Garam Lumpur Made In Bledug Kuwu [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Di Sidoarjo, Jawa Timur, semburan lumpur mendatangkan petaka. Jalan tol terbenam, rumah tenggelam, desa terendam. Di Bledug Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah, semburan lumpur menjadi objek wisata. Airnya menjadi sumber garam, lumpurnya menjadi obat kulit.

Objek wisata semburan lumpur ini terletak di Desa Kuwu, sekitar 28 km dari kota Purwodadi, ibukota Kabupaten Grobogan. Lokasinya persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan Purwodadi-Blora. Dengan menggunakan angkutan umum, hanya diperlukan waktu kurang dari setengah jam dari Purwodadi ke tempat ini.

Dalam hal jumlah pengunjung, objek wisata Bledug Kuwu relatif lebih sepi jika dibandingkan dengan jumlah pengunjung di lokasi semburan lumpur Sidoarjo hari-hari ini. Desa-desa di Porong yang tergenang lumpur jelas bukan objek wisata. Tapi faktanya, sejak lumpur menyembur 29 Mei tahun lalu, lokasi ini seolah berubah menjadi “objek wisata”. Banyak yang datang dari jauh sekadar untuk melihat-lihat.

Dilihat dari peta, lokasi Bledug Kuwu jaraknya sekitar 200 km dari Sidoarjo. Tidak jelas apakah lumpur yang menyembur di Bledug Kuwu ini masih punya hubungan dengan lumpur yang menggenangi Porong. Sejauh ini tidak ditemukan hubungan antara keduanya. Yang jelas, Bledug Kuwu tidak terjadi sebagai akibat proses pengeboran minyak bumi.

<b>Legenda Joko Linglung</b>

Semburan lumpur Kuwu diyakini sudah ada sejak era kerajaan-kerajaan Jawa pada masa lalu. Tak pasti kapan mulainya. Tidak ada catatan sejarah Bledug Kuwu di buku karya Empu Tantular ataupun Empu Prapanca. Satu-satunya sumber informasi adalah legenda tentang Joko Linglung.

Menurut legenda itu, Bledug Kuwu terjadi pada abad ketujuh Masehi, pada masa Kerajaan Medang Kamolan. Waktu itu kerajaan diperintah oleh Raja Aji Saka setelah ia berhasil mengalahkan Prabu Dewata Cengkar, raja lalim yang gemar makan daging manusia.

Suatu hari, Aji Saka bertemu dengan seekor ular naga yang mengaku sebagai anaknya. Merasa tak pernah punya anak seekor naga, Aji Saka pun mengujinya. Ia hanya mau mengakuinya sebagai anak asalkan si naga sanggup mengalahkan musuh bebuyutan Aji Saka, yaitu bajul putih yang berada di Laut Selatan. Bajul putih itu tak lain adalah Dewata Cengkar yang <i>malih rupa</i> setelah dikalahkan Aji Saka.

Syarat itu dituruti oleh si naga. Ia pun pergi ke Laut Selatan. Setelah berhasil mengalahkan bajul putih, ia kembali ke Kerajaan Modang Kamolan. Untuk menuju ke sana, ia tidak melewati jalur darat tapi jalur bawah tanah. Karena di dalam tanah tidak ada rambu-rambu penunjuk jalan, si naga beberapa kali salah tempat ketika berusaha keluar dari perut bumi, sebelum akhirnya ia muncul di Kuwu.

Karena bolak-balik muncul di tempat salah, si naga itu dijuluki Joko Linglung. Tempat terakhir ia keluar di tanah Kuwu itulah yang kemudian menjadi Bledug Kuwu. Air yang keluar di situ terasa asin karena diyakini berasal dari Laut Selatan, mengalir lewat terowongan bekas jalan Joko Linglung. Tempat ini kemudian disebut <i>Bledug</i> karena semburan lumpurnya menimbulkan suara <i>bledug-bledug</i> yang dalam bahasa Jawa berarti letupan.

