Poligami [*]

Agama

Alam semesta

Manusia

Spesies

Seks


An-nafsu haa hunaa

An-nafsu haa hunaa

An-nafsu haa hunaa


[*Es Teh Ninih panas dingin]

Advertisements

3 thoughts on “Poligami [*]

  1. Mohon maaf kalau terlalu panjang!ALASAN MENOLAK POLIGAMI(bahan untuk artikel poligami)SuratnoPasca poligami dai kondang Aa Gym, perdebatan klasik tentang hukum poligami menurut Islampun kembali mencuat. Kebanyakan, pelaku dan pendukung poligami, akan mensandarkan pandangan mereka pada dua alasan. Pertama, ada penggalan ayat Qur’an yang membolehkan poligami yakni:” ….nikahilah perempuan yang baik menurut kamu, dua, tiga dan empat ……”. Kedua, fakta bahwa Nabi Muhammad SAW mempraktekkan poligami.Menurut saya, dua alasan di atas tidaklah cukup memadai untuk menyatakan bahwa poligami diperbolehkan dalam Islam. Ada beberapa hal yang perlu kita cermati terkait dua hal di atas.Pertama, ayat di atas seharusnya tidak dibaca secara terpenggal, tetapi bersambung dengan kalimat selanjutnya yakni fain khiftum alla ta’dilu fawahidah (……lengkapnya: seandainya kamu kuatir tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah satu perempuan saja). Jadi persoalan terletak pada keterpenggalan dalam membaca ayat sehingga bisa menimbulkan kekeliruan interpretasi. Kalaupun mau diartikan secara literal, bahwa poligami diperbolehkan, tapi syaratnya harus adil. Maka Qur’an juga sebenarnya sudah menyatakan bahwa: “..walau kamu bersusah payah untuk adil, kamu tidak akan bisa”. Jadi persoalan disini terletak pada bagaimana membaca dan menafsirkan ayat Qur’an saja.Mari kita lihat juga asbab al-nuzul (sebab-musabab) turunnya ayat tersebut. Dari sisi historis, kita bisa liaha bahwa konteks pembolehan poligami dalam Islam pada mulanya bertujuan justru untuk membatasi, bukan menambah jumlah istri. Sebab dalam sejarah masyarakat Arab jahiliyyah (sebelum Islam datang), perempuan itu ibarat obyek yang boleh di apa sajakan oleh laki-laki. Maka banyak orang, termasuk Umar Ibn al-Khattab (sebelum masuk Islam), bahkan tega mengubur bayinya yang terlahir perempuan. Jelasnya, dimasa jahiliyyah, orang bisa beristri siapa saja dan berapa saja. Lalu Islam datang dengan aturan “maksimal empat”. Untuk masyarakat Arab yang demikian promiscuous dimana perempuan sama sekali tidak berharga, kalau Qur’an langsung bicara “Jangan Poligami!” jelas tidak masuk akal. Jangankan ada yang menerima, mau mendengarpun tidak. Kenapa empat? Saya ingin mengutip tulisan Ahmad Munjid di Koran tempo beberapa waktu lalu bahwa kajian Leonard Swidler (1976:144-148) tentang wanita dalam agama Yahudi cukup menarik disimak. Sebagaimana diduga, poligami adalah praktek budaya yang dulunya juga lumrah dikalangan Yahudi. Akhirnya, dalam tradisi Yahudi, pembolehan poligami akhirnya dibatasi sampai maksimal empat. Agaknya, poligami sebagai model hubungan laki-laki dan perempuan yang turun-temurun diwarisi dari tradisi Yahudi itu dizaman Nabi SAW telah berkembang demikian tak terkendali lagi di tanah Arab. Sehingga Qur’an kemudian mengembalikan tradisi itu kepada “maksimal empat”. Jadi kalau saja kita mau membaca ayat diatas tidak terpenggal dan menafsirkan ayat tersebut secara kontekstual,dengan pesan universal yang bisa diterima pemahaman manusia dari berbagai latar budaya dan sejarah, konteks “maksimal empat” dalam sejarah turunnya ayat Qur’an tersebut, Qur’an sebenarnya sedang meletakkan fondasi awal yang sangat penting untuk kesetaraan laki-laki dan perempuan. Dengan “adil” sebagai hakikat pesannya, soal wujud hubungan legal itu selanjutnya diserahkan kepada kematangan umat Islam dalam mempraktekannya. Jadi arahnya jelas, dari