Kanker Payudara Juga Mengincar Pria [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin (seorang pria)

Penyakit ini biasanya identik dengan jenis kelamin perempuan padahal ia bisa saja menyerang laki-laki. Jumlah kasusnya memang tidak sebanyak pada wanita. Tapi melihat trennya yang terus naik, tak ada ruginya para pria waspada. Tak perlu cemas sebab kanker jenis ini bisa dicegah dan, yang lebih penting lagi, bisa disembuhkan.

—–

Pria kena kanker payudara? Mana bisa? Pria kan enggak punya payudara?

Tak perlu heran dengan komentar bernada heran semacam ini. Hingga sekarang penyakit ini masih belum begitu populer. Masih kalah populer dibandingkan jenis kanker lain pada pria seperti kanker prostat atau kanker paru-paru. Maklum saja soalnya angka kejadiannya memang relatif masih belum banyak.

Persentasenya hanya sekitar 1 – 5% dari seluruh kasus kanker payudara. Dengan kata lain, jika ada seratus orang penderita kanker payudara, hanya 1 – 5 orang di antaranya berjenis kelamin pria. Selebihnya wanita.

Sebetulnya kanker payudara pada pria bukan penyakit baru. Persoalannya cuma ia kurang dikenal. Kanker jenis ini baru mulai banyak dibicarakan setelah meninggalnya musisi senior Melky Goeslaw, ayah kandung musisi Melly Goeslaw, beberapa bulan lalu.

Dalam dalam banyak hal, kanker payudara pada pria tidak berbeda jauh dengan kanker payudara pada wanita. Faktor penyebabnya hampir sama, sifat tumbuh kembang sel kankernya sama, pemeriksaan diagnostiknya serupa, pencegahan dan terapinya pun tak berbeda. Bedanya cuma perkara jenis kelamin inang yang ditumbuhi sel kanker itu. Artinya, ketika bicara tentang kanker payudara pada pria, sebetulnya kita juga sedang bicara tentang kanker payudara pada wanita.

<b>Biang keladinya hormonal</b>

Dibandingkan dengan wanita, pria memang punya risiko kanker payudara yang lebih rendah. Soalnya pria tidak dihadapkan pada masalah telat hamil, minum pil kontrasepsi, siklus haid yang kacau, dan sejenisnya. Meski begitu, pria tetap punya faktor risiko.

Yang pertama, fakor genetik. Seorang pria akan memiliki risiko kanker payudara jika di dalam keluarganya terdapat riwayat kanker. Semua jenis kanker. Baik itu kanker paru-paru, kanker prostat, kanker rahim, lebih-lebih kanker payudara.

Namun, sekali lagi, ini hanya masalah risiko. Seseorang yang punya risiko kanker tidak berarti ia pasti bakal terkena penyakit ini. Menurut dr. Sutjipto, Sp.B (K) Onk., dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, faktor genetik ini punya peran 5 – 7 % dari keseluruhan faktor yang menyebabkan timbulnya kanker payudara.

Pada pria normal, saat masuk akil balig, petumbuhan kelenjar susunya berhenti. Namun pada pria tertentu, kelenjar susunya terus aktif dan menyebabkan kelainan yang disebut gynecomastia. Pria punya susu. Kelainan ini juga bisa meningkatkan risiko kanker payudara.

Namun, ini tidak berarti payudara pria yang ukurannya di atas rata-rata adalah petunjuk awal terjadinya kanker payudara. Tidak demimikian. Sutjipto bercerita, setelah meninggalnya Melky Goeslaw, beberapa pria berkonsultasi kepadanya. Mereka takut akan menderita penyakit ini karena dadanya montok. Setelah diperiksa, ternyata tidak ada indikasi kanker.

Meski begitu, payudara pria yang montok harus diwaspadai jika itu bagian dari obesitas karena obesitas merupakan salah satu faktor risiko. Lagi-lagi kegemukan memang bisa menjadi biang keladi dari berbagai penyakit. Tak terkecuali kanker payudara pada pria.

Faktor kedua, usia. Menurut Sutjipto, kanker payudara pada pria biasanya menyerang pada usia di atas 50 tahun. Ini salah satu perbedaan dengan kanker payudara pada wanita. Pada kaum Hawa, kanker payudara bisa menyerang pada usia yang lebih muda, katakanlah 35 tahun. Bahkan Sutjipto pernah menjumpai pasien wanita berusia 21 tahun!

