Tuhan Orang-orang Miskin [kecik]

Kalau saja Muhammad Yunus, penerima hadiah Nobel Perdamaian asal Bangladesh itu, tinggal di Jakarta, pastilah ingsun akan berkunjung ke rumahnya. Pertama, untuk mencium tangannya, memberinya ucapan selamat. Kedua, untuk meminta dia meniup ubun-ubun ingsun agar ingsun kelak bisa menjadi seperti dia. Ketiga, kalau diperbolehkan, ingsun mau meminjam duit kepadanya.

Yunus telah menawarkan sebuah alternatif spektakuler dari—meminjam istilah Pak Mubyarto, guru besar fakultas ekonomi UGM—sistem ekonomi yang memuja keserakahan. Grameen Bank adalah bukti bahwa lembaga keuangan yang membiayai dan dibiayai orang-orang miskin tetap bisa hidup sehat dan mendunia.

Ingsun hanya membaca sedikit tentang Grameen Bank. Tapi dari sedikit yang ingsun baca itu, ingsun kira lembaga keuangan macam ini bisa menjadi model dari sistem ekonomi berketuhanan. Yang salah satu tujuan utamanya adalah, dalam ungkapan Rabbul mustadz’afin, Tuhan orang-orang lemah: li allaa yakuuna duulatan baynal aghniya’—agar kapital tidak hanya berpintal-pintal di kalangan pemilik modal.

Dalam hal ini, bank-bank syariah di Indonesia, ingsun kira, perlu banyak belajar dari Grameen Bank. Bank-bank syariah di Indonesia sudah memulai usaha yang sangat bermakna dengan mengganti sistem bunga dengan bagihasil. Tapi usaha ini saja, ingsun kira, tidaklah cukup kalau para pengutangnya masih golongan aghniya’. Bagihasil ataupun bunga hanya menunjukkan sistem pengembalian utang dan perolehan laba. Belum menunjukkan keberpihakan kepada debitur yang tidak memiliki agunan.

Tanpa banyak berkoar-koar dengan dalil-dalil agama, Grameen Bank bisa melakukan itu. Bank ini bisa memberikan kredit senilai beberapa puluh dolar AS, alias hanya beberapa ratus ribu rupiah, kepada jutaan ibu rumah tangga yang tidak punya jaminan apa-apa. Dengan kredit supermikro itu, para pengutang kecil itu memulai usaha jualan makanan kaki lima, memelihara beberapa ekor ayam untuk dijual telurnya, atau membuka warung kelontong kecil-kecilan.

Alangkah Muhammad Yunus bersedia mereplikasi Grameen Bank itu dalam skala nasional di Indonesia, dan menunjuk ingsun sebagai Direkturnya. Tentu dengan bangga ingsun akan bilang kepadanya bahwa ingsun juga orang Bangladesh (bangsa Lamongan ndeso).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s