Darah, Obat Masa Depan Penyakit Jantung [intisari]

Penulis: Margareta Amelia & M. Sholekhudin

Ini kabar baik buat para penderita penyakit jantung koroner. Sejak akhir tahun 2007, di Indonesia kini tersedia layanan terapi penyakit jantung dengan sel induk (<i>stem cell</i>). Sel induk yang dipakai tidak berasal dari darah tali pusat ataupun sumsum tulang belakang. Cukup dari darah pasien sendiri. Ya, darah!

Hingga saat ini, penyakit jantung koroner masih menjadi momok pembunuh nomor wahid di seluruh dunia, tak terkecuali d Indonesia. Penyakit mematikan ini menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Pria-wanita, tua-muda, kaya ataupun miskin, semua bisa menjadi korban.

Sekadar kilas balik, penyakit ini terjadi karena penyumbatan pembuluh darah koroner jantung. Karena pembuluh daranya tersumbat, jantung tidak bisa bekerja normal. Penyakit ini bisa disebabkan oleh bermacam-macam faktor. Beberapa di antaranya, tekanan darah tinggi, kegemukan, pola makan tinggi lemak dan kolesterol, kurang gerak, stres, kebiasaan merokok, dan sebangsanya.

Terapi yang ada sejauh ini hanya terbatas pada terapi farmakologis (dengan obat-obatan), balonisasi dan pemasangan <i>stent</i>, serta operasi pintas (<i>bypass</i>) koroner. Pada balonisasi, kemacetan di pembuluh darah koroner diatasi dengan cara “ditiup” supaya pembuluh mengembang lagi. Pembuluh yang sudah mengembang ini lalu ditahan dengan cincin penyangga khusus yang kita kenal sebagai (<i>stent</i>).

Pada operasi pintas koroner, jalur pembuluh darah yang macet itu diganti dengan pemasangan pembuluh darah baru. Pembuluh darah ini diambilkan dari organ tubuh lain, misalnya paha. Pengalihan jalur pembuluh ini mirip pengalihan arus lalu lintas ke jalan alternatif ketika terjadi kemacetan yang parah.

Hingga saat ini, pemasangan <i>stent</i> dan operasi <i>bypass</i> ini masih menjadi terapi andalan bagi mereka yang pernah mengalami serangan jantung. Namun, tak lama lagi, terapi penyakit jantung koroner diyakini akan mengalami kemajuan revolusioner seiring dengan kemajuan teknologi <i>stem cell</i>. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini biasa diterjemahkan sebagai sel induk, kadang disebut sel tunas. Tak perlu bingung, kedua istilah ini setali tiga uang.

<b>Dibiakkan di dalam tubuh</b>

Di negara-negara maju seperi Amerika Serikat atau Jerman, terapi ini sebetulnya sudah cukup lama dikenal. Di Indonesia, terapi ini masih relatif baru. Hingga saat ini, rumah sakit yang memberikan layanan <i>stem cell</i> baru RS Cipto Mangunkusumo, RS Medistra, dan RS Kanker Dharmais. Semuanya di Jakarta. Menurut dr. Linda Lison, Sp.JP, ahli jantung yang menekuni bidang <i>stem cell</i>, di Indonesia baru ada tiga pasien yang mencoba terapi ini. Ketiganya laki-laki, penderita penyakit jantung koroner dengan usia di 40 – 50-an tahun.

Prinsip terapi sel induk ini mirip dengan prinsip pembentukan organ tubuh saat kita masih janin. “Tokoh” utama dalam proses ini adalah sel induk. Sel ini memiliki kemampuan istimewa karena dia bisa berkembang menjadi berbagai sel organ tubuh, tergantung di mana ia ditanam. Jika ditanam di jantung, ia akan berkembang menjadi sel jantung. Jika ditanam di ginjal, ia akan berkembang menjadi sel ginjal. Begitu juga jika ia ditanam di otak.

