Pelajaran Moral [gedabrusan*]

“Hari ini aku akan mengajarimu sebuah pelajaran penting, muridku!”
“Pelajaran apakah itu, guru?”
“Pelajaran moral!”

Lalu kedua guru dan murid itu pun meninggalkan padepokan menuju sungai. “Kita akan menyeberang,” kata Majenon, sang guru, begitu keduanya tiba di tempat penyeberangan. Di sana mereka menjumpai sebuah perahu yang ditambatkan. Tapi pemiliknya sedang tidur pulas. Sementara itu dari arah seberang, sebuah perahu sedang menuju ke arah mereka.

“Muridku, kau lihat tukang perahu yang tidur itu. Ketika ada calon penumpang datang, dia sedang dalam keadaan tidak siap. Aku tidak suka dengan orang yang bersantai-santai dengan pekerjaannya. Kita akan menyeberang dengan tukang perahu yang sedang menuju ke arah kita saja.”

Bahlol, si murid, hanya mengangguk-angguk.

“Pelajaran moral apa yang bisa kau ambil dari sini, muridku?”

“Pelajaran moral pertama: kita harus selalu siaga. Tuhan memberikan rezeki kepada orang yang siaga menerimanya.”

“Bagus!”

Lalu si guru memberi isyarat, memanggil tukang perahu yang sedang menuju ke arahnya.

Tak lama kemudian, tukang perahu kedua ini pun sampai di tepi sungai. Ketika guru dan murid itu bersiap-siap naik ke atas perahu, si tukang penyeberang itu berkata kepada keduanya, “Maaf, Tuan Guru. Kami di sini bekerja berdasarkan giliran. Ini kebetulan giliran teman saya yang sedang tidur itu. Aku akan membangunkan dia.”

Majenon dan Bahlol hanya bisa saling pandang dan mengangkat bahu.

“Pelajaran moral apa lagi yang bisa kau tarik dari sini, muridku?”

“Pelajaran moral kedua: Tuhan telah mengatur rezeki buat manusia dengan cara-Nya sendiri, yang kadang tidak bisa kita pahami.”

“Tepat sekali, kau memang muridku yang cerdas! Tapi masih ada pelajaran moral lainnya. Tahukah kamu, muridku?”

“Pelajaran moral ketiga: seorang guru pun bisa keliru. Karena itu kita tidak boleh sok tahu, juga tidak boleh sok bijak.”

“Aku suka keterusteranganmu. Tapi masih ada satu lagi pelajaran moral yang lebih penting dari itu semua. Tahukah kamu?”

“Pelajaran moral apakah itu, Guru? Aku tidak tahu.”

“Pelajaran moral paling penting dari semua ini adalah bahwa yang namanya ‘pelajaran moral’ itu hanyalah sebuah kesimpulan gegabah yang dibuat berdasarkan waham sempit. Ketika gurumu bicara tentang pelajaran moral, sesungguhnya ia sedang bicara tentang ekstrapolasi yang terlalu mengada-ada dari satu dua fakta yang tidak saling berhubungan. Singkatnya, pelajaran moral adalah omong kosong yang dipakai sebagai pembenar dari cara kita berpikir.”

Bahlol hanya mengangguk-angguk ketika mendapatkan pelajaran moral paling penting hari itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s