Maman AS: Merawat Satwa Seperti Anaknya [kisah]

Pria kurus ini telah 23 tahun merawat bayi-bayi satwa di Taman Margasatwa (TM) Ragunan, Jakarta. Ia tinggal serumah dengan mereka. Makan di piring yang sama, tidur di ranjang yang sama.

—–

Nama aslinya Achdiat Safarman tapi di TM Ragunan ia lebih dikenal sebagai Maman AS. Usianya sudah tidak muda lagi, 54 tahun. Sosoknya kurus, ceking. Rambutnya yang putih uban dibiarkan gondrong.

Jika sedang bicara, tak henti-hentinya ia mengepulkan asap rokok Dji Sam Soe. Nada bicaranya sekilas terdengar cuek. Tapi jika diajak ngobrol tentang perawatan satwa, ia menjadi begitu antusias. Saking semangatnya, sampai ia kesulitan berhenti.

Di TM Ragunan, ia dikenal sebagai “manusia langka”. Lebih langka daripada hewan-hewan yang ia rawat. Perjalanan hidupnya menjadi perawat satwa terbilang nyeleneh. Sejak kecil, ia sudah menyukai binatang. Kebetulan, Rahmad Nabib, bapaknya seorang dokter hewan.

Sebelum menjadi perawat satwa, Maman tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya), Universitas Indonesia, angkatan 1974.

Waktu itu, tiap kali berangkat kuliah, ia selalu lewat pasar hewan di dekat rumahnya, di Bogor. Tiap hari ia mengamati hewan-hewan yang dijual di sana. Dari hari ke hari ia melihat ada beberapa jenis hewan yang tidak laku-laku seperti musang, rase (sejenis musang), dan berang-berang (hewan mirip kucing yang hidup di air).

Merasa kasihan, ia kemudian membeli hewan-hewan itu lalu dipelihara di rumahnya. Sejak itu ia mulai biasa tidur bersama hewan piaraan. Akibatnya, kamarnya menjadi bau sampai tidak ada yang mau tidur di situ. Satu kali, ia pernah diliput di koran Kompas sebagai pecinta satwa. Fotonya sambil menggendong musang nampang di koran itu.

Liputan tentang dia di koran itu menarik perhatian Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, rektor Universitas Indonesia pada saat itu. Nugroho kemudian menawari Maman bekerja di Ragunan, yang waktu itu namanya masih Kebun Binatang Ragunan. Kebetulan saat itu kuliah Maman berantakan. Hingga tahun 1983, ia masih belum lulus. Sampai-sampai bapak ibunya menyindir dia bahwa pada saat seusia Maman, mereka sudah bekerja, bisa mencari makan sendiri.

Karena merasa ditantang orangtuanya, Maman tanpa pikir panjang langsung mengiyakan tawaran rektornya itu. Tanpa ragu-ragu lagi, bangku kuliah ia tinggalkan. Cita-citanya waktu itu sederhana sekali. Ia hidup mandiri dan punya kandang buat hewan-hewan kesayangannya.

Merawat hewan berbulu

Saat orangtuanya mengetahui pekerjaan Maman sebagai perawat satwa, mereka sempat kecewa dan menentangnya. Lagi-lagi Maman disindir. Kata mereka, di antara para perawat satwa, ijazah Maman paling tinggi. Tapi di seluruh Kebun Binatang Ragunan, pangkatnya paling rendah.

Sindiran mereka memang cukup beralasan. Waktu itu, untuk menjadi perawat satwa, tak ada persyaratan tentang ijazah. Syaratnya cuma mau bekerja. Sementara Maman saat itu sudah berstatus sarjana muda. Apalagi Maman adalah anak tertua yang diharapkan bisa menjadi contoh bagi kelima saudaranya. “Kamu jangan menjadi katak dalam tempurung,” katanya menirukan peribahasa orangtuanya.