satu laki-laki dengan jumlah istri tak terbatas, menjadi istri “maksimal empat” menuju monogamy (laki-laki beristri satu) sebagai bentuk ideal. Jadi, bukan poligami yang merupakan bentuk ideal.Analogi yang sama bisa kita lihat pada soal perbudakan. Islam tidak pernah terang-terangan melarang perbudakan. Tetapi, dengan kesetaraan manusia sebagai prinsip kuncinya, dengan “membebaskan budak” sebagai bentuk penebusan kesalahan tertentu yang dilakukan Muslim, misalnya disamping treatment lain yang menyangkut soal ini, arah yang ditempuh jelas: menghapuskan perbudakan. Setelah lebih dari 14 abad ditinggal Nabi SAW, masihkah kita hendak menghalalkan perbudakan dan mempraktekkan poligami? Menurut saya, tentu tidak. Saya jadi ingat ungkapan Ahmad Munjid yang menyatakan: Lari di treadmill memang bisa menyehatkan, tetapi beragama seperti lari diatas treadmill tentu amat sangat mengenaskan.Kedua, memang benar, bahwa ada fakta bahwa di Madinah Nabi SAW memperistri 11 wanita. Sementara sebelumnya, di Mekkah Nabi SAW mengabadikan cintanya pada 1 orang istri saja: Khadijah. Bila Nabi SAW berpoligami, dalam konteks masyarakat Arab seperti saya tulis di atas, tentu bisa saya maklumi. Sayangnya tidak ada riwayat yang mengabarkan kesan Nabi SAW terhadap hidup bersama satu istri dibandingkan banyak istri. Yang ada, Nabi SAW senantiasa merindukan sosok Khadijah: istri tunggalnya di Mekkah.Akan tetapi, kalau saja kita mau menengok banyak peristiwa yang terangkum dalam Hadist, kita bisa menemukan penolakan Nabi SAW atas poligami. Ada sebuah Hadist yang menceritakan bahwa Ali bin Abi Thalib ingin berpoligami, menikah dengan wanita lain selain istrinya yakni Fatimah, putrid Nabi SAW. Lalu Nabi SAW mengungkapkan keberatannya. Bahkan Nabi SAW mengulang kalimat “ Aku tidak akan mengizinkannya”, sampai tiga kali. Lengkapnya, ungkapan Nabi SAW adalah sebagai berikut: “Aku (Nabi) tidak akan mengizinkannya, kecuali Ali bin Abi Thalib terlebih dahulu menceraikan anak perempuanku, jika ia mau mengawini anak-anak gadis mereka. Sebab Fatimah adalah bagian dari tubuhku, aku membenci apa yang dia benci untuk dilihat, dan apa yang melukainya juga melukaiku”. (Sahih Bukhari, Vol. 7, Kitab 64, No. 157).Dari Hadis diatas jelaslah bahwa Nabi SAW tidak setuju poligami. Adapun praktek poligami yang dilakukannya haruslah dilihat dalam konteks masyarakat Arab abad ke-7 seperti diatas. Analognya bisa kita lihat pada kasus pernikahan Nabi SAW dengan Zainab binti Jahsy mantan istri anak angkatnya (Zaid bin Utsamah). Dalam kasus itu terkandung sebuah ketetapan hukum. Nabi SAW ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa anak angkat dengan anak kandung itu berbeda (pembatalan asumsi hukum sedarahnya anak hasil adopsi). Tradisi Arab kala itu tidaklah demikian. Jadi benang merah yang dapat ditarik dari sini adalah kesimpulan hukum bahwa tidak ada pertalian darah antara orang tua dengan anak angkatnya. Jadi ada maksud-maksud tertentu dari perilaku Nabi SAW. Dari analogi ini, tidak serta merta kita lantas berpoligami karena Nabi SAW melakukannya juga. Itu adalah kesimpulan yang keliru karena tidak melihat dalam konteks dan maksud apa perilaku poligami Nabi tersebut.Ayat bahwa manusia tidak akan pernah bisa berbuat adil, sebagai syarat poligami memang terbukti. Nabi SAW sendiri mengakui bahwa terhadap istri-istrinya di Madinah, hatinya cenderung kepada Aisyah ketimbang istri-istri yang lain. Maklumlah, si muka merah (al-humairah) itu adalah satu-satunya istri Nabi yang perawan, cerdas, manja, disertai rasa cemburu sedikit tinggi. Kalau Nabi saja mengaku tidak dapat berlaku adil (khususnya dalam perihal