Buah Dibuang, Batang Jadi Uang [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Pisang, seperti lazimnya tanaman buah lain, biasanya diambil buahnya untuk dimakan. Pisang raja, pisang susu, pisang ambon, pisang kepok, semua diambil buahnya. Tapi pisang yang satu ini beda. Yang dimanfaatkan justru batangnya, bukan buahnya. Namanya pisang abaka (<i>Musa textilis</i>), kadang disebut pisang manila.

—–

Pisang ini tidak begitu populer di Indonesia. Juga tak mudah dijumpai kecuali di Sulawesi, sebagian Kalimantan, dan Banyuwangi, Jawa Timur. Maklum, pisang jenis ini bukan tanaman rakyat yang banyak ditanam petani seperti pisang kepok, pisang raja, atau pisang susu.

Pisang ini diyakini berasal dari jiran kita Filipina. Tapi sebagian kalangan mengatakan pisang ini sebetulnya berasal dari kepulauan Sangir dan Talaud, wilayah Sulawesi Utara, yang berdekatan dengan Mindanao, Filipina Selatan. Entah mana yang benar. Yang pasti, Filipina merupakan negara penghasil serat pisang abaka terbesar di dunia. Karena itu wajar jika pisang ini lebih diyakini berasal dari negeri itu ketimbang dari Indonesia. Itu juga sebabnya pisang ini kadang disebut <i>Musa mindanauensis</i>.

Orang Talaud menyebutnya Walzi. Penduduk Sangir mengenalnya sebagai Balri atau Hote. Di Minahasa, Sulawesi Utara, pisang ini punya banyak nama: kofo sangi, pisang benang, pisang manila. Di Jawa Barat, pohon ini disebut cau manila.

Ahli botani asal Belanda, K. Heyne, dalam bukunya yang masyhur, <i>Tumbuhan Berguna Indonesi</i> (terjemahan), mencatat bahwa tanaman ini pernah dibudidayakan secara massal di Besuki, Situbondo, Jawa Timur, tahun 1915 oleh pemerintah Hindia Belanda. Tak lama kemudian tuan-tuan kumpeni itu juga mencoba menanam di Lampung. Namun karena komoditi ini tidak begitu menguntungkan secara ekonomis, akhirnya kebun abaka dibabat habis, diganti dengan kebun karet yang produknya lebih gampang dijual.

Secara taksonomi, pisang ini masih satu keluarga dengan pisang-pisang yang kita makan buahnya, yakni famili <i>Musaceae</i>. Bentuk fisiknya pun sangat mirip dengan pisang-pisang lain. Tinggi pohonnya relatif sama. Bedanya, warna batangnya keunguan. Warna hijau daun pisang abaka sedikit lebih tua daripada pisang-pisang kebanyakan. Daunnya juga cenderung lebih tegak, membentuk huruf V, tidak menjuntai seperti kebanyakan daun pisang jenis lainnya.

Buahnya kecil-kecil dan berbiji, seperti buah pisang batu yang biasa dipakai untuk bumbu rujak. Rasanya sepat. Meskipun sudah matang, buah pisang abaka tetap tidak enak untuk disantap. Juga tidak lazim dibuat sebagai salai, keripik, molen, maupun jenis makanan olahan lainnya.

Meski begitu pisang ini punya kelebihan dibanding saudara-saudaranya yang lain. “Pisang abaka memang bukan ditanam untuk diambil buahnya, tapi batangnya,” kata Dr. Ika Mariska, peneliti dari Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), Bogor.

Batangnya menghasilkan serat yang sifat fisiknya kuat, tahan lembap, dan tahan air asin. Karena sifatnya ini, serat abaka bisa dipakai sebagai bahan baku bermacam-macam kebutuhan manusia sehari-hari. Salah satunya untuk tekstil. Itu sebabnya pisang ini dinamai juga <i>Musa textilis</i>. Contoh dari produk tekstil berbahan abaka adalah pakaian tagalog (pakaian tradisional Filipina). Di Indonesia, kain tenun tradisional berbahan serat abaka juga bisa dijumpai di Desa Wisata Using, Glagah, Banyuwangi.

Selain sebagai bahan sandang, serat abaka juga bisa dipakai sebagai bahan baku kertas yang punya ketahanan tinggi terhadap kelembapan dan awet disimpan dalam jangka lama. Contohnya adalah kertas gambar, peta, bungkus teh celup, koran, peredam suara di badan kapal terbang, uang kertas, cek, dan dokumen-dokumen penting lainnya.

