Nampon, Silat Sunda yang Menyehatkan [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Pencak silat selama ini biasanya lebih dikenal sebagai ilmu beladiri. Di Nampon, salah satu aliran pencak silat tradisional asal Sunda, tenaga dalam tidak hanya digunakan untuk beladiri dalam pertarungan fisik, tapi juga dimanfaatkan untuk mengusir penyakit. Banyak yang sudah membuktikannya.

Hamni, seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan, termasuk salah satunya. Sejak kecil, ia mengidap asma sebagai penyakit turunan. Sehari-hari ia tak pernah jauh dari obat-obat asma karena penyakit ini gampang sekali kumat. Jika ada pencetus, asmanya langsung kumat. Karena penyakitnya ini gampang kambuh, ia seringkali kurang istirahat. Badannya kurus kering dan gampang sakit-sakitan.

Bermacam-macam metode pengobatan pernah ia coba, bukan hanya pengobatan medis. “Asma kan memang enggak bisa benar-benar sembuh dengan obat dokter,” katanya beralasan. Olahraga juga ia lakoni dengan maksud agar badannya lebih sehat sehingga tak gampang terserang asma. Renang ia coba, basket ia jalani, beladiri juga ia lakoni. Tapi hasilnya tidak sebagus yang ia harapkan. Asmanya masih sering kambuh.

Satu kali, atas ajakan seorang kawannya, ia memutuskan ikut latihan pencak silat Nampon yang kebetulan tempat latihannya dekat dengan rumahnya. Saat awal mencoba, ia tidak berharap terlalu banyak karena menyangka Nampon sama saja dengan beladiri fisik yang pernah ia coba. Tiap minggu ia dua kali ikut latihan bersama. Selain itu, tiap hari ia juga melatih sendiri jurus Nampon di rumah secara rutin.

Ternyata hasilnya di luar dugaan. Tiga bulan pertama sejak ikut latihan, frekuensi kekambuhan asmanya berkurang. Semakin lama berlatih, frekuensinya semakin jarang. Akhirnya, setelah kira-kira setahun menjadi pesilat Nampon, ia bisa mengucapkan selamat tinggal kepada penyakitnya itu. Obat asma juga bisa ia tinggalkan seratus persen. Badannya yang dulu kurus kering pun kemudian menjadi lebih berisi.

<b>Bekerja di tingkat sel</b>

Seperti aliran pencak silat lainnya, Nampon merupakan ilmu beladiri tradisional asli Indonesia. Nama Nampon berasal dari nama pendirinya, alm. Nampon (1888 – 1962). Tahun 1932, pendekar silat asal Ciamis ini mendirikan perguruan silat Nampon di Padalarang, Jawa Barat.

Pada awalnya, silat Nampon hanya memfokuskan diri pada beladiri fisik. Misalnya, bagaimana cara menjatuhkan lawan dengan menggunakan tenaga dalam. Tapi dalam perkembangannya, tenaga dalam silat ini juga kemudian dimanfaatkan untuk tujuan pengobatan. Baik untuk pengobatan diri sendiri maupun untuk orang lain.

Pemanfaatan tenaga dalam untuk pengobatan sebetulnya merupakan bentuk penyesuaian diri terhadap zaman yang telah berubah. Dulu, tenaga dalam diperlukan untuk mempertahankan diri ketika diserang lawan. Sekarang, pengertian <i>beladiri</i> dan <i>musuh</i> sudah berbeda dengan saat Nampon didirikan. Musuh manusia zaman sekarang adalah penyakit, stres, rasa takut, dan sebangsanya.

Secara umum, konsep tenaga dalam di silat Nampon tidak berbeda jauh dengan konsep tenaga dalam di aliran-aliran silat lainnya. “Setiap orang itu punya energi potensial di dalam tubuhnya. Dengan berlatih tenaga dalam, energi potensial itu diubah menjadi energi kinetik,” papar Aditiawarman, anggota Nampon Trirasa Jayakarta yang pusat latihannya di Kuningan, Jakarta Selatan. Energi potensial ini tersedia di dalam setiap sel tubuh manusia. Energi inilah yang bisa membuat lawan terpental bahkan sebelum kontak badan. Energi ini pula yang dimanfaatkan untuk tujuan pengobatan.