Tapi Maman tetap teguh dengan pilihannya. Ia menjawab peribahasa orangtuanya dengan mengutip peribahasa lain, “Pisang setandan tidak mungkin bagus semua. Anggaplah saya pisang yang jelek itu.” Jawaban Maman itu membuat orangtuanya hanya bisa diam. Tetap tidak setuju tapi juga tidak bisa melarang.

Waktu hendak masuk kerja, ia ditanya ingin bekerja di bagian apa. Karena ia menyukai binatang seperti berang-berang dan musang, ia menjawab ingin merawat “hewan berbulu.”

Rupanya jawaban ini menimbulkan salah paham. Begitu masuk kerja, ia ditugaskan di bagian kandang burung. Tiap hari pekerjaannya membersihkan kandang.

Merasa tidak sesuai dengan keinginannya, Maman pun protes. Waktu itulah ia baru tahu jawabannya dulu keliru.

Karena dalam ilmu hewan, yang namanya satwa berbulu itu golongan unggas seperti burung, ayam, bebek, dan sejenisnya. Bukan seperti musang dan berang-berang sebab hewan-hewan ini tidak berbulu tapi berambut. “Mana saya tahu? Saya kan enggak pernah dapat pelajaran kayak gitu. Saya kira yang namanya rambut itu cuma pada manusia,” kenangnya sambil tertawa memamerkan giginya yang bergigis.

Beberapa bulan kemudian, ia dipindahkan ke bagian kandang monyet. Tugasnya setiap hari memandikan hewan-hewan berambut itu. “Mandiin monyet itu ternyata susah. Harus pakai teknik, kayak main bilyar. Kalau nyemprot harus bisa mengira-ngira arahnya,” ceritanya.

Capek memandikan monyet, ia kemudian dipindahkan ke kandang kudanil. Di sini tugasnya tidak lebih ringan dari tugas-tugas sebelumnya. Karena kudanil hidup di dalam air, ia harus mau nyemplung ke dalam kolam yang kotor dan bau. Jika sedang mengganti air, ia bahkan harus menyelam ke dasar kolam karena memang sumpal (sumbat) saluran air ada di dasar kolam. Meski pekerjaannya berkotor-kotor, Maman mengaku menikmatinya. “Mungkin karena suka,” katanya.

Saat merawat kudanil, ia biasa tidur di kandang hewan air asal Afrika ini. Karena tak ada dipan buat tidur, ia biasa berbaring di tempat tidur kudanil. Satu kali, saat sedang beristirahat, ia ditindih hewan yang bobotnya lebih dari dua kuintal ini. “Saya sampai enggak bisa napas, enggak bisa gerak,” kisahnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Akhirnya, ia membuat rumah panggung di atas kandang kudanil. Ia tidur di atas sedangkan hewan yang ia rawat tidur di bawah. “Betul-betul waktu itu saya kayak Tarzan,” kata penyayang binatang yang takut ular ini.

Sejak merawat kudanil inilah ia kemudian menjadi perawat satwa sungguhan, seperti yang ia inginkan sebelumnya. Sukses merawat kudanil, ia lalu dipercaya merawat hewan-hewan lain. Bukan hanya hewan berbulu seperti burung tapi juga satwa berambut seperti singa, harimau, macan tutul, kucing hutan, dan berang-berang.

Ditinggal mati kucing hutan

Di antara para perawat satwa yang lain, Manam dikenal tekun dan total dalam bekerja. Secara otodidak ia belajar ilmu perawatan binatang di lapangan. Meskipun tak punya latar belakang pendidikan dokter hewan, kemahirannya mengurus satwa tidak diragukan lagi. Termasuk satwa-satwa baru yang sebelumnya Kebun Binatang Ragunan belum pernah punya pengalaman merawatnya.

Tak jarang ia harus merelakan tangannya luka ketika belajar merawat hewan baru. Saat mengajari kudanil minum susu, ia harus merelakan jarinya ikut diemut dan sesekali digigit oleh hewan bongsor itu. Hewan itu tidak mau ngedot kecuali jika jari Maman ikut dimasukkan ke dalam mulutnya. Di waktu lain, jari-jarinya juga pernah luka-luka karena dipatuk terus-terusan saat ia mengajari makan seekor burung buas.