Uang kertas berbahan serat abaka misalnya Dollar Amerika Serikat dan Yen Jepang. Uang Rupiah kabarnya juga akan menggunakan serat pisang ini. Karena tahan terhadap salinitas (asin), serat pisang ini juga cocok dipakai sebagai bahan pembungkus kabel bawah laut, tali tambang untuk perahu dan kapal, juga jaring nelayan. Pendek kata, serat pisang abaka bisa dibilang multiguna.

<b>Benangnya langsung ditenun</b>

Secara alami, pisang abaka berkembang biak lewat tunas. Sama seperti pisang lainnya. Dalam satu tahun, satu induk abaka bisa menghasilkan sekitar dua puluh tunas. Dalam skala perkebunan, tunas abaka diperbanyak dengan teknik kultur jaringan (perbanyakan bibit dengan bioteknologi), seperti yang pernah dilakukan di Biogen, Bogor. Dengan teknik kultur jaringan, satu tunas abaka bisa menghasilkan tunas baru yang jumlahnya ratusan hingga ribuan kali lipat dibandingkan dengan cara alami. Ribuan bibit itu sifatnya seragam satu sama lain.

Selain lewat tunas, abaka juga bisa diperbanyak lewat biji. Ini yang membedakannya dengan pisang jenis lainnya yang umumnya tidak punya biji. Biasanya, perbanyakan lewat biji ini dilakukan oleh para pemulia tanaman untuk mendapatkan abaka dengan sifat-sifat baru yang berbeda dari induknya. Jika ia ditanam dari tunas yang berasal dari bonggol, sifat anaknya persis sama dengan induknya. Tapi jika ditanam dari bijinya, anakannya akan memiliki sifat yang berbeda dari induknya. Ini perilaku umum kembang biak tanaman.

Tak berbeda dengan pisang jenis lainnya, abaka gampang tumbuh di wilayah tropis seperti di Indonesia. Tidak membutuhkan perawatan khusus. Di Sulawesi, pohon ini juga banyak tumbuh liar di hutan. Tapi tidak semua abaka menghasilkan serat yang baik. Sebagian abaka liar menghasilkan serat dengan mutu rendah.

Seperti pisang pada umumnya, abaka biasanya tumbuh bergerombol. Satu pohon induk menghasilkan beberapa anakan yang akan tumbuh di sekeliling induknya. Di perkebunan, satu rumpun abaka biasanya terdiri dari sekitar sepuluhan batang.

Saat pohon abaka mulai matang secara fisiologis, ia siap dipanen. Usia kematangan fisiologis ini ditandai dengan munculnya daun bendera. Disebut daun bendera karena daun ini posisinya di tengan, tangkainya tegak, dan daunnya yang masih muda itu berkibar-kibar mirip bendera.

Abaka dipanen dengan cara ditebang batangnya. Jika dalam satu rumpun ada sepuluh batang, biasanya dipanen enam atau tujuh batang. Persis seperti pisang lainnya, setelah ditebang, tunas abaka akan muncul menjadi batang baru. Batang ini, jika telah cukup umur, bisa dipanen lagi lalu menghasilkan tunas baru lagi dan begitu seterusnya. Satu rumpun bambu bisa dipanen sampai lima tahun.

Daun hasil panenan bisa dimanfaatkan seperti daun pisang pada umumnya. Jika ada buahnya, bagian ini dibuang begitu saja. Batangnya diambil untuk diolah. Ini berkebalikan dengan pisang lain yang begitu buahnya dipanen, batangnya ditebang dan dibuang begitu saja. Paling <i>banter</i>, dijadikan sampan saat banjir. Makanya, mbah-mbah kita dulu sering meledek cucunya yang tak punya <i>kerjaan</i> sebagai <i>gedebok</i> (batang) pisang. Bisanya cuma gelundang-gelundung, ngalor-ngidul. Kalau saja usaha perkebunan abaka kumpeni dulu berhasil, tentu batang pisang tidak akan dipakai oleh kakek-nenek kita sebagai bahan ejekan.

Pengambilan serat dari batang abaka dilakukan dengan cara manual yang sederhana. Seratnya diambil dengan cara lapisan-lapisan batangnya dikupas lebih dulu. Seperti kita tahu, batang pisang bukanlah batang sejati seperti batang mangga atau batang nangka. Batang pisang sebetulnya adalah pelepah-pelepah daun pisang yang berlapis-lapis satu sama lain.