Selama ini, sumber sel induk yang dipakai dalam terapi <i>stem cell</i> berasal dari sel embrio, sel darah tali pusat (tali pusar), atau dari sumsum tulang belakang. Perkembangan terakhir, ternyata darah pun bisa menjadi sumber sel induk. Sekali lagi, darah. Darah “biasa” yang mengalir di pembuluh darah orang dewasa. Tak harus darah tali pusat bayi. Bahkan, kata Linda, sel-sel lemak dan sel otot pun bisa digunakan. Cuma perlakuannya yang sedikit berbeda.

Untuk menjalani terapi ini, pasien tak perlu khawatir dengan persoalan etika, sebagaimana yang lazim terjadi pada penggunaan sel embrio. Sel induk untuk terapi ini berasal dari darah pasien sendiri. Pasien juga tidak harus punya tabungan sel induk darah tali pusat. Selain itu, karena berasal dari tubuhnya sendiri, maka sel induk ini juga lebih kecil kemungkinannya mengalami penolakan.

Prosedur terapi sel induk ini tidak terlalu rumit. Ketika pasien mengalami serangan jantung, ia tetap ditangani dengan terapi standar. Obat-obatan tetap diberikan. Dokter kemudian akan menyuntikkan obat tertentu yang berfungsi merangsang pembentukan sel induk di dalam darah. Proses ini bertujuan membiakkan sel induk di dalam tubuh. Setelah sekitar lima hari atau satu minggu, sel induk ini “dipanen”. Pada tahap ini, sel-sel induk diambil dan dikumpulkan dari darah pasien dengan alat khusus. Yang diambil hanya sel induk. Yang bukan sel induk dikembalikan lagi.

Sel induk hasil panenan itu kemudian disuntikkan ke dalam pembuluh darah jantung pasien. Sebelum sel induk disuntikkan, pasien sudah lebih dulu menjalani proses balonisasi dan pemasangan <i>stent</i>. Penyuntikan dilakukan dengan kateter (selang kecil), mirip dengan kateterisasi saat pemasangan <i>stent</i>.

Selama beberapa saat, sel induk ini ditahan di pembuluh darah jantung tempat ia disuntikkan. Tujuannya supaya ia bekerja di situ, tidak <i>ngeluyur</i> ke mana-mana. Kalau ia <i>ngelencer</i> ke mana-mana, maka organ jantung hanya akan kebagian sedikit saja sel induk. Jika hanya tersisa sedikit di jantung, maka kerja sel induk di organ ini juga tidak optimal.

Ini memang salah satu keunikan sel induk. Ia bisa mengenali sel-sel tubuh yang rusak. Jika ia melihat ada sel tubuh yang perlu diperbaiki, ia akan pergi ke sana, lalu membantu regenerasi sel-sel yang rusak tersebut. Saat ia ditahan di pembuluh darah jantung itu, ia akan mengenali sel-sel pembuluh darah yang rusak lalu membantu proses peremajaan ulang.

Selanjutnya, sel induk dibiarkan memperbanyak diri dan meregenerasi sel-sel pembuluh darah jantung yang rusak. Perbaikan yang dihasilkan oleh sel induk bersifat menyeluruh, memperbaiki sel-sel yang rusak. Setelah itu kesehatan pasien dievaluasi tiap beberapa bulan, misalnya tiap tiga bulan. Menurut penuturan Linda, berdasarkan hasil pemantauan tiga pasien yang sudah menjalani terapi ini, parameter-parameter fungsi jantung menunjukkan perbaikan. Kualitas hidup mereka juga lebih baik.

<b>Bisa untuk payah jantung</b>

Terapi <i>stem cell</i>
ini sebetulnya bukan hanya untuk penyakit jantung koroner. Bisa juga untuk penyakit lain seperti diabetes, kanker, osteoartritis, penyakit saraf, dan masih banyak lagi. Untuk penyakit jantung pun terapi ini tidak terbatas pada penyakit jantung koroner saja. Bisa juga untuk payah jatung, misalnya.

