KB Penting, Hamil Sehat Lebih Penting [intisari]

Judul alternatif : Punya Anak Dulu, Baru KB (tapi judul ini tidak sesuai dengan pesan tulisan)

Penulis: M. Sholekhudin

Secara biologis, wanita mencapai puncak kesuburan pada usia sekitar 25 tahun. Di sisi lain, para wanita karier kini cenderung menikah di usia yang lebih tua. Itu pun masih ditambah dengan masa menunda kehamilan karena berbagai pertimbangan. Akibatnya, kehamilan pertama sering kali tidak di usia yang ideal. Agar tidak menimbulkan masalah kesehatan reproduksi, kontrasepsi dan kehamilan harus direncanakan dengan metode yang tepat.

Setiap wanita tentu ingin hidupnya indah dan ideal. Ketemu pria idamannya, lalu menikah di usia sekian tahun, punya rumah sendiri, punya mobil, punya momongan, dan seterusnya. Seperti di dalam sinetron. Tapi kenyataan dalam hidup sering kali tidak sesuai dengan target yang ditulis di buku harian.

Dalam hal usia menikah, misalnya, kini tidak sulit dijumpai wanita karier yang memilih menikah di usia sekitar 30 tahun. Penyebabnya macam-macam. Mungkin karena baru bertemu dengan pria yang sering dijumpai di dalam mimpi, mungkin karena menunggu karier mapan lebih dulu, atau karena sebab-sebab lain yang kadang tidak bisa dimengerti neneknya.

Begitu menikah, pertanyaan pertama yang muncul biasanya adalah kapan sebaiknya punya momongan. Pertanyaan macam ini tentu tidak bisa dijawab dengan gampang. Faktornya banyak sekali. Salah satunya, usia pernikahan.

Berdasarkan pertimbangan kesehatan reproduksi, idealnya wanita hamil ketika ia berada di puncak kesuburan yaitu sekitar usia 25 tahun. Tapi, sekali lagi, ini hanya berdasarkan pertimbangan kesehatan. Sementara dalam hidup, setiap orang dihadapkan pada banyak pertimbangan. Bukan hanya pertimbangan kesehatan.

Lewat 25 tahun, kesuburan seorang wanita akan menurun perlahan-lahan. Makin tua usia seorang wanita, makin berkurang kesuburannya. Berdasarkan pertimbangan kesehatan reprodusi, wanita tidak dianjurkan hamil di atas usia 35 tahun. Di atas usia itu, kehamilannya bahkan dikategorikan sebagai kehamilan berisiko.

Itu artinya jika seorang wanita menikah dua tahun setelah lulus kuliah, katakanlah pada usia 24 tahun, ia tidak dianjurkan berlama-lama menunda kehamilan pertama. Apalagi jika ia telat menikah. Jika kondisi fisik, mental, dan sosial sudah siap, ia dianjurkan segera merencanakan kehamilan. Setelah anak pertama lahir, baru ia disarankan menggunakan kontrasepsi.

Namun jika ia menikah di usia muda, misalnya setelah lulus SMA, berdasarkan pertimbangan kesehatan, ia lebih dianjurkan memakai kontrasepsi lebih dulu. Setelah siap secara jasmani dan rohani, barulah ia disarankan punya anak. “Daripada mengundang anak ke dunia untuk sengsara, ‘kan lebih baik KB (keluarga berencana) dulu,” kata dr. Ramona Sari, Kepala Divisi Pelayanan Kesehatan Reproduksi, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Jakarta.

<b>Kondom paling aman</b>

Merencanakan kehamilan atau memakai kontrasepsi adalah hak reproduksi setiap wanita. Ia berhak mengatur kapan punya momongan, kapan menunda kehamilan. Jika di awal pernikahan ia masih belum menginginkan punya anak, misalnya karena masih terikat kontrak kerja yang melarangnya hamil, ia bisa memilih memakai kontrasepsi.

Semua jenis metode kontrasepsi punya kelebihan dan punya keterbatasan. “Tidak ada metode kontrasepsi yang seratus persen efektif dan aman. Itu ideal sekali,” ujar Ramona. Karena itu, meskipun kelihatan sepele, penentuan metode kontrasepsi selalu harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada wanita yang belum punya anak. Jangan sampai metode kontrasepsi yang dipakai menimbulkan masalah di belakang hari sehingga si wanita mengalami kesulitan memperoleh keturunan.