Pada proses pengambilan serat, lapisan-lapisan pelepah ini dipisahkan satu demi satu. Setelah itu pelepah-pelepah tersebut distrip (seperti “disisir”) dengan alat yang mirip garpu sampai dihasilkan serat-serat panjang seperti benang. Benang-benang abaka ini kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di bawah sinar matahari. Benang inilah yang selanjutlah diolah. Dalam skala industri, serat ini kemudian diolah menjadi tekstil atau pulp untuk bahan kertas.

Jika pengolahannya masih tradisional, serat abaka ini diperlakukan seperti benang kapas, ditenun menjadi kain. Untuk memberi warna pada kain hasil tenunan, benang-benang itu sebelumnya diberi pemutih atau pewarna lebih dulu. Jika tidak diberi pemutih, warna kainnya krem kusam, seperti kusamnya uang dollar. Meski kusam, kain berbahan abaka sejuk dipakai, seperti pakaian yang berbahan serat alami lainnya macam serat nanas atau rami.

<b>Pernah kondang</b>

Di Indonesia, sekitar empat tahun lalu, pisang ini pernah menjadi maskot yang dibicarakan banyak orang. Ditulis di koran dan majalah, dibicarakan di meja seminar, termasuk juga ditimang-timang para pengusaha agrobisnis. Karena bisa dipakai sebagai bahan baku kertas, pisang abaka waktu itu diharapkan dapat mengurangi kebutuhan pulp dari kayu supaya hutan tak cepat habis dibabat.

Popularitasnya kala itu mirip dengan ketenaran jarak pagar akhir-akhir ini. Waktu itu, kata Ika, ia sering didatangi orang, sebagian besar pengusaha, yang bertanya tentang prospek bisnis abaka. Banyak laboratorium yang secara khusus memperbanyak benih abaka lewat kultur jaringan.

Tapi ketenaran abaka hanya hangat-hangat tahi ayam. Sama seperti nilam yang sempat tenar lebih dulu lalu tiba-tiba kabarnya seperti hilang ditelan bumi. Tak lama setelah itu, cerita Ika, popularitas abaka meredup perlahan-lahan lalu mati suri sampai kini. Permintaan bibit abaka batal begitu saja. Laboratorium-laboratorium bioteknologi terpaksa menghentikan perbanyakan benih. Yang sudah telanjur menanamnya mengeluh karena tidak bisa memasarkan hasil panen. Maklum saja, abaka tidak seperti jagung atau padi yang gampang dijual. Tinggal dibawa ke pasar atau tengkulak, langsung jadi uang. Abaka lain cerita. Ia tidak bisa dijual di pasar, juga tidak bisa dipakai sendiri.

Di Filipina, bisnis abaka bisa berjalan dengan baik karena di sana tersedia semua lini bisnis dari hulu sampai hilir. Mulai dari petani, pengumpul, sampai industri pengolah dan eksporternya. Masyarakat juga secara tradisional menggunakan serat abaka untuk bahan tenun kain yang mereka pakai. Di sana banyak koperasi yang khusus membeli hasil panen serat abaka. Maka tak heran, abaka di sana bisa menjadi tanaman rakyat. Tidak seperti di Indonesia. Seabad yang lalu, Belanda gagal. Beberapa tahun yang lalu, kita batal.

[kredit foto: isarogpulp.com]

Advertisements

4 thoughts on “Buah Dibuang, Batang Jadi Uang [intisari]

  1. Tapi ketenaran abaka hanya hangat-hangat tahi ayam. Sama seperti nilam yang sempat tenar lebih dulu lalu tiba-tiba kabarnya seperti hilang ditelan bumi. Tak lama setelah itu, cerita Ika, popularitas abaka meredup perlahan-lahan lalu mati suri sampai kini..ya seperti itulah di negara kita Cak, rubuh-rubuh gedhang….anget-anget tahi ayam… dulu musim ikan Lou Han,… kemaren Gelombang Cinta,….. dan di Surabaya sekarang marak bisnis Loundry/Binatu… hampir tiap gang ada yang buka loundry ……

  2. (:p) Kayak menanyakan sosok mistrius dalam kuis tebak perkara (;p) Beliau adalah Dr. Ika Mariska, peneliti dari Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), Jl. Tentara Pelajar No. 3A, Bogor. Telp. 0251-8337975.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s