Tak Usah Risau, Krakatau Masih Terpantau [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Sudah lebih dari dua bulan, Gunung Anak Krakatau terus meletup-letup disertai semburan debu dan bebatuan. Hingga kini statusnya masih siaga. Banyak yang mengkhawatirkan gunung ini akan meletus sampai menimbulkan tsunami seperti tahun 1883. Apalagi ditambah ramalan paranormal akan adanya bencana letusan gunung tahun ini.

Wajar bila banyak orang begitu cemas terhadap Krakatau. Seabad lalu, tepatnya 26-27 Agustus 1883, gunung ini meledak luar biasa dahsyat sampai menewaskan tak kurang dari 36.000 orang.

Waktu itu, ledakan gunung yang berada di tengah laut ini sedemikian hebat sampai menimbulkan tsunami yang juga tak kalah dahsyat. Di pantai-pantai yang menghadap Selat Sunda, tinggi ombak tsunami mencapai 30-an meter. Setengah jam setelah letusan, Banten di barat Jawa dan Teluk Betung di selatan Sumatera porak poranda akibat terjangan air bah. Bahkan Batavia, yang jaraknya 130 km dari Krakatau, pun ikut dilabrak ombak setinggi sekitar 3 meter, persis 2,5 jam sesudah letusan besar.

Letusan Krakatau ini tercatat sebagai salah satu letusan gunung berapi terdahsyat sepanjang sejarah. Materi letusan yang dimuntahkan ke langit tidak kurang dari 80 juta kubik! (1 kubik = 1 m x 1 m x 1 m). Debu letusannya memenuhi atmosfer bola Bumi hingga ke Eropa dan Kutub Utara. Sinar Matahari sampai terhalang dan suhu Bumi sampai turun sekitar 1 derajat Celcius. Suara ledakannya konon sampai terdengar di Australia.

Daya ledaknya yang super dahsyat itu diperkirakan 30.000 kali lebih kuat daripada bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Tinggi gelombang tsunami yang ditimbulkan pun tercatat sebagai salah satu tsunami terbesar sepanjang sejarah. Pendek kata, ledakan tahun 1883 itu mahadahsyat. Karena itu wajar jika kini banyak orang begitu takut kejadian ini akan terulang lagi.

<b>Makanan sehari-hari</b>

Krakatau merupakan gunung yang unik. Dia berdiri di tengah laut, tidak seperti gunung kebanyakan yang berada di tengah pulau. Dia juga punya siklus membangun diri lalu menghancurkan diri dengan letusan besar, kemudian membangun diri lagi lalu menghancurkan diri lagi.

Selain letusan tahun 1883, berdasarkan penelitian geologi, Gunung Krakatau juga diyakini pernah meletus dahsyat pada abad ke-4 SM dan abad ke-13 M. Sifat letusannya juga serupa, yakni dengan membangun diri lalu menghancurkan dirinya.

Sebelum Agustus 1883, Krakatau adalah sebuah pulau besar dengan tiga puncak kawah: Rakata, Danan, dan Perbuatan. Pada saat meletus, dua pertiga pulau itu meledak hancur, dilemparkan ke langit, lalu jatuh terempas kembali ke laut. Kita bisa membayangkan betapa dahsyatnya letusan itu. Puncak Danan dan Perbuatan lenyap, yang tersisa hanya Rakata. Itu sebabnya letusan ini menimbulkan tsunami dahsyat yang dikirim ke pantai-pantai di Banten, Lampung, hingga Batavia.

Sisa letusannya berupa laut dangkal yang dikelilingi tiga pulau: Rakata (815 mdpl), Sertung (182 mdpl), dan Panjang (132 mdpl). Pada tahun 1927, alias 44 tahun kemudian, dari bawah laut di tengah ketiga pulau itu muncul permukaan pulau baru. Permukaan ini sempat menghilang, tapi kemudian muncul lagi, yang sekarang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Secara pelan tapi pasti, Anak Krakatau ini tumbuh sedikit demi sedikit. Seolah-olah ia mahluk hidup yang berkembang. Yang awalnya hanya sebuah gundukan kecil di atas permukaan air laut, kini ia telah menjadi sebuah puncak gunung yang tegar dan garang di tengah Selat Sunda. Tiga pulau di sekitarnya (Rakata, Sertung, dan Panjang) seolah-olah bertindak sebagai pengasuh yang menjaga Anak Krakatau dari gerusan ombak Selat Sunda.

