Jangan Tertipu Obat Palsu [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Masalah obat dan makanan di Indonesia seperti tak ada habis-habisnya. Setelah kasus bahan pengawet, kita dibuat resah kembali oleh maraknya peredaran obat palsu. Lalu seperti biasa, lagi-lagi konsumen menjadi pihak yang paling dirugikan. Agar tidak terus menjadi korban, kita perlu tahu modus dan peredaran obat bajakan.

—–

Masalah obat palsu jelas tidak bisa diremehkan. Bahayanya tidak sama dengan bahaya barang bajakan lainnya sebab produk obat berkaitan langsung dengan kesehatan dan nyawa konsumen. Seringan-ringan risikonya, penyakit tidak sembuh. Artinya, kalau kita sakit gigi lalu minum Ponstan palsu, mungkin kita “hanya” lebih lama uring-uringan.

Masalah akan lebih kompleks kalau penyakitnya berupa infeksi. Jika kita minum obat palsu, bakteri bisa resisten dan akhirnya menjadi lebih ganas. Problem akan semakin berbahaya jika infeksi disebabkan oleh bakteri kelas berat yang hanya bisa ditumpas dengan antibiotik generasi ketiga, misalnya. Jika seseorang mengalami infeksi seperti itu lalu disuntik dengan obat injeksi palsu, maka risikonya bisa fatal. Infeksi bisa semakin parah. Masalah lain pun bisa timbul dari pengotor injeksi yang tidak steril.

Aktivis kesehatan dr. Kartono Mohammad, di Anti-counterfeiting Workshop for Pharmaceutical Products di Jakarta belum lama ini melaporkan, pada tahun 2001, 192.000 pasien di Cina meninggal dunia setelah menggunakan obat palsu. Di Indonesia memang belum ada laporan separah itu. Namun jika peredaran obat palsu terus dibiarkan merajalela, suatu saat hal serupa bisa saja terjadi di sini.

Badan Kesehatan Dunia WHO memperkirakan peredaran obat palsu mencapai 10% dari total obat di pasaran. Di negara-negara berkembang, persentasenya bahkan bisa mencapai 25%.

Selama tahun 1999 – 2006, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan 81 produk obat palsu di pasaran. Di luar itu tentu masih banyak lagi. Angka sebesar ini jelas sebuah sinyal merah bahwa peredaran obat palsu tidak boleh dianggap remeh.

Punya pola tertentu

Berdasarkan isinya, secara umum ada tiga kelompok obat palsu. Kelompok pertama, obat palsu dengan kandungan bahan aktif nol persen. Sebagai contoh, Ponstan palsu. Bentuk tablet atau kapsulnya serupa dengan bentuk obat aslinya. Tapi begitu diperiksa di laboratorium, isinya tepung doang, tidak mengandung asam mefenamat.

Kelompok kedua, obat palsu yang mengandung bahan aktif tapi substandar. Contohnya, Viagra palsu. Obat ini memang mengandung sildenafil sitrat tapi kadarnya jauh lebih rendah dari angka yang tertera di label.

Kelompok ketiga, obat palsu yang berisi zat aktif lain, tidak sesuai dengan labelnya. Misalnya, yang mestinya berisi antibiotik cefotaksim ternyata diisi dengan amoksisilin. Atau, yang mestinya berisi obat penurun gula darah ternyata isinya analgesik (penghilang nyeri).

Pemalsu biasanya cenderung membajak obat-obat tertentu. Tidak semua merek, tentu saja. Di negara-negara maju, yang sering dibajak biasanya obat mahal misalnya anti-HIV, antidisfungsi ereksi, atau obat-obat psikiatrik.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kecenderungannya sedikit berbeda. Yang dibajak tidak selalu obat mahal. Kadang obat murah pun dibajak jika omset perdagangannya besar seperti analgesik, antibiotik, antituberkulosis, dan sebangsanya. “Yang juga sering dipalsu itu obat-obat penyakit menahun yang dipakai terus seperti antidiabetes atau antihipertensi,” kata Dra. Anny Sulistiowati, Apt., Kepala Bidang Produk Terapetik dan Bahan Berbahaya, Badan POM.

Teknologi pemalsuan sangat beragam. Sebagian pemalsu membuat produk tiruan dengan cara kasar sehingga gampang dikenali. Kepala Badan POM, dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS, M.Kes, Sp.FK, memberi contoh kemasan kaplet Ponstan palsu. Obat aslinya dikemas dalam blister dengan posisi kaplet berbaris miring-miring, tidak sejajar dengan sisi blister. Tapi pada produk bajakannya, “Ponstan” ini secara konyol dikemas dalam blister dengan arah kaplet berbaris lurus, sejajar dengan sisi strip (lihat gambar).

