George Walker Buzz… [guyonan]

Seandainya Tuhan jaiz bercanda, sekali saja, ogut akan memohon agar Dia membuat Tuan Bush kembung dan tak bisa menahan kentut saat bertamu di Istana Bogor. Lalu besok paginya koran Lampu Merah akan menulis headline (sekaligus badan berita): Bush Kentut, SBY Nyium Baunya Tapi Cengar-cengir Saja, Bush Minta Maaf, Tapi SBY Bilang Tidak Nyium Apa-apa, Pura-pura Sedang Pilek Berat, Bush Senang Lalu Kentat-kentut Terus, Bass Buss, Bass Buss, SBY Akhirnya Tidak Tahan Lalu Bilang, Cukup, Mr. Buzz!! Demikian, wassalam.

[Ayam sori, Mr. Bush! I’m Bush Kidding! Kalau saja sampeyan tidak punya rencana datang ke negara ogut, pasti hari ini ogut tidak terhadang macet akibat demonstrasi.]

* * *

Sejak invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak, ogut selalu diserang rasa mangkel setiap kali melihat wajah Bush di koran maupun tivi. Rasa mangkel itu bahkan sanggup mengalahkan rasa geli ketika ogut melihat karikaturnya yang mestinya lucu. Ogut ingat, perasaan ini biasa ogut alami waktu masih bocah jika melihat wajah Ableh dan Pak Ogah di film serial Si Unyil.

Ogut yakin, Tuhan pun gemas dengan presiden koboi yang satu ini. Siapa pun Dia. Bukan hanya Tuhan milik anak-anak Irak dan Afghanistan, tapi juga Tuhan yang nama-Nya sering dipakai Tuan Bush sebagai atas nama saat berpidato sebelum menebar senjata pemusnah massal.

Ratusan ribu rakyat Afghanistan mati tertimbun reruntuhan perang, tapi Osama bin Laden yang diburu-buru itu tak jelas batang hidungnya. Apalagi upilnya. Puluhan ribu rakyat Irak tewas secara massal, tapi senjata pemusnah massal Irak yang dikoar-koarkan itu tetap tak jelas rupanya. (Kecuali raket pengusir nyamuk yang ditemukan Attilio dalam film Tiger and The Snow.)

Meski begitu, ogut menganggap upaya menolak kedatangannya sama seperti melihat peta dunia secara hitam putih, sama seperti cara pandang Bush. Menolak kedatangan seorang presiden negara lain (meskipun punya kecenderungan tiran) adalah bentuk isolasi diri yang, ogut kira, tidak berguna. Perkara bahwa Tuan Bush merepotkan warga Bogor, itu ogut kira lebih merupakan masalah pemilihan tempat, bukan masalah kunjungannya sendiri.

Sebagai bangsa yang baik hati, suka menolong, dan gemar menabung, kita tidak patut menolak tamu, terlepas dari perkara niat dan tujuannya. Sebagai seorang tamu, Tuan Bush harus dihormati. Paling tidak ia harus disuguhi laksa bogor, es doger, dan kalau bisa ubi cilembu.

Ogut kira, yang lebih penting adalah bagaimana kita (yang akan diwakili oleh Pak SBY) tidak menempatkan diri sebagai sekutu rendah yang menghibur Tuan Bush—meminjam puisi Taufik Ismail—dengan kata-kata yang berakhiran, “Duli, Tuanku!”

Kita harus bisa duduk satu meja—meminjam pamplet Rendra—untuk secara wajar bertukar kabar, duduk berdebat menyatakan setuju atau tidak setuju. Ogut kira, kita perlu sedikit lebih teguh memegang prinsip seperti Vladimir Putin atau Ahmadinejad, meski tak perlu terlalu konyol seperti Ahmadinejad (juga).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s