<b>Fenomena gunung lumpur</b>

Jika dibandingkan dengan semburan lumpur di Sidoarjo, volume maupun kekuatan semburan lumpurnya tergolong sangat kecil. Di Porong, volume lumpur mencapai ribuan meter kubik per hari. Penambahan volume lumpur sanggup menjebol tanggul, menenggelamkan jalan tol, rumah demi rumah, hingga desa demi desa. Tapi di Kuwu, pertambahan volume air dan materi lumpur relatif tidak menambah luas tanah yang tergenang lumpur. Dari kejauhan, bagian tengah Bledug Kuwu tampak seperti telaga lumpur yang tenang dan sesekali meletup, seperti sedang mendidih.

Di Sidoarjo, titik semburan tidak bisa dilihat dari dekat. Kecuali petugas, kita hanya bisa melihatnya dari jauh, dari asap putih yang membubung tinggi dan terlihat dari jarak ratusan meter. Di Bledug Kuwu, pengunjung bisa menikmati pemandangan unik letupan lumpur dari menara pandang sambil menikmati es kelapa muda.

Letupannya terjadi secara periodik tiap beberapa menit. Tingginya hanya sekitar dua meter. Pada saat hujan, biasanya letupan menjadi lebih besar. Tingginya bisa mencapai lima meter. Suara <i>bledug</i>-nya pun lebih keras. Sama seperti di Sidoarjo, letupan lumpur di Bledug Kuwu disertai semburan asap yang berwarna putih. Cuma, bubungan asapnya tidak setinggi di Sidoarjo. Baunya campuran antara metana dan sedikit bau belerang, mirip di Sidoarjo.

Jika ingin melihat lebih jelas, misalnya jika ingin memotret, pengunjung bisa mendekat ke arah letupan, dengan memanfaatkan jalan setapak yang permukaannya dicor dengan semen. Tidak bisa betul-betul dekat sebab semakin dekat dengan titik letupan, permukaan tanah semakin lembek. Sekilas, permukaan tanahnya tampak kering. Tapi begitu dipijak, ia akan menelan kaki pelan-pelan. Jika nekat, kaki bisa terperosok ke dalam lumpur.

Sebagai sebuah fenomena geologi, proses terjadinya Bledug Kuwu masih belum bisa dipastikan. Yang ada hanya teori-teori. Salah satu kemungkinannya, menurut Rovicky Dwi Putrohari, anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia, dulu lokasi itu merupakan laut yang secara perlahan-lahan berubah menjadi daratan. Tentu saja proses ini tidak terjadi dalam hitungan beberapa tahun, tapi selama berabad-abad. Sebelum benar-benar menjadi daratan, wilayah itu menjadi daerah rawa lebih dulu.

Setelah menjadi daratan, air dan materi lumpur menembus permukaan tanah karena terdorong oleh gas rawa yang terperangkap di dalam tanah. Gas ini diproduksi terus-menerus di bawah perut bumi sehingga materi lumpur terus-menerus terdorong keluar. Ahli geologi menyebut fenomena alam ini sebagai <i>mud volcano</i> (gunung lumpur).

Fenomena gunung lumpur ini banyak dijumpai di belahan Bumi lain, bukan hanya di Sidoarjo atau Bledug Kuwu. Biasanya fenomena ini berkaitan dengan adanya lapisan minyak dan gas bumi. Salah satu wilayah yang memiliki banyak titik gunung lumpur adalah Azerbaijan, sebuah negara di wilayah Eropa timur. Salah satu gunung lumpur di sana pada tahun 2001 bahkan pernah menyemburkan gas yang disertai dengan api setinggi 15 meter.

Menurut Rovicky, fenomena Bledug Kuwu ini sedikit berbeda dengan fenom
ena lumpur Porong dalam hal sumber panas. Panas lumpur Sidoarjo diduga sebagai akibat dari peristiwa hidrotermal. Maksudnya, lumpur Porong bersuhu tinggi karena di dalam tanah lumpur ini dipanaskan oleh magma Gunung Penanggungan yang terletak di daerah Malang-Pasuruan, dekat dengan titik semburan. Tapi, sekali lagi, ini pun masih sebatas dugaan yang masih sedang dikaji. Fenomena hidrotermal ini tidak terjadi di Bledug Kuwu. Lumpur yang keluar di sana tidak sepanas lumpur di Sidoarjo.

<b>Dibuat garam</b>

Karena Bledug Kuwu terbentuk dari laut purba, air yang keluar di pusat semburan terasa asin. Garam ini berasal dari mineral yang terendapkan di dalam tanah selama proses perubahan menjadi daratan. Bukan karena ada saluran yang menghubungkan antara pusat semburan Bledug Kuwu dengan Laut Selatan seperti yang diyakini di dalam legenda Joko Linglung.

