Surat Buat Paklek: Jakarta Banjir

Paklek,

Apakah kau lihat tivi hari ini? Jakarta hujan deras, banjir, macet di semua ruas jalan sampai di depan pintu kos-kosan. Tapi Paklek tak usah khawatir, aku baik-baik saja di sini.

Paklek tak perlu mendoakan aku tidak kebanjiran. Biar saja begini. Tuhan terlalu murah jika kita berdoa untuk urusan banjir. Untuk sementara simpan saja doa Paklek. Lebih baik doakan aku tetap beriman. Beriman kepada Tuhan, tentu saja. Tuhan di langit, yang dulu Paklek perkenalkan kepadaku saat aku masih suka bluron di air banjir, dulu. Kalau soal iman, bolehlah Paklek berdoa buatku sebab di sini iman jauh lebih mudah surut daripada banjir.

Justru banjir membuatku bahagia. Sungguh. Belum pernah aku sebahagia ini selama tinggal di Jakarta. Hari ini aku bisa melihat anak-anak Jakarta yang tak pernah mandi di sungai itu bermain sampan. Ceria sekali. Mereka juga tampak bersuka cita ketika hendak aku potret. Sambil mengacung-acungkan dua jari, mereka bersahut-sahutan bilang, “Pisss, piss!” Entah apa maksud mereka. Mungkin, banjir mendatangkan kedamaian buat mereka. Keceriaan mereka mengingatkanku saat aku masih bocah, yang tiap tahun selalu menanti-nanti musim banjir padahal bagi Bapak, banjir adalah bala karena membuat bulir padi yang telah berisi tak bisa dipanen.

Di sini beda dengan Lamongan, Paklek. Di Jakarta, banjir cepat datang tapi lekas surut. Tidak seperti di Lamongan yang jika banjir sampai berbulan-bulan.

Paklek tak perlu menyusulku merantau ke sini. Jakarta sudah terlalu padat dan bising. Sudah terlalu banyak orang Lamongan di sini yang berjualan soto ayam, pecel lele, tahu campur, dan entah apa lagi. Mungkin saja sebagian yang lain bahkan sampai menjual iman. Sudah tak ada tempat kosong lagi untuk tinggal. Di sini semua tanah ditutup dengan aspal dan semen. Selama tiga tahun di Jakarta, aku belum pernah menjumpai tanah liat. Luar biasa bukan? Sungai dan got di sini seperti talang pancuran di kampung.

Kalau Paklek datang ke sini, artinya Paklek akan menambah lebar aspal dan lantai semen. Tak usahlah. Tolong sampaikan ini kepada semua handai tolan. Biar aku saja yang berjualan pecel lele di sini, sesekali kunjung kampung halaman sambil membawa oleh-oleh baju koko dari Pasar Tanah Abang. Bukankah itu sudah cukup?

Hidup di kampung jauh lebih enak dan lebih tenang. Kalau tak punya uang, Paklek tinggal minta saja kepada Tuhan. Dia pasti akan mengabulkan. Di sini, di Jakarta, jika tak punya uang, kami harus mencari sendiri. Berjuang melawan macet, berkelahi dengan stres. Di kota, Tuhan tak bisa mendengar doa kami karena setiap doa yang kami panjatkan selalu terperangkap di awan bersama asap knalpot, lalu tersangkut di pintu langit, kemudian turun lagi bersama hujan. Kalau saja aku tidak ingat Emak, pastilah aku sudah kembali ke kampung halaman.

Doakan saja aku bisa menjadi ketua partai suatu hari nanti. Siapa tahu, setelah menjadi petinggi partai, aku bisa menjadi presiden. Tapi Paklek jangan keliru mendoakan aku menjadi seperti Wak Mat Yahya Jaini, tetangga kita dari Gresik itu.

Paklek juga harus berjanji untuk mencoblos partaiku di pemilu nanti. Jika terpilih menjadi presiden, aku akan memperjuangkan aspirasi Paklek yang dulu belum terkabul karena kalah pemilu. Lupakan Mat Rais. Dia sudah terlalu tua. Biar aku saja yang nanti akan memperjuangkan negara federal. Agar u(w)ang tidak hanya berpusar-pusar di Jakarta tapi u(t)ang turut dibagi ke seluruh negeri. Agar para perantau bisa balik kampung. Kasihan warga Betawi. Mereka kini semakin repot kalau mau menghadiri kondangan atau yasinan. Kasihan juga Bang Yos. Dia sekarang jarang tersenyum dan selalu menyalahkan urbanisasi jika Jakarta tertimpa masalah.

Sampaikan sungkemku kepada Emak dan Bapak. Jika ada rezeki, insya Allah bulan depan aku akan mengirim uang untuk membuat WC siram seperti milik Pakde Mat Toha, supaya kalau hujan baunya tidak mabul-mabul.

Wassalam,

Ponakanmu

Mat Soleh

(yang sedang nganggur di kantor karena kepungan banjir)

Advertisements

2 thoughts on “Surat Buat Paklek: Jakarta Banjir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s