Pada produk bajakan lain, pemalsuan bahkan kelihatan dari salah tulis di kemasan. Harusnya nama produsennya Parke-Davis, tapi oleh pembajak konyol ini ditulis Parke-Devis.

Bagi mereka yang terbiasa memeriksa obat, seperti pegawai apotek, pemalsuan ini jelas sangat kentara. Tapi bagi konsumen awam, bisa saja ciri-ciri fisik yang jelas ini luput dari perhatian. Di sinilah perlunya konsumen membekali diri dengan pengetahuan dasar tentang obat palsu.

Pemalsu lainnya lebih canggih lagi. Menurut catatan Pusat Informasi Obat Nasional, Badan POM, para pemalsu itu bisa meniru kemasan betul-betul mirip dengan aslinya. Palsu tidaknya hanya bisa diketahui dari pemeriksaan laboratorium. “Bahkan segel dan hologram pun bisa mereka palsu. Saya sendiri kadang sulit membedakannya dengan yang asli,” ujar Anny. Kalau Anny saja bisa tertipu, apalagi kita sebagai konsumen awam.

Untuk produk-produk bajakan tertentu, konsumen memang menjadi korban yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi tidak semua produk bajakan dibuat dengan ketelitian tinggi. Untuk produk bajakan seperti ini, konsumen bisa ikut berperan dalam memerangi peredarannya.

Dibandingkan dengan aslinya

Cara sederhana memeriksa keaslian obat adalah membandingkannya dengan obat yang sudah dipastikan asli. Dari kemasannya saja, kadang obat palsu kelihatan berbeda dari obat aslinya. Pertama dari jenis kemasannya. Contoh gampang adalah Viagra dan Cialis, dua obat antidisfungsi ereksi. Keduanya diproduksi dalam kemasan blister. Tapi lucunya, di pasaran banyak tersedia Viagra dan Cialis dalam kemasan botol. Tak perlu ditanyakan lagi, obat-obat ini jelas gadungan. Kasus serupa juga pernah terjadi pada Norvask (antihipertensi).

Jika bentuk kemasannya sama, indikasi palsu kadang bisa dilihat dari tampilan visualnya. Biasanya terlihat dari intensitas warna yang berbeda, mungkin terlalu pudar atau terlalu tua. Bisa juga terlihat dari kelengkapan informasi di kemasan. Misalnya, tidak menyertakan tanda obat keras berupa huruf “K” di dalam lingkaran merah (lihat contoh gambar Plavix). Bisa juga tidak mencantumkan nomor registrasi, logo produsen, atau batas kedaluwarsa.

Ciri palsu lainnya bisa dilihat dari jenis dan ukuran huruf (font) yang dipakai di kemasan (lihat contoh gambar Neupogen). Jika dengan mata telanjang saja bisa dilihat perbedaannya, misalnya font-nya lebih tipis atau lebih besar dari font aslinya, sangat mungkin produk itu bajakan (lihat contoh gambar Neupogen).

Bagi pihak apotek, cara pengujian ini gampang dilakukan sebab mereka sudah
biasa memeriksa obat dan punya pembandingnya. Tapi bagi konsumen awam, cara ini mungkin merepotkan karena mereka biasanya tidak punya pembanding.

Namun kerepotan ini bisa disiasati dengan cara, misalnya, konsumen menyimpan sisa kemasan obat asli yang sering diminum. Contohnya, jika kita langganan minum Ponstan, Norvask, atau obat antidiabetes, kita bisa menyimpan sisa kemasan untuk dipakai sebagai pembanding ketika membeli obat baru. Tentu cara ini tidak bisa berhasil untuk semua produk obat yang dibeli, tapi setidaknya kita telah melakukan sesuatu yang memang bisa kita lakukan.

Selain cara di atas, obat palsu kadang bisa diketahui saat digunakan. Anny memberi contoh sediaan injeksi antibiotik cefotaksim. Kasus ini pernah ditemukan di sebuah rumah sakit. Ketika perawat menambahkan pelarut sebelum disuntikkan ke pasien, antibiotik itu sulit larut padahal biasanya mudah. Karena dicurigai palsu, obat ini kemudian dikirim ke Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Badan POM. Hasil uji laboratorium memang membuktikan obat suntik itu palsu.

