Memberi yang Terbaik Buat Buah Hati [menusehat]

“<i>Ngidam</i> yang paling banyak diinginkan oleh ibu hamil adalah tidak hamil,” kata Phyllis Diller, seorang komedian wanita asal Amerika Serikat. Ini hanya sebuah guyonan, memang. Tapi guyonan ini setidaknya memberi gambaran nyata bahwa masa kehamilan bisa menjadi masa paling sulit dalam hidup seorang ibu. Ini pula yang dialami oleh Sophie Navita, artis-presenter, istri dari Pongky Tri Barata, vokalis grup musik Jikustik.

Saat memutuskan menikah, Maret 2003, Sophie dan Pongky sepakat untuk segera punya momongan. Sambil berbulan madu di Bali di bulan-bulan pertama perkawinan, mereka mengatur rencana kehamilan dengan matang. Tak tahunya, ketika mereka berdua sedang sibuk membuat rencana, apa yang mereka rencanakan itu sudah terjadi.

Saat masih berada di Bali, Sophie sering merasa mual-mual, kepalanya pusing. Waktu itu ia menyangka dirinya jatuh sakit karena terlalu capek setelah mengurus acara perkawinan. “Waktu itu aku maunya <i>dipijitin sama dekerokin</i> terus,” katanya. Ia sama sekali tidak menyangka dirinya telah hamil. Pongky pun berpikiran sama.

Sophie tidak menyangka dirinya demikian subur, sementara Pongky juga tak tahu kalau dirinya begitu <i>tokcer</i>. Sekembalinya ke Jakarta, ia disarankan oleh seorang kawannya untuk periksa ke dokter. Dari pemeriksaan itulah, mereka baru tahu bahwa anak yang mereka harapkan itu sudah berada di dalam perut Sophie. Kehamilan itu datang lebih cepat dari yang mereka rencanakan. “Kehamilan saya itu langsung <i>sung sung</i>!” kata Sophie melukiskan kekagetannya waktu itu.

Padahal, pada saat itu ia bersama Pongky sedang sibuk-sibuknya mencari rumah. Ditambah lagi, ia sudah menandatangani banyak kontrak kerja sebagai presenter di banyak tempat. Sementara Pongky juga harus sering meninggalkan dia karena harus tur pentas musik di luar kota. Lengkap sudah kerepotannya di hamil pertama itu.

“Kondisi saya waktu itu betul-betul parah. Muntahnya itu bukan <i>morning sickness</i> lagi, tapi <i>full day sickness</i>. Seharian saya bisa muntah-muntah terus,” kenang wanita kelahiran 10 November 1975 ini. Padahal saat itu ia sehari-hari masih harus menjadi MC (presenter) di banyak acara. Kontrak kerja jalan terus. Tak jarang, saat menjadi MC sebuah acara, ia menyempatkan diri turun panggung untuk <i>numpang</i> muntah. Setelah itu ia naik panggung lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Sebelum hamil, ia tergolong wanita yang sangat suka memakai parfum. Tapi begitu ia mengandung, hidungnya menjadi sangat sensitif. Ia bisa langsung mual-mual jika mencium bau sedikit saja. Tidak terkecuali bau bedak, parfum, sabun cuci, dan pengharum pakaian. Padahal, sebagai artis, ia tidak mungkin bisa lepas dari bedak dan parfum. Saat dirias sebelum naik pangggung, ia gampang senewen kepada tukang rias karena ia terpaksa harus mencium bau berbagai produk kosmetik. Ia kadang meminta mereka melakukan tugas mereka secepat-cepatnya.

Saking alerginya dengan bau, wanita yang gaya bicaranya ceplas-ceplos ini secara kocak sering bertanya kepada panitia acara apakah dia bisa menjadi MC tanpa <i>make up</i>. Tentu saja permintaan yang tidak masuk akal ini tak pernah terkabul. Artis naik panggung dengan wajah berminyak di depan kamera teve adalah <i>mission impossible</i>.

Karena ia juga alergi terhadap bau sabun cuci, bersama Pongky, ia berkeliling ke berbagai jenis toko untuk mencari sabun yang tidak berbau. Mulai dari toko-toko kelas <i>supermarket</i> sampai toko-toko yang sebelumnya tidak pernah mereka datangi. Tapi, lagi-lagi hasilnya nihil. <i>Mission Impossible 2</i>.

