Indomie & Pemanasan Gombal

Paklek, maukah kuceritakan padamu obrolan tetangga rumah kosku tadi malam saat aku sedang mencuci baju? Baru tadi malam aku menyadari bahwa orang-orang Betawi kampung itu ternyata jauh lebih pintar daripada yang kukira. Sungguh, aku bahkan sampai malu mendengar obrolan mereka. Mereka bicara tentang pemanasan global, Paklek. Bukan tentang musim mangga yang baru saja tiba.

Saat aku sedang memeras kaos dalamku yang sudah bolong-bolong, salah seorang dari mereka berceloteh tentang lapisan atmosfer bumi (dia menyebutnya OJON) yang sudah berlubang-lubang. Mirip kaos dalamku, mungkin. Katanya, pemanasan global sebetulnya sudah dimulai sejak manusia bisa menambang minyak bumi. Cuma kita saja yang baru meributkannya sekarang. Bagaimana dia bisa menyimpulkan seperti itu? Padahal aku tak pernah melihat dia membaca koran. Yang kutahu tiap hari ia mengantar donat ke warung-warung Indomie.

Ketika aku sedang menyikat celana pemberian Paklek sepuluh tahun lalu yang kini sudah tidak punya risleting tapi masih kupakai bekerja, seorang yang lain ikut berkomentar. Katanya, pemanasan global adalah kutukan! Manusia tidak mungkin menghindarinya. Aku merinding mendengarnya, Paklek. Katanya lagi, bagaimanapun manusia berusaha, pemanasan global tak mungkin dihentikan. Ah, andai saja aku kenal Al Gore, akan kuceritakan kepadanya teori orang Betawi ini. Alasan yang ia pakai sederhana saja, karena pemanasan Bumi adalah buah dari peradaban serakah umat manusia sejak zaman dulu, sejak zaman ditemukannya api dan roda. Laju peradaban manusia tak mungkin direm.

Aku sampai heran, bagaimana mereka bisa sepintar itu? Apakah mungkin karena mereka sering makan Indomie?

Dan puncaknya, ketika aku sedang mengucek-ucek sarung cap Gajah Duduk yang biasa aku pakai sembahyang, Pak Ismail, laki-laki yang paling rajin ke masjid, mengutip sebuah penggalan ayat suci. Aku yakin betul itu kutipan ayat suci karena Paklek sering mengutipnya juga kalau sedang memberi pengajian di surau. Tapi aku lupa bunyinya, yang kuingat hanya ada kata-kata laut dan daratnya. Entahlah, kini otakku sepertinya tumpul untuk dipakai mengingat-ingat. Mungkin aku harus lebih banyak lagi makan Indomie.

Advertisements

4 thoughts on “Indomie & Pemanasan Gombal

  1. Apakah yang diucapkan Pak Ismail itu bunyi al-Qur’an Surat al-Ruum ayat 41? Yang berbunyi: Dzoharo al-fasadu fi al-barri wa al-bahri bima kasabat aidy al-naasi liyudziiqohum ba’dha al-ladziy ‘amiluu la’allahum yarji’uun (Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar kembali (ke jalan yang benar). Maaf Pak Emshol, saya jarang sekali makan Indomie. Semoga ayat di atas memang ayat yang di kutip oleh Pak Ismail. Mohon di maafkan kalo keliru.Salam,Suratno, Universitas Paramadina

  2. yo wes tak senyumi ae… ^____________________________________^aku makan indomie setahun 1/2 dus cak…kadang malah ndak sampe..apa artinya aku ndak nambah pinter yo?!…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s