. Mirip dengan ubi cilembu yang menghasilkan cairan “madu” saat dioven. Cairan inilah yang selanjutnya dipakai sebagai sirup.

Dengan kata lain, buah tin bisa diapakan saja. Bisa dimakan segar, kering, maupun dijadikan sirup. Bahkan dipakai melempar kepala orang pun bisa!

Boks

<b>Koleksi yang Bisa Menjadi Bisnis</b>

Selain sebagai koleksi, pohon tin kini juga bisa membuka peluang bisnis seperti tanaman-tanaman hias. Harga per bibit berkisar ratusan ribu rupiah.

Kini, bibit tanaman ini bisa diperoleh di kebun-kebun pembibitan. Salah satunya di Taman Wisata Mekarsari. Di sini bibit pohon tin setinggi 20-an cm dijual Rp 150 ribu per pot. “Pohon tin yang itu pernah ditawar 30 juta rupiah,” kata Junaedi sambil menujuk pohon tin yang tingginya sekitar satu meter, di dalam pot di depan kantornya.

Perawatan pohon tin pun relatif gampang. Tidak membutuhkan perlakuan khusus. Agar bisa tumbuh optimal, kata Junaedi, pohon tin sebaiknya ditanam di dalam pot. Medianya sebaiknya porous, berupa tanah yang telah dicampur dengan pasir dan pupuk kandang. Mirip kondisi padang pasir, tempat asalnya.

Tin tergolong tanaman yang genjah. Saat berumur enam bulan, tanaman ini sudah bisa menghasilkan buah. Biar gampang berbuah, Junaedi menyarankan batang pohon tin dipangkas supaya punya banyak cabang. Semakin banyak cabang, semakin banyak buahnya.

Pada usia enam bulan, pohon tin juga sudah bisa dicangkok untuk menghasilkan bibit-bibit baru yang siap dijual. Kalaupun tidak dijadikan bisnis, pohon tin bisa dijadikan sebagai tanaman hias. Daunya tidak gampang rontok sehingga tanaman ini juga cocok dijadikan tanaman dalam ruangan.

Di TW Mekarsari, pohon tin juga direncanakan akan dikebunkan sehingga pengunjung bisa melakukan wisata petik buah tin seperti wisata petik melon atau salak.

Advertisements

2 thoughts on “Pohon Purba yang Menyebar Bersama Agama [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s