Pepaya Mini Dari Gunung Dieng [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Di Wonosobo, buah ini biasa dijadikan manisan dan dijual sebagai buah tangan. Karena hanya dijual dalam bentuk manisan, tidak dalam bentuk segarnya, rupa buah ini misterius. Lebih misterius lagi karena pohonnya hanya bisa tumbuh di lereng bagian atas gunung Dieng. Bentuknya mirip pepaya tapi ukurannya mini. Aromanya superwangi.

—–

Di Wonosobo, ia dikenal dengan tiga nama: kates, gandul (dengan bunyi “d” seperti pada dengkul), dan carica (baca: karika). Sebagian orang membacanya dengan bunyi “c” seperti pada cerutu. Dalam bahasa Jawa, kates dan gandul sama-sama berarti pepaya, Carica papaya.

Secara taksonomi, tanaman ini masih satu keluarga dengan pepaya. Nama ilmiahnya Carica pubescens. Di Indonesia, konon buah ini hanya bisa dijumpai di Gunung Dieng.

Di lereng Gunung Dieng pun, tidak semua tempat cocok ditumbuhi pohon ini. Semakin ke bawah, semakin sulit tumbuh. Kalaupun bisa tumbuh, sulit berbuah. Ini merupakan salah satu keunikan pohon carica.

Di lereng Dieng, carica seolah-olah tidak mau bertemu dengan saudaranya, pepaya. Di lereng gunung bagian atas, pepaya sulit tumbuh sementara carica gampang. Sebaliknya, di lereng bagian bawah, pepaya gampang tumbuh sedangkan carica tidak.

Karena keunikan ini, carica tumbuh paling subur di kawasan puncak Dieng seperti di Desa Sikunang dan Sembungan. Dua desa ini berada di wilayah tertinggi di Dieng, di atas lokasi wisata Telaga Warna. Dieng sendiri merupakan gunung yang berpenghuni sampai di titik tertinggi, 2.565 m di atas permukaan laut (dpl). Berbeda dengan kebanyakan gunung lain seperti Merapi yang hanya berpenghuni di lereng bagian bawah.

Dari arah kota Wonosobo menuju Dieng, pohon carica sudah mulai banyak dijumpai sejak masuk wilayah Kecamatan Kejajar. Semakin ke atas, semakin banyak. Umumnya tumbuh di pekarangan rumah, di pinggir jalan, dan di pematang ladang. Sebagian tumbuh liar, yang lainnya sengaja ditanam sebagai tanaman produktif.

Getahnya bikin gatal

Sekilas pohon ini tampak seperti pepaya yang kita kenal. Batangnya sama, daunnya tak beda, bunganya pun serupa. Jika tidak sedang berbuah, pohon ini sulit dibedakan dengan pepaya. Pada sore hari, pohon ini semakin semakin sulit dibedakan. Bukan karena pada sore hari carica mengalami perubahan bentuk, tapi karena pada sore hari biasanya puncak Dieng berkabut sehingga mengurangi jarak pandang. Ia baru gampang dibedakan dari saudaranya jika sedang berbuah.

Bentuk buahnya imut-imut. Tidak bulat seperti pepaya tapi bersudut lima, mirip belimbing yang montok. Ukuran dan bentuknya hampir sama dengan buah cokelat. Letaknya berdompol-dompol di batang bagian ujung. Satu dompol biasanya berisi belasan buah. Satu pohon bisa berbuah puluhan hingga ratusan.

Bobot satu buah carica biasanya hanya sekitar satu ons. Jauh lebih kecil daripada pepaya. Satu kilogram carica bisa berisi 10 – 15 buah. “Jumlahnya tidak mungkin,” kata Mat Halim, warga Desa Sikunang. Yang ia maksud, jumlahnya tidak tentu. “Kalau buahnya kecil-kecil, satu kilo(gram) bisa berisi 15 buah,” katanya dengan bahasa Indonesia tertegun-tegun sambil tertawa di setiap akhir kalimat. Kalau buahnya gede-gede, tiap kilogram bisa berisi 10 buah.

Pada saat masih muda, warna buahnya hijau. Sedikit lebih gelap daripada hijau pepaya muda. Jika kulit buahnya dilukai, ia akan menghasilkan getah, sama seperti pepaya muda. Rasa daging buahnya pun sama dengan pepaya muda.

