Lutung Jawa Hidup Luntang-Lantung [intisari]


[judul tentatif]

Penulis: M. Sholekhudin (seekor <i>Homo sapiens</i>)

Di Jawa, hewan ini dikenal sebagai <i>budheng</i>. Di Sunda, nama hewan ini populer karena diceritakan di dalam legenda Lutung Kasarung. Tapi di balik namanya yang melegenda itu, nasib hewan ini sekarang memprihatinkan dan terancam punah. Mereka diburu, diperjualbelikan, atau dipiara sebagai binatang rumahan yang hidup kesepian.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri cantik jelita di istana Kerajaan Pasir Batang. Purbasari namanya. Ia punya kakak wanita yang pendengki. Purbararang namanya. Karena kedengkiannya, Purbararang mengirim guna-guna pada adiknya. Akibatnya Purbasari berubah menjadi putri yang buruk rupa lalu diasingkan ke dalam hutan belantara.

Syahdan, di hutan Purbasari bertemu dengan seekor lutung buruk rupa. Di luar dugaannya, ternyata lutung itu bisa membantunya mengembalikan kecantikannya. Sang putri bahagia tak terkira. Ia semakin bahagia ketika si lutung buruk rupa itu berubah bentuk menjadi pangeran yang tampan rupawan. Keduanya kemudian menikah dan kembali ke istana, menjadi ratu dan raja. Akhirnya—seperti lazimnya akhir cerita sebuah legenda—<i>mereka berdua hidup bahagia selamanya</i>.

Dalam legenda itu, lutung digambarkan sebagai hewan berbulu (lebih tepatnya, berambut) hitam kusam. Karena gambaran ini, lutung selalu identik dengan warna hitam. Kalau saja legenda itu lahir di Jawa Timur, mungkin saja gambaran tentang lutung akan sedikit berbeda. Soalnya, di hutan-hutan Jawa bagian timur, lutung ada dua macam. Ada yang berambut merah bata, ada pula yang hitam keabu-abuan.

Jika saja legenda itu bercerita tentang kerajaan Blambangan misalnya, mungkin saja lutung akan identik dengan warna merah bata. Dan, judul legendanya tentu bukan Lutung Kasarung tapi mungkin Budheng Ora Mudheng (Lutung Kesasar).

<b>Rambutnya poni</b>

Di seluruh dunia, diperkirakan ada puluhan jenis lutung. Dari sekian puluh jenis lutung itu, beberapa di antaranya merupakan binatang khas Indonesia. Salah satunya adalah lutung jawa (<i>Trachyphitecus auratus</i>). Disebut lutung jawa karena lutung ini berbeda dengan lutung-lutung di pulau lain. Di Sumatera dan Kalimantan misalnya, rambut lutung berwarna keperakan.

Di pulau Jawa, lutung punya dua subspesies. Lutung yang hidup di hutan-hutan di Jawa bagian barat, seperti di Ujung Kulon, Gunung Halimun, dan Gunung Gede – Pangrango, dinamai <i>Trachyphitecus auratus mauritus</i>. Sedangkan yang hidup di hutan-hutan Jawa bagian timur, seperti di Gunung Dieng, Merbabu, dan Semeru, disebut <i>Trachyphitecus auratus auratus</i>. Kedua jenis lutung ini sama-sama disebut lutung jawa. Orang Inggris bilang <i>javan langur</i>. Tak ada sebutan “lutung sunda”.

Salah satu ciri khas lutung jawa adalah rambut kepalanya yang jabrik mengarah ke depan. Karena jabriknya ke arah depan, lutung kelihatan seperti habis bercukur gaya poni depan. Ciri khas ini membedakan lutung dari jenis monyet lainnya seperti monyet ekor panjang (<i>Macaca fascicularis</i>).

Rambutnya selalu tampak acak-acakan. Maklum, tak pernah bersisir. Mukanya lucu dan kelihatan seperti memelas. Lebih-lebih lutung yang masih anakan. Sambil bergayut manja di pelukan emaknya, lutung anakan kelihatan seperti boneka teletubbies atau bayi manusia yang tak mau lepas dari tetek ibunya.

