Ucok Baba: Badan Kecil, Jiwa Besar [kisah]

Terlahir sebagai pria berbadan mungil tidak membuatnya berjiwa kerdil. Dengan banyak bergaul tanpa minder, ia berhasil membuktikan bahwa badan kecil bukan halangan untuk mandiri dan sukses.

Pria ini terlahir dari sebuah keluarga yang tergolong ekonominya kurang mampu. Orangtuanya hanya petani biasa di Medan, Sumatera Utara. Dia sendiri anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Keluarga besar.

Waktu lahir, 10 Mei 1971, ia diberi nama Usnan Batubara. Kedua orangtuanya tidak punya kelainan tinggi badan. Semua saudaranya juga normal. Hanya dia sendiri yang terlahir sebagai bocah cebol.

Karena badannya cebol, saat masuk sekolah, ia tumbuh menjadi remaja yang minder. Saat SMA, ia paling minder kalau guru olahraga mengajak siswa ke lapangan bola voli atau basket. “Kalau guru olahraga bilang jam <i>segini</i> nanti olahraga, saya enggak bisa apa-apa. Saya ‘kan enggak bisa ikut,” kenang Ucok. “Saya waktu itu minder sama teman-teman soalnya mereka kan enggak punya masalah kayak saya,” sambungnya.

Saat lulus SMA, ia sempat berkeinginan kuliah di fakultas hukum. Tapi ia harus melupakan keinginan itu karena keluarganya tidak bisa membiayainya kuliah. Akhirnya, pada tahun 1990, saat berumur 19 tahun, ia nekat merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Ia berangkat ke Jakarta dengan modal uang seadanya. Jauh di bawah cukup. Di kota ini, ia menumpang tinggal pada salah seorang familinya yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sehari-hari ia membantu familinya yang menjalankan usaha fotokopi.

Untuk menyambung hidup, ia mengamen dari bis ke bis. Ia bertugas menyanyi sementara seorang kawannya yang berbadan normal memetik gitar. Dengan tinggi badan yang cuma 94 cm dan bobot kurang dari 30 kg, ia naik turun dengan cara melompat dari satu bis ke bis lainnya. “Waktu itu saya biasanya nyanyi lagu-lagu Spanyol. Teman saya yang <i>nggitar</i>, saya yang nyanyi,” kata Ucok. Lalu ia menyanyikan sebuah lagu berbahasa Spanyol, “<i>Siempre que te pregunto/ Que, cuándo, cómo y dónde/ Tú siempre me respondes/ Quizás, quizás, quizás…..</i>”

Merdu sekali suaranya. Tak terlalu berlebihan ketika ia bilang, “Dulu saya <i>nyanyinya</i> profesional.”

Karena hasil mengamen tidak seberapa, ia juga melakukan pekerjaan sambilan, menjadi badut. Biasanya ia mendapat <i>job</i> untuk mengisi acara ulang tahun anak-anak. Selama dua tahun ia menjalani kedua profesi ini.

<b>Nyaris putus asa</b>

Suatu kali, saat ia sedang membantu pekerjaan foto kopi, datang seorang pria yang kemudian membukakan pintu buat dia menuju ke dunia hiburan. Pria itu membawa dokumen skenario film untuk difotokopi. Melihat Ucok Baba yang cebol itu, ia kemudian menawarinya. “Kayaknya Bang Ucok cocok <i>nih meranin</i> tokoh ini. Tapi saya enggak janji ya. Saya kenalkan dulu <i>sama</i> bos saya,” ujar Ucok menirukan tawaran pria itu.

Tentu saja dengan senang hati Ucok menerima tawaran itu. Pria itu kemudian meninggalkan kartu nama. Besok paginya, berbekal kartu nama itu, Ucok langsung pergi ke kantor yang diceritakan oleh pria itu, yang ternyata adalah kantor Soraya Film. Waktu itu Soraya Film sedang membuat film komedi. Judulnya <i>Bagi-bagi Dong</i>. Bintang filmnya trio Warkop DKI: Dono, Kasino, dan Indro.

Setelah menjalani <i>casting</i>, ia akhirnya diterima sebagai pemeran salah satu tokoh di film itu. Di film pertamanya itu, ia berperan sebagai asisten (bahasa kasarnya, pembantu) yang tugasnya membawa semua keperluan majikannya. Membawa handuk kalau majikannya sedang berada di kolam renang atau mengambilkan es krim kalau majikannya sedang ingin makan es krim.

