Mau Kulit Putih atau Cerah, Non? [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

“(Tidak) putih itu (tidak) cantik.” Bagi sebagian perempuan, kata-kata ini seperti sihir yang membuat mereka rela melakukan apa pun demi mendapatkan kulit putih. Jika perlu, produk ilegal pun kadang mereka coba. Tak jarang, karena memakai produk yang tidak cocok, kulit mereka malah rusak. Bukannya tambah putih, kulit justru mengelupas, merah, atau bahkan tambah hitam.

Tak berlebihan jika para ahli ilmu komunikasi mengatakan perilaku masyarakat dibentuk oleh iklan di teve. Iklan obat pemutih kulit merupakan contoh yang baik. Simak saja, hampir tiap menit pemirsa teve dibombardir dengan iklan berbagai merek produk yang diklaim bisa membuat kulit lebih putih.

Yang baru putus pacar, tak usah khawatir. Pakai saja produk anu, maka dijamin mantan pacar akan menyesal dan minta balik lagi. Lina, yang kulitnya tidak seputih Lani, juga tak perlu minder. Pakai saja produk anu, maka dalam dua minggu, kulit Lina akan tampak seputih kulit Lani. Begitu hebat daya sihir iklan-iklan itu, sampai para perempuan Indonesia lupa bahwa kulit mereka memang berbeda sejak dari <i>sononya</i> dengan kulit Zhang Zi Yi.

“Kulit manusia itu memang bermacam-macam. Ada tipe satu sampai enam,” kata dr. Emil R. Fadly, Sp.KK, ahli kulit dari klinik Jakarta Skin Center, Jakarta Selatan. Pembagian tipe ini berdasarkan kadar pigmen melanin di dalam sel kulit. Melanin inilah yang menyebabkan kulit berwarna gelap.

Semakin besar tipe kulit, makin tinggi kadar pigmennya. Tipe 1 – 3 milik orang-orang Eropa yang jarang terkena sinar Matahari. Tipe 3 – 4 seperti yang dimiliki orang-orang Cina. Rata-rata orang Indonesia, yang hidup di sekitar garis khatulistiwa, kulitnya tipe 4 ke atas. Kadar pigmen yang tinggi di kulit kita bukan tanpa manfaat. Pigmen ini berfungsi menyaring radiasi sinar Matahari yang memang melimpah di daerah khatulistiwa. Dengan benteng pigmen itu, kulit kita tidak mudah terbakar saat kena sinar Matahari.

Produk-produk pemutih kulit bekerja dengan cara mengelupas lapisan kulit terluar atau menghambat proses pembentukan pigmen ini sehingga kulit tampak lebih cerah (yang dalam bahasa iklan, disebut “lebih putih”). Menurut Emil, klaim produk kosmetik yang bisa membuat kulit putih sebetulnya merupakan janji yang berlebihan—kalau tidak disebut menyesatkan.

<b>Perang dagang</b>

Produk “pemutih” kulit sendiri terbagi menjadi tiga kelompok: kosmetik, kosmetisikal, dan kosmetomedik. Disebut kosmetik jika produk itu tidak mempengaruhi fisiologi kulit, seperti sabun. Disebut kosmetisikal jika produk itu mempengaruhi fisiologi kulit tapi masih boleh dibeli secara bebas-terbatas. Tanpa harus memakai resep dokter. Contohnya, produk yang mengandung <i>alpha hydroxy acid</i> (AHA), asam glikolat (<i>glycolic acid</i>) 4%, arbutin, dan hidrokuinon 2%. Yang disebut terakhir ini belakangan diributkan karena diisukan sudah dilarang pemakaiannya.

Golongan ketiga disebut kosmetomedik. Produk-produk ini mempengaruhi fisiologi kulit dan hanya boleh dibeli dengan dengan resep. Contohnya, hidrokuinon di atas 2% (misalnya 4%) dan asam retinoat (berapa pun kadarnya). Asam retinoat ini di label produk kadang ditulis sebagai tretinoin. Produk-produk ini sangat mungkin menimbulkan efek samping serius karena itu pemakaiannya harus di bawah pengawasan dokter.

