Yang Kentut Sudah Bayar


Ini lelucon lawas:

Di sebuah angkot, duduk delapan orang penumpang. Ketika angkot sedang melaju, tiba-tiba tercium bau kentut. Semua penumpang saling melirik sambil menutup hidung.

“Yang kentut ngaku saja!” kata seorang penumpang yang duduk paling dekat pintu.

“Iya, ngaku saja lalu minta maaf,” sahut penumpang lain yang duduk di pojok.

“Iya, minta maaf saja, kami pasti memafkan.”

“Iya, kami pasti memaafkan soalnya kami juga tahu tidak enaknya menahan kentut.”

Semua penumpang, delapan orang itu, saling menyahut. Padahal, salah satu di antara mereka adalah orang yang kentut itu. Sampai di terminal, ketika semua penumpang baru saja turun dan membayar ongkos, si sopir angkot berseru, “Hei, yang tadi kentut belum bayar!”

Begitu pak sopir selesai berteriak, tiba-tiba seorang penumpang berbalik badan dan menyahut, “Enak saja. Tadi saya kan sudah bayar, uangnya lima ribuan!”

>>>

Saya telah berkali-kali membaca lelucon ini dan masih saja tersenyum, seolah-olah saya baru pertama membacanya. Saya tidak begitu yakin lelucon adalah kejadian nyata. Yang saya yakini, pengarang lelucon ini pastilah orang yang sangat kreatif, cerdas, sangat terlatih berpikir logis, dan—satu lagi—dia pasti suka ngupil.

Ketika penumpang yang kentut itu merasa diserang oleh para penumpang lain, ia melakukan usaha penyelamatan diri dengan cara kamuflase. Ini bagian dari tabiat manusia yang, ketika merasa terancam, akan berusaha menyelamatkan diri dengan cara apa pun. Ia ikut-ikutan memaki biang keladi bau busuk sehingga para penumpang lain tidak tahu bahwa dirinyalah biang keladi itu.

Insting untuk menyelamatkan diri ini pula yang membuat kedoknya terbongkar. Ketika ia masih berada di dalam angkot, yang memerintahkan dia melakukan upaya penyelamatan diri adalah otak yang bertanggung jawab berpikir logis. Si tukang kentut itu tahu betul bahwa para penumpang lain tidak punya alat atau metode untuk membuktikan bahwa dirinyalah yang kentut. Tidak ada (setidaknya, belum ditemukan) hubungan antara bau kentut dengan karakter fisik seseorang. (Saya yakin suatu saat di masa depan nanti, para ilmuwan bisa menemukan hubungan ini).

Ketika ia berada di luar angkot, otaknya juga merespons seruan si sopir, yang menuduhnya belum membayar itu, sebagai sebuah ancaman. Tapi kali ini, yang memerintahkan upaya penyelamatan diri adalah kontrol refleks. Dan refleks tidak membutuhkan pemikiran logis. Penumpang yang kentut itu hanya punya waktu sepersekian detik untuk merespons ancaman dari sopir tadi. Ini membuatnya kehilangan kontrol terhadap kamuflase yang ia buat sebelumnya. Maka, jadilah pak sopir ini mendapatkan nilai seratus karena ia telah secara cerdas memahami cara kerja otak dan secara jitu berhasil memanfaatkannya untuk menjebak penumpang yang kentut itu. (Saya kira para ahli psikologi bisa membuat analisis yang lebih mendalam lagi tentang pola perilaku manusia di dalam lelucon ini.)

>>>

Bertahun-tahun setelah itu, cerita lucu ini menjadi begitu terkenal sehingga hampir semua orang pernah mendengarnya. Hingga di suatu hari, di waktu lain, terjadilah peristiwa serupa. Delapan orang penumpang—yang semuanya sudah mengetahui cerita ini—sedang berada di dalam angkot yang melaju. Di tengah jalan, tiba-tiba tercium bau kentut. Semua penumpang gaduh menggerutu sambil menutup hidung.

“Yang kentut ngaku saja!” kata seorang penumpang, yang merasa hanya dialah di antara delapan penumpang itu yang tahu lelucon kentut di atas.

“Iya, ngaku saja lalu minta maaf,” sahut penumpang lain.

“Iya, minta maaf saja, kami pasti memafkan.”

“Iya, kami pasti memaafkan soalnya kami juga tahu tidak enaknya menahan kentut.”

Tapi tak ada penumpang yang mengaku. Sopir angkot—yang juga sudah mengetahui lelucon di atas—hanya tersenyum ketika mendengar gerutuan penumpangnya. Sepanjang perjalanan ke terminal, ia terus tersenyum seolah-olah ia telah berhasil menemukan penumpang yang kentut. Akhirnya, sampailah angkot di terminal. Semua penumpang pun turun dari angkot dan membayar satu demi satu. Sambil berpura-pura kebingungan menghitung uang yang ia terima dari para penumpang, sopir itu pun berseru, “Hei, yang tadi kentut belum bayar!”

Ia berharap akan ada seorang penumpang yang menyahut seruannya dan mengaku sudah membayar dengan uang lima ribuan. Ternyata dugaannya keliru. Tidak ada yang menyahut seruannya. Para penumpang yang baru saja turun hanya saling pandang satu sama lain. Semua dari mereka menyangka akan ada seorang penumpang yang secara refleks menjawab seruan pak sopir bahwa dirinya sudah membayar. Tapi tak ada penumpang yang menyahut seruan pak sopir. Suasana lengang.

“Maaf, saya salah hitung. Yang tadi kentut sudah bayar kok,” kata sopir melanjutkan.

Para penumpang pun menjadi heran.

“Memangnya siapa yang kentut tadi, Pak?” tanya seorang penumpang.

…..

>>>

Bahkan dalam urusan kentut pun, manusia selalu berharap semua hal terjadi sesuai dengan kemauannya.

Not powered by Blackberry

Advertisements

3 thoughts on “Yang Kentut Sudah Bayar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s