Prinsip pertama, kontrasepsi tidak boleh menimbulkan efek merugikan bagi pemakainya. Kedua, harus bersifat reversibel. Ketika metode kontrasepsi itu dihentikan, wanita bisa subur kembali tanpa ada sisa pengaruh dari kontrasepsi itu.

Berdasarkan dua prinsip itu, metode kontrasepsi yang paling aman adalah yang tidak mengintervensi sistem biologis perempuan. Contohnya, metode pantang berkala, <i>coitus interruptus</i> (sanggama terputus), dan kondom. Ketiga metode ini bisa diterapkan secara bersamaan. Bisa juga hanya salah satu atau salah duanya.

Masalahnya, buat pasangan yang baru menikah, dua metode pertama (pantang berkala dan sanggama terputus) dalam praktiknya sulit dikontrol. Sedang enak-enaknya jadi pengantin baru, kok disuruh pantang.

Selain itu, pada metode pantang berkala, wanita harus tahu betul kapan masa suburnya agar bisa mengindari hubungan seksual pada hari itu. Pihak pria juga dituntut untuk tidak melanggar lampu merah di hari-hari subur. Untuk pasangan pengantin baru, dua metode ini kurang cocok. Biasanya gagal karena pihak pria tidak kuat menahan diri.

Dari ketiga metode di atas, yang paling disarankan adalah metode kondom, utamanya kondom pria. Kondom bisa dipakai kapan saja dan di mana saja selama pasangan belum menghendaki kehamilan. Tak ada batasan waktu. Kelebihan lainnya, kondom tidak memberikan dampak apa pun secara hormonal ke dalam tubuh perempuan. Tidak ada efek samping yang berbahaya. “Kecuali bila penggunanya atau pasangannya alergi terhadap lateks dan cairan spermisida yang ada pada kondom tersebut,” kata Dr. dr. Dwiana Ocviyanti Idrus, Sp.OG (K), pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Keterbatasannya, metode ini membutuhkan kerjasama yang baik terutama dari pihak pria untuk secara disiplin menggunakan alat ini ketika hendak berhubungan seksual. Keterlibatan suami sangat diandalkan dalam menetukan keberhasilan program KB. Sekali saja ia tidak memakai “helm”, program KB bisa terancam gagal.

Keterbatasan lainnya, pada sebagian pasangan, metode ini kadang tidak disukai karena dianggap tidak praktis dan mengurangi kenikmatan hubungan seksual. Alasan macam ini tentu saja sangat subjektif. “Tingkat kepuasan seks itu ditentukan oleh akal budi. Seks itu kombinasi jasmani, rohani, dan intelektualitas,” kata Ramona. Enak tidaknya seks bisa dilatih, dipelajari. Jadi, kalau seseorang bilang kondom membuat hubungan seks tidak enak, itu lebih disebabkan pikirannya yang mengatakan demikian.

Soal enak dan tidak enak memang sangat subjektif. Metode kontrasepsi juga sebuah pilihan. Dokter tidak mungkin memaksakan sebuah metode kontrasepsi kepada calon akseptor. Lagi pula, pemakaian sebuah metode kontrasepsi yang tidak disukai pasangan justru akan menyebabkan kegagalan program KB.

Kalau pasangan tidak menyukai metode kondom, mereka bisa memilih metode lain. Pilihannya masih banyak. Dari deretan metode hormonal, ada pil KB, suntik, dan implan (susuk). Yang non hormonal, masih ada <i>intra uter
ine devices</i>
(IUD), yang sering disebut juga alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).

Masing-masing metode ini punya kelebihan dan keterbatasan. Kalau pasangan hanya ingin menunda kehamilan kurang dari satu tahun, misalnya sampai pindah dari rumah mertua, tentu si istri tak perlu memakai implan yang masa kerjanya lama. Ia bisa memakai metode suntik atau pil. Asalkan selalu diminum tepat waktu, pil KB punya efektivitas tinggi mencegah kehamilan. Kalau dalam perjalanan, istri ingin “cuti” beberapa saat dari kontrasepsi, pria harus mengimbanginya dengan bersedia memakai kondom.