Setiap saat anak gunung yang baru lahir itu terus mengeluarkan materi padat dari kawahnya. Materi ini lalu menumpuk membentuk kerucut yang makin lama makin tinggi. Saat ini tingginya tercatat 315 mdpl. Artinya, kalau dihitung sejak muncul tahun 1927, rata-rata dalam setahun ia tumbuh setinggi 4 meter. “Krakatau itu memang hidup,” kata Wasis, pemilik kebun kelapa di Pulau Sebesi
(pulau berpenghuni yang paling dekat dari kepulauan
Krakatau).

Sejak kemunculannya dari permukaan laut, Anak Krakatau terus aktif. Tiap beberapa tahun, ia meletus. Kondisi terakhir, mulai 20 Oktober tahun lalu ia kembali batuk-batuk yang belum reda sampai kini. Pada awal letusannya, tinggi semburan debu dan batu pijar bahkan sampai mencapai 200-an meter. “Lontarannya bukan hanya debu, tapi juga batu-batu pijar segede drum,” kata Ahyar, petugas Pos Pemantauan Anak Krakatau di Pulau Sertung dan Panjang.

Sepanjang hari Ahyar berjaga di Pos Pematauan yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari semburan Anak Krakatau. Rata-rata tiap setengah jam sekali, kawah di depannya menyemburkan debu dan batu pijar. Jika Anak Krakatau sedang meletus, Pos Pemantauan yang berupa rumah panggung dari kayu itu bergetar. Suara letusannya berdentum penuh tenaga, tampak betul suara itu datang dari sebuah rongga yang kokoh di dalam bumi.

Pada siang hari, semburan hanya tampak sebagai kepulan debu hitam seperti cendawan raksasa di puncak Anak Krakatau. Batu pijar yang dilontarkan hanya tampak sebagai batu putih kelabu. Pada malam hari, batu-batu itu kelihatan berpijar merah. Jika kena air laut, langsung mendesis seperti bara api yang dicelupkan ke dalam air. <i>Csss…</i>

Ahyar yang sejak kecil terbiasa bermain di kepulauan Krakatau itu melihat letusan gunung di depannya dengan ekspresi datar. Tak tampak rasa takut sama sekali di wajahnya. “Kalau yang kayak <i>gini mah udah</i> makanan sehari-hari,” kata Amir, teman Ahyar di Pos Pemantauan ketika rumah panggungnya bergetar karena Anak Krakatau meletup. Kedua orang ini melihat letusan Anak Krakatau seperti kita melihat kilat saat hujan. Sangat biasa.

<b>Sebesi juga tenang</b>

Kehidupan di Pulau Sebesi pun sama tenangnya dengan Ahyar dan Amir. Tak tampak kecemasan sama sekali sekalipun televisi menyiarkan berita tentang Anak Krakatau yang statusnya sedang Siaga. Warga setempat bahkan dengan enteng menyebut Anak Krakatau itu sedang pilek.

Bagi mereka, letupan Anak Krakatau justru berkah. Di awal Anak Krakatau batuk-batuk, tangkapan ikan para nelayan naik drastis, entah kenapa. Pemilik perahu dan penginapan juga kebagian berkahnya. Banyak wisatawan, terutama turis mancanegara, yang datang ke sana sekadar untuk “berwisata vulkanik”. Perahu-perahu motor ludes disewa. Bahkan perahu-perahu jukung yang kecil dengan dua cadik di sisi kanan kirinya, pun ikut disewa.

Tiap hari nelayan masih melaut seperti biasa. Perahu motor angkutan Pulau Sebesi – Pelabuhan Canti di Lampung Selatan pun tiap hari masih mengangkut penumpang. Saat sore hari, mereka santai bermain kartu remi di gardu-gardu sambil mengobrol tentang kerbau Pak Haji yang sulit dinaikkan ke atas perahu. Tak ada perubahan sama sekali di kehidupan mereka sehari-hari.