Jika perawat satwa lain memilih tidur di rumah, Maman memilih tinggal di “rumah dinas” di dalam TM Ragunan. Rumah dinasnya sempit, penuh sesak dengan berbagai alat perawatan satwa, dan beraroma kandang. Maklum, rumah itu bukan hanya tempat tinggal Maman tetapi juga kandang bagi bayi-bayi satwa TM Ragunan.

Bayi-bayi hewan itu biasanya dipungut Maman karena ditelantarkan oleh induknya. “Induknya cuma mau kawin. Setelah lahir, anaknya ditinggal begitu saja,” katanya sambil membimbing Gaza, anak singa bermur tiga bulan, ngedot susu dari botol.

Satwa-satwa itu biasanya dirawat sampai umur sekitar tujuh bulan. Setelah cukup besar dan bisa hidup sendiri, mereka dipindahkan ke dalam kandang. Sementara Maman mencari bayi satwa lain yang akan menjadi anak asuh berikutnya. Begitu seterusnya sehingga rumah dinasnya tak pernah sepi dari bayi satwa.

Saking akrabnya dengan satwa-satwa itu, Maman mengaku biasa bercakap-cakap dengan mereka. Entah mereka mengerti atau tidak, yang jelas Maman mengamati hewan-hewan itu memberikan respons atas kata-katanya. Saat Gaza mulai rewel tak mau menyusu misalnya, ia akan menyentilnya seperti seorang ibu memarahi anaknya yang tak mau makan sambil bilang, “Hayo, jangan nakal ya!” Saat sedang ingin bermain-main, Maman juga biasa mengajak mereka main petak umpet di dalam rumah.

Karena dirawat dari kecil, hewan-hewan itu menganggap Maman sebagai induknya. Sebaliknya, Maman juga menganggap mereka sebagai anaknya. “Saya ini enggak punya bini, tapi anak saya banyak. Ada yang belang, ada yang gondrong,” canda lajang yang suka mbanyol ini. Begitu dekatnya hubungan dengan mereka, Maman mengaku tidak doyan makan jika ada anak asuhnya yang sedang sakit. Ia juga menjadi gampang berang. “Mungkin saya ketularan berang-berang,” kelakar penggemar tanaman hias ini.

Sekali waktu ia pernah mengambil cuti, meninggalkan anak-anak asuhnya untuk sebuah keperluan. Saat balik, ia mendapati salah satu kucing hutan yang sedang ia rawat mati. Kejadian ini membuat dia sangat terpukul. Persis seperti orangtua yang kehilangan anaknya. “Nyeselnya seumur hidup,” katanya dengan intonasi sedih.

Sejak itu ia tak pernah berlama-lama meninggalkan anak asuhnya. Kalaupun ada sesuatu yang sangat penting, seperti ketika bapaknya masuk rumah sakit, ia hanya pulang sehari menjenguk bapaknya. Sore harinya ia balik lagi ke rumah dinasnya untuk merawat anak-anaknya.

Tak mau kematian kucingnya terulang lagi, Maman memilih tinggal di rumah sekalipun seluruh pegawai TM Ragunan Ragunan sedang berwisata ke luar kota yang biasanya diadakan setahun sekali. Bahkan pada saat lebaran pun, ia tetap tinggal di rumah. Justru keluarganya dari Bogor yang datang menjenguknya.

Bukan katak dalam tempurung

Sehari-hari ia tidur di rumah dinas bersama hewan-hewan yang ia rawat. Dulu ia pernah punya kasur di dalam kamar tidur. Karena ia sering tidur dengan anak macan dan singa, kasurnya hancur tak berbentuk sebab setiap hari dicakar hewan-hewan berkuku tajam itu. Tak jarang mereka juga buang kotoran di atas ranjang. Akhirnya kasur itu dibuang.