Saat mulai matang, warna kulit buahnya berubah menjadi kuning oranye. Masih sama seperti pepaya. Perbedaan paling mencolok adalah baunya. Aromanya betul-betul harum, jauh lebih harum daripada aroma pepaya matang. Lebih-lebih jika kulit buahnya dilukai lebih dulu. Jika diletakkan di dalam satu ruangan berukuran 3 x 3 meter, tiga buah carica matang bisa membuat ruangan beraroma buah khas Dieng ini. Kalau saja aroma bisa direproduksi lewat foto, maka halaman majalah ini pun bakal menjadi sedap semerbak.

Saking harumnya, buah carica bisa mengecoh. Mereka yang baru pertama mencium aromanya bakal tertipu dan menyangka daging buah ini pasti terasa manis menyegarkan. Nyatanya tidak. Meskipun telah matang, daging buah bagian luarnya terasa hambar. Tidak seperti daging pepaya yang manis. Rasanya lebih mirip daging pepaya mentah.

Yang bisa dimakan dari buah carica hanya daging bagian dalamnya. Itu pun jumlahnya tidak seberapa banyak. Apalagi saat dimakan, bijinya sulit dipisahkan dari dagingnya. Hanya daging bagian dalam inilah yang enak untuk dimakan. Manis, sangat harum, dan sedikit masam. Tapi jika bijinya ikut tergigit, maka rasa manis itu akan terganggu oleh rasa getir. Biji carica berasa pahit seperti biji pepaya. Saat masih mentah, bijinya berwarna merah. Begitu matang, bijinya menjadi hitam.

Rasa manis dan harum carica akan semakin terganggu jika saat makan, getah carica ikut terkena bibir. “Kalau kena tlutuh-nya, bibir bisa gatal,” kata Pawit, petani Kejajar, mengingatkan. Tlutuh adalah bahasa Jawa dari getah. Jika sampai getahnya ikut termakan, maka buah carica akan punya dua rasa sekaligus: rasa manis dan rasa menyesal. “Tapi enggak lama, paling-paling sehari sudah sembuh,” kata Pawit enteng. Ia menyebut masa bibir alergi sehari itu dengan paling-paling.

Getah carica ini berasal dari kulit dan daging bagian luarnya saat ia belum matang betul atau baru dipetik dari pohon. Karena alasan itulah, maka kita harus hati-hati kalau makan buah carica yang baru dipetik. Hanya daging bagian dalamnya yang boleh diambil. Selebihnya harus direlakan untuk dibuang. Selain cara itu, getah carica juga bisa dihindari dengan cara menyimpannya lebih dulu. Dua hari setelah dipetik, carica matang biasanya tidak lagi mengeluarkan getah.

Penduduk setempat biasa makan carica di ladang saat
mereka haus dan lapar. “Saya biasanya makan carica dengan bijinya sekalian,” ucap Pawit. Udara yang keluar dari mulutnya langsung mengabut di depan wajahnya akibat dinginnya udara di puncak Dieng.

Karena ukurannya kecil-kecil, satu buah carica tidak sanggup membuat perut kenyang. Itu sebabnya Pawit biasanya makan beberapa buah. Namun jika terlalu banyak menelan biji, kata pawit, ia biasanya mengalami kesulitan saat buang hajat. Karena itu ia biasanya juga makan daging buah bagian luar yang tidak terasa manis dan banyak mengandung serat itu. Yang dibuang hanya kulit bagian terluarnya. Dengan cara itu, ia menghindari sembelit akibat terlalu banyak makan biji carica.

Aromanya hilang di manisan

Di lereng atas Dieng, carica gampang tumbuh. Saat berumur dua tahun, ia mulai berbuah. Sejak itu ia bisa terus produktif menghasilkan buah. Umurnya panjang, sama panjang dengan umur manusia. Kata Pawit, carica yang ia punyai sekarang sudah ada sejak ia masih kecil. Bapak yang menanam, anak yang memanen. “Carica itu tidak bisa mati,” kata Mat Halim, lagi-lagi sambil tertawa. Tentu saja ia tidak bermaksud bilang carica hidup abadi tetapi berumur panjang sampai ia tidak tahu kapan carica mati.

