Menikmati India Apa Adanya [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Di film-film Bollywood, orang India punya ciri khas gemar berjoget. Mereka mengekspresikan sedih, senang, marah, jatuh cinta, bahkan dendam dengan berdendang dan bergoyang. Tapi di kehidupan mereka sehari-hari, karakter ini sama sekali tidak tampak. Yang tampak adalah kesahajaan dalam hampir semua urusan. Jejak ajaran swadesi Mahatma Gandhi masih bisa dilihat dengan jelas. Sejelas gambar Gandhi di semua pecahan kertas uang rupee.

—–

Saat menghadiri acara Kerala Travel Mart (KTM) 2006 di Cochin, Kerala, India, beberapa bulan lalu, saya punya kesempatan melihat dan merasakan India yang sebenarnya. Bukan hanya lewat citra yang dibangun oleh film-film Shah Rukh Khan atau Amitabh Bachchan.

Banyak hal berkesan yang saya dapat. Salah satunya yang remeh tapi sulit dilupakan adalah soal makanan. Saat berangkat, saya sengaja membawa sambal, sebagai persiapan jika lidah saya tidak bisa kompromi dengan masakan India.

Saat transit di bandara Changi Singapura, saya sempat ketir-ketir dengan bekal ini ketika petugas keamanan memeriksa tas penumpang. Di depan saya, petugas pemeriksaan mengeluarkan sambal dari tas Sariah, seorang tenaga kerja wanita asal Indramayu yang sedang berangkat ke Abu Dhabi. Dengan menggoyang-goyangkan kepala dan telapak tangannya, petugas itu memberi isyarat bahwa penumpang dilarang membawa semua jenis cairan dan pasta, termasuk sambal.

Saat itu saya pasrah saja. Tapi rupanya tas saya hanya melewati mesin skrining. Petugas tidak meminta saya membukanya seperti yang ia lakukan pada Sariah. Sampai di sini sambal saya bisa lolos. Tapi saat transit kedua di bandara Mumbai, India, seorang petugas pemeriksaan yang bercambang dan berkumis baplang menyuruh saya mengeluarkan semua isi tas. Sampai di sini saya harus mengucapkan namaskaram (selamat tinggal) pada sambal yang saya sayangi itu. Juga kepada Sariah yang waktu itu percaya begitu saja ketika saya mengaku bekerja di India sebagai sopir.

Hari pertama di India, saya hanya sahur (waktu itu bulan puasa) secangkir susu kopi dan berbuka dengan roti tawar. Hari kedua, lagi-lagi saya hanya sahur roti tawar. Dua hari tidak bertemu nasi membuat saya lapar berat. Maklum saja, selera saya masih terlalu Indonesia. Roti tawar, bagi saya, tetap tidak bisa menggantikan fungsi nasi. Apalagi hanya satu atau dua tangkup.

Hari ketiga, saya terpaksa meninggalkan acara pembukaan KTM yang dihelat di Stadion Rajiv Gandhi. Pasalnya, perut sudah perih melilit, waktu berbuka juga sudah lewat dua jam tapi acara tak kunjung selesai.

Di luar stadion, saya hanya menjumpai warung kaki lima. Mereka menyebut warung-warung kecil di pinggir jalan itu dengan nama yang cukup keren, fast food restaurant. Tak mau ambil risiko, saya memilih menu ayam goreng dan sawut kentang. Penjual menyebutnya pothotho (pengucapan lidah India dari potato). Lumayan. Meskipun saya harus melawan aroma bawang dan kuah kari yang amat menyengat, sawut kentang itu setidaknya membuat saya merasa “makan nasi”.

Selama di sana, beberapa kali saya makan di fast food restaurant. Tapi di mana pun saya makan, masalahnya selalu sama. Lidah saya masih sulit beradaptasi dengan masakan India yang biasanya berkuah kental dan beraroma kuat. Aromanya gabungan berbagai rempah yang di Indonesia jarang dipakai sebagai bumbu masak, seperti adas manis, cengkih, kayumanis, kapulaga, dan rempah-rempah aromatis lainnya.