<b>Jatuh dari panggung</b>

Ia terus berjuang melawan <i>full day sickness</i> sampai usia kehamilannya masuk bulan kelima. Hebatnya, meski menjalani kehamilan dengan super repot, ia tidak pernah membatalkan kontrak kerja yang telah ia <i>teken</i> sebelumnya. Kalau ada janji naik pentas, ia tetap datang. Hamil bukan alasan untuk bermanja-manja di
rumah. “Perkara nanti saya turun panggung lalu muntah-muntah, itu urusan lain,” kata wanita berdarah Batak ini.

Satu kali di sebuah acara di stasiun teve <i>Indosiar</i>, ia bahkan sempat terjatuh dari panggung. Waktu itu usia kandungannya tiga bulan. Di atas panggung, ia mencoba melakukan aksi heboh, lompat-lompat untuk menyegarkan suasana seperti biasa. Tak disangka-sangka, badannya ternyata tidak kuat dan ia pun terjatuh dari panggung. Untungnya, begitu rubuh, badannya langsung ditangkap oleh penonoton di depannya. Segera sesudah itu, ia digotong ke ruang <i>make up</i> dalam keadaan pucat pasi. Perut bagian bawahnya terasa mulas sampai-sampai saat itu ia sempat takut kandungannya gugur.

Di kesempatan lain, ia menjadi presenter acara Peringatan 100 Tahun Harley Davidson di Bali. Waktu itu usia kehamilannya masuk bulan keempat. Kontrak kerja untuk acara ini sudah ia <i>teken</i> jauh hari sebelum menikah. Di acara itu, ia harus berdiri di atas panggung terbuka, di bawah terik Matahari. Dan, tentu saja dengan gaya jingkrak-jingkrak karena ia tidak mungkin menjadi prenseter yang manis di depan para <i>biker</i>. Selesai acara, ia kembali ke hotel dalam keadaan teler. Perutnya mulas lagi. Untuk kedua kalinya, ia sempat dihantui kecemasan janinnya gugur akibat tingkahnya berjingkrak-jingkrak di atas panggung.

Karena merasa belum banyak tahu tentang ilmu kesehatan, ia kemudian banyak membaca dari buku, majalah, juga internet. Tiap kali membaca pengetahuan baru, ia menanyakannya kepada dokter langganannya. Saking banyaknya membaca dan bertanya, sampai dokternya kewalahan menjawab pertanyaannya.

<b><i>Rooming in</i></b>

Meski ia sering teler selama kehamilan, kandungannya tetap sehat-sehat saja. Hingga usia kandungan sembilan bulan, tak ada masalah dengan janinnya. Masalah terjadi ketika usia kandungan sudah melewati hari yang diperkirakan sebagai hari persalinan. Tunggu ditunggu, Sophie tidak juga mulas perutnya. Karena usia kehamilan sudah kedaluwarsa sementara bayi belum keluar, dokter memutuskan untuk melakukan induksi persalinan.

Begiti diinduksi, Sophie merasa mulas perutnya. Tapi kata dokter, bukaan jalan lahir masih terlalu kecil. Akhirnya dokter melakukan operasi pelebaran mulut rahim (bukan operasi caesar). Setelah itulah bayinya baru keluar. Sang ibu terpaksa harus mendapat tiga belas jahitan yang membuat ia susah bergerak selama dua minggu.

Sebelum melahirkan, Sophie sudah bertekad akan memberi ASI eksklusif kepada anaknya. Itu sebabnya, di rumah sakit, ia minta layanan <i>rooming in</i> (bayi berada satu ruangan dengan ibu) sebab ia tidak ingin bayinya jauh dari dirinya.

Di hari pertama kelahiran putranya itu, Rangga Namora Putra Barata, ASI masih belum keluar. Dengan bantuan Pongky, ia merangsang produksinya dengan cara menyusui Rangga meskipun ASI belum keluar. Akhirnya, di hari kedua kolostrum keluar.

Sesuai tekad sejak awal, Sophie memberikan ASI ekslusif selama enam bulan. Usahanya tidak sia-sia. Selama masa ASI eksklusif itu, Rangga tidak pernah satu kali pun pergi ke dokter karena sakit. Setelah lewat enam bulan, Rangga baru diperkenalkan dengan makanan non-ASI.

Saat memperkenalkan makanan padat lain pun Sophie tetap berusaha memberikan yang terbaik buat Rangga. Tidak sembarang makanan ia berikan. Kebetulan saat itu ia memperoleh pengetahuan baru tentang makanan organik. Sehari-hari di rumah, ia memberikan makanan organik buat anaknya. Awalnya hanya buat Rangga, tapi kemudian sekeluarga pun ikut makan makanan organik.