Pada kasus payah jantung, sel induk tidak disuntikkan ke dalam pembuluh darah koroner, tapi langsung ke otot-otot jantung yang mengalami “kepayahan” tersebut. Penyuntikan dilakukan dengan bantuan alat khusus yang namanya NOGA <i>system</i>. Alat ini bisa mendeteksi secara akurat bagian mana yang sehat serta bagian mana yang sakit dan perlu disuntik sel induk.

Dengan bantuan alat ini, dokter akan bisa dengan tepat menyuntikkan sel induk ke bagian yang memang membutuhkan. Di seluruh dunia, tidak semua negara punya alat ini. Indonesia termasuk salah satu dari sedikit negara itu. Bahkan hingga akhir 2007, kata Linda, Singapura yang selama ini kita anggap sebagai kiblat layanan rumah sakit di Asia pun belum memilikinya.

Soal biaya, mohon maaf, terapi ini memang masih terhitung lumayan mahal. Sebelum mendapat suntikan sel induk, pasien harus menjalani tahap-tahap seperti pada pasien yang menjalani balonisasi dan pemasangan <i>stent</i>. Setelah <i>stent</i> terpasang, barulah pasien disuntik dengan sel induk. Hingga sekarang, kedudukan terapi ini memang bukan menggantikan terapi farmakologis maupun pemasangan <i>stent</i>. Kedudukannya bukan mengganti, tapi melanjutkan. Obat tetap diminum seperti biasa, <i>stent</i> juga tetap dipasang.

Karena kedudukannya demikian, biayanya pun tentu saja di atas biaya pemasangan <i>stent</i>. Sebagai gambaran, jika biaya balonisasi dan pemasangan <i>stent</i>, katakanlah, Rp100 juta, maka biaya terapi sel induk tentu di atas itu.

Sekalipun di Indonesia masih dalam tahap permulaan, terapi ini, kala Linda, cukup menjanjikan. Tiga pasien yang mencobanya menunjukkan perbaikan yang bermakna. Perbaikan ini bisa diamati dengan cara membandingkan parameter-parameter fungsi jantung antara sebelum dan sesudah menjalani terapi sel.

Salah satu kelebihan terapi ini, hampir semua orang bisa menjalaninya. Bukan hanya mereka yang baru pertama mengalami serangan jantung, tapi juga mereka yang sudah, katakanlah, dua kali mengalami serangan jantung. Bahkan, kata Linda, mereka yang sudah pernah menjalani pemasangan <i>stent</i> atau operasi <i>bypass</i> koroner pun masih bisa menjalaninya.

Terapi sel juga bisa dilakukan untuk penderita jantung koroner dalam semua tahapan. Baik yang masih ringan maupun yang sudah berat. Terutama pasien yang sudah tak punya pilihan, sudah di <i>terminal state</i>. Bahasa guyonnya, sudah dalam keadaan pasrah. Ini misalnya terjadi pada pasien yang penyumbatan koronernya sudah parah, plus menderita gagal jantung. Mau dioperasi <i>bypass</i>, kondisinya sudah sulit karena pembuluh darahnya kecil-kecil. Dalam kondisi seperti inilah, terapi <i>stem cell</i> bisa menjadi pilihan.

Karena masih relatif baru, terapi sel induk masih dalam tahap pemantauan. Namun, sejauh ini, tidak teramati adanya risiko buruk dari terapi ini. Meski itu juga tidak berarti bahwa terapi ini tanpa risiko sama sekali.

Di luar segala kelebihannya itu, saat ini terapi sel induk memang menjadi primadona baru di dunia kedokeran. Tidak berlebihan jika dikatakan terapi ini sebuah terobosan revolusioner. Kita boleh berharap banyak dari terapi <i>stem cell</i>. Dengan terapi ini, mungkin saja sepuluh tahun ke depan, banyak penyakit yang kini belum bisa disembuhkan nantinya bisa disembuhkan. Kematian akibat penyakit degeratif sangat mungkin bisa ditekan sampai sekecil-kecilnya. Kualitas hidup manusia bisa meningkat. Harapan hidup juga sangat mungkin bisa diperpanjang. “Mudah-mudahan di masa depan, kita bisa melangkah lebih maju lagi,” kata Linda berharap.

Kita tunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s