Jangan Lupakan Jasa Hewan Coba [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

[Narasumber wawancara: Olwin Nainggolan, staf Laboratoium Hewan Coba, Litbang Depkes. Atas permintaan yang bersangkutan, namanya tidak disebut di tulisan.]

Mereka punya jasa besar bagi kemaslahatan umat manusia. Karena jasa mereka, para ilmuwan bisa menemukan obat-obatan. Dengan obat-obat itu, manusia bisa melawan penyakit, memperpanjang harapan hidup, hingga mempercantik diri. Semua itu tak mungkin terjadi tanpa pengorbanan mereka menanggung sakit di laboratorium.

—–

Sebelum manusia mengenal ilmu kedokteran, fungsi binatang baru sebatas sebagai mata rantai makanan yang berada di bawah manusia. Dengan tombak dan panah, manusia berburu hewan, lalu mengambil dagingnya untuk dimakan, dan bagian tubuh lainnya untuk keperluan hidup yang lain.

Pemanfaatan hewan sebagai objek percobaan dimulai ketika manusia mulai mengenal ilmu kedokteran. Pada abad kedua Masehi, Claudius Galenus, dokter Romawi yang dikenal sebagai Bapak Bedah, memelopori pemanfaatan hewan sebagai objek penelitian kedokteran. Pada masa itu, aturan gereja melarang segala bentuk autopsi jasad manusia. Untuk melakukan penelitian antomi, ia membedah tubuh babi dan kambing.

Seiring perkembangan ilmu kedokteran, pemanfaatan hewan sebagai objek percobaan juga terus berkembang. Kini, penelitian obat nyaris tidak mungkin bisa dipisahkan dari penggunaan hewan coba. Untuk menguji apakah suatu obat beracun atau berkhasiat, obat itu lebih dulu diberikan kepada hewan coba. Jika pada hewan coba terbukti berkhasiat dan tidak beracun, barulah obat itu dicobakan pada manusia.

Dari deretan hewan yang sering dipakai sebagai hewan coba antara lain kelinci, tikus putih, mencit (mirip tikus, tapi lebih kecil), monyet, kalkun, anjing, babi, dan masih beberapa lagi. Tapi dari sekian banyak spesies itu, yang paling sering dipakai adalah mencit, tikus putih, dan kelinci. Tak aneh jika kemudian kita mengenal idiom “kelinci percobaan” untuk menggambarkan sesuatu yang menjadi objek percobaan.

Binatang-binatang ini menjadi “hewan terpilih” di antara jenis-jenis binatang lainnya karena alasan fisiologis. Kebetulan mereka bisa menjadi model simulasi yang bagus karena mirip dengan kondisi tubuh manusia.

Secara fisik, mereka tidak berbeda dengan saudara mereka yang dijual di pasar hewan. Kelinci laboratorium tak berbeda dengan kelinci piaraan. Bedanya hanya soal nasib. Yang satu dijual di pasar untuk dipiara di rumah, tiap hari diberi wortel sambil dielus-elus majikannya. Yang lain dirawat di dalam kandang laboratorium untuk disuntik dengan obat-obatan.

<b>Makan terjamin</b>

Sebagai bagian dari penelitian ilmiah, hewan coba akrab di kalangan mahasiswa jurusan ilmu hayat terapan seperti kedokteran umum, kedokteran gigi, kedokteran hewan, farmasi, dan biologi. Mereka karib bukan hanya dengan hanya mahasiswa S-1, tapi juga dengan mahasiswa S-2, bahkan S-3. Tanpa bantuan mereka, para mahasiwa itu tidak akan bisa menyelesaikan skripsi, tesis, atau disertasi. Jasa mereka ada di dalam setiap penelitian yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Tumbuhan Ini Terhadap Efek Itu”.

Jika sedang bernasib mujur, mereka mungkin hanya dipakai sebagai binatang coba untuk penelitian-penelitian ringan. Misalnya, menguji efek penurunan kolesterol, lemak darah, atau tekanan darah. Paling sial, mereka hanya akan dipaksa minum ekstrak daun seledri, kumis kucing, jati belanda, atau tanaman yang lain.

