Para “Tuyul” di Belakang Tukul [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin (penyayang Tukul)

Kutu Kupret of The Year! Barangkali itulah gelar yang paling pas buat Tukul “Katro” Arwana saat ini. Wong ndeso yang dulu sering dipandang sebelah mata itu sekarang menjadi pusat perhatian jutaan pasang mata setelah sukses memandu acara Empat Mata. Begitu hebat pamornya, sampai orang-orang yang bekerja di belakang layar Empat Mata seolah tidak kebagian pamor. Padahal merekalah “dalang” yang berperan penting melambungkan nama Tukul.

—–

Peranan mereka, tim kreatif acara Empat Mata, mirip tuyul. Bekerja tapi tidak kelihatan. Satu-satunya anggota tim kreatif yang namanya dikenal pemirsa teve adalah Thia. Dialah orang yang dipanggil Tukul jika ia punya masalah dengan pertanyaan di laptonya, “Lho, ini kan pertanyaan tadi, kok belum dihapus. Thia… Thia…. Aku ini sudah bodoh. Jangan dibikin tambah kelihatan bodoh.”

Pemirsa hanya tahu bahwa di belakang Tukul ada seorang manusia, bukan tumbuh-tumbuhan, bernama Thia yang menyuplai pertanyaan buat Tukul lewat laptop. Tapi penonton tak pernah tahu wajahnya karena memang ia tidak pernah nongol di teve. Tidak seperti Ngatini (Vega) atau Ngatiyem (Dian) yang meskipun tugasnya cuma nyeletuk dan mengantar minuman, wajah mereka cukup akrab bagi pemirsa.

Seperti lazimnya sebuah tontonan teve, Empat Mata bukanlah kerja individu tapi kerja tim. Kesuksesannya bukan karena semata-mata faktor Tukul tapi karena kerja banyak orang. Tukul pun mengaku, tanpa dukungan tim kreatif Empat Mata, namanya mungkin tidak sehebat sekarang.

Tim kreatif Empat Mata inilah yang bertugas menentukan topik acara, mencari bintang tamu, menulis naskah skenario, dan mengendalikan jalannya acara. Thia sendiri sebetulnya hanya satu dari lima orang anggota tim penulis naskah. Selain Thia masih ada Kiki, Devi, Nanda, dan Liklik. Tim ini adalah bagian dari keseluruahn tim kreatif yang anggotanya sekitar 20-an orang.

Mendatangkan penonton bayaran

Melejitnya pamor Tukul lewat acara Empat Mata membutuhkan waktu panjang, lebih dari setahun sejak acara itu mulai ditayangkan oleh stasiun TV7, waktu itu. Saat pertama membawakan acara, Tukul masih tidak se-pede sekarang.

Saat itu ia baru saja “dipungut” oleh Apollo, manajer produksi TV7 yang mencetuskan ide acara Empat Mata. Apollo yang asli Filipina itu tertarik dengan penampilan Tukul di acara Warung Pojok. Ia menganggap Tukul punya potensi untuk menjadi pembawa acara andal mirip Larry King, pemandu talk show di stasiun teve CNN.

Saat itu Tukul masih minder karena merasa wawasannya sempit. Apalagi tampangnya juga tidak jelas. Yang dalam istilahnya sendiri, mulut semua. (Ayam sori, Mas Tukul. Jas kiding, jas for laf.) Tapi dengan positive thinking, cover boy Majalah Sobek ini bersedia mencoba. Sekali dua kali tayang, ia masih tidak cukup percaya diri. Sampai beberapa bulan, acara Empat Mata masih biasa-biasa saja.

Bulan-bulan pertama, untuk mendatangkan penonton ke studio saja, pihak TV7 harus mendatangkan para penonton bayaran. Sebagian dari mereka adalah para kutu kupret, kawan-kawan Tukul sendiri. “Waktu saya pertama menangani Empat Mata, nyari penonton 30 orang aja susahnya minta ampun,” kata Andri Loenggana, produser Empat Mata sejak TV7 berubah menjadi Trans7. Selain mendatangkan penonton bayaran, Andri saat itu juga sering meminta para kru Trans7 yang sedang tidak bekerja untuk ikut menonton di studio. Supaya kelihatan ramai.