Oleh masyarakat setempat, air asin ini dimanfaatkan untuk membuat garam. Saat menyembur dari perut bumi, air masih dalam keadaan keruh karena keluar bersama materi lumpur. Air lumpur ini kemudian dialirkan ke dalam petak-petak tanah yang khusus dipakai untuk mengendapkan materi lumpur yang tidak larut air. Setelah terpisahkan dari materi lumpur, air asin itu dituangkan ke bilah-bilah bambu.

Bilah-bilah ini dibuat dari bambu yang dibelah memanjang menjadi dua. Bilah-bilah itu dirakit satu sama lain sehingga bisa dipasang bertumpuk-tumpuk. Bagian cekung bilah bambu inilah yang digunakan untuk mengeringkan air. Pada siang hari, bilah-bilah bambu ini dijemur di bawah terik matahari. Waktu malam atau saat hujan, bilah-bilah bambu ini ditumpuk lalu ditutup dengan dengan atap rumbia. Esok paginya dijemur lagi. Begitu terus sampai air benar-benar kering dan garam mengkristal di permukaan bilah bambu.

Pada musim kemarau, hanya dibutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk mengeringkan air. Pada musim hujan, proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Agar benar-benar kering, bisa butuh waktu 1 – 2 minggu. “Kalau pas hujan, kerjanya lebih lama, hasilnya lebih sedikit,” kata Sukiyem, petani garam kuwu, dalam bahasa Jawa kromo. “Kalau sudah mendung seperti ini, jemuran harus segera ditutup,” katanya seraya menumpuk-numpuk bilah bambu bersama Ladiman, suaminya. Dua tumpuk bilah bambu bisa menghasilkan kira-kira 60 kg garam.

Karena dikeringkan di bilah bambu yang relatif bersih, kristal garam langsung siap dipakai untuk memasak tanpa menjalani proses pembersihan lebih dulu. Setelah dikerok dari bilah bambu, garam kuwu itu langsung dikemas dalam plastik tanpa tulisan apa-apa dan langsung dijual.

Sebagian dijual kepada penduduk sekitar. Sebagian lagi dijual di pintu masuk objek wisata Bledug Kuwu sebagai suvenir. Selain garam, pengunjung juga bisa membeli lumpur dan air lumpur yang dijual dalam kemasan <i>gendul</i> (botol) bekas air mineral.

Air yang dijual di sini adalah air asin yang telah dipisahkan dari materi lumpur. Bisa digunakan sebagai pengganti garam untuk memasak. Sedangkan lumpurnya, konon, bisa dipakai untuk mengobati jerawat dan penyakit kulit seperti kudis. Harganya murah. Hanya dengan uang Rp 2.000, pengunjung bisa membawa pulang 1 kg garam atau satu botol kecil air garam atau lumpurnya.

Rasa asin garam kuwu sedikit berbeda dengan garam pada umumnya yang berasal dari air laut. “Garam sini enak. Tidak ada getirnya. Dipakai untuk masak apa saja jadinya enak,” jamin nenek dari empat cucu ini.

Kata Sukiyem, garam kuwu dulu pernah menjadi langganan para juru masak Keraton Surakarta. Tapi kini, kejayaan garam kuwu telah lewat. Petani garam yang tersisa pun tinggal empat orang yakni Sukiyem, Ladiman, dan dua orang tetangga mereka. Sehari-hari mereka bekerja di ladang garam yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari titik letupan Bledug. Sore hari atau saat mendung, mereka pulang. Begitu terus ritme hidup mereka setiap hari.

Jika empat orang ini meninggal dunia, tampaknya tak ada lagi yang meneruskan tradisi ini. “Menjadi petani garam itu butuh kesabaran dan ketelatenan. Sekarang tidak ada lagi yang mau jadi petani garam karena hasilnya tidak seberapa. Anak saya pun tidak mau,” kata Ladiman sambil membersihkan lengannya yang legam mengkilat karena tiap hari terpanggang sinar matahari.

Advertisements

One thought on “Garam Lumpur Made In Bledug Kuwu [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s