Siapkan Jaket Sebelum ke Bromo [wisata keluarga]

Tak berlebihan jika gunung ini masuk dalam daftar wajib kunjung jika Anda pergi ke kota Malang, Probolinggo, dan sekitarnya. Keindahan alam Bromo tak perlu diragukan lagi. Ketenarannya bahkan sampai ke mancanegara.

Tempat wisata ini bisa dijangkau baik dari Malang maupun Probolinggo. Namun untuk wisata keluarga, Anda sebaiknya memilih rute dari kota Probolinggo karena jalanannya relatif lebih mulus daripada rute Malang. Dari kota Probolinggo, jarak tempuhnya sekitar 48 km.

Yang utama untuk diingat, sebelum pergi ke tempat ini jangan pernah lupa membawa jaket dan pakaian penghangat lainnya. Lebih-lebih jaket hangat buat anak-anak. Soalnya udara dingin di tempat ini bisa membuat kita menggigil.

Pintu masuk kawasan Bromo berada di Desa Cemara Lawang (2.200 m dpl). Ini merupakan titik terdekat dengan Bromo. Di desa ini terdapat beberapa hotel dan banyak <i>homestay</i>. Jika ingin menyaksikan matahari terbit, sebaiknya kita datang siang atau sore hari lalu istirahat lebih dulu di hotel. Menjelang senja, kita bisa duduk-duduk menikmati panorama Bromo dari kursi-kursi di dekat Hotel Cemara Indah. Sambil menikmati bakso, kita bisa mengamati gerak kabut pelan-pelan yang datang dan pergi dari puncak Gunung Bromo dan Gunung Batok di sebelahnya.

Esok paginya sebelum matahari terbit, kita bisa pergi ke Gunung Penanjakan yang jaraknya sekitar 17 km dari Desa Cemara Lawang. Ini merupakan lokasi favorit untuk menunggu matahari terbit dan memotret Bromo dari titik yang lebih tinggi. Sekali lagi, jangan lupa membawa pakaian penghangat: jaket, penutup kepala, bila perlu sarung tangan. Penutup kepala bisa kita beli dari para pedagang di Cemara Lawang.

Selesai dari Penanjakan, kita bisa langsun turun ke Bromo. Gunung ini dikelilingi lautan pasir yang luas. Saking luasnya, orang yang berjalan di tempat ini hanya tampak dari jauh sebagai sebuah titik yang bergerak. Tidak bisa dibedakan apakah ia berjalan kaki atau naik kuda.

Pada musim kemarau, lautan pasir ini menjadi sumber debu dan hanya bisa dilewati oleh mobil jelajah. Mobil jelajah ini bisa kita sewa dari Desa Cemara Lawang. Alternatif lain yang lebih mengasyikkan, kita bisa naik kuda dari Cemara Lawang. Tarif sewa sekitar Rp 50.000,- per ekor untuk perjalanan pergi-pulang.

Sambil terantuk-antuk di atas pelana kuda di lautan pasir, kita bisa menikmati keindahan Bromo yang makin lama makin dekat. Melewati Pura Kencana yang berada persis di dekat Gunung Batok, kuda akan mengantarkan kita sampai di tangga menuju puncak Bromo.

Dari sini, kita harus meniti anak tangga sampai atas. Mereka yang jarang berolahraga bisa <i>ngos-ngosan</i> di tempat ini. Tapi begitu sampai di puncaknya, persis di bibir kawah, semua energi yang kita keluarkan akan terbayar. Pada musim kunjung, puncak Bromo yang tidak seberapa luas ini padat dijejali wisatawan. Bukan hanya wisatawan domestik tapi juga para wisatwan mancanegara.

Titik pandang di puncak Bromo ini sesekali diserang asap belerang yang keluar dari kawah di bawahnya. Yang tak tahan bau belerang bisa terbatuk-batuk. Itu sebabnya, akan lebih baik jika kita naik ke tempat ini menggunakan masker penutup saluran napas. Terutama buat mereka yang punya masalah pernapasan.

Puncak ini sering kali tertutup kabut. Bulan Juli – Agustus merupakan bulan baik di mana kawasan ini biasanya cerah. Pada bulan-bulan itu, Bromo biasanya ramai oleh turis asing.

Sebelum matahari terbit, biasanya puncak ini sudah mulai ramai oleh mereka yang menunggu matahari terbit, dan akan terus ramai sampai sekitar pukul 10.00 WIB. Keindahan kawasan Bromo bisa kita rasakan hanya dengan berdiam diri di puncaknya sambil mengamati sekeliling dan merasakan tiupan angin kencang yang sampai terdengar berdesir.

Setelah puas berfoto-foto di sini, kita bisa kembali lagi ke hotel. Jika masih punya waktu, kita bisa mengunjungi mata air suci yang ada di belakang Gunung Batok.(emshol)

Advertisements

2 thoughts on “Siapkan Jaket Sebelum ke Bromo [wisata keluarga]

  1. Telp. 0335-423457. Dulu taripnya sekitar 200-an. Gak tahu sekarang. Di sana banyak hotel, kok. Kalau gak dapat hotel, bisa nginap di rumah penduduk. Malah lebih asyik & lebih murah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s