Saat bayi, semua lutung berwarna merah bata. Jika ia “lutung sunda”, warna merah ini pelan-pelan berubah menjadi hitam ketika dewasa. Tapi jika ia lutung semeru atau lutung dieng, ia punya dua kemungkinan saat dewasa. Tetap merah bata atau berubah menjadi hitam keabu-abuan.

Di habitat aslinya, hewan-hewan ini hidup berkelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari 5 – 25 ekor. Tiap kelompok dipimpin oleh seorang pejantan kepala suku. Anggota kelompok terdiri dari para betina dan anak-anak. Kepala suku punya dua tugas utama. Tugas pertama, tugas enak, mengawini para betina. Tugas kedua, tugas tidak enak, melindungi para anggota kelompoknya dari serangan musuh.

Ancaman musuh bisa berasal dari lutung lain kelompok, bisa juga berasal dari jenis hewan lain. Jika ditantang lutung pejantan lain, si kepala suku tak bisa menolak tantangan itu dan harus bersedia bertarung satu lawan satu. Bila menang, ia boleh tetap menjadi kepala suku yang disegani dan dicintai para betina. Tapi jika kalah, ia harus merelakan penantangnya menjadi pemimpin baru. Otomatis, para betina juga harus mau diperistri oleh kepala suku yang baru itu.

Lutung jenis tertentu seperti lutung india (yang kita kenal sebagai hanuman) punya perilaku sedikit “bengis”. Jika seekor lutung penantang menjadi penguasa baru, ia akan membunuh anak-anak tak berdosa di kelompok yang ia kalahkan. Tujuannya supaya para induk betina mau diajak kawin dan punya anak lagi.

<b>Suka bermalas-malasan</b>

Seperti kebanyakan monyet lainnya, lutung tergolong herbivora. Makanan utamanya dedaunan dan sedikit buah-buahan. Karenanya, dalam bahasa Inggris, mereka disebut <i>leaf monkey</i>. Di hutan, mereka biasanya hidup di pucuk-pucuk pohon tinggi sebab di sana mereka gampang mencari makanan. Jika lapar, tinggal melahap pucuk daun yang masih muda. Tak perlu bersusah payah berburu mangsa.

Mereka biasanya sarapan pada pagi hari menjel
ang siang. Persis pada saat para pekerja kantoran sedang sibuk di jam-jam awal kerja sebelum istirahat. Setelah sarapan, bersamaan dengan waktu para karyawan sedang makan siang, mereka tidur-tiduran di atas pohon.

Menurut Halim Fatrah, dari Pusat Primata Schmutzer Taman Margasatwa (PPS TM) Ragunan, Jakarta, saluran pencernaan lutung beruang-ruang, mirip hewan memamah biak. Sehabis makan, mereka biasanya bermalas-malasan dulu, memberi kesempatan lambungnya memfermentasi dedaunan yang baru mereka santap.

Sambil bermalas-malasan, mereka melakukan <i>grooming</i>, saling membersihkan badan bersama anggota kelompok yang lain. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh sesama betina, tapi juga antara lutung betina dan lutung jantan. Secara bergantian, mereka mencari kutu di sela-sela rambut kawannya. Juga secara bergantian membersihkan bagian-bagain tubuh kawannya yang tidak bisa dijilati sendiri seperti rambut leher, punggung, dan tengkuk.

Seekor lutung dewasa panjang badannya sekitar 80 cm. Biasanya ekor lebih panjang daripada badannya. Lutung jantan bobotnya sekitar 8 – 15 kg. Betinanya lebih kecil, hanya sekitar 5 – 9 kg. Dengan bobot yang ringan itu, lutung bisa dengan licah berloncatan dari satu ranting ke ranting lain tanpa menyebabkannya patah.

Mereka tidak ahli membuat sarang. Biasanya mereka menjadikan percabangan pohon di bagian atas sebagai tempat tinggal. Jika tidur, mereka cukup telungkup di atas cabang itu. Beres. Tak perlu takut jatuh karena mereka tidur dengan tenang. Jika hujan, mereka berteduh di bawah kanopi daun-daun.