Satu-satunya hal yang merepotkan mereka adalah hujan debu. Debu membuat lantai rumah menjadi cepat kotor dan buah kelapa sulit dipetik. Itu saja. “Justru kalau Krakatau sedang batuk-batuk begini, kita malah merasa aman. Itu tandanya dia tidak akan meletus gede,” kata Heri, seorang nelayan Sebesi. Bagi penduduk pulau itu, letupan Anak Krakatau lebih merupakan berkah daripada ancaman.

Kondisi ini bertolak belakang dengan apa yang dialami oleh mereka yang bukan “orang krakatau”. Yang baru pertama kali datang ke tempat ini bisa senam jantung tiap setengah jam. “Selama empat hari di sana, saya selalu pakai pelampung,” kata Subakir, kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung, yang baru pertama menyaksikan letusan Krakatau. Dengan jujur, Subakir mengakui ketakutannya tiap kali melihat Anak Krakatau menyemburkan batu pijar setinggi 200-an meter. “Kalau sedang cerita begini, saya bisa ketawa. Tapi pas di sana, saya enggak bisa tidur, tiap saat baca ayat kursi,” katanya seraya tergelak.

Kekhawatiran serupa juga terjadi di pantai-pantai di wilayah Banten. Saat televisi mengumumkan status siaga akhir Oktober lalu, beberapa penduduk yang tinggal di Pantai Carita, Banten, dilaporkan mengungsi. Bahkan ketakutan serupa juga sampai menular ke warga Jakarta yang berada 130 km dari pos pemantaun tempat Ahyar dan Amir berjaga.

<b>Siklus ratusan tahun</b>

Kekhawatiran terhadap tsunami sebetulnya masuk akal mengingat sejarah Krakatau yang pernah beberapa kali meletus dahsyat. Para ahli vulkanologi yakin, letusan dahsyat Krakatau mengikuti suatu siklus yang akan terjadi lagi suatu saat di masa depan. Entah kapan. “Krakatau adalah gunung api yang tegar dan tidak mau mati. Sifat tektonik Jawa dan Sumatera memastikan bahwa letusan yang pernah terjadi pada tahun 1883 akan terulang lagi, entah kapan,” tulis Simon Winchester, di dalam bukunya <i>Krakatoa,
The Day The World Exploded</i>
(edisi Indonesia terbitan <i>Serambi</i>).

Meski diyakini akan meletus hebat lagi, menurut Igan S. Sutawijaya, vulkanologis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung, kemungkinan tsunami hanya perlu ditakutkan kalau terjadi letusan dahsyat. Letusan yang terjadi beberapa bulan terakhir sama sekali belum masuk kategori dahsyat. Masih berupa pelepasan energi skala kecil yang menumpuk di perut Krakatau. Tinggi letusannya juga masih di bawah 1 km.

Hingga kini, ahli vulkanologi masih belum bisa membuat ramalan apa pun dari tren letusannya. Asal tahu saja, tidak hanya paranormal yang bisa meramal. Vulkanologis juga bisa membuat dugaan tentang letusan gunung berapi. Bedanya, ramalan vulkanologis berdasarkan pengamatan ilmiah. Metodologinya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam kasus Krakatau, ramalan ditegakkan berdasarkan pemeriksaan kadar silika di bebatuan yang keluar dari kawahnya. Semakin tinggi kadar silikanya, berarti semakin dekat gunung itu dengan masa letusan besarnya.

Berdasarkan analisisis laboratorium, bebatuan pada letusan dahsyat tahun 1883 mengandung kadar silika sebesar 68%. Sedangkan analisis terakhir bebatuan Krakatau kadar silikanya masih sekitar 54%. Pemantauan kadar silika Krakatau ini sudah dimulai sejak tahun 1960. Waktu itu kadar silikanya baru 48%. Dengan kata lain, selama hampir 50 tahun terakhir, kadar silika bebatuan Krakatau menunjukkan kenaikan sebesar 6%. Artinya, tiap tahun kenaikannya sekitar 1%.

