Bubur Ayam Mang Oyo [jajan bandung]

Buburnya kental, kaldunya gurih. Itulah kesan yang terasa sejak sendokan pertama Bubur Ayam Mang Oyo. Dua keistimewaan inilah yang membedakan Bubur Ayam Mang Oyo dari bubur ayam kebanyakan.

Pada umunya bubur ayam identik dengan bentuk bubur yang encer, lembek, dan cenderung berair. Bubur Ayam Mang Oyo beda. Tidak encer tapi juga tidak terlalu padat. Lembut saat disendok maupun saat ditelan. Gurih kaldunya meresap sehingga membuat bubur ini terasa mantap dinikmati meskipun tanpa tambahan apa-apa.

“Ini namanya bubur <i>mateng</i>, bukan <i>mateng</i> bubur,” kata Mang Oyo, pemilik warung yang sudah mulai berjualan bubur ayam sejak 1976 ini. Untuk menghasilkan bubur yang benar-benar matang itu, Mang Oyo punya resep khusus. Bahan utamanya sama dengan bubur ayam lain, yaitu beras. Bedanya, beras yang ia pakai bukan beras yang biasa dijual di pasar. Ia sengaja mendatangkan beras dari Majalengka, Jawa Barat, tempat kelahirannya. Pernah ia mencoba menggunakan beras yang biasa dijual di toko-toko, tapi hasilnya tidak sebagus beras dari Majalengka.

Saat proses pembuburan, beras itu diaduk terus-menerus dengan dayung (bilah pengaduk) selama dua jam nonstop. Proses inilah yang menetukan kental encernya bubur. Pada proses ini pula, <i>matang bubur</i> dan <i>bubur matang</i> bisa dibedakan.

Disebut matang bubur jika saat dayungnya diangkat, bubur yang menempel di permukaannya masih mengalir jatuh. Dianggap benar-benar matang jika kadar airnya tinggal sekitar seperempat bagian. Saat dayung diangkat, bubur tetap melekat di permukaannya.

Karena konsistensinya pekat, bubur bisa menempel lekat di piring. Ini biasa dijadikan sebagai bahan atraksi Mang Oyo untuk menarik perhatian pembeli. Begitu bubur dicedokkan ke atas piring, piring itu langsung dibalik. Tapi ajaibnya, bubur tidak tumpah. Ia melekat seperti mengandung lem.

Dibandingkan dengan bubur ayam pada umumnya, Bubur Ayam Mang Oyo lebih mengenyangkan. Rasa kenyang sesudah makan hampir setara dengan rasa kenyang makan nasi. Ini pula yang menjadi salah satu daya tariknya. Bisa dijadikan sebagai sarapan ringan tapi kenyangnya awet. Di kalangan mahasiswa, satu piring bubur biasa dijadikan sebagai sarapan sekaligus makan siang. “Kecuali kalau yang makan <i>Ahmad</i>,” canda Mang Oyo. Yang ia maksud adalah “ahli madang” alias orang yang makannya banyak.

Selain pekat, Bubur Ayam Mang Oyo juga relatif tahan lama. Dalam keadaan terbungkus, bubur bisa tahan hingga 24 jam asalkan belinya pagi hari ketika bubur baru keluar dari dapur. Bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

<b>Campuran ayam kampung</b>

Bukan hanya buburnya yang spesial. Ayamnya pun spesial. “Kami pakai campuran ayam kampung dan ayam sayur,” ungkap bapak yang suka guyon dan gemar membuat singkatan ini. Yang ia maksud dengan ayam sayur adalah ayam pedaging yang biasa dijual di pasar. Komposisinya, dua ayam sayur, satu ayam kampung.

Menurutnya, seratus persen ayam sayur akan membuat bubur menjadi amis. Tidak lezat. Ayam yang dipakai pun tidak sembarang ayam. Harus ayam <i>Danamon</i>. Ayam yang dadanya montok. Kaldu oplosan dua jenis ayam <i>Danamon</i> inilah yang membuat Bubur Ayam Mang Oyo terasa gurih mantap.

Bumbunya, menurut pengkuan Mang Oyo, tidak istimewa. Tidak berbeda dengan bumbu bubur ayam pada umumnya. Di piring, bubur dihidangkan dengan tambahan ayam, kedelai goreng, seledri, dan kerupuk. Pembeli bisa memilih menu standar atau menu komplet dengan tambahan ati ampela, telur, pindang, atau cakue.

Kecap, sambal, kecap asin, dan bubuk lada disediakan di dalam botol di semua meja. terpisah. Terserah pembeli, mau mengambil atau tidak. “Pembeli tidak kami suruh makan kecap atau sambel, tapi makan bubur,” kata Mang Oyo becanda.

Harga bubur sesuai dengan paket menu yang dipesan. Dengan uang Rp5.000,- pun kita bisa menikmati menu standar mahasiswa. Paket ati ampela atau kompletnya pun harganya tidak lebih dari Rp10.000,-. Cukup murah.

Di kota Bandung, Bubur Ayam Mang Oyo punya tujuh cabang. Mang Oyo menjamin, di semua cabang, rasa buburnya sama karena semua berasal dari satu dapur. Hanya saja, jika kita datang sebagai wisatawan di Bandung, sebaiknya kita memilih cabang di Jalan Sulanjana 30, daerah Tamansari. Tempat ini memang sengaja didesain sebagai tempat wisata jajan. Suasananya nyaman. Buka mulai jam sarapan, pukul 06.00 sampai jam makan malam, pukul 21.00 WIB. (emshol)

Alamat Kedai Bubur Ayam Mang Oyo:

1. Jln. Sulanjana 30 (buka pagi dan sore)

2. Jln. Gelapnyawang, ITB

3. Jln. Surya Soemantri-Maranatha.

4. Jln. Surapati 63

5. Jln. Burangrang 42 (Samping BCA)

6. Jln. Pasteur, samping Giant

7. Jln. Tubagus Ismail No 45

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s