Nasi (rice) memang masuk daftar makanan pokok di Negeri Dewi Kunti ini. Tapi tidak semua rumah makan menyediakannya. Selama seminggu di sana, saya hanya sempat dua kali makan nasi. Selebihnya roti, sawut kentang, atau porotta (lembaran roti yang liat, terbuat dari tepung terigu). Kesimpulan sementara waktu itu, masakan India tidak cocok buat lidah Indonesia. Setidaknya jika lidah Indonesia diwakili oleh lidah saya.

Tapi pandangan saya terhadap masakan India berubah ketika saya mengikuti wisata makan malam di Pantai Alleppey, sebagai bagian dari acara KTM. Dari empat belas jenis masakan tradisional yang sempat saya cicipi, hanya dua masakan yang rasanya enak. Selebihnya … sangat enak sekali. Namanya aneh-aneh, penyajiannya unik-unik, rasanya enak-enak, dan tidak enek seperti masakan yang sebelumnya saya jumpai di fast food restaurant.

Bahasa gelengan kepala

Selain ihwal makanan, India juga mengesankan dalam hal kehidupan masyarakatnya yang sederhana dan masih tradisional. Sehari-hari para wanita—yang umumnya berkulit keling, berbadan lencir dan berhidung bangir—memakai sari, pakaian tradisonal India. Sementara para pria, yang umumnya juga berkulit gelap dan berbadan tegap, memakai sarung. Tak hanya saat di rumah, tapi juga saat mereka bepergian naik bis atau bahkan naik pesawat.

Sikap sederhana mereka ditunjang oleh kebanggaan mereka terhadap produk-produk buatan dalam negeri. Bukan cuma dalam soal busana mereka menerapkan ajaran swadesi Mahatma Gandhi. Di sana, jalan raya dikuasai oleh mobil-mobil buatan dalam negeri yang bentuknya kuno mirip mobil era tahun 1950-an, seperti yang biasa kita lihat di film-film India saat Inspektur Vijay kejar-kejaran mobil dengan Tuan Thakur. Tidak banyak mobil buatan Jepang atau Eropa yang berseliweran.

Alat transportasi favorit warga setempat adalah bis kota dan oto. Oto, kependekan dari autorickshaw, bentuknya mirip bajaj Bajuri, tapi sedikit lebih lapang dan dilengkapi dengan argometer.

Tarif bis kota maupun oto tergolong sangat murah jika dibandingkan dengan tarif kendaraan serupa di Jakarta. Tarif bis jarak dekat hanya 3,5 rupee (1 rupee sama dengan 200 rupiah). Jarak jauh hanya 4 atau 5 rupee.

Semua bis di sana bentuk dan warnanya sama sehingga saya menemui kesulitan untuk mengingat-ingatnya. Apalagi trayek bis tertulis dalam aksara Malayalam. Saat pertama naik bis kota, saya sempat membuat kondekturnya pusing. Ketika ia menarik ongkos, saya menyodorkan pecahan uang 50 rupee kepadanya. Saat ia bertanya tujuan saya, saya menjawab, “Central bus station.” Saya menyebut demikian ini karena nama itulah yang tertulis di peta kecil yang dikeluarkan oleh hotel tempat saya menginap.

Sebetulnya sebagian besar warga setempat bisa berbahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari sebab bahasa Inggris adalah bahasa kedua setelah bahasa ibu mereka, Malayalam. Saat bicara dengan mereka, saya tak perlu ber-aca-aca nehi-nehi. Hanya sebagian kecil yang sulit diajak bicara dalam bahasa Inggris. Celakanya, pak kondektur yang sedang berada di depan saya waktu itu termasuk dalam bagian kecil itu.

Mendengar jawaban saya, rupanya kondektur itu tidak paham. Dia mendekatkan kupingnya ke muka saya. Saya mencoba menggunakan kosakata-kosakata macam finish, stop, terminal, tapi dia tetap saja menggoyang-goyangkan kepala pertanda tidak paham. (Orang India suka menggoyang-goyangkan kepala setiap kali bicara maupun berbahasa isyarat).

Karena dia tidak paham juga, saya pun ikut bingung lalu ikut-ikutan menggoyangkan kepala. Dengan goyangan kepala itu, saya bermaksud bilang, “Terserah situlah! Bayar berapa saja, turun di mana saja, tidak masalah!”