Masalahnya, angka kenaikan kadar silika tidak selalu konstan. Bisa lambat, bisa pula cepat. Jika angka kenaikan ini konstan sepanjang tahun, maka letusan besar Krakatau bisa diramalkan, sekalipun tentunya tidak betul-betul presis. Namanya juga dugaan, bisa saja meleset. Meski begitu Igan menegaskan, terlalu dini jika menyimpulkan Krakatau akan meletus dahsyat tahun ini sampai menimbulkan tsunami.

Selain itu, ramalan letusan juga bisa dibuat berdasarkan tingginya tubuh gunung. Ini karena Krakatau punya sifat membangun diri lalu menghancurkan diri. Sebagai perbandingan, pada saat meletus tahun 1883, puncak Danan di Krakatau lama tingginya mencapai 420 mdpl. Sementara saat ini tinggi Anak Krakatau masih 315 mdpl. Jika diasumsikan kecepatan pertumbuhan Krakatau konstan seperti beberapa dekade terakhir, maka pada tahun 2040 kelak, tinggi Anak Krakatau akan sama dengan puncak Danan saat meletus. Namun, kata Igan, ramalan berdasarkan tinggi tubuh gunung ini kurang akurat. Ramalan berdasarkan kadar silika bebatuan lebih bisa diandalkan.

Berdasarkan pemeriksaan terakhir kadar silika, Igan menduga Krakatau tidak akan meletus dahsyat tahun ini. Kalaupun meletus, yang paling mungkin adalah letusan “biasa” yang tidak sampai menimbulkan tsunami hebat. Bukannya meremehkan, tapi hingga saat ini memang tak ada alasan cukup kuat untuk takut tsunami akibat letusan Krakatau. Warga Banten, Lampung, apalagi Jakarta tak perlu cemas berlebihan.

Dengan catatan, ramalan ini dibuat pada akhir tahun 2007, berdasarkan pemeriksaan terakhir kadar silika bebatuan Krakatau. Jika ternyata dalam perjalanannya nanti, bebatuan Krakatau menunjukkan peningkatan kadar silika yang drastis, tentu ramalan juga harus dikoreksi.

<b>Waspadai tsunami gempa</b>

Masih menurut Igan, justru tsunami yang lebih perlu diwaspadai adalah tsunami akibat gempa tektonik yang mungkin saja terjadi di Selat Sunda. Sayangnya, untuk urusan yang terakhir ini, para ahli geologi masih belum punya piranti yang andal untuk menegakkan ramalan.

Aktivitas vulkanik (gunung berapi) lebih bisa diramalkan daripada aktivitas tektonik (kegiatan lempeng Bumi). Pasalnya, gunung api punya badan, punya kerucut di permukaan Bumi, yang bisa dipasangi seismograf. Aktivitasnya bisa dipantau dari waktu ke waktu. Sementara aktivitas lempeng Bumi terjadi di kedalaman beberapa ratus kilometer di bawah permukaan tanah. Sulit diukur aktivitasnya. Sekali lempeng-lempeng ini menggeliat, bisa terjadi gempa hebat. Jika gempa terjadi di laut, tsunami sangat mungkin terjadi.

Di Selat Sunda, bahaya tumbukan lempeng Bumi ini jelas tidak bisa diremehkan. Daerah ini kaya retakan lempeng. Menurut teori geologi, pada zaman dulu, <i>duluuuuu</i> sekali, berjuta-juta tahun yang lalu, pulau Jawa dan Sumatera bersatu dan berada di dalam satu garis lurus. Karena aktivitas gerakan lempeng, posisi kedua pulau ini terpisah dan membentuk sudut tumpul. Diduga karena lempeng Sumatera lebih kuat daripada lempeng Jawa. Peregangan kedua pulau ini disertai dengan adanya peregangan lempeng Bumi di Selat Sunda. Itu sebabnya suatu saat gempa bisa saja terjadi sini. Tak ada yang tahu kapan. Wallahualam.