Namun, ini tidak berarti pria “balita” (bawah lima puluh tahun) punya alasan untuk tidak mewaspadai penyakit ini. Kanker, sebagaimana tabiatnya, tidak menyerang secara tiba-tiba. Tidak seperti flu burung atau demam berdarah dengue yang menyerang dengan cepat dan bisa mematikan dalam hitungan hari.

Kanker payudara menyerang secara pelan-pelan. Prosesnya terjadi bertahun-tahun. Sangat mungkin proses awalnya terjadi jauh sebelum korban berusia 50-an tahun.

Faktor ketiga, ketidakseimbangan hormonal.

Pria, sejak dari <i>sono</i>-nya, memang berbeda dengan wanita. Bukan hanya soal pria suka berbohong dan wanita suka menangis. Lebih mendasar lagi, hormon yang mengendalikan Adam berbeda dengan hormon yang mengendalikan Hawa. Pada pria, yang dominan hormon androgen. Pada wanita, estrogen.

Jika kesetimbangan hormonal ini terganggu, maka risiko seorang pria menderita kanker payudara bisa meningkat. Baik pada pria maupun wanita, kanker payudara bersifat <i>hormonal dependent</i>, dipengaruhi oleh aktivitas hormonal. Ketidakseimbangan hormonal terjadi misalnya pada mereka yang mengalami gangguan liver, seperti sirosis. Adanya gangguan fungsi di organ ini menyebabkan aktivitas hormon androgen menurun dan, sebaliknya, aktivitas hormon estrogen meningkat.

Faktor lainnya, pemakaian obat-obat estrogenik dalam jangka panjang.

<b>Tak bisa dimamografi</b>

Seperti pada wanita, kanker payudara pada pria juga dimulai dari sel kecil yang terus menggandakan diri. Ketika ukurannya masih relatif kecil, jaringan kanker ini berupa benjolan kecil di belakang puting susu.

Saat ukurannya masih kecil, benjolan ini sulit dideteksi lewat cara SADARI (periksa
payudara sendiri). Pasalnya, payudara pria tidak seperti milik wanita yang lunak dan bervolume sehingga adanya bagian yang mengeras relatif lebih mudah dibedakan dari jaringan normal.

Selain itu, payudara pria juga tidak bisa dimamografi. Lagi-lagi karena masalah ukuran dan bentuk. Payudara pria bentuknya hanya “dua dimensi”, hanya bisa difoto dari depan. Tidak bisa difoto dari atas. Berbeda dengan payudara wanita yang bentuknya “tiga dimensi” sehingga bisa difoto tampak atas-bawah.

Karena alasan ini, pemeriksaan kanker payudara pada pria tidak mengandalkan mamografi. Diagnosisnya ditegakkan lewat pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan biopsi (pemeriksaan cuplikan sel kanker secara mikroskopis). Dua jenis pemeriksaan ini juga merupakan tes standar pemeriksaan kanker payudara pada wanita.

Tak hanya pemeriksaannya yang sama. Terapinya pun sama: operasi, radiasi, dan kemoterapi. Tak ada perbedaan khusus. Sutjipto menjamin, asalkan mendapatkan perawatan dini, kanker payudara pada pria bisa disembuhkan hingga tuntas.

Selama lima tahun terakhir di RS Kanker Dharmais, Sutjipto telah menangani tujuh pasien pria penderita kanker payudara. Dari tujuh orang itu, empat di antaranya berhasil disembuhkan secara tuntas karena mereka segera mendapatkan terapi ketika kanker masih dalam stadium awal.

Tidak ada batasan eksak tentang kondisi “stadium awal” ini. Tapi berdasarkan pengalaman Sutjipto, jika ukuran jaringan tumornya belum melebihi 2 cm, kanker payudara masih bisa disembuhkan secara sempurna. Paling telat, pasien harus mendapat perawatan pada stadium dua ketika ukuran jaringan tumornya belum lebih dari 5 cm. Jika lebih dari itu, maka terapi menjadi lebih sulit. Apalagi jika sudah muncul anak sebarnya misalnya sudah sampai menjalar ke kelenjar getah bening.