Sedikit berbeda dengan pepaya, batang pohon carica bisa mempunyai banyak cabang. Satu pohon bisa mempunyai belasan cabang. Semakin banyak cabangnya, semakin banyak buahnya sebab buah berdompol di cabang-cabang bagian ujung. Jika cabangnya dipotong, tunas baru akan segera muncul di bagian yang terpotong itu. Diameter lingkar batangnya bisa dua kali lebih besar daripada batang pepaya.

Petani biasanya memperbanyak carica dengan cara stek batang. Di tanah Dieng yang subur dan gembur, potongan batang pohon carica gampang tumbuh menjadi tanaman baru. Tidak membutuhkan perawatan khusus. Tinggal tancap di tanah basah, ia akan mencari makanannya sendiri.

Kadang carica juga berkembang biak secara alami lewat biji. Dibantu manusia, secara tidak sengaja. Mekanismenya, biji carica matang masuk ke dalam perut Pawit saat ia lapar di ladang. Jika Pawit buang hajat di ladang, biji ini akan keluar masih dalam keadaan utuh, lalu tumbuh menjadi pohon baru.

Karena gampang ditanam, sebagian besar penduduk di puncak Dieng punya pohon carica. Entah di pekarangan rumahnya atau ditanam di ladang. Biasanya hanya sebagai tanaman sampingan. Tanaman utamanya kentang atau kubis.

Dibandingkan kedua tanaman utama itu, carica kurang memiliki nilai ekonomis. Permintaan kubis dan kentang tak pernah berhenti. Sementara permintaan carica hanya berasal dari industri kecil pembuat manisan di kota Wonosobo. Penjualannya hanya mengandalkan produksi manisan. Buah ini tidak dijual sebagai buah segar yang bisa langsung dihidangkan di meja seperti pepaya. Maklum saja, meskipun baunya sangat menggoda, buah ini cukup merepotkan untuk dikonsumsi. Terutama untuk menghindari getah serta memilih daging buahnya di antara bijinya yang sulit dipisahkan.

Harganya pun tergolong murah. Paling mahal hanya Rp 2.500 per kilogram. Biasanya mahal pada saat kemarau, ketika produksi carica turun. Jika sedang musim hujan, di mana produksi carica melimpah, harganya bisa anjlok hingga Rp 1.000 per kilogram.

Jika harganya sedang anjlok, kadang buah carica dibiarkan begitu saja matang di pohon sampai jatuh bergeletakan di tanah. “Daripada tanahnya nganggur, enggak ada tanaman, ya ditanami carica aja,” aku Pawit.

Buahnya juga tidak tahan lama. Setelah dipetik, jika dibiarkan begitu saja tergeletak di rumah, ia bisa busuk mubadzir. Satu-satunya jalan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya adalah dengan membuatnya menjadi manisan.

Daging luarnya yang hambar itu dipotong-potong lalu direbus dengan gula, bersama daging bagian dalamnya yang manis dan harum. Setelah dikemas dalam wadah beling atau plastik, manisan carica dijual di toko-toko penjual makanan khas Wonosobo, bersama keripik jamur dan kacang dieng. Penjualannya tidak hanya di Wonosobo, tapi juga sampai di kota-kota besar macam Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

Sayangnya, proses perebusan itu menghilangkan sebagian besar aroma carica yang khas. Daging buahnya memang menjadi manis karena tambahan gula tapi aroma manisan tidak seharum buahnya saat masih segar. Meski demikian, manisan carica tetap terasa segar. Sesegar udara Dieng saat cerah.

Advertisements

5 thoughts on “Pepaya Mini Dari Gunung Dieng [intisari]

  1. di atas disebut kalo nama ilmiahnya Carica pubescens ya? seatau saya,nama ilmiahnya bukan itu.genus dari karika sendiri adalah Vasconcellea,,jadi spesiesnya bernama Vasconceleea cundinamarcensis V.M.Badillo atau Vasconcellea pubescens.itu kalo untuk karika..nah,,saya mau tanya tentang pepaya yang daging buahnya warna kuning,apa itu sama dengan karika?katanaya sering untuk makan burung..nama ilmiahnya apa ya mas?mohon bantuannya ya..makasi.. amoy_euy@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s