Bukan hanya mencari penonton yang susah. Mengundang bintang tamu juga tak kalah susahnya. Banyak artis menolak diundang sebagai bintang tamu karena mereka menganggap acara Tukul itu tidak bermutu.

Waktu itu Andri sendiri bahkan sempat—dalam bahasa Tukul—anderistimit kepada pelawak yang cuma lulusan SMA ini. Ia menganggap Tukul sebagai faktor yang menyebabkan acara Empat Mata tidak sukses. Saat awal mereka bekerja sama, kru tim kreatif yang diwakili Andri sering tidak sejalan dengan Tukul. Kedua pihak sama-sama keras kepala dengan pendapat masing-masing.

Tapi dengan berjalannya waktu, mereka pelan-pelan saling memahami karakter partnernya. Mereka, dalam istilah Tukul, “saling mentransfer energi positif”. Pada saat yang sama, Tukul juga terus mengasah kepiawaiannya dalam melawak sekaligus memandu acara. Oleh tim kreatif, semua hal yang semula dianggap sebagai kelemahan Tukul, direkayasa secara kreatif menjadi sesuatu yang punya daya tarik. “Kekurangan Tukul adalah kelebihannya,” kata Andri.

Tukul juga telah lama menyadari hal ini. Tampangnya yang ndeso, bahasa Inggrisnya yang awa wa waw, justru ia manfaatkan sebagai bahan lawakan. Bakatnya sebagai komedian yang quick thinking, terus ia kembangkan. Banyak hal spontan di luar skenario yang ia tampilkan ternyata menambah daya tarik acara. Contoh paling gampang adalah kebiasaan Tukul bertanya kepada Thia. Lazimnya, saat sedang pengambilan gambar, pemandu acara tidak boleh bertanya kepada partnernya di belakang layar. Tapi oleh Tukul, batas tabu ini diobrak-abrik. Dan hasilnya ternyata malah sebuah komedi. Komedi yang sebenarnya.

Tapi tidak semua improvisasinya berhasil. Kadang malah membuat tim kreatif bersungut-sungut. Guyon terlalu kasar, misalnya. Jika itu terjadi, saat jeda iklan, ia diarahkan kembali. Tak perlu sampai disobek-sobek mulutnya atau disuruh kembali ke habitatnya di atas pohon. Hal serupa juga dilakukan kepada Ngatini atau Peppy jika mereka melontarkan celetukan yang kurang pas. Mereka cukup ditegur saja, tidak perlu sampai dipulangkan ke desa naik truk pasir.

Setelah berusia lebih dari satu tahun, acara Empat Mata kemudian melejit menjadi tontonan yang fenomenal, luar biasa, dan sepktakulerrrssss! (Maksudnya, spektakuler yang dilafalkan sampai air ludah muncrat). Tukul berhasil membuktikan bahwa ia tidak segoblok tampangnya. Seolah-olah ia sedang memberi pelajaran kepada semua orang: selagi masih punya dua mata, jangan pernah memandang orang lain dengan sebelah mata.

Saat ini, acara Empat Mata menjadi andalan utama di stasiun Trans7. Tayang lima kali dalam seminggu dengan iklan yang—dalam istilah Tukul—bertubi-tubi. Bintang tamunya mulai dari orang-orang kampung, sampai orang-orang penting macam Andi Mallarangeng, Wiranto, dan Menakertrans Erman Suparno. Ke depan, mungkin saja Empat Mata akan mendatangkan orang yang lebih penting dari mereka.

Sejak rating acara ini melejit, penonton di studio antre. Semuanya berbentuk manusia. Bahkan kursi penonton yang jumlahnya 250-an, untuk tiga bulan di depan sudah sebagian dipesan. Penontonya pun bukan hanya kalangan kutu kupret yang tampang-tampangnya mirip pohon, tapi juga sampai para walikota yang datang jauh-jauh dari Samarinda dan Semarang.

Kini, dalam sehari, tim Empat Mata menerima kiriman email dari pemirsa yang jumlahnya dua ratusan trilyun karung! (Yang benar adalah dua ratusan. Tidak pakai trilyun, tidak pakai karung.) Sebagian dari mereka, kata Andri, adalah para kuli yang baru saja berkenalan dengan internet sejak menonton Empat Mata.