Jika nasibnya buruk, mereka akan menjadi hewan coba untuk penelitian-penelitian yang menggunakan zat-zat kimia berbahaya. Misalnya, penelitian tentang diabetes, fungsi liver, atau kanker. Jika itu terjadi, mereka harus bersiap-siap menderita sakit. Untuk meneliti efek antidiabetes, kelinci sehat harus dibuat seperti manusia yang sakit diabetes. Ia harus disuntik lebih dulu dengan bahan kimia tertentu yang akan membuat pankreasnya tidak menghasilkan insulin.

Jika penelitiannya tentang fungsi liver, misalnya penelitian obat hepatitis, hewan-hewan itu akan disuntik dengan bahan kimia yang akan mengganggu fungsi livernya. Sama seperti manusia yang menderita sakit hati. Jika penelitiannya tentang kanker, mereka akan disuntik dengan bahan kimia khusus yang membuat sel tubuh mereka mirip manusia yang menderita kanker. Baru setelah itu, mereka diberi ekstrak tanaman yang sedang diteliti khasiatnya.

Dalam urusan makan, hidup mereka memang terjamin. Ransumnya lebih bergizi daripa saudara mereka yang menjadi hewan piaraan. Di laboratorium, mereka makan pelet yang terbuat dari susu skim tinggi portein, kedelai, beras, kacang tanah, vitamin B kompleks, dan mineral.

Mereka tak perlu mencari makan sendiri seperti tikus rumah atau tikus got. Dalam sehari, seekor tikus putih bisa menghabiskan sekitar 20 gram pelet. Sementara mencit yang ukuran badannya lebih kecil biasanya menghabiskan makanan separuhnya.

Kebersihan kandang mereka juga terjamin. Alas tidur mereka serbuk gergajian kayu yang empuk. Mereka boleh buang kotoran sesukanya di situ, tak perlu merisaukan masalah sanitasi karena dua kali dalam seminggu, kandang mereka dibersihkan. Serbuk gergajian dioven untuk membasmi kuman-kuman yang bersarang di situ.

<b>Dibuat sakit</b>

Soal makan dan tempat tinggal, kehidupan mereka memang terjamin. Tapi dalam urusan kebebasan, mereka kurang beruntung dibandingkan hewan rumahan. Selama penelitian, mereka dikarantina di dalam kandang, tidak boleh bermain-main di luar. Di laboratorium, kelinci tidak bisa berlaku jail, mengerjai orang lain seperti kelakuan Bugs Bunny, tokoh kartun Looney Tunes.

Mencit dan tikus juga tidak bisa berlaku nakal seperti Jerry, seteru Tom dalam film kartun yang sangat populer itu. Di laboratorium, hewan-hewan itu harus menurut dengan jadwal yang telah dibuat para peneliti. Senakal-nakalnya, hewan-hewan imut itu hanya bisa menggigit jari tangan peneliti yang teledor dan kurang hati-hati.

Selama menjadi hewan coba, mereka juga tidak boleh bergaul dengan lain jenis kelamin, apalagi kawin. Sejak berumur satu bulan, yang jantan dipisah dengan yang betina. Pemisahan berdasarkan jenis kelamin ini tentu saja karena alasan kesahihan penelitian.

Jika mereka dibiarkan bergaul bebas dengan lawan jenis, bisa dipastikan banyak di antara mereka yang akan hamil. Hewan-hewan kecil itu dikenal sangat cepat beranak pinak. Sebagai gambaran, masa kehamilan seekor mencit betina hanya 20 hari. Beberapa hari setelah melahirkan, ia sudah siap kawin lagi, hamil lagi, lalu beranak lagi, begitu seterusnya.

Jika mereka dibiarkan kawin mawin di dalam kandang, dalam tempo sebentar saja kandang mereka akan penuh sesak dengan mencit-mencit atau tikus yang baru lahir. Jika mereka dibiarkan seperti itu, penelitian akan menjadi kacau balau. Peneliti akan kesulitan menarik kesimpulan yang valid dari data yang mereka kumpulkan.

