I’tiraf [doa]

Masih belum, Tu(h)anku
Masih belum
Maafkan aku, Tu(h)anku
Maafkan aku
Hanya itu yang bisa kukatakan, Tu(h)anku
Hanya itu

* * *

Setiap kali melewati bulan itu dan mengawali bulan ini, hamba semakin merasakan betapa senandung i’tiraf Abu Nawas adalah sebuah penghayatan yang hamba yakin semua orang, kalau mau jujur, pasti merasakannya. Dari tahun ke tahun, dari syawal ke syawal, hamba hanya bisa mengamati diri hamba yang tidak juga beranjak lebih baik seperti harapan yang sudah ditekadkan berulang-ulang tiap tahun, tiap menjelang bulan puasa.

Ilaahi, lastu lil firdausi ahla/ wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi/

Sejak kecil hamba terbiasa mendengar syair ini disenandungkan dari corong suara di musholla dan masjid-masjid. Saking seringnya, hamba sampai tidak bisa menghayati maknanya yang demikian agung.

Duh Gusti, dosa kami seperti butiran pasir di pantai

Seorang psikolog menghibur hamba, “Jangan pernah cepat berpuas diri dan merasa sudah baik, sudah matang. Karena kalau sudah matang, itu pertanda sebentar lagi Anda akan membusuk.”

Benar juga. [Ma’sut hamba, benar bahwa manusia memang suka mencari alasan dan menghibur diri.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s