Spontan dan penuh kejutan

Empat Mata adalah contoh bagus sebuah kerja sama di mana semua komponen punya peran penting. Bukan hanya tim kreatif dan Tukul, tapi juga pengiring Tukul (Ngatini, Ngatiyem, Peppy, dkk), bintang tamu, penonton (baik yang di studio maupun di rumah), sampai istri Tukul yang jarang absen menonton suaminya di studio. Semua berperan penting.

Interaksi antara tim kreatif dengan Tukul kadang tidak lazim. Ada kalanya Tukul tidak diberi tahu sebagian skenario acara. Contoh yang paling menghebohkan adalah kasus keluarnya Dorce dari panggung. Saat itu Tukul mengajukan pertanyaan yang, seperti biasa, tertulis di laptop. Mendengar pertanyaan itu, Dorce ngambek lalu pergi meninggalkan panggung. Tentu saja Tukul kelabakan. Roman wajahnya langsung berubah. Perubahan roman muka ini sampai tampak jelas oleh pemirsa teve di rumah. Bahkan, kata Andri, saat itu semua penonton di studio diam. Susana tegang. Ketegangaan itu tidak berhasil dikendalikan oleh Tukul dengan aji-aji cooling down dan rolling door.

Banyak yang menyangka adegan itu memang kecelakaan, dan Dorce memang benar-benar tersinggung. Padahal yang terjadi sebetulnya adalah sebuah sandiwara. Sandiwara minus Tukul. Adegan itu sudah direncanakan sebelumnya oleh tim kreatif. Yang tahu hanya anggota tim kreatif. Para bos di Trans7 pun tidak diberi tahu. Dorce dan bintang tamu lainnya sudah diberi tahu. Tapi Tukul tidak. Di sini jelas sekali faktor Tukul sebagai pembawa acara yang punya kekurangan yang bisa dimafaatkan sebagai kelebihan untuk dijual. Ia bersedia menempatkan diri di posisi objek yang siap dikerjai.

Di acara Empat Mata, bintang tamu bisa ikut melawak karena mereka bisa menggoda pemandu acara. Contoh paling basi adalah mengancam mencabut kabel laptop. Hal seeprti ini tidak mungkin mereka lakukan kepada pembawa acara lain macam Farhan atau Indy Barends, misalnya.

Penonton juga demikian. “Buat kami, penonton adalah faktor yang sangat penting,” aku Andri. Saat awal-awal tayang, penonton di studio duduk cukup jauh dari Tukul. Tukul kemudian meminta kursi penonton dibuat lebih dekat ke panggung. Rupanya cara sederhana ini berhasil. Tukul merasa lebih nyaman melakukan transfer energi dengan penonton. Kepada merekalah Tukul bisa dengan penuh energi bilang, “Tak sobek-sobek mulutmu! Ndeso! Katro!” Juga bahasa tumbuh-tumbuhan dan bahasa kebon binatang lainnya.

Dengan peran penonton pula, Tukul menemukan banyolan berupa gerakan kaku yang kemudian dibalas dengan sorakan, “Iyaaa…. Iyaaa….. Iyaaa!” Tak hanya penonton di studio, pemirsa di rumah pun bisa ikut meramaikan lawakan lewat email. Interaksi antara Tukul dan penonton di sangat terlihat jika kita ikut menonton acara ini di studio.

Di dalam studio, penonton akan merasakan atmosfer Empat Mata yang tidak bisa dinikmati di kotak teve. Saat tidak sedang disorot kamera, penampilan Tukul tak kalah kocaknya. Sebelum proses pengambilan gambar, ia memberi sambutan, mirip acara kondangan. Saat jeda iklan, ketika juru tatarias menambal bedak di wajah para artis ayu yang menjadi bintang tamu, Tukul menyanyi atau membagi-bagi hadiah lewat kuis buat penonton di studio. Meskipun suaranya tidak merdu amat, atraksi ini membuat para penonton bisa melihat sisi lain dari seorang Tukul. Di studio, penonton bisa melihat ekspresi wajah Tukul ketika ia sedang serius setelah berseru, “Jangan ke mana-mana. Tetap di empat …. mata!”

Advertisements

2 thoughts on “Para “Tuyul” di Belakang Tukul [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s