Toko obat lebih berisiko

Distribusi obat sebetulnya teregulasi dengan sangat rapi. Semua prosesnya terdokumentasi mulai dari industri farmasi sampai ke apotek. Untuk menembus regulasi yang ketat itu, para pemalsu biasanya menggunakan jalur distribusi ilegal. Partner mereka biasanya para penjual obat yang menginginkan laba setinggi-tingginya dengan modal sekecil-kecilnya.

Umumnya harga obat palsu jauh lebih murah daripada harga obat asli. Tidak selalu demikian tapi biasanya begitu. Ini bisa menjadi salah satu indikasi. Karena itu, dalam urusan obat, jangan mudah tergiur dengan harga murah yang tak wajar. Produk obat tidak seperti mainan anak-anak yang biasa dijajakan murah karena langsung dikulak dari pabriknya. Tidak ada obat yang bisa dikulak langsung dari pabriknya.

Biasanya jalan masuk obat palsu adalah toko-toko obat. Meski begitu, apotek pun bisa saja kemasukan obat palsu jika pengelolanya tidak teliti atau bahkan memang sengaja mencari keuntungan dari penjualan obat bajakan. Namun secara umum obat-obat di apotek lebih terjamin keasliannya daripada di toko obat.

Lagi pula, dari 81 produk palsu temuan Badan POM, lebih dari 90%-nya tergolong obat keras golongan antibiotik, antihipertensi, antidiabetes, dan sebangsanya. Obat-obat ini mestinya hanya bisa diperoleh di apotek dengan resep dokter. Dengan kata lain, jika kita membelinya di toko obat, selain berisiko mendapatkan produk palsu, kita juga melanggar hukum sekaligus mendukung pelanggaran hukum yang dilakukan toko obat.

Karena banyaknya obat palsu di pasaran, kita tak punya pilihan lain kecuali waspada. Semampu yang kita lakukan. Begitu mendapatkan obat yang berbeda dari biasanya, kita harus mengecek keasliannya. “Perbedaan sedikit saja tidak boleh lantas dianggap tidak apa-apa,” saran Anny. Produk obat asli dibuat dengan ketelitian tinggi dan quality control yang ketat. Jika tidak sesuai dengan spesifikasi, biasanya produk itu tidak diedarkan ke pasaran.

Pemberantasan obat palsu harus melibatkan semua pihak, termasuk masyarakat luas, dalam hal ini konsumen dan apotek. Jika konsumen atau pihak apotek mencurigai keaslian suatu produk obat, mereka bisa melaporkannya ke ULPK Badan POM di Jakarta atau ke ULPK di Balai POM yang tersebar di tingkat provinsi. Bisa juga lapor ke produsennya.

Apabila dengan pemeriksaan laboratorium terbukti produk itu palsu, maka urusan selanjutnya akan diambil alih oleh Badan POM dan pihak kepolisian. Pelapor tak perlu takut repot karena urusan pelapor hanya sampai Badan POM, tidak dilibatkan di meja hijau. Identitasnya juga dijamin dirahasiakan.

Dengan cara itu, masyarakat bisa berpartisipasi aktif dalam memerangi obat palsu. Tidak hanya membiarkan diri terus menjadi korban yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Advertisements

3 thoughts on “Jangan Tertipu Obat Palsu [intisari]

  1. Saya pernah beli obat penurun panas untuk bayi di apotik harganya sangat murah yaitu Rp. 3000. kemasannya agak beda dr biasanya tp mirip. Setelah beberapa kali minum obat tsb panas tidak turun2 jd saya beli lg di apotik RS dan panas anaku turun. Ngeri deh klo Apotik saja sudah menjual obat palsu…

  2. saya jadi inget pas ikutan seminar di bogor, ada cerita soal uji klinis obat, nah salah satu caranya dg memberikan obat yg akan diuji kepada sebagian peserta tes, dan obat boongan (lupa namanya disebut apa) yg cuma tepung aja ke peserta lain, untuk melihat reaksi obat tsb, tanpa orang yg diberi tau apakah itu obat bener ato boong. jangan2 itu obat tepung buat tes sisa terus dijual yah? hehehehe

  3. ummuauliya said: saya jadi inget pas ikutan seminar di bogor, ada cerita soal uji klinis obat, nah salah satu caranya dg memberikan obat yg akan diuji kepada sebagian peserta tes, dan obat boongan (lupa namanya disebut apa) yg cuma tepung aja ke peserta lain, untuk melihat reaksi obat tsb, tanpa orang yg diberi tau apakah itu obat bener ato boong. jangan2 itu obat tepung buat tes sisa terus dijual yah? hehehehe

    Kadang tepung juga berkhasiat (dengan seizin Tuhan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s