Jadi Ibu Rumah Tangga, Kenapa Tidak? [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Banyak orang menganggap remeh “profesi” ini. Padahal tanggung jawab seorang ibu rumah tangga tidak lebih ringan daripada beban kerja wanita karier mana pun. Tak sedikit mantan wanita karier yang telah membuktikannya. Setelah menjadi seratus persen ibu rumah tangga, mereka sadar bahwa mengasuh anak, mencuci baju, atau mengganti popok tidak seremeh kelihatannya.

—–

Salah satu dari mereka adalah Diana S.R. Wisnu, ibu dari dua anak balita di Jakarta. Sepanjang tahun 2005, ia diliput bimbang antara tetap bekerja ataukah mengundurkan diri. Tahun itu ia genap bekerja selama tiga belas tahun terhitung sejak awal kuliah. Terakhir ia berada di level manajerial di perusahaan adibusana multinasional asal Prancis, Louis Vuitton Indonesia.

Waktu itu ia baru saja mendapat anugerah sekaligus amanat besar dalam hidupnya. Anak pertamanya, Muhammad Ilham Khalifa W, lahir. Waktu itu ia hanya sempat memberi Alif, panggilan kesayangan buah hatinya, ASI eksklusif selama tiga bulan saja. Selebihnya, Alif diasuh oleh <i>babysitter</i> dan suster.

Saat mendapat ASI, Alif masih sehat-sehat saja. Masuk bulan keenam, ketika putus ASI, Alif mulai mengenal batuk, pilek, demam. Dua kali ia dirawat inap di rumah sakit. Karena tidak tahu apa-apa tentang kesehatan, Diana dan suaminya, Andri Wisnu Gunawan, hanya bisa jengkel, bingung, dan panik jika Alif sakit. Sekali waktu, ia bahkan pernah dilarikan ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit pada pukul tiga dini hari.

Saat di kantor, ia selalu berpikir tentang Alif. Begitu di rumah, ia berpikir tentang urusan kantor. Merasa bersalah atas kondisi Alif yang sakit-sakitan, Diana berusaha memperkaya pengetahuan dari buku, majalah, milis di internet, hingga ceramah-ceramah tentang pengasuhan anak. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini ia salah merawat Alif. Timbang ditimbang, ia mulai berpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ia merasa Alif butuh asuhan seorang ibu, bukan <i>babysitter</i> dan suster.

Bagi seorang wanita yang kariernya telah mapan seperti dia, urusan mengundurkan diri tentu bukan hal gampang. Apalagi profesinya adalah jenis pekerjaan yang disukai kebanyakan wanita. (Wanita mana yang tak suka <i>fashion</i> dan sering-sering <i>ngelencer</i> ke luar negeri?) Lebih dari itu, jika berhenti kerja, berarti ia harus kehilangan penghasilan bulanan yang jumlahnya—dalam ungkapan Diana—<i>fffhhh</i>!!! Maksudnya, sayang betul jika dilepas begitu saja.

Berbulan-bulan ia bimbang. Ia harus tegas memilih salah satu: karier atau keluarga. Pilihannya harus salah satu, tidak bisa keduanya. Kebetulan sang suami memberinya kebebasan penuh untuk membuat keputusan. Setelah menimbang-nimbang selama enam bulan, ia berbulat tekad untuk mengudurkan diri. “Kalau soal rezeki, saya yakin insya Allah ada-lah,” katanya mantap.

Ketika ia mengajukan surat pengunduran diri, teman-teman dan bosnya bertanya ke mana ia “pindah. Secara berkelakar, ia menjawab pindah ke FTM. Seolah-olah FTM nama sebuah perusahaan. Padahal yang ia maksud adalah <i>full time mommy</i>. Kawan-kawannya malah menantangnya taruhan berapa bulan ia bisa tahan menjadi ibu rumah tangga.

<b>Masuk “dunia lain”</b>

Baru beberapa minggu “pindah kerja di FTM”, Diana sudah bisa membuat kesimpulan. “Ternyata stres mengerjakan tugas kantor itu tidak ada apa-apanya dibandingkan stres mengurus dia,” katanya sambil menunjuk Alif, “Serepot-repotnya <i>bikin</i> <i>report</i> itu tidak ada seujung kuku repotnya kalau Alif sedang pilek atau demam.”

