Penjual Bendera

Mungkin baginya tak penting sudah berapa lama negerinya merdeka. Apalah artinya? Toh hidup baginya hanya sekumpulan hari-hari biasa, tak ada bedanya. Kadang mujur, kadang sial. Biasa saja, tak ada yang istimewa. Jika sedang sial, hidup baginya berarti tidur dan bermimpi di bawah kibaran bendera. Jika sedang mujur, seorang pria akan menawar dari balik kaca mobilnya. Kok mahal sekali, katanya. Ah, masak? Balasnya. Ini sebetulnya tidak terlalu mahal. Tuan saja yang terlalu kikir.


Tujuh belas Agustus tinggal dua hari lagi. Pangeran Diponegoro sudah mangkat lama sekali.

Mungkin baginya tak begitu penting apalah arti sebuah negara. Toh negara hanya sekumpulan orang-orang yang tidak saling kenal, seperti dia dan pria yang menawar dari balik kaca mobilnya. Yang lebih penting baginya hanya sebuah kepastian sederhana. Bahwa bendera negara tak berganti warnanya. Supaya dagangan yang tak laku tahun ini bisa dijual lagi tahun berikutnya.

Tujuh belas Agustus tinggal dua hari lagi. Pangeran Diponegoro gagah sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s