Nis Antari [doa]

Mbak Nis,

Andai saja minggu kemarin aku tahu Mbak Nis akan pergi meninggalkan kami, tentu sore itu aku akan memilih untuk makan bersama Mbak Nis di kantin lalu mengobrol barang sedikit. Tentang apa saja. Tentang ketuhanan, tentang spiritualisme, tentang hidup, tentang Mbak Nis. Atau tentang apa saja yang menarik minat Mbak Nis.

Maafkan aku yang selama ini tak banyak bicara denganmu bahkan ketika meja kita berdamping-dampingan waktu di Palmerah dulu. Mbak Nis tahu aku memang bukan tukang obrol yang baik. Maafkan aku.

Selama ini aku memang jarang bicara kepada Mbak Nis tapi secara diam-diam aku banyak belajar darimu. Belajar tentang cara membebaskan diri dari rasa benci kepada orang lain. Sejujurnya, aku sangat terpesona kepada Mbak Nis yang kulihat selalu tersenyum, sabar, tak pernah terbebani oleh perasaan buruk kepada orang lain.

Tiap hari yang kulihat hanya wajah Mbak Nis yang selalu tersenyum. Bahkan aku masih bisa melihat senyumanmu itu di balik kain putih pembungkus jenazah saat terakhir aku melihatmu.

Senyuman Mbak Nis adalah kekayaan yang tidak banyak orang memilikinya. Tidak juga diriku. Andai saja kebaikan diri Mbak Nis bisa diwariskan, ingin aku menjadi ahli warismu. Berkawan dengan Mbak Nis membuatku tahu tentang gambaran orang baik yang benar-benar baik.

Dan, ah, orang-orang baik selalu lekas dipanggil Tuhan.

Aku yakin engkau di sana telah bersatu dengan keabadian seperti yang selama ini engkau yakini. Engkau telah melewati tabir kehidupan lebih dulu. Sementara aku di sini masih berada di dalam barisan menunggu giliran. Entah kapan. Kalau saja bisa, aku ingin engkau mengajarkan rahasia kematian yang telah engkau alami.

Mbak Nis,

Hari ini aku masuk kerja lagi, menulis lagi, dan seperti biasa, mendengarkan lagu-lagu Ebiet lagi. Entah apa yang harus kukatakan kepadamu. Yang aku tahu, tiap kali mendengarkan lagu-lagu Ebiet, aku selalu ingat kepadamu. Seolah-olah engkau masih berada di kursimu dan ikut menikmatinya seperti biasa.

Dalam keranda hitam tubuhmu terbujur

Ada misteri yang tak pernah terungkap

Kini, setelah kepergianmu, tampaknya tak akan ada lagi yang memintaku untuk memutar lagu-lagu Ebiet seperti yang biasa Mbak Nis lakukan selama ini. Dan, aku mungkin akan menikmati senandung-senandung kematian itu seorang diri. Aku pasti akan terus merindukanmu.

Mbak Nis,

Maafkan aku yang selama ini sering mengganggu konsentrasi Mbak Nis dengan lagu-lagu yang mungkin terdengar berisik di telingamu. Aku memang egois karena aku tahu Mbak Nis tidak akan menegurku. Kini, setelah kepergian Mbak Nis, aku baru tahu lagu itu ternyata sedang berbicara kepadaku yang tak juga sadar akan masa yang terus bergerak:

And you run and you run to catch up with the sun but it’s sinking

And racing around to come up behind you again

The sun is the same in a relative way but you’re older

Shorter of breath and one day closer to death

Allaahummaghfir lahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s