Hari-hari pertama menjadi ibu rumah tangga, Diana sempat mengalami stres berat. Perbedaannya benar-benar 180 derajat. Di kantor, jika butuh minum, ia tinggal menyuruh <i>office boy</i>. Tapi di rumah, ketika Alif mengompol atau <i>pup</i> di celana, ia harus menceboki, mengganti popok, membersihkan, dan mengepel lantai. Ia harus melakukan tugas itu sendiri karena <i>babysitter</i> dan susternya berhenti kerja tak lama setelah Diana menjadi majikan penuh waktu di rumah. “Mungkin mereka enggak tahan <i>sama</i> saya yang cerewet,” katanya tergelak.

Biasanya di kantor setiap hari ia tersambung dengan internet, punya banyak teman dan klien. Tapi di rumah, ia dibatasi empat dinding sempit, cuma berdua dengan Alif. Kiri kanan sepi. Merasa tak tahan dengan sepi, ia minta suaminya untuk menyediakan akses internet 24 jam di rumah. Lumayan. Dengan internet, rasa sepi yang ia hadapi sedikit terobati.

Dalam sehari, ia bisa terhubung ke dunia maya tak kurang dari enam jam. Pagi, siang, malam, ia terhubung ke internet, mencoba berhubungan dengan dunia luar. Saking stresnya berada di rumah, pernah terucap di mulutnya untuk masuk kerja kembali.

Satu kali, saat berada di rumah, ia pernah menerima telepon dari seorang mantan koleganya. Si kolega itu berkonsultasi, minta tips dari Diana sebagai seorang profesional dalam bidang <i>public relations</i>. Selama satu jam lebih ia menjadi konsultan lewat telepon.

Begitu telepon ditutup, ia masuk kamar untuk melipat baju kering sehabis dicuci. Saat itu tanpa terasa ia menangis. Ia merasa berada di dua sisi dunia yang begitu berbeda. Lima menit sebelumnya dia adalah Diana, seorang konsultan di bidang opini publik. Lima menit kemudian, ia adalah Diana, seorang ibu rumah tangga yang berkutat dengan ompol dan cucian.

Saat masih bekerja, ia biasa minum kopi yang satu cangkirnya seharga beberapa puluh ribu rupiah. Tapi begitu menjadi ibu rumah tangga, ia harus berhitung dengan biaya-biaya pengeluaran yang besarnya cuma beberapa belas ribu rupiah.

Se
jak mengundurkan diri, keuangan keluarganya tinggal bergantung pada penghasilan Andri. Akibatnya, biaya sosialisasi dan gaya hidup dipangkas. Yang biasanya tiga hari sekali makan di restoran bersama anggota gengnya, kemudian dikurangi menjadi seminggu atau dua minggu sekali.

Saat mulai berkawan dengan ibu-ibu rumah tangga di kompleks rumahnya, Diana seolah berada di dunia yang berbeda. Di kantor, ia bicara tentang urusan <i>fashion</i>. Begitu berada di tengah-tengah para ibu rumah tangga itu, ia harus masuk obrolan norak tentang gosip artis, cucian yang belum kering, dan obrolan-obrolan lain yang, dalam ungkapannya, <i>gak penting banget, gitu</i>.

<b>Capek tapi membahagiakan</b>

Apa yang dialami Diana adalah masalah umum para mantan wanita karier yang harus meninggalkan kerja demi mengasuh anaknya. Fenomena ini jamak terjadi di kalangan pekerja wanita. Terutama mereka yang menempatkan nilai keluarga di tempat yang tinggi.

Setiap wanita tentu berharap bisa sukses di karier maupun keluarga. Tapi kehidupan nyata seringkali hanya memberikan satu pilihan: karier saja atau keluarga saja. Tidak bisa dua-duanya.

Menurut Rieny Hassan, psikolog keluarga di Jakarta, fenomena ini terjadi karena di masyarakat kita, perempuan akan disalahkan jika urusan domestik terbengkalai. Sehebat apa pun ia di kantor, jika anak-anaknya tak terurus, ia tetap dianggap gagal. Itu sebabnya, dibandingkan pria, pekerja perempuan lebih sering dihadapkan pada konflik peran antara dunia kerja dan keluarga.