Di sini tampak bahwa satu macam bahan aktif bisa masuk kategori kosmetisikal atau kosmetomedik, tergantung kadarnya. Hidrokuinon, misalnya. Jika kadarnya 2%, ia masuk kategori kosmetisikal, obat bebas terbatas. Tapi jika kadarnya 4%, ia masuk kategori kosmetomedik, hanya boleh dibeli dengan resep.

Dalam ilmu kedokteran kulit, yang bisa disebut sebagai pemutih kulit sebetulnya hanya golongan ketiga, yaitu kosmetomedik. Dua golongan pertama, kosmetik dan kosmetisikal, boleh dibeli bebas tapi tidak sampai membuat kulit lebih putih. “Jadi, kalau ada iklan obat bebas yang bisa membuat kulit putih, itu pasti tidak benar,” tambah Emil. Klaim yang paling masuk akal adalah membuat kulit lebih segar, tidak kusam, sehingga tampak lebih cerah. Bukan menjadi lebih putih.

Sebagai contoh, AHA atau asam glikolat. Bahan ini bekerja dengan cara mengelupaskan sel kulit terluar. Setelah terkelupas, secara alami sel kulit terluar akan diganti oleh sel kulit baru. Dengan begitu diharapkan kulit bisa lebih segar sehingga tampak lebih cerah. Ini berbeda dengan hidrokuinon. Cara kerjanya menghambat pembentukan pigmen sehingga kulit lebih terang. Namun, dalam kadar besar, hidrokuinon bisa menimbulkan efek buruk bagi kulit yang sensitif. Itu sebabnya, pemakaian hidrokuinon 4% harus di bawah pengawasan dokter.

Masalah hidrokuinon ini beberapa bulan terakhir menjadi topik hangat karena memicu perang dagang antarbeberapa merek produk pemutih kulit. Persis seperti perang dagang beberapa waktu lalu antara beberapa merek produk minuman, antara yang berpengawet dan yang tidak berpengawet. Dalam kasus pemutih ini, semua produk yang mengandung hidrokuinon dicitrakan sebagai produk yang berbahaya. Padahal yang benar sebetulnya bukan demikian.

Hidrokuinon 2% hingga saat ini masih digolongkan sebagai kosmetisikal, masih boleh dibeli bebas. Hanya saja, kata Emil, memang ada rencana kelasnya dinaikkan menjadi kosmetomedik. Jika kelak aturan ini sudah berlaku, hidrokuinon hanya boleh dibeli dengan resep dokter. Artinya, produk ini tetap tidak dilarang beredar, tapi nanti pemakaiannya harus di bawah pengawasan dokter. Efek perang dagang ini sampai membuat Emil harus susah payah menjelaskan kepada pasien. Tiap kali ia meresepkan produk yang mengandung hidrokuinon, pasien selalu komplain kepadanya karena mereka menyangka hidrokuinon sudah dilarang beredar.

<b>Banyak versi ilegal</b>

Dalam praktiknya, batas antara produk kosmetisikal dan kosmetomedik ini sulit dibedakan karena produk-produk kosmetomedik juga banyak beredar di pasaran. Bisa dibeli bebas, padahal pemakaiannya mestinya di bawah pengawasan dokter. Lebih susah lagi, karena produk-produk ilegal ini biasanya tidak mencantumkan kandungannya di kemasan.

Maraknya peredaran kosmetik ilegal bukan berita baru. Bukti paling jelas, beberapa waktu lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan menarik produk-produk kosmetik ilegal yang berasal dari Cina. Beberapa di antaranya adalah produk pemutih kulit yang isinya racun merkuri.

Jumlah produk pemutih kulit ilegal yang beredar di pasaran, menurut pengamatan Emil, sudah sampai tingkat yang merisaukan. Ini setidaknya berdasarkan banyaknya kasus pasien yang datang kepadanya dengan masalah kulit. Banyak dari mereka kulitnya rusak setelah memakai produk ilegal. Biasanya pasien tidak begitu perhatian apakah produk yang ia pakai itu legal
atau tidak. Ini terjadi pada semua lapisan masyarakat. Bukan hanya kalangan yang kurang terdidik, tapi juga para pasien di klinik Jakarta Skin Center yang umumnya kalangan terdidik. “Sangat sering sekali!” katanya tentang kedatangan pasien yang kulitnya rusak akibat pemakain produk pemutih yang salah.