Kamar tidurnya juga sudah dialihfungsikan sebagai kamar satwa. Ia sendiri sehari-hari tidur di atas dipan kayu yang lebarnya hanya sekitar setengah meter. Papan kayu itu ia letakkan di ruang depan. Jika mengantuk, ia tinggal merebahkan badannya yang tipis kerempeng di atas dipan itu. Untungnya, ia bukan tipe orang yang banyak bergerak saat tidur sehingga papan selebar itu cukup dipakai sebagai tempat tidur.

Setiap hari Maman hidup bersama hewan-hewan itu. Tidur bersama, makan berama. Pada pagi hari, ia bertindak sebagai ibu, menyiapkan susu botol buat “anak-anaknya” itu. Dengan ketelatenan seorang ibu, ia menggendong dan membimbing bayi-bayi satwa itu mimik susu.

Tak jarang hewan-hewan itu pun ikut makan bersama Maman. Bukan hal aneh jika di rumah dinas itu ada anak macan atau singa ikut makan ubi goreng, nasi, atau bahkan mi. Maman menyiapkan makanan buat dirinya menggunakan alat-alat dapur yang sama dengan yang ia pakai untuk menyiapkan makan bagi satwa-satwa itu.

Ia sebetulnya punya piring khusus untuk dirinya sendiri. Tapi tak jarang ia makan menggunakan piring yang baru dipakai oleh anak-anak asuhnya. “Mereka itu kan mahluk Tuhan, sama seperti kita. Kecuali misalnya mereka itu ciptaan iblis, atau misalnya Tuhan mereka punya ekor, mungkin saya jijik,” katanya sembari mbanyol.

Sekali waktu ia pernah diomeli ibunya, Sarinah, karena perkara piring ini. Waktu itu ibunya berkunjung ke rumah dinas Maman. Ketika hendak makan, ibunya bertanya mana piring yang biasa dipakai Maman. “Yang merah,” jawabnya. Mungkin karena si ibu sudah tahu kebiasaan anak sulungnya itu, ia tidak mengambil piring merah tapi mengambil piring yang bergambar kembang.

Maman diam saja. Selesai makan, ia baru bilang kepada ibunya bahwa piring yang baru saja ia paka
i adalah piring musang. “Berarti derajat saya ini kan lebih rendah daripada musang,” katanya ngelawak. Besoknya, ketika ia mengunjungi ibunya di Bogor, ia diomeli habis-habisan.

Sejak menjalani profesinya, hingga beberapa tahun kedua orangtua Maman masih belum bisa menerima. Mereka masih menganggap dia sebagai katak di dalam tempurung. Tapi Maman tetap mantap dengan pilihannya. Yang ia lakukan hanya bekerja sebaik-baiknya.

Beberapa tahun kemudian, atas prestasinya sebagai perawat satwa jempolan, ia mendapat kehormatan untuk mengunjungi kebun binatang di Singapura. Beberapa tahun berikutnya, ia mendapat kehormatan lagi untuk mengunjungi kebun binatang di Amerika Serikat untuk program pertukaran satwa. Setelah menginjakkan kaki di Singapura dan Amerika Serikat, orangtuanya baru bisa menerima pilihan profesi Maman. Ia tak lagi dianggap sebagai katak di dalam tempurung.

Profesinya ini juga pernah dua kali mengantarkan Maman menerima penghargaan dari Pemprov DKI Jakarta untuk kategori pecinta alam. Prestasi-prestasi ini semakin memperteguh keyakinannya bahwa dia bukan kodok di dalam tempurung. Mungkin dia tetap seekor kodok, tapi setidaknya kodok yang berprestasi dan bisa melihat dunia luar.

Baginya, merawat satwa adalah panggilan hidupnya. Ia tidak siap jika harus berpisah dengan binatang-binatang kesayangannya. Itu sebabnya ia mengaku masih belum tahu apa yang akan dia lakukan saat pensiun dua tahun lagi. “Mungkin nanti saya akan minta tetap di sini. Enggak dibayar juga enggak apa-apa,” katanya dengan intonasi sedih. (M. Sholekhudin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s