Konsep dasar pengobatan tenaga dalam Nampon mirip dengan teknik penyinaran radiasi elektromagnetik yang biasa dilakukan di dalam pengobatan kedokteran modern. Tenaga dalam dialirkan ke dalam tubuh orang yang sakit melalui tangan. Prosedurnya sederhana. Pengobat mengalirkan tenaga dalam ke tubuh pasien yang duduk membelakanginya.

Energi tenaga dalam inilah yang bekerja memperbaiki sistem biologis tubuh. Setelah sistem biologisnya diperbaiki, otomatis daya tahan tubuh pun lebih kuat. Metabolisme di dalam tubuh menjadi normal kembali. Penyakit pun dengan sendirinya akan pergi.

Energi Nampon berasal dari tingkat sel dan bekerja di tingkat sel. “Tubuh kita ini kan sebetulnya tersusun dari sel-sel. Kalau selnya sehat, tubuh juga akan sehat. Penyakit-penyakit itu kan sebetulnya gangguan di tingkat sel,” kata David Kurnia, saudara seperguruan Aditiawarman di Nampon Trirasa. Dengan logika inilah, energi Nampon bekerja menyembuhkan asma yang diderita Hamni sejak kecil.

Selain Hamni, masih banyak penderita penyakit lainnya yang berhasil sembuh dengan pengobatan ini. Berdasarkan catatan di klinik pengobatan Nampon di Kuningan, Jakarta, sebagian besar dari mereka adalah penderita penyakit-penyakit kardiovaskuler (penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah).

David menuturkan, salah seorang anggota persilatan Nampon di tempat itu dulu pernah menderita gangguan <i>double vision</i> (penglihatan ganda). Segala sesuatu yang dilihat akan tampak terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian tampak terang. Satu bagian lagi gelap.

Setelah mendapat perawatan di klinik Nampon di bawah terapis Maman Abdurrahman, beberapa bulan kemudian penglihatannya berangsur membaik. Awalnya ia hanya ke klinik sebagai pasien pasif yang datang untuk diterapi. Oleh Maman, ia kemudian dianjurkan untuk ikut latihan silatnya sekalian. Setelah beberapa bulan menjadi pesilat Nampon, gangguan penglihatan ganda yang ia derita sembuh total.

Ada juga pasien yang berhasil mengendalikan kanker paru setelah menjalani terapi Nampon. Kanker ini menyerang paru-parunya sebelah kiri. Karena tindakan operasi sangat riskan dilakukan, pasien mencoba pengobatan Nampon. Setelah beberapa bulan menjalani terapi, ukuran sel kankernya mengecil. Belum sembuh total, memang. Karena itu, selain tetap ke dokter, hingga saat ini pasien masih terus menjalani terapi Nampon.

Aditiawarman sendiri mengaku, sejak berlatih Nampon, ia tidak mudah jatuh sakit. Sebelumnya, ia gampang sekali terserang flu. Sehabis main golf saja, ia bisa meriang. Tapi itu cerita lama karena, sejak menjadi pesilat, bapak berusia 57 tahun ini merasa lebih bugar. Kebiasaan berlatih pernapasan yang meditatif di Nampon juga membuatnya lebih tenang menghadapi masalah dan stres di pekerjaan.

<b>Sekalian menjadi pesilat</b>

Tentu saja tidak semua penyakit bisa diselesaikan dengan teknik pengobatan Nampon. Banyak yang juga yang tidak berhasil. “Yang menyembuhkan
penyakit itu kan bukan kita,” kata Aditiawarman seraya menandaskan bahwa Nampon hanya sebuah ikhtiar. Terapis maupun pasien dituntut punya kesadaran bahwa sakit dan sembuh adalah pemberian Tuhan.

Berdasarkan pengalaman, peluang untuk tidak berhasil akan semakin besar jika pasien menderita penyakit tambahan: kurang sabar. Kesabaran merupakan unsur yang sangat penting di dalam terapi Nampon. Soalnya, kebanyakan terapi membutuhkan waktu yang cukup lama sampai penyakit benar-benar sembuh. Jika penyakitnya parah, biasanya dibutuhkan waktu beberapa bulan sampai sembuh. Dalam kasus Hamni, ia butuh waktu sekitar setahun sampai ia benar-benar bebas dari asma.

