Mohammad Sholahuddin Khan [kecik]

What is in a name?

Biasanya nama tidak begitu penting. Tapi pada saat-saat tertentu, nama bisa sangat berguna. Saat check in hotel di Cochin, India, resepsionis bertanya kepada ingsun, begitu ia membaca nama ingsun di paspor, “Are you a moslem?” Ingsun segera mafhum dengan pertanyaan itu. Sebelum berangkat ke sana, ingsun sudah mendapat tahu dari seorang kawan multiplier yang tinggal di Cochin bahwa satu dari lima orang penduduk setempat memang beragama Islam. Ingsun lebih mafhum lagi karena pertanyaan itu diajukan pada bulan Ramzan.

Begitu ingsun menjawab ya, resepsionis berwajah manis itu dengan manis budi segera menawarkan diri untuk mengatur jadwal sarapan ingsun pukul tiga dinihari, sebagai sahar.

Sebetulnya ingsun malu kepada diri sendiri mengaku sebagai orang Islam. Ingsun memang berpuasa, tapi hanya menahan diri dari makan dan minum saja. Selebihnya, tidak (ah, bukan tidak, tapi belum, mudah-mudahan). Tapi tawaran itu tetap ingsun terima dengan senang di hati. Dan benar saja, seandainya malam itu ingsun tidak makan roti dinihari, sangat mungkin ingsun tidak kuat menahan lapar dan haus selama sehari penuh karena sudah dua hari tidak bertemu dengan nasi.

Terbukti, nama ingsun berguna. Setidaknya untuk membantu ingsun menjaga identitas.

Tapi nama ini membuat ingsun semakin malu kepada diri sendiri ketika ikut sholat tarawih di sebuah masjid. Imamnya seorang bocah. Betul-betul bocah. Wajahnya mengingatkan ingsun pada Ali, bocah Iran di film Children of Heaven.

Saat pertama melihat dia maju ke pengimaman, ingsun menyangka dia akan membereskan sajadah atau memasang mikrofon. Tapi ketika para makmum berdiri, ingsun baru sadar bahwa dia adalah pemimpin di masjid itu.

Ingsun merasa seolah-olah tubuh ingsun mengkerut ketika mendengar ia membaca surat-surat panjang. Rupanya dia seorang penghapal Al-quran.

Mahasuci Tuhan. Mahasuci Tuhan. Mengapa tidak Kau cipta aku seperti dia.”

Setiap selesai salam, ingsun selalu meliriknya, memastikan bahwa ia bukan orang dewasa yang badannya kerdil. Dan memang bukan. Ingsun membandingkan, saat seusia dia, pekerjaan ingsun hanya bermain, sekolah, berkeliling naik sepeda BMX, atau mencuri tebu dan mangga muda di ladang paman ingsun.

Selesai sholat, ingsun mengajaknya berkenalan.

What’s your name?”

Niyasutha,” jawabnya dengan suara hampir tidak terdengar, “And you?”

Mohammad Sholahuddin (Khan).”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s