Krakatau jus
tru lebih mungkin diramal. Dalam meramal aktivitasnya tiga bulan terakhir, Igan setuju dengan anggapan warga Sebesi. Kalau Anak Krakatau batuk-batuk, itu justru pertanda bahwa ia tidak akan meletus besar. Dalam ilmu vulkanologi, letusan besar akan terjadi kalau tekanan dari perut Bumi ditahan dalam jangka lama. Jika meletup-letup seperti Anak Krakatau sekarang, berati tekanan tersebut dilepaskan keluar. Itu malah pertanda bahwa gunung tersebut tidak menahan tekanan dari dalam. Kita justru perlu khawatir kalau Anak Krakatau diam selama bertahun-tahun. Sebab, itu pertanda dia sedang menyimpan energi.

Letusan Anak Krakatau saat ini, menurut Igan, masih dalam fase membangun diri. Jika nanti gas dan debu habis disemburkan, biasanya letusan akan dilanjutkan dengan keluarnya lava. Setelah mendingin, lava yang telah padat ini nanti akan menyumbat lubang semburan dan Krakatau akan masuk fase istirahat lagi. Mengumpulkan tenaga lagi. Jika nanti energi dari bawah sudah tidak sanggup dibendung lagi, dia akan menjebol lagi puncaknya. Mencari permukaan yang bisa dijebol untuk membuat kawah baru, seperti letusan Oktober tahun lalu.

Berdasarkan pengamatan, Krakatau menunjukkan siklus yang cukup teratur. Tiap beberapa tahun, dia aktif meletus. Masa istirahat paling lama delapan tahun.

Sejauh ini, aktivitas Anak Krakatau masih terus dipantau dari dua Pos Pengamatan Gunung Api di Pasauran (Banten) dan di Desa Hargopancuran (Lampung). Dari pengamatan terakhir, belum ada indikasi Anak Krakatau akan meledak dahsyat seperti seabad lalu. Kalaupun meletus, yang paling mungkin adalah letusan lokal, yang kemungkinan kecil menimbulkan tsunami sampai ke Banten, Lampung, apalagi Jakarta.

Kalaupun akan terjadi letusan yang sangat besar, para vulkanologis sangat mungkin bisa meramalkannya sebelum letusan itu benar-benar terjadi. Memang ramalan itu tidak bisa sampai memastikan hari-H letusan. Namun Igan menjamin, saat ramalan itu ditegakkan, masih ada waktu bagi kita untuk melakukan persiapan menghadapinya.

Jadi, untuk saat ini, tak perlu cemas berlebihan. Justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk belajar geologi lewat wisata gunung api!

Boks:

Nusantara Kaya Titik Bencana

Dalam urusan bencana vulkanik maupun tektonik, Indonesia bisa dibilang sebagai negara kaya. Negara kita adalah laboratorium geologi yang sangat lengkap di mana lempeng-lempeng Bumi bertubrukan dan magma diumuntahkan sepanjang tahun. Maklum, wilayah Nusantara ini merupakan pertemuan beberapa lempeng Bumi sekaligus merupakan bagian dari <i>ring of fire</i>, deretan cincin gunung-gunung api.

Itu sebabnya, tanpa ada ramalan pun, kita memang harus selalu waspada setiap saat. Apa boleh buat, kita memang tidak hidup di atas permukaan Bumi yang diam. Tak ada satu pun tempat di muka Bumi ini yang statis. Bumi yang kelihatan diam ini sebetulnya bergerak terus dengan kecepatan beberapa senitemeter tiap tahun.

Krakatau sendiri hanya satu titik rawan di Selat Sunda. Selain Krakatau, sebetulnya masih banyak titik rawan lain di lempeng Bumi yang tidak terpantau dan karena itu aktivitasnya tidak bisa diramalkan. Selain bencana Krakatau, negara kita pernah mengalami letusan yang lebih dahsyat dari Krakatau, yaitu letusan Gunung Tambora (Nusa Tenggara Barat) tahun 1815. Negara kita juga pernah dihantam tsunami yang lebih dahsyat dari tsunami Krakatau, yaitu tsunami di Aceh tahun 2004 lalu. Bencana-bencana ini tercatat dalam daftar bencana alam terbesar dalam sejarah.

Advertisements

2 thoughts on “Tak Usah Risau, Krakatau Masih Terpantau [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s