Surat Buat Lat

Lat, perkenalkan, aku salah seorang penggemarmu dari Indonesia yang, tiap kali melihat kartunmu, selalu tersenyum. Selalu. Tak pernah tak.

Bagaimana kabarmu sekarang, Lat? Maafkan aku. Aku bahkan tak tahu apakah kamu masih menggambar kartun tentang orang-orang Malaysia udik seperti yang dulu biasa aku lihat di majalah HumOr. Kalaupun kau masih menggambar kartun, aku juga tidak tahu apakah kau masih tertarik dengan berita murah tentang Ceriyati, babu asal Indon yang berusaha kabur lewat jendela beberapa hari yang lalu.

Sungguh, Lat, jika kau masih menggambar kartun, tolong sampaikan ini kepada saudara-saudaramu di Malaysia bahwa mereka, para kuli dan jongos dari Indonesia itu, adalah manusia juga. Manusia, Lat, bukan yang lain.

Mungkin mereka memang tidak terdidik, susah diatur, dan menyebalkan. Mungkin. Aku tahu karena memang aku punya banyak tetangga di kampung yang berangkat ke Malaysia menjadi kuli bangunan dan pembantu rumah tangga seperti Ceriyati. Tapi bagaimanapun juga, mereka tetap manusia. Manusia, Lat. (Tiap kali melihat gambar menara kembar Petronas, aku selalu membayangkan beton menara itu berisi tulang-tulang kuli bangunan dari Indonesia.)

Seandainya kau punya kesempatan untuk berkunjung ke kampungku, kau pasti akan terinspirasi membuat puluhan kartun jika tahu mereka berangkat ke Malaysia hanya agar bisa mengubin rumahnya atau membeli VCD player supaya mereka bisa memutar VCD lagu-lagu India dan lagu-lagu campursari Sonny Josz. Dan mungkin kau akan lebih memilih untuk menulis puisi daripada menggambar kartun kalau tahu mereka berangkat ke Malaysia agar anak mereka bisa mengaji. Kukira, orang-orang udik di Malaysia tidak berbeda jauh dengan orang-orang udik di Indonesia.


Negara kami memang masih melarat sehingga sekadar agar bisa membeli VCD player buatan Cina pun warga negaranya harus merantau ke negara orang lain. Kami memang miskin, tidak terdidik, sulit diatur. Tapi kami adalah juga manusia. Yang bisa naik darah dan menyumpahkan kutuk. Kami menyeberang ke utara karena kami berpikir Malaysia adalah saudara rumpun kami yang paling dekat. Tapi entah kenapa belakangan ini kami merasa Malaysia bukan lagi saudara yang baik, terutama jika kami membaca berita tentang kelakuan para polisi RELA atau majikan yang menyiksa para pembantu rumah tangga. Mungkin kebencian seperti inilah yang dirasakan oleh orang-orangtua kami dulu sehingga mereka begitu mudah termakan propaganda nekolim Bung Karno yang mengajak mereka memerangi Malaysia.

Ya, ya, aku tahu, Lat. Mereka yang menyiksa babu asal Indonesia itu hanya segelintir oknum. Tapi kami merasa begitu sering membaca berita seperti itu di koran. Sampai-sampai kami takut membuat sebuah generalisasi yang salah tentang orang-orang Malaysia.

Apakah kartunmu bisa menyampaikan pesan naik darah ini, Lat? Kurasa bisa. Bukankah kartun seringkali lebih efektif menyampaikan pesan daripada tulisan? Aku lebih suka minta tolong kepadamu daripada minta tolong kepada para pejabat di negeriku karena… ah, kau tahu sendirilah… Kalau mereka memikirkan negara, tentu orang-orang udik itu tak perlu merantau ke negaramu hanya agar bisa mengubin rumahnya.

Hanya itu permintaanku, Lat. Selebihnya, maafkan aku. Aku tak pernah melihat wajahmu. Tapi aku selalu membayangkan potonganmu tambun seperti Gus Dur, mantan presidenku yang kocak itu. Jika kau datang ke Indonesia untuk pameran kartun, tolong kabari aku karena aku sedang mengumpulkan bahan untuk menulis Orang Indonesia Mati Ketawa di Malaysia.

Salam takzim


Mat Soleh

(Bukankah nama ini juga nama udik yang sangat populer di negaramu?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s