Mpok Cum

Emak, aku punya kabar gembira buatmu. Kini aku sudah menemukan penggantimu. Seorang perempuan hebat yang sanggup mengobati rinduku pada kampung halaman. Seorang perempuan yang sanggup membuatku menemukan kembali gairah hidup dan semangat kerjaku yang hampir hilang. Jika dalam sehari saja tidak melihat wajahnya, aku akan kehilangan selera makan. Sebelum bertemu dengannya, otakku seperti tumpul, tidak bisa dipakai menulis satu paragraf pun.

Sungguh, dia perempuan yang hebat, seperti Emak. Apa saja yang ia masak pasti terasa enak di lidah. Sayur asem, lodeh, semur, ayam goreng, dadar, ikan mujair, tempe, tahu, rempeyek udang, semuanya enak. Bahkan, paku pun terasa gurih sesudah dia goreng. (Paku, Emak. Betul-betul paku. Kemarin aku hampir saja menelan perbekalan juru tenung ini waktu makan perkedel.)

Semua masakannya benar-benar sesuai dengan lidah orang kampung seperti aku. Makan di warungnya membuat aku merasa seperti sedang makan di rumah. Tidak ada yang tidak enak. Seolah-olah ia menguasai rahasia serabut saraf rasa di lidah, seperti para penyair menguasai rahasia kata-kata.

Aku tak tahu siapa nama aslinya. Orang-orang memanggilnya Mpok Cum. Asli Betawi, tidak mengerti bahasa Jawa sama sekali. Ia bahkan selalu memanggilku dengan sebutan Entong. “Pakai ayam apa dadar, Tong?”

Dikiranya siapa aku ini, Emak?

Sambel dan sayur asemnya, itu yang paling aku suka. Segarnya betul-betul terasa, seperti saripati langit dan bumi. Tak kalah segar dibandingkan sayur asem di restoran Ayam Bakar Wong Solo. Andai saja lakinya Mpok Cum punya naluri bisnis, tentu Ayam Bakar Wong Solo punya pesaing berat—dan mungkin saja Puspo Wardoyo tidak sempat berpoligami.

Makan di warung Mpok Cum seperti mendengarkan lagu-lagu Ebiet dan Pink Floyd. Tidak pernah mengenal kata bosan meskipun aku tiap hari makan sayur asem di sana. Aneh sekali. Lebih aneh lagi, aku tidak pernah mengantuk kekenyangan meskipun aku makan sepiring penuh. Padahal jika aku melakukan itu di warung tegal, dijamin ngantuk, Emak.

Sejak mengenal Mpok Cum, aku menjadi tidak begitu berselera terhadap warung tegal, bahkan warung padang. Ini sebetulnya berbahaya karena sekarang aku sering kehilangan nafsu makan terutama di hari Sabtu dan Minggu.

Aku tidak mengada-ada, Emak. Kepiawaian Mpok Cum meracik rempah-rempah dapur sudah terkenal seantero kampungnya. Buktinya, jika ada warga yang sedang punya hajatan, dia selalu menjadi juru masak. Dan karena itu, warungnya juga sering libur.

Masakannya bisa membuat kami, para penggemarnya, begitu fanatik. Seorang kawan sampai bersusah-susah membuatkan spanduk dan stiker warung. Aku sendiri sampai merasa perlu memasukkan titik koordinat lokasi warung yang kumuh itu—kata seorang kawanku yang lain—ke dalam Wikimapia. Siapa tahu suatu saat nanti nama Mpok Cum bisa dikenal oleh orang-orang Amerika atau Eropa.

Mpok Cum? Oh… I see.

Advertisements

3 thoughts on “Mpok Cum

  1. di wikimapia, titik kordinatnya 6°11’48″S 106°46’1″E… (:p) tapi mbak yeti pasti gak tega makan di sana. warung kaki lima. persis di trotoar jalan. tidak higienis. saya pernah hampir menelan paku waktu makan perkedel. tapi tidak kapok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s