Setelah bermain di film ini, ia banyak mendapat pelajaran tentang cara melawan rasa minder. Juga belajar tentang dunia seni peran. “Saya banyak belajar dari almarhum Kasino,” akunya.

Meskipun sudah bermain di salah satu film Warkop DKI, waktu itu ia masih sama sekali belum dikenal di dunia hiburan. Masih belum punya nama. Perjalanannya masuk ke dunia ini juga tidak serta-merta mulus setelah film pertama itu. Apalagi kemudian waktu itu kondisi perfilman Indonesia sedang lesu. Tak banyak film yang diproduksi. Waktu itu ia bahkan sempat nyaris putus asa karena hampir tidak ada <i>job</i> main film lagi.

Rezekinya waktu itu masih seret. Tapi paling tidak, saat itu ia sudah berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya yaitu rasa minder yang menghambatnya dalam bergaul. Sejak banyak bergaul dengan orang lain, ia menjadi lebih percaya diri. Juga lebih “cuek” dengan kekurangan fisiknya. “Saya melatihnya itu lama. Enggak langsung <i>pede gitu aja</i>. Pokoknya saya bergaul dengan banyak orang. Siapa saja. Saya observasi dulu. Dari situ saya berkesimpulan, buat apa minder <i>sama</i> orang lain,” ucapnya.

Ia menyadari bahwa keterbatasan fisiknya adalah kehendak Tuhan yang tak bisa ditolak. Ia tidak bisa memilih lahir sebagai orang dengan fisik normal. Meski begitu, tidak berarti ia harus minder dengan potongan badannya atau sakit hati jika ada orang menghinanya. Akhirnya, setelah itu ia menjadi lebih lapang menerima kondisi fisiknya.

Sebelumnya, dia gampang tersinggung jika orang lain menghina kekurangan fisiknya. Tak jarang, kalau bertemu ibu hamil, ia mendengar kata-kata “Amit-amit jabang bayi.” Tapi lambat laun ia menjadi terbiasa dan tidak marah lagi jika ada yang merendahkannya. “Sampai sekarang pun saya masih sering diledek orang, tapi karena terbiasa bergaul, sekarang saya <i>udah</i> enggak marah lagi,” ujarnya.

<b>Istrinya dua kali lebih tinggi</b>

Dengan bekal <i>pede</i> itu, ia terus membina hubungan dengan banyak orang. Ia juga tak segan-segan berguru kepada mereka tentang apa saja. “Termasuk <i>gimana</i> caranya pacaran,” katanya seraya tertawa. Waktu itu banyak kawannya yang meledek kapan mau menikah.

Ia sendiri mulanya tidak begitu yakin ada wanita yang mau menikah dengannya. Tapi dengan bekal percaya diri yang telah dilatih, ia kemudian berani melakukan pendekatan kepada cewek. Sesuatu yang tak berani ia lakukan saat masih SMA. Kali ini sasarannya tak tanggung-tangg
ung, Rina Angelina, teman wanita Ucok yang tinggi badannya 165 cm. Jika keduanya berdiri berdampingan, Ucok hanya setinggi pinggang Rina.

Tahun 1997, ketika usianya 26 tahun, ia menikah dengan Rina, yang waktu itu berusia 22 tahun. Sebelum menikah, orangtua Rina sempat meragukan calon menantunya yang berbadan pendek itu. Maklum saja, meskipun waktu itu Ucok sudah sering <i>nampang</i> di layar teve, tapi masa depannya sebagai artis masih belum meyakinkan. Apalagi badannya yang cebol, dengan tinggi tidak sampai satu meter. Tapi Ucok kemudian berhasil meyakinkan keluarga calon mertuanya. “Yang nikah itu ‘kan saya dengan anaknya, bukan dengan bapaknya,” katanya, lagi-lagi ketawa.

Saat awal-awal menikah, rezeki masih belum pasti. Kandang lancar, kadang seret seperti pada saat krisis ekonomi di akhir 1990-an. Untungnya, Rina bisa memahami kondisi suaminya. “Dia mau menerima saya apa adanya, “ katanya.