Hal ini sering disalahpahami oleh pasien. Terutama oleh mereka yang menganggap pengobatan alternatif sebagai sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkan dalam tempo seketika. Banyak di antara mereka yang datang ke klinik satu dua kali dengan harapan bisa sembuh secepatnya. “Terjadinya penyakit itu biasanya kan melalui proses panjang. Mungkin saja bertahun-tahun. Tidak mungkin sekali datang untuk terapi langsung sembuh,” tandas David.

Berdasarkan pengalaman pula, peluang untuk sembuh menjadi semakin besar jika pasien juga sekalian mengikuti latihan silatnya. Tidak hanya datang ke klinik sebagai pasien. Dengan aktif berlatih silat, efek terapi tenaga dalamnya akan semakin kuat karena pasien langsung mengobati dirinya sendiri dari dalam. Tidak hanya mengandalkan tenaga dalam dari terapis. Selain itu, dengan berlatih tenaga dalam, seorang pesilat Nampon juga dapat bertindak sebagai terapis yang bisa mengobati orang lain. David menjamin, latihan Nampon bisa dilakukan siapa saja.

Agar tingkat kesembuhan bisa diukur dengan jelas, semua pasien yang datang ke klinik selalu diminta untuk melakukan <i>check up</i> di laboratorium. Seperti yang biasa dilakukan sebagai prosedur standar pengobatan dokter. Semua pasien yang datang pertama kali diharuskan membawa rekam medis dari dokter. Ini untuk memudahkan terapis mengetahui tingkat keparahan penyakit sekaligus memantau kemajuan yang dicapai. Jika ia datang dengan penyakit tumor, maka juga harus memantau ukuran tumornya untuk mengetahui kemajuan pengobatan.

Cara ini juga untuk mencegah pasien merasa sembuh padahal sebetulnya belum. Pasalanya, kebiasaan semacam ini jamak terjadi di dunia pengobatan alternatif. Setelah sembuh secara klinis pun, pasien tetap disarankan untuk berlatih Nampon. Paling tidak, secara mandiri.

Aditiawarman pernah punya seorang rekan seperguruan yang punya pengalaman buruk. Tidak patut ditiru. Sebelum mengikuti Nampon, ia menderita gangguan payah jantung. Jika sedang mengobrol, ia sering terengah-engah di tengah obrolan. Jika menaiki anak tangga, ia harus berhenti tiap dua atu tiga undak. Ke mana-mana, ia tak pernah lepas dari obat dokter yang dikulum di bawah lidah, untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ia mengalami serangan jantung.

Awalnya, ia hanya menjadi pasien pasif yang menerima terapi dari Maman Abdurrahman. Setelah tiga bulan menjalani terapi, atas saran Maman, ia memutuskan untuk ikut latihan silat Nampon. Secara berangsur-angsur, gangguan jantungnya berkurang. Setelah beberapa tahun menjadi pesilat, ia akhirnya bisa terbebas sama sekali dari gangguan jantung. Obat jantung dari dokter bisa seratus persen ia tinggalkan.

Celakanya, hal ini kemudian membuatnya lupa diri. Karena sudah merasa sembuh, ia melanggar pantangan dokter dalam hal makan dan gaya hidup. Juga tidak pernah lagi berlatih Nampon. Setelah lama tak terdengar beritanya, tiba-tiba saja ia dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung.

Tentu saja sakit dan mati adalah urusan Tuhan. Tapi bagaimanapun, gaya hidup sembrono karena merasa sudah sembuh sama sekali tetap tidak dibenarkan. “Pantangan dari dokter tetap harus dipatuhi,” kata Aditiawarman. Meskipun sudah sembuh, latihan juga sebaiknya tidak dihentikan begitu saja.

Ternyata, selain menyembuhkan, tenaga dalam juga membahayakan: bisa membuat orang sembrono karena merasa sembuh.

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s