Saat berumur 6 tahun, lutung sudah siap kawin. Jika sedang birahi, lutung betina punya perilaku unik. Untuk menarik perhatian pejantan kepala suku, ia mengoyang-goyangkan kepala sambil memamerkan pantatnya kepada si jantan.

Selama masa hidupnya, seekor lutung betina bisa bunting 5 – 6 kali, dengan masa kebuntingan 6 -7 bulan. Di alam bebas, rata-rata mereka bisa mencapai umur 20 – 25 tahun. Harapan hidup ini separuh lebih pendek daripada kerabat kera, seperti orangutan, yang bisa mencapai 50 tahun. Sekadar mengingatkan, monyet (<i>monkey</i>) berbeda dengan kera (<i>ape</i>). Monyet punya ekor sedangkan kera tidak.

<b>Baunya mirip kambing</b>

Di alam liar, lutung merupakan mata rantai makanan di bawah macan tutul dan elang. Macan tutul sanggup memburu lutung karena ia bisa memanjat pohon. Sementara elang lebih suka memilih bayi-bayi lutung yang masih belum mahir melarikan diri.

Namun saat ini predator lutung yang paling berbahaya bukan lagi macan tutul atau elang tapi primata jenis lain dari spesies <i>Homo sapiens</i> alias m.a.n.u.s.i.a. Sekali lagi, manusia. Spesies ini adalah predator yang paling rakus dan berbahaya. Macan tutul hanya memangsa lutung jika sedang lapar. Manusia tidak. Ia memburu hewan ini sebanyak yang ia bisa bawa pulang. Jika perlu, satu keluarga lutung.

Dulu, ketika populasi lutung masih relatif banyak, hewan ini mudah dijumpai ketika mereka keluar hutan. Biasanya menjadi hama di ladang karena suka mencuri jagung Pak Tani. Kini, primata ini masuk kategori hewan yang dilindungi sebab terancam punah.

Selain karena area hutan yang semakin habis, populasi mereka juga terancam oleh perburuan manusia. Menurut catatan ProFauna Indonesia, para lutung itu ditangkap lalu diperjualbelikan. Konon, dagingnya juga dimakan sebagai sate atau sop. Kata Halim, tubuh maupun kotoran lutung baunya mirip kambing. “Mungkin karena baunya yang mirip kambing itu, makanya lutung juga dimakan dagingnya,” duganya.

Jika tidak disantap di meja makan, lutung biasanya dipiara sebagai hewan rumahan karena tampangnya yang lucu. Karena tergolong hewan yang dilindungi, lutung sebetulnya tidak boleh dipiara sebagai hewan rumahan. Yang boleh memelihara hanya institusi yang berwenang seperti kebun binatang atau pusat penelitian.

Hidup sebagai binatang piaraan tidak menjamin nasib mereka lebih baik. Di rumah <i>Homo sapiens</i>, mereka hidup kesepian sebab tidak bisa melakukan <i>grooming</i>. Tak mungkin mereka melakukannya dengan tuan rumah. Padahal bagi lutung, aktivitas ini merupakan salah satu kebutuhan dasar hidup mereka. Soal makan, mungkin saja hidup mereka terjamin. Tapi jika tidak bisa <i>grooming</i>, mereka bakal hidup merana.

Karena hidup merana, biasanya mereka menjadi nakal jika dipiara. Masa lucunya hanya pada saat masih bayi. Setelah dewasa, lucunya hilang. Tak jarang, pemiliknya kewalahan lalu menyerahkannya ke kebun binatang. Menurut cerita Halim, beberapa ekor lutung di PPS TM Ragunan berasal dari hewan rumahan yang dihibahkan oleh pemiliknya karena mereka sudah bosan dan kewalahan merawatnya.

Di PPS TM Ragunan, para lutung itu bisa berkumpul bersama sesama lutung. Di siang hari, setelah sarapan mereka bisa bermalas-malasan, bergantian mencari kutu sambil bersenandung, “Kemesraan ini … janganlah cepat berlalu …”

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

2 thoughts on “Lutung Jawa Hidup Luntang-Lantung [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s