<b>Bukan penyebab kemandulan</b>

Karena ada intervensi ke dalam tubuh pemakainya, metode-metode kontrasepsi di atas sedikit banyak akan mempengaruhi kesehatan perempuan. Karena itu, sebelum menggunakan metode-metode ini, pemakai harus berkonsultasi kepada dokter untuk mengetahui kemungkinan dampak terhadap tubuhnya.

Konseling dan pemeriksaan mutlak diperlukan. Calon akseptor KB harus diperiksa apakah siklus haidnya teratur, apakah ada benjolan di payudaranya, apakah ada kista di rahimnya, apakah ada gangguan fungsi liver, dan masih banyak lagi. “Kalau seorang perempuan sering mengalami perdarahan dari rahim, sebaiknya kita tidak memasang IUD sampai kita tahu benar apa penyebabnya,” kata Ramona memberi contoh. Ocviyanti memberi contoh lain, wanita dengan kelainan pembekuan darah atau kelainan pada pembuluh darah seperti hipertensi yang tidak terkontrol tidak dianjurkan menggunakan pil kombinasi.

Di dalam tubuh, kandungan dari pil KB, suntik, dan susuk akan sedikit banyak mempengaruhi kondisi hormonal perempuan. Meski demikian, tidak berarti metode-metode kontrasepsi ini berbahaya. Baik yang hormonal maupun non-hormonal, metode kontrasepsi aman bagi wanita sehat asalkan di bawah pengawasan dokter.

Dulu, metode kontrasepsi hormonal yang digunakan dalam jangka panjang pernah diduga menjadi salah satu penyebab <i>unexplained infertility</i>, kemandulan yang tidak diketahui penyebabnya. Namun, kata Ramona, penelitian terakhir dari WHO selama tiga dekade membuktikan bahwa metode-metode di atas terbukti tidak mengganggu kesuburan wanita ketika kontrasepsi itu disetop. Dengan kata lain, seorang wanita yang menggunakan kontrasepsi selama beberapa tahun tetap bisa subur kembali ketika kontrasepsi itu dihentikan.

“Tidak benar bahwa kontrsepsi hormonal di awal pernikahan menyebabkan infertilitas meskipun kontrasepsi sudah dihentikan. Yang lebih tepat adalah kita tidak tahu persis kondisi awal kesuburan pasangan tersebut karena mereka menggunakan kontrasepsi sebelum memiliki anak,” kata Ocviyanti.

Meski begitu, untuk menghindari kemungkinan timbulnya masalah kesehatan, sebaiknya pemakaian kontrasepsi tetap di bawah pengawasan dokter. Meskipun berbagai penelitian membuktikan keamanan metode kontrasepsi, kehati-hatian tetap diperlukan. Caranya, tiap interval waktu tertentu yang sudah ditentukan, pemakai kontrasepsi harus memeriksakan diri ke dokter untuk memantau efek samping yang mungkin terjadi. Bagaimanapun, metode-metode kontrasepsi di atas termasuk tindakan mengintervensi sistem bilogis tubuh perempuan.

Dengan pemantauan berkala, pasangan tak perlu khawatir mandul akibat pemakaian kontrasepsi. Begitu pasangan merencanakan kehamilan karena sudah punya rumah dan mobil sendiri, kontrasepsi tinggal disetop saja. Pil tinggal dihentikan, kondom disingkirkan, spiral dilepas, agar sperma suami segera bertemu dengan telur istri sesuai dengan kodratnya.

Advertisements

One thought on “KB Penting, Hamil Sehat Lebih Penting [intisari]

  1. Untuk kesehatan hormonal kita, kita perlu sistem imun yang bijak yang mampu melawan virus, bakteri, kuman, parasit yang menggangu tubuh kita. Konsumsi TRANSFER FACTOR yang mampu mengenali dan menyerang lebih dari 200.000 jenis kuman/parasit/bakteri/virus yang ada dalam tubuh kita. Telah direkomendasikan oleh kementrian kesehatan rusia dan masuk ke buku rujukan dokter di Amerika dan mengeluarkan lebih dari 3500 uji klinis manfaat penggunaannya bagi kesehatan manusia.http://www.thetransferfactorindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s