Kondektur itu dengan putus asa kemudian mengutip 4 rupee, dan memberi kembalian 46 rupee. Bagi dia, goyangan kepala saya bermakna sebuah jarak tempuh yang setara dengan tarif 4 rupee. Belajar dari pengalaman ini, saya kemudian mencatat dan mengingat nama-nama jalan yang sempat saya lalui. Resep ini rupanya berhasil. Sejak itu saya tak mengalami kesulitan naik bis.

Berisi tapi bersahaja

Sebagian bis menerapkan aturan hanya penumpang perempuan yang boleh duduk. Di bis pertama yang saya naiki, para penumpang pria termasuk saya, boleh duduk. Di bis berikutnya, ketika saya beranjak menuju kursi yang kosong, kondektur menggoyang-goyangkan kepalanya, sebagai isyarat melarang. Waktu itu saya masih belum mafhum. Tapi setelah beberapa saat saya baru sadar ternyata tidak ada satu pun penumpang berkumis yang duduk di dalam bis itu.

Yang unik, bis kota di sana tidak memakai kaca samping. Jendela dibiarkan terbuka sehingga angin yang bercampur debu dan asap leluasa menerobos ke dalam bis. Jika hujan, jendela itu hanya ditutup dengan kelambu kain terpal. Sederhana sekali. Sesederhana semangat khadi (kain tenun India) yang menjadi simbol kemandirian India sejak masa Mahatma Gandhi.

Kesan kesahajaan orang India semakin saya rasakan ketika membeli kartu telepon seluler dan mengunjungi toko-toko buku. Karena ponsel yang saya bawa dari Indonesia matisinyal di sana, untuk mempermudah komunikasi, saya membeli kartu ponsel prabayar Airtel (operator telepon India). Saya membelinya di sebuah toko kecil berkuran satu meter persegi, tepat di pinggir trotoar.

Awalnya saya menyangka bisa membelinya bebas seperti yang biasa saya lakukan di Indonesia. Ternyata untuk mendapatkan kartu telepon itu, saya harus mengisi formulir, menyerahkan kopi KTP, kopi paspor, dan satu lembar pasfoto.

Selesai dari kedai kartu telepon itu, saya pergi mencari toko buku. Di sana, harga buku super murah, rata-rata sepertiga lebih murah ketimbang di Indonesia. Dari tampilan fisiknya, toko-toko buku di Cochin lebih mirip gudang. Buku-buku berjejalan di atas rak-rak besi, di ruangan yang sempit. Tampilannya sama sekali tidak meyakinkan, padahal di dalamnya banyak koleksi karya klasik kelas dunia, seperti karya komplet William Shakespeare, Bertrand Russell, Karl Marx, Adolf Hitler, dan lain-lain.

Mereka menjaga karya-karya bersejarah itu seperti mereka menjaga peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya. Sebagai salah satu pusat kebudayaan tertua di dunia, India punya banyak peninggalan sejarah yang masih terawat hingga kini. “Kerala adalah wilayah multibudaya, multiagama,” kata Eugene, panitia KTM yang menjemput saya di bandara, setengah berpromosi. Hampir semua agama besar di dunia punya jejak di Kerala. Bukan hanya Hindu, tapi juga Kristen, Islam, bahkan Yahudi.

Dua peninggalan sejarah yang terkenal sebagai tujuan wisata di kota Cochin adalah Sinagoge Yahudi yang dibangun tahun 1568 M, dan Gereja St. Francis yang dibangun oleh Vasco da Gama pada tahun 1503 M.

Di samping menawarkan wisata sejarah, Kerala, yang iklminya tropis mirip Indonesia, juga punya andalan wisata Ayurveda dan Backwaters. Backwaters adalah sebuah wilayah perairan berupa danau yang luas, memanjang dan langsung terhubung dengan Laut Arabia. Di tempat ini, turis bisa memanjakan diri, mengarungi danau menggunakan rumah apung (houseboat). Rumah apung ini berupa perahu tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu. Panjangnya sekitar 25 meter. Meski tradisional, fasilitas di dalamnya lengkap, mirip hotel, bisa dipakai menginap di tengah danau. Cocok sebagai tempat bulan madu.

Kalau tertarik, datang saja ke sana. Tak perlu membawa sambal. Jika kebetulan satu pesawat dengan Sariah, tolong katakan padanya saya sudah tidak menjadi sopir lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s