Setelah kondisi perfilman membaik dan industri pertelevisian mulai tumbuh, <i>job</i> pun mulai berdatangan lagi. Tahun 2002, ia bertemu dengan Dick Doang di studio Indosiar saat keduanya menjadi bintang tamu di acara <i>Sensasi</i>. Pertemuannya dengan Dick Doang ini semakin menambah semangatnya berkarya di dunia seni peran. “Kamu pasti bisa,” kata Ucok menirukan kata-kata Dick Doang yang sering diucapkan kepadanya untuk memberi motivasi. Dick Doang pula yang meyakinkan Ucok bahwa ia mampu bekerja sama dengannya untuk menjadi pemandu acara World Cup 2002 di RCTI.

Sejak itu nama Ucok di dunia televisi semakin tenar. Dengan memanfaatkan badannya yang cebol dan sifat bawaanya yang suka melawak, ia memosisikan diri sebagai artis dengan spesialisasi peran-peran yang lucu. Setelah sukses, ia bahkan pernah bersaing dengan Primus Yustisio memperebutkan Sophia Latjuba. Tapi yang ini hanya peran yang ia mainkan di film <i>Si Kembar</i>.

<b>Mendirikan organisasi orang cebol</b>

Di tahun 2002 itu pula Ucok bersama kawan-kawannya sesama orang cebol membuat perkumpulan. Namanya <i>Unique Entertainment</i> (UE). Di perkumpulan ini, Ucok mencoba menularkan rasa percaya diri yang ia punya kepada teman-temannya yang bernasib sama seperti dia. Ucok mengajari mereka untuk tidak minder bergaul dengan orang lain.

“Tak usah malu atau minder jika diledek orang. Kalau kita tidak bergaul, memang enggak ada yang <i>ngeledekin</i> kita, tapi kita juga jadi <i>kuper</i>, enggak dapat ilmu apa-apa,” katanya berpetuah. “Kita harus banyak bergaul dan bertanya kepada orang lain. Semua pengamalan, dari siapa pun, termasuk dari tukang sampah, harus kita tampung semua. Pokoknya banyak bergaullah. Semua orang itu sama di mata Allah,” katanya menegaskan prinsipnya. Ia ingin mengajak teman-temannya itu untuk membuktikan bahwa orang yang berbadan kerdil itu tidak lantas daya pikirnya juga kerdil.

Selain menjadi wadah kumpul-kumpul dan wadah belajar, UE juga menjadi <i>event organizer</i>. Salah satu jasa yang ditawarkan adalah jasa hiburan semacam badut. Mirip dengan pekerjaan Ucok saat pertama berada di Jakarta. Salah satu proyek yang mereka tangani adalah peluncuran Majalah <i>Seru</i>, di Jakarta. Sayangnya, karena kesibukan Ucok, saat ini kegiatan di UE tidak seaktif dulu.

Kini Ucok tinggal bersama keluarga di rumahnya di Citayam, Bojong Gede, Bogor. Meskipun punya keterbatasan fisik, ia tidak punya hambatan apa pun sebagai kepala keluarga. Kini ia dikarunia dua orang anak, Ahmad Usriano Batubara (6 tahun) dan Septi Aulia (2,5 tahun). Keduanya tidak punya masalah dengan tinggi badan.

Sehari-hari ia kini menjalani aktivitasnya sebagai bintang sinetron yang jadwalnya lumayan padat. Hampir tiap hari ada jadwal pengambilan gambar sinetron atau acara hiburan lain. Wajahnya nongol di hampir semua stasiun teve nasional. Penggemarnya mulai dari kalangan anak-anak sampai orang dewasa. Saat pengambilan gambar untuk sebuah acara komedi di studio TPI, dengan setia ia melayani permintaan tanda tangan remaja-remaja SMP dan SMA. Saat seusia mereka, Ucok masih dikalahkan oleh rasa minder.

Kini, ia seolah-olah hampir lupa bahwa dirinya punya keterbatasan fisik. “Pokoknya, prinsip saya, bergaul dengan banyak orang lain. Seperti abang-abang ini,” kata Ucok sambil menunjuk dua rekan mainnya di sela-sela pengambilan gambar sinetron Cinderella, yang ditayangkan di SCTV.

Bukan hanya lupa dengan badannya yang cebol, ia juga sudah lupa dengan keinginan lamanya untuk menjadi sarjana hukum. “Bang Ucok mau jadi hakim? Wah, <i>gimana</i> jadinya? Orang-orang bisa ketawa semua,” canda kawannya.

Ucok hanya tertawa mendengarnya. (M. Sholekhudin)

Advertisements

2 thoughts on “Ucok Baba: Badan Kecil, Jiwa Besar [kisah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s