Untuk meneliti produk-produk yang merusak kulit pasiennya, tak jarang Emil bertindak sebagai “detektif swasta”, mengecek sendiri ke toko-toko obat. Biasanya, produk-produk ilegal ini golongan kosmetomedik yang mestinya pemakaiannya harus di bawah pengawasan dokter. Dari pengamatannya itu, Emil menemukan banyak fakta yang menarik. Salah satunya terjadi pada dua merek produk pemutih impor yang cukup populer.

Produk ini berisi tretinoin dan hidrokuinon kadar tinggi. Keduanya termasuk bahan aktif kelas berat yang mestinya masuk kosmetomedik. Tapi di toko-toko obat, produk ini beredar secara bebas. Kadar tretinoin mencapai 0,1%. Jauh lebih besar daripada tretinoin yang biasa diresepkan dokter, yang hanya 0,05% atau bahkan lebih kecil lagi. Karena memang isinya bahan aktif kelas berat dalam kadar tinggi, efek pemutihnya pun sangat tokcer. Sama tokcernya dengan efek buruk yang ditimbulkan.

Pada mereka yang kulitnya sensitif, produk ini bisa membuat kulit rusak. “Banyak pasien yang datang dalam keadaan kulitnya babak belur,” kata Emil. Karena saking banyaknya pengaduan, produk itu sempat ditarik dari peredaran. Tak lama setelah itu, produk tersebut beredar kembali dengan nomor registrasi baru. Nama dagangnya sama tapi kandungannya beda.

Produk baru ini tidak lagi melanggar hukum. Kadar bahan aktifnya sesuai dengan syarat produk kosmetiskal. Tapi di toko-toko obat, produk ini tetap tersedia dalam dua versi: legal dan ilegal. Versi ilegal ini mengandung bahan aktifnya kelas berat seperti semula. Tapi di toko obat, pembeli ditawari dengan pilihan yang terdengar manis, “Mau yang lokal atau yang impor?” Dan jawabannya bisa ditebak, versi ilegal (impor tanpa registrasi) lebih dicari pembeli karena memang efek pemutihnya jauh lebih kuat.

Karena banyaknya produk pemutih ilegal yang <i>ngawur</i>, Emil menyarankan, “Selalu pilihlah produk yang terdaftar.” Yang punya nomor registrasi. Kalau informasi di label semuanya tertulis dalam huruf cina, itu indikasi jelas bahwa produk itu ilegal.

Kedua, biasakan membaca kandungan bahan-bahan di kemasan. Hindari produk yang termasuk kategori kosmetomedik sebab kita tidak bisa meramalkan efek buruk yang mungkin terjadi. Meskipun kelihatan sepele, produk pemutih kulit bisa menimbulkan masalah besar. Mulai dari kulit mengelupas, iritasi, alergi, sampai efek <i>bouncing</i> (kulit malah menjadi lebih hitam begitu pemakaian obat dihentikan). Yang perlu diperhatikan bukan hanya bahan aktifnya, tapi juga bahan-bahan pembawanya. Emil memberi contoh propilen gikol. Pada sebagian kecil orang, bahan pembawa ini bisa menyebabkan alergi.

Ketiga, jangan mudah termakan iklan. Apa pun produk yang dipilih, jangan berharap kelewat tinggi. Iklan biasanya berlebihan. Emil memberi contoh produk yang bisa menghilangkan bercak di wajah dalam hitungan hari atau beberapa minggu. Jelas ini obral janji. Obat resep saja butuh waktu sekitar lima bulan.

Kebutuhan kulit tiap orang sangat individual. Jika memilih produk, sesuaikan dengan jenis kulit. Produk yang cocok buat seorang kakak, belum tentu cocok buat adiknya. Biasanya produk pemutih mengandung pelembap. Pada mereka yang kulitnya berminyak, pemakaian pelembab yang banyak malah akan menyebabkan kulit berjerawat. Jangan sampai maksud hati ingin wajah kinclong, jadinya malah gosong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s