Biasanya, di saat-saat awal menjalani peran baru itu, para FTM mengalami tekanan psikologis seperti yang dialami Diana. Itu lumrah bin wajar karena tugas seorang ibu rumah tangga memang sangat berat. FTM adalah “profesi” yang tidak mengenal jenjang karier, libur, dan gaji. “Mestinya pahlawan tanpa tanda jasa itu ya ibu rumah tangga,” kelakar Rieny yang 22 tahun lalu pernah mengalami konflik peran serupa. Waktu itu ia juga mengundurkan diri dari pekerjaannya karena harus mengasuh anak.

Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan. Semua pilihan pasti ada untung ruginya. Masalah akan selalu timbul. Itu biasa. Tapi untuk meminimalkan masalah itu, Rieny menyarankan agar keputusan mengundurkan diri sebaiknya dibuat atas kehendak sendiri. Bukan karena paksaan suami, misalnya. Dengan memutuskan sendiri, seperti yang dilakukan Diana, seorang ibu akan lebih bisa menikmati semua konsekuensinya. Tak akan menyalahkan suami jika belakangan timbul masalah. “Makin mandiri kita membuat keputusan, makin besar peluang untuk bisa <i>happy</i>,” ujarnya.

Secepat mungkin si ibu juga harus menyesuaikan diri dengan peran barunya. Tak perlu berpikir terus ke belakang. Juga tak perlu berandai-andai, “Alangkah seandainya saya masih bekerja.”

Ada banyak hal bisa dinikmati selagi menjadi ibu rumah tangga. Misalnya saja saat-saat bahagia bermain dengan anak saat mereka sedang lucu-lucunya. “Itu kan sesuatu yang berharga, yang tidak mungkin terulang lagi,” tandas Rieny.

Supaya tidak <i>kuper</i>, seorang ibu rumah tangga bisa aktif di kegiatan sosial atau keagamaan yang tidak terlalu menyita waktu. “Manusia itu kan bahagia kalau ia merasa hidupnya bermakna, bermanfaat buat orang lain, atau bisa mengaktualisasikan diri,” tambahnya.

Tentang masalah keuangan, kata Rieny, kuncinya cuma satu: harus bisa membuat skala prioritas dan membedakan mana keinginan dan kebutuhan. Itu saja. Kalau perlu, si ibu bisa saja melakukan kerja sampingan yang tidak menyita banyak waktu atau yang bisa dilakukan di rumah. Masalah-masalah lain bisa diselesaikan sambil jalan. “Banyak hal penting dalam hidup di mana kita tidak punya kesempatan untuk latihan lebih dulu,” katanya.

Selebihnya, menjadi ibu rumah tangga juga akan memberikan kepuasan lain yang tidak bisa didapatkan di kantor. Diana telah membuktikannya. Setelah menjadi ibu rumah tangga, ia memperoleh banyak pengetahuan baru. Jika Alif demam atau batuk, ia bisa merawatnya sendiri. Tak gampang panik seperti dulu. Sejak ia rawat sendiri, Alif sama sekali tidak pernah sakit sampai perlu ke dokter.

Tak cuma masalah kesehatan, ia juga menjadi paham perihal psikologi perkembangan anak. Dari situ ia tahu bagaimana cara memperkenalkan bahasa dan keterampilan baru kepada anak di usia emas, usia balita. Dalam usia dua tahun, Alif sudah terbiasa berhitung, bernyanyi, berdoa, dan mengenal warna dengan bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. “Saya sendiri tidak tahu apakah itu karena Alif saya asuh sendiri ataukah karena memang sudah waktunya begitu,” ucapnya jujur.

Kawan-kawannya sesama ibu-ibu sering mengagumi kemampuan Alif. Tentu saja hal itu membuat Diana semakin bahagia. Semua pengorbanannya terbayar sudah. Kebahagiaannya semakin lengkap ketika Alif punya seorang adik meskipun itu berarti ia harus bekerja lebih keras lagi mengasuh dua anaknya. Dua ”anak panah” yang—katanya menirukan ungkapan Kahlil Gibran—<i>lahir lewat dirinya tapi bukan miliknya</i>.

Advertisements

4 thoughts on “Jadi Ibu Rumah Tangga, Kenapa Tidak? [intisari]

  1. subhanallah… 2th sudah pandai…. wah itu karena anaknya memang cerdas dan berbakat juga juga kali ya…. tdk semua IRT bisa membuat anaknya seperti itu…. pekerjaan yg paling sulit tetapi mulia dan menyenangkan dr buat sy juga adalah menjadi IRT… hikmah tinggal di negeri orang, mengalami dan belajar menjadi IRT…. :)makasih buat sharenya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s