<b>Mengalami <>baby blues</i></b>

Saat Rangga lahir, ia dan Pongky sepakat untuk mengasuh berdua. Tanpa bantuan <i>babysitter</i>. Maunya idealis, agar tahu rasanya mengasuh anak langsung. Tak tahunya ia sempat mengalami tekanan mental pascamelahirkan. Waktu itu ia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan statusnya sebagai ibu baru. Seringkali di malam hari ia kurang tidur, dan begitu bangun pagi ia harus mencuci popok. Kegiatan harian yang melelahkan ini membuat dia stres. Jika Pongky tur keluar kota, kondisi Sophie bisa lebih memprihatinkan lagi sebab ia harus mengurus Rangga sendirian.

Meskipun saat tampil di layar teve ia gemar <i>mbanyol</i>, saat kerepotan mengurus Rangga, ia mengaku benar-benar kehilangan selera humornya. “Kalau ada orang yang bisa <i>ngelawak</i> dalam kondisi seperti itu, hebat <i>dah</i>,” ucapnya.

Selama tiga bulan pertama, ia menjalani hari-hari melelahkan tanpa <i>babysitter</i>. Selama masa itu, tiap malam sekitar pukul 20.00 ia punya jadwal menangis. “<i>Gak</i> tahu kenapa, <i>pingin nangis aja gitu</i>,” ceritanya. Dari buku-buku dan majalah yang ia baca, ia tahu bahwa apa yang dialami itu adalah gejala <i>baby blues</i>, tekanan psikologis pascamelahirkan. Untungnya, Pongky cukup pengertian dengan apa yang dialami istrinya. Kebetulan keduanya juga sama-sama gemar membaca, mencari pengetahuan baru.

Saat mengurus Rangga itulah, Sophie baru sadar tenyata hamil dan punya anak tidak segampang yang ia bayangkan sebelumnya, waktu menyusun rencana. Meski harus berjuang melawan stres selama hamil dan mengasuh anak, Sophie mengaku sangat bahagia dengan kehadiran Rangga di rumahnya.

Kebahagiaan menjadi ibu inilah yang membuatnya tidak kapok untuk hamil lagi. Setelah kehadiran Rangga, Sophie sempat memakai kontrasepsi spiral. Tak lama setelah itu, spiral ia lepas lagi karena ia dan Pongky sepakat untuk merencanakan anak kedua.

Persis seperti kehamilan pertama, lagi-lagi kehamilan kedua pun datang lebih cepat dari yang direncanakan. Saat usia Rangga menjelang tiga tahun, Sophie hamil lagi. Di kehamilan kedua ini, ia tidak lagi menderita <i>full day sickness</i> seperti kehamilan pertama. “Tinggal pusingnya <i>aja</i>,” ujar Duta ASI Sentra Laktasi Indonesia ini.

Sampai kehamilan kedua ini pun ia tetap meneruskan kebiasaan makan organik yang ia mulai sejak kehadiran Rangga. Ia meneruskan kebiasaan ini karena sejak makan makanan organik, badannya menjadi lebih bugar.

Jauh-jauh hari sejak awal kehamilan kedua, ia sudah merencanakan untuk <i>rooming in</i> lagi dengan bayinya di rumah sakit. Di kehamilan pertama, ia minta <i>rooming in</i> karena ingin memberi ASI eksklusif kepada bayinya. Di kehamilan kedua ini, ilmunya sudah bertambah lagi. Ia ingin bayinya melakukan <i>early latch on</i> dengan dirinya, persis setelah bayi keluar.

Pengetahuan tentang <i>early latch on</i> ia dapat selama menjadi Duta ASI. Begitu bayi lahir, setelah ari-ari dipotong, ia segera ditaruh di atas dada si ibu. Dengan nalurinya, ia dibiarkan mencari sendiri puting payudara ibunya untuk mendapatkan ASI. Inisiasi ASI di hari pertama kelahiran ini, menurut Sophie, sama pentingnya dengan ASI eksklusif selama enam bulan pertama.

Bagi Sophie, kehamilan dan persalinan adalah pertaruhan dua orang. Bukan hanya ibu, tapi juga anak. Karena itu, ia mempersiapkan diri dengan matang di kehamilan keduanya. Jika <i>ngobrol</i> tentang urusan medis, bicaranya lancar dan detail. Tampak betul ia telah mempersiapkan diri menjadi ibu. “Makanya dulu dia saya <i>kawinin</i>,” celetuk Pongky yang duduk tidak jauh darinya. (M. Sholekhudin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s