<b>Pengobatan medis harus diutamakan</b>

Dalam pandangan Sutjipto, kegagalan terapi sering disebabkan oleh pandangan pasien yang keliru. “Selama ini masyarakat ‘kan menganggap kanker itu kata vonis. Tidak mungkin sembuh. Pasti mati. Padahal kanker itu <i>curable</i> (bisa disembuhkan, Red),” ujarnya. Celakanya lagi, banyak pasien yang takut ke dokter karena anggapan yang konyol. Mereka berkeyakinan bahwa kanker akan menjadi semakin ganas kalau dibiopsi dan akan menyebar jika diradiasi.

Karena pandangan ini, tak jarang penderita kanker enggan pergi ke dokter. Tak jarang, kanker payudara justru diketahui dari anak sebarnya. Saat pergi ke dokter, pasien diketahui menderita kanker kelenjar getah bening. Begitu dilakukan biopsi, ternyata itu hanya anak sebar. Dedengkotnya ada di payudara.

Biasanya, begitu mengetahui adanya benjolan di payudara, mereka mencoba-coba pengobatan alternatif lebih dulu. Ketika tidak berhasil, mereka kemudian baru pergi ke dokter. Padahal semakin telat mendapat terapi medis, otomatis stadium kankernya semakin meningkat. Artinya, peluang kesembuhan semakin kecil.

Supaya pengobatan tradisional tidak merugikan pasien sendiri, Sutjipto menyarankan agar pengobatan ini dilakukan sebagai pelengkap terapi medis. Bukan sebaliknya. Dengan kata lain, begitu ada kecurigaan kanker, pasien disarankan pergi ke dokter untuk mendapatkan terapi standar. Jika pasien mau menyertainya dengan minum obat tradisional, silakan saja. Tidak ada larangan. Dengan begitu, pengobatan medis dan alternatif akan saling melengkapi. Sutjipto mengakui ada obat-obat tradisional tertentu yang memang bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan menurunkan aktivitas sel tumor.

Seperti kebanyakan penyakit pada umumnya, kanker payudara pada pria pun bisa dicegah. Faktor risiko ibarat benih. Ia tidak akan tumbuh kalau tidak “dipupuk”. Dalam hal ini, “pupuk” kanker itu bisa berasal dari gaya hidup yang tidak sehat, stres, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, polusi, dan sejenisnya. Lagi-lagi rokok, stres, gaya hidup, dan itu-itu lagi. Kita mungkin bosan tapi dokter tak akan pernah bosan mengingatkan ini karena memang ini adalah masalah nyata di masyarakat.

Sutjipto juga menyarankan agar masyarakat tidak mudah termakan iklan pengobatan alternatif yang menggampangkan penyakit ini. Hingga sekarang, kanker masih tergolong penyakit yang sulit diobati. Artinya, kalau ada iklan pengobatan alternatif yang bisa menyembuhkan kanker secara sangat gampang, metode pengobatan itu layak dipertanyakan. Faktanya, hingga kini kanker masih menduduki ranking atas penyakit yang sulit disembuhkan. “Kalau gampang diobati, tentu kanker bukan masalah besar,” ucapnya.

Agar bisa dideteksi lebih dini, Sutjipto juga menyarankan agar pria di atas usia 40 tahun secara rutin melakukan <i>general check-up</i>. Jika tidak bisa tiap tahun, setidaknya tiap 3 – 4 tahun sekali. “Kalau usia sudah di atas 40 tahun, jangan anggap remeh jika ada bagian yang mengeras di belakang puting susu,” sarannya.

Mulai sekarang, kanker payudara pada pria harus mulai disadari ancamannya meskipun payudara pria sulit di-SADARI.

Advertisements

One thought on “Kanker Payudara Juga Mengincar Pria [intisari]

  1. Ada kabar baik nih bagi penderita kanker.. Ada teknologi baru yang mampu membantu perawatan penyakit ini namanya TRANSFER FACTOR. Sudah mendapat rekomendasi dari Kementrian Kesehatan Rusia untuk pengobatan kanker dan masuk ke Buku Rujukan Dokter di Amerika (PDR) sejak tahun 2003. Sudah diterbitkan lebih dari 3500 uji klinis manfaat penggunaannya bagi kesehatan manusia.http://thetransferfactorindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s