Jangan Lupa Mampir Soto Ojolali [jajan bandung]

Sekilas nama rumah makan ini bisa membuat kita terkecoh. Soto Ojolali. Siapa pun tahu, ini adalah bahasa Jawa tulen. Artinya, jangan lupa. Bahasa Sunda tidak mengenal kosa kata ini. Kalau soto bandung, tentu namanya pun mestinya berbahasa Sunda: <i>Soto Ulap Hilap</i>.

Melihat nama rumah makannya, kita mungkin akan membayangkan soto ayam ala jawa timuran yang bersantan dan banyak mengandung minyak. Tapi begitu soto terhidang di meja, semua dugaan itu harus diralat. Soto ini seratus persen soto bandung. Tampilannya sama sekali jauh dari kesan berminyak. Kuahnya bening, lebih mirip kuah sup. Ini salah satu ciri khas soto bandung. Dagingnya bukan daging ayam, tapi daging sapi.

Perbedaan utama dengan soto-soto lain, soto bandung berisi lobak yang diiris tipis-tipis. “Mungkin karena dulu soto ini dibuat pada zaman Jepang, makanya isinya lobak,” duga Rika Setiani, pemilik rumah makan yang terletak di Jalan Rancaekek Km. 22, Bandung, ini. Sekadar tahu saja, lobak memang populer dalam tradisi kuliner Jepang. Di negeri Dewi Matahari itu, lobak biasa dijadikan sebagai lalap.

Dugaan Rika bisa benar, bisa tidak. Tapi bahwa usaha Soto Ojolali ini dimulai pada zaman Jepang, itu bisa dipastikan. Kakeknya, Kartasasmita, memulai usaha soto ini sebelum Indonesia merdeka. Saat pertama kakeknya berjualan soto, namanya belum Soto Ojolali. Waktu itu ia berjualan soto dengan menggunakan <i>tanggungan</i> (pikulan).

Pada masa Kartasasmita inilah nama Soto Ojolali mulai dipakai. Alkisah, Kartasasmita pacaran dengan gadis Jawa. Suatu kali si pacar ini pamit pulang kampung ke Jawa. Ketika ia pamit, kalimat terakhir yang ia ucapakan, “<i>Ojo lali, yo</i>, Kang!” Ternyata setelah pamit pulang itu, ia tidak pernah kembali lagi ke Bandung. Tak ada kabar, tak ada kawat. Untuk mengenang pacarnya itulah, Kartasasmita kemudian memberi nama jualannya Soto Ojolali.

Sebuah romansa yang sedih. Tapi di balik kisah cinta yang berakhir sedih itu, ternyata nama Ojolali membawa hoki. Terbukti, rumah makan yang dirintis Kartasasmita pada zaman Jepang itu masih bisa terus bertahan hingga sekarang. Warung pertama yang bertempat di Jalan Cibadak No. 79 hingga kini masih dipertahankan dan menjadi pusat dari cabang lainnya. Dibandingkan cabang-cabangnya, hingga sekarang, rumah makan Soto Ojolali di Jalan Cibadak ini tetap yang paling ramai dikunjungi pelangggan. Rasa soto yang <i>ngangeni</i> dan hoki nama Ojolali membuat para pelanggannya benar-benar tidak bisa lupa datang kembali ke warung ini.

Cerita di balik nama soto ini memang sedikit melankolis, tapi kita tak perlu ikut sedih ketika menikmati soto. Sebab itu hanya akan membuat kita tidak bisa menikmati citarasa soto yang gurih ini. Gurihnya gurih kaldu. Cocok dipakai sebagai makan utama, bisa juga dipakai sebagai pembangkit selera, mirip fungsi <i>appetizer</i> dalam tatacara makan masyarakat Barat. Kalau diibaratkan rokok, mungkin soto Ojolali tergolong soto <i>mild</i>.

Kuahnya yang bening dan tidak banyak mengandung minyak, cocok untuk disesap sedikit demi sedikit sampai sendok penghabisan. Gurih kuah berasal dari kaldu daging sapi. Bagian daging yang dipakai untuk soto ini hanya bagian iga dan paha. Pada saat proses pengambilan kaldu, bagian lemaknya dibuang lebih dulu sehingga kuah yang dihasilkan bening. Tidak seperti soto jawa timuran atau soto betawi yang bersantan dan lebih berminyak.

Rika mengaku tidak ada yang spesial dengan bumbunya. Komponenya pun sama dengan soto bandung pada umunya: bawang daun, seledri, serai, daun salam, bawang goreng, kacang kedelai, lobak. Yang spesial hanyalah pemilihan daging di bagian iga dan paha. Komponen inilah, kata Rika, yang paling menentukan rasa gurih soto.

Adanya tambahan lobak memang tidak membuat soto menjadi lebih gurih. “Tapi kalau enggak pakai lobak, ya bukan soto bandung namanya. Itu memang ciri khasnya soto bandung,” kata pemilik warung yang buka tiap hari mulai pukul tujuh pagi sampai sembilan malam ini. Irisan lobak di dalam soto bisa menjadi selingan di antara gigitan daging iga yang empuk.

Sebelum dicampurkan ke dalam kuah, lobak direndam dan direbus lebih dulu. Tujuannya untuk menghilangkan getah. Setelah matang, barulah lobak dicampurkan ke dalam kuah soto. Jika tidak direbus matang lebih dulu, getah lobak akan mengganggu citarasa kuah kaldu yang gurih.

Karena tidak banyak mengandung lemak, anak balita pun bisa makan soto di rumah makan ini. Biasanya orangtuanya minta daging dan lobaknya diblender dulu supaya halus. Sekarang, seiring dengan permintaan konsumen, Soto Ojolali juga menyediakan pilihan soto babat dan usus. Harganya tidak jauh berbeda, di kisaran Rp10.000,- per porsi. (emshol)

Alamat Rumah Makan Soto Ojolali

· Jln. Cibadak No.79

· Jln. Raya Cipasir, Rancaekek Km. 22

· Bandung Trade Center, Jln. Djundjuman No. 143

· Food Court Yogya Pasar Raya, Jln. Kepatihan No. 18

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s