Setiap interval waktu tertentu, sampel darah mereka diambil untuk diperiksa. Pada kelinci, sampel darah biasanya diambil dari pembuluh darah di daun telinga. Untuk mencit atau tikus, darah biasanya diambil dari ekor mereka. Dari darah inilah, peneliti bisa melihat penurunan kadar gula, kolesterol, atau lemak darah, sesuai dengan tujuan penelitian.

Satu penelitian biasanya menggunakan beberapa puluh hingga beberapa ratus mencit atau tikus. Semakin banyak variabel yang diteliti, semakin banyak jumlah hewan coba yang digunakan.

Untuk membedakan satu mencit dengan mencit lainnya, masing-masing diberi tanda. Kadang berupa lubang di cuping telinganya yang tipis. Kadang berupa bercak kuning bekas tetesan asam pikrat di rambutnya (yang biasa kita sebut sebagai bulu).

Di akhir masa penelitian, hewan-hewan lucu ini akan menghadapi saat-saat akhir hayatnya. Begitu selesai dipakai untuk peneltian, semua hewan coba itu dieutanasia (dimatikan). Metodenya bisa menggunakan cara fisik atau memakai bahan kimia.

Untuk hewan kecil macam mencit atau tikus, eutanasia biasanya dilakukan dengan cara dislokasi tulang leher. Dengan sekali gerakan, tulang leher mereka dipatahkan sehingga mereka meninggal dunia dengan cepat. Jika jumlahnya sangat banyak, misalnya ratusan ekor, eutanasia biasanya tidak dilakukan dengan dislokasi leher seekor demi seekor. Secara berkelompok, mereka dimasukkan ke dalam bejana tertutup yang diisi dengan cairan eter.

Untuk hewan yang dagingnya bisa dimakan, seperti kelinci, nasib mereka bisa sedikit berbeda. Menurut protokol laboratorium yang baku, mestinya semua jenis hewan coba harus dieutanasia lalu dikubur begitu selesai dipakai penelitian. Tapi di negara berkembang macam Indonesia, kelinci percobaan kadang tidak dikubur begitu saja selesai menjalani masa karantina.

Setelah disembelih, daging mereka yang lembut biasanya dimakan. Tapi ini hanya berlaku untuk kelinci yang cuma diberi bahan-bahan tidak berbahaya misalnya lemak, kolesterol, ekstrak daun seledri, dan sebangsanya. Untuk kelinci yang sudah disuntik dengan bahan kimia berbahaya penyebab kanker, diabetes, atau sakit liver, tentu saja tidak ada yang berani menyantap dagingnya.

<b>Hak asasi hewan</b>

Karena adanya unsur sakit di dalam penelitian, para ilmuwan kemudian membuat kesepakatan agar metode penelitian tidak terlalu menyakitkan. Di Amerika Serikat dan Jerman misalnya, para ilmuwan punya kode etik penggunaan hewan coba. Mereka sepakat bahwa hewan coba juga punya <i>animal rights</i> (hak asasi hewan). Karena itu, penggunaan hewan coba harus seminimal mungkin. Jika bisa, penelitian lebih dianjurkan menggunakan model alternatif seperti kultur jaringan.

Kalaupun terpaksa menggunakan hewan coba, jumlahnya harus seminimal mungkin. Perlakuan kepada mereka juga harus sebisa mungkin tidak menyakitkan. Kata mereka, “Jika kita bisa menarik garis ekstrapolasi dari hewan coba ke manusia, mestinya kita juga bisa menarik garis ekstrapolasi dari manusia ke hewan coba. Nyeri pada manusia adalah juga nyeri pada hewan coba.”

Karena alasan ini, sebagian kalangan menolak penggunaan hewan coba untuk penelitian-penilitian yang tidak menyangkut hidup-mati manusia, seperti kosmetik. Mereka berargumen bahwa hewan-hewan itu tidak perlu menderita hanya untuk tujuan kosmetika manusia.

Bagiamanapun, mereka harus diperlakukan dengan manusiawi (hewani?). Manusia harus berterima kasih kepada mereka. Tanpa bantuan mereka, manusia tidak akan bisa melawan diabetes, hepatitis, kanker, dan penyakit-penyakit mematikan lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s