Sunat

Ais, kelak ketika besar nanti, Ais baru akan memahami betapa pentingnya hari ini buatmu. Mungkin hari ini Ais hanya tahu semua orang tiba-tiba menjadi begitu dermawan kepadamu. Semua tamu yang datang memberimu uang. Dan bapakmu menjadi begitu pemurah sampai berjanji membelikan ple stesen buatmu.
Kelak, ketika sudah dewasa, Ais akan tahu makna semua ini. Hari ini, ketika ujung kucismu dipotong, Ais, sesungguhnya kau sedang mengucapkan janji penting kepada Tuhan, bahwa kau tidak akan mempertuhankan hawa nafsu. Persis seperti janji yang kau ucapkan ketika kau masih berada di dalam perut ibumu.
Suatu hari nanti, ketika tubuhmu semakin dikuasai oleh getah testosteron, Ais akan tahu betapa tidak mudah menjadi laki-laki, sementara kau sudah telanjur berjanji kepada Tuhan. Saat itu mungkin Ais akan berkhayal manusia berkembang biak dengan spora seperti jamur atau membelah diri seperti amuba. Dan saat itu Ais mungkin akan menimbang ulang apa yang Ais pelajari dari guru-guru ngaji, dan secara diam-diam Ais mungkin akan mengkhianati mereka.
Kelak, ketika nada dasar suaramu semakin rendah, Ais akan menyadari betapa berbahayanya organ kecil yang kini dipotong ujungnya itu. Dan selagi Ais belum mengetahui itu semua, berbahagialah. Bermainlah sesuka hatimu. Cepatlah sembuh, nanti Paklek belikan sepeda yang lebih tinggi.

Advertisements

4 thoughts on “Sunat

  1. Ais, kelak ketika besar nanti, dan kau sempat baca karya-karya Sigmund Freud, kau akan tahu betapa organ kecilmu yang baru saja dipotong itu, yang juga dikenal sebagai Phallus (Penis) adalah simbol kekuatan Phallogocentrum, yakni bahwa pusat logos kebahasaan dan kebenaran terletak pada kekuasaan laki-laki, pada Phallus-mu itu Ais.Phallogocentrum itulah yang mau dibongkar Freud, karena dalam, misalnya beragama, kekuatan yang berpengaruh secara dominan dalam menafsirkan teks-teks agama adalah juga kondisi ketidaksadaran serta ego si penafsir, sebagai situasi psikologis yang berpusat pada egoisme laki-laki. Ais, itulah (salah satu) penjelasan psikologis kenapa kau akan sulit sekali menemukan para mufassir qur’an-hadist (klasik) yang bukan laki-laki alias tidak memiliki Phallus. Dan juga, itu penjelasan kenapa karya kitab tafsir mereka cenderung merugikan kaum yang tidak memiliki Phallus. Kalo kau tak percaya, tanyakan saja pada guru-guru ngajimu itu, Ais.Sekalian, temen Paklekmu ini ingin nitip pertanyaan lain buat guru ngajimu; Benarkah Tuhan (yang menciptakan para mufassir klasik) itu juga tidak berjenis kelamin? Kalo iya, kenapa kitab tafsir karya para mufassir(klasik) tentang ayat-ayat “qauli” Tuhan cenderung mendiskriminasikan mereka yang tidak memiliki Phallus?Cepatlah sembuh Ais, temennya Paklekmu ini rasanya sudah gak sabar ingin denger jawaban guru-guru ngajimu. Aku doakan, semoga mereka tidak menjawab pertanyaanmu seperti ini: “Idza nathaq al-safih fa la tujibh, fa khayra min ijabatih al-sukut / kalo ada orang bodoh bertanya, maka jangan menjawab; karena sebaik-baik jawaban dari pertanyaannya adalah diam”.Good luck, Ais.Salam,Suratno, Universitas Paramadina

  2. Ais, apakah kamu paham ucapan Paklek Ratno? Kalau kamu tidak paham, tak usah kau dengarkan. Paklek saja tidak paham. Lagipula, Paklek Ratno tidak memberimu uang kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s