hati), apalagi kita, umat Nabi yang jelas kualitasnya tidak sebanding dengan Nabi yang sudah dijamim ma’shum (tidak tercela).Cerita menarik tentang keluarga Nabi beserta istri-istrinya yang tidak terlepas dari persaingan dan kecemburuan bisa kita baca dalam buku karya Binti al-Syathi’(nama pena Aisyah Abdurrahman) yang berjudul Nisa’un Nabi’ (Istri-istri Nabi). Ceritanya demikian: “…Aisyah putri Abu Bakar cukup dikenal pencemburu. Ia kadang tidak puas dengan posisinya sebagai istri terkasih. Makanya, setiap Nabi SAW membawa istri baru, rasa cemburu selalu saja datang dan menyiksa Aisyah. Padahal ia telah berkali-kali dipoligami. Alkisah, ro
    mbongan Nabi baru kembali dari Khaibar. Mereka mengalahkan suku Yahudi Bani Nadhir. Sebelumnya sudah tersiar kabar bahwa Nabi telah menikahi Shafiyah, putrid jelita penguasa Bani Nadhir. Aisyah menyambut Nabi dengan penuh cemburu. Ia mengamati madunya (Shafiyah) yang singgah dirumah Haritsah bin Nu’man; rumah yang selalu menjadi titipan bila Nabi mempersunting istri baru. Nabi tertawa dengan sikap Aisyah. Tapi Nabi tak lupa merayu: “Apa yang kau amati, cantik?”. Aisyah menjawab ketus: “Aku melihat seorang perempuan Yahudi”. Nabi menyanggah: “Jangan berkata begitu. Ia sudah masuk Islam, dan akan menjadi Muslimah yang baik” Tapi, Aisyah tak perduli. Iapun bergegas pergi. Singkat cerita, selain dari Aisyah, Shafiyah pun lalu menjadi bulan-bulanan dari istri-istri Nabi lainnya yang juga cemburu. Ia sering di ejek “perempuan Yahudi”. Suatu hari, Syafiah ikut serta dalam safari Nabi bersama istrinya yang lain Zainab putrid Jahsy. Di tengah perjalanan, unta Shafiyah cedera. Nabi membujuk Zainab agar berbagi punggung unta dengan Shafiyah. Zainab menolak sambil berkata, “Aku harus berbagi dengan perempuan Yahudi itu???”. Nabi lalu menjadi murka. Konon Nabi tidak mendatangi Zainab dua-tiga bulan. Di zaman Nabi, istrinya yang tak pernah cemburu dan rela berbagai dengan istri yang lain adalah Saudah. Ia berbadan gemuk, memang tidak cantik, dan hampir saja ditalak. Untuk itu, ia sering merelakan giliran malamnya buat Aisyah. (Romli, 2006). Demikianlah kecemburuan dan persaingan memang sangat nyata dalam keluarga yang berpoligami, bahkan dalam keluarga Nabi SAW sendiri. Agama tak akan sanggup menafikannya. Keluarga akan tumbuh kurang sehat, penuh kecurigaan dan tak jarang menimbulkan pertengkaranDalam kasus Aa Gym, dengarlah pengakuan istri pertamanya, Teh Ninih: “meski tak semudah yang dibayangkan.., apa boleh buat, ternyata jadi istri yang “ikhlas” butuh perjuangan”. Menurut saya, dengan segala hormat atas pilihan pribadi dan niat baik Teh Ninih, itu sebenarnya adalah rintihan dari pihak yang tak punya pilihan lain selain menerima. Itulah suara kaum yang dilemahkan. Ingat juga rupa-rupa komentar kecewa jemaah perempuan pengagum Aa Gym. Jadi dalam soal poligami, kalau isunya hanya ditambatkan pada soal hukum, sementara ia sangat debatable (bisa diperdebatkan), tergantung penafsiran masing-masing, maka yang terjadi hanyalah debat kusir saja. Lebih-lebih hanya menempatkan poligami sebagai urusan pribadi. Poligami sejatinya adalah problem sosial, terutama berkaitan dengan relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat patriarkhi. Dan, implikasinya langsungnya adalah ketidakadilan perempuan. Jadi penekanannya memang mestinya pada aspek keadilan Islam. Poligami itu secara sosiologis dan psikologis, tentu melabrak nilai-nilai keadilan terutama dari sudut pandang perempuan dan oleh karena itu sulit untuk kita terima. Dan memang, poligami tidaklah ideal dalam pandangan Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s