Ce’ Mar, Warung Biasa yang Luar Biasa [jajan bandung]

Ramai dan efisien. Mungkin itulah dua kata yang bisa menggambarkan tempat makan ini. Dari tampilan tempatnya, warung Ce’ Mar tidak beda dengan warung makan kebanyakan. Letaknya persis di pinggir jalan raya. Tak punya halaman. Kursi buat pembeli pun berada di badan pinggir jalan. Tapi kesan warung biasa ini akan sirna begitu warung dibuka pukul delapan malam. Tak sampai satu jam sejak warung dibuka, puluhan orang langsung berdatangan untuk antre.

Jumlah antrean bisa puluhan orang. Jika ditambah dengan mereka yang sudah lolos dari antrean, jumlah keseluruhan bisa mencapai seratusan orang lebih. Mereka yang baru pertama kali datang ke tempat ini pasti bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat warung kelas pinggir jalan ini begitu digemari banyak orang.

Untuk tahu jawabannya, pertama-tama kita harus masuk ke dalam antrean. Jika kita datang setelah pukul sembilan malam, sangat mungkin kita berada di nomor urutan kesekian belas atau kesekian puluh. Tapi tak perlu khawatir. Warung ini tergolong warung dengan pelayanan cepat. Efisien.

Warung Ce’ Mar bukan hanya efisien dalam hal kecepatan pelayanan, tapi juga efisien dalam urusan kebutuhan tempat. Lauk-pauknya jumlahnya sekitar 20-an. Pilihannya tak beda jauh dengan warung sunda kebanyakan. Ada telur, ayam, babat, gulai, rendang, tahu, tempe, empal, paru, perkedel, bakwan, dan masih banyak lagi. Semua lauk-pauk itu ditata rapi di wadah-wadah di atas meja yang panjangnya hanya sekitar tiga meter. Ringkas sekali.

Pembeli bisa memilih lauk secara prasmanan. Jenis maupun jumlahnya terserah kita. Di ujung meja, sebelum lolos dari antrean, kita akan bertemu dengan Ce’ Mar, si pemilik warung yang panggilannya dipakai sebagai nama tempat makan itu. Di ujung meja ini, Ce’ Mar bertindak sebagai tukang taksir harga.

Meskipun dua orang pembeli sama-sama mengambil lauk gulai dan babat goreng, harga keduanya bisa saja berbeda. Tergantung sedikit banyaknya. Di sinilah peran penting Ce’ Mar menaksir harga. Ia bisa melakukannya dengan cepat. Jauh lebih cepat daripada pembaca <i>barcode</i> yang biasa dipakai di kasir-kasir <i>supermarket</i>. “Sebelas ribu! Sembilan ribu lima ratus! Tiga belas ribu!” Cepat dan tangkas, seolah-olah di kepalanya ada mesin pengolah data.

Setelah membayar di meja Ce’ Mar, kita bisa membawa makanan dan minuman ke kursi-kursi yang berada di depan warung. Sebagian tanpa meja. Kalau semua kursi penuh, kita bisa makan di trotoar. Tempat makan ini berada ruang terbuka, tidak beratap, letaknya tepat di pinggir jalan raya. Jika langit sedang cerah, kita bisa makan sambil melihat bintang atau bulan purnama.

Meskipun mungkin tidak sangat istimewa, masakan-masakan Ce’ Mar ceitarasanya di atas warung kebanyakan. Dari sekitar 20-an lauk, yang paling digemari pembeli adalah gulai daging sapi dan babat goreng. Daging maupun babatnya empuk, gurih, cenderung asin. Setelah makan babat Ce’ Mar, kita baru akan tahu mengapa para pembeli yang jumlahnya puluhan itu rela antre di tempat ini. Masakannya tidak <i>terlalu Sunda</i>. Tidak banyak lalap-lapapan di sini.

Warung yang terletak di Jalan Cikapundung (di depan gedung Bank BTPN) ini awalnya adalah warung kakilima biasa. Buka pada tengah malam dan dinihari, melayani pembeli di bursa koran. Sedikit demi sedikit, konsumennya terus bertambah. Bukan hanya para agen koran, tapi juga para karyawan yang sedang <i>shift</i> malam. Termasuk mereka yang pulang dari dikotek atau sehabis olahraga malam. Ce’ Mar adalah potret Bandung yang tak pernah tidur.

Kini, pelanggan Ce’ Mar bukan hanya kalangan karyawan yang pulang malam, tapi juga mereka yang datang ke Bandung sebagai pengunjung. Jam bukanya tetap tidak berubah. Hanya pada malam hari. Buka mulai pukul delapan malam, tutup pukul delapan pagi. Dalam semalam, jumlah total pengunjung bisa mecapai angka ratusan hingga ribuan orang. Angka yang fantastis untuk sebuah warung kakilima dengan meja lauk tiga meter.

Sebagai tempat makan malam, warung Ce’ Mar selalu menyajikan nasi dan lauk yang masih hangat sepanjang malam. Ini merupakan salah satu kelebihan warung Ce’ Mar. Di warung-warung lainnya, lauk malam biasanya sisa dari lauk siang hari. Tapi di sini, lauk-pauk memang dimasak sore, menjelang buka.

Harganya cocok untuk semua lapisan. Hanya dengan uang 10 – 15 ribu rupiah, kita sudah bisa pulang dalam keadaan kenyang dan puas. Tapi jika datang ke tempat ini, sebaiknya kita juga menyiapkan recehan karena jumlah pengamen juga proporsional dengan jumlah pembeli. (emshol)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s