Psikotes di Gunung Gede [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Kegiatan naik gunung, selain menantang dan menyenangkan, juga bisa menjadi “tes psikologi” untuk menguak kepribadian kita yang sebenarnya. Saya merasakannya saat pertama naik ke Gunung Gede, setahun lalu bersama teman-teman kantor.

Sebetulnya tak ada yang istimewa pendakian Gunung Gede. Setiap tahun ribuan orang naik ke puncaknya. Yang istimewa adalah karena ini pengalaman pertama kami naik gunung dengan ketinggian 2.958 mdpl.

Rombongan terdiri dari 10 orang: 6 laki-laki, 4 perempuan. Dari 10 orang itu, hanya 3 orang yang hobi naik gunung. Selebihnya, termasuk saya, adalah pekerja kantoran yang biasa duduk manis di depan komputer. Menjelang pendakian dimulai, di depan Kebun Raya Cibodas, kami berfoto ria. Standar acara rekreasi. Dengan latar belakang Gunung Gede yang kelihatan seolah-olah begitu dekat, tampang kami masih petantang-petenteng karena belum tahu apa yang akan terjadi di puncak nanti.

Di kilometer pertama, trek pendakian masih relatif landai. Jalanan berupa batu-batu gunung yang ditata rapi berundak-undak. Sekalipun masih pagi, suasana seperti menjelang petang karena sinar matahari terhalang oleh kanopi lebat daun pohon-pohon rasamala yang tingginya belasan meter. Di kanan kiri jalan kami menemukan pohon rotan, aneka paku-pakuan, pakis, anggrek, jamur, lumut, dan masih banyak lagi. Udara terasa segar, jauh berbeda dengan udara di Jakarta yang tercemar asap knalpot.

Setelah melewati Telaga Warna (1.575 mdpl), menjelang pertigaan ke Air Terjun Cibeureum, napas kami mulai ngos-ngosan. Padahal kami baru mendaki sekitar 2 km dari 20-an km yang akan kami tempuh. Di kilometer tiga, rute semakin menanjak. Napas makin tersengal-sengal. Tiap beberapa langkah, kami harus berhenti. Bekal cokelat dan roti mulai dikeluarkan. Dengan niat akal-akalan, kami saling menawarkan air minum supaya beban berkurang.

Di kilometer empat, kami mulai terpisah satu sama lain karena perbedaan kekuatan fisik. Ketua tim kami yang hobi naik gunung tapi usianya paling tua tertinggal jauh di belakang. Begitu ia menyusul, kami baru sadar ternyata ia membawa beban paling berat karena harus membawa tenda, beras, telur, alat masak, dan barang-barang lainnya.

Kami lalu memutuskan untuk membagi beban. Ini pelajaran pertama naik gunung: jangan terlalu berbaik hati. Beban harus dibagi secara adil berdasarkan kekuatan fisik masing-masing. Sampai di sini, tes egoisme sudah dimulai. Tapi persoalan masih gampang. Untuk urusan berbagi beban yang tidak seberapa, kami masih saling setia kawan.

Setelah berbagi beban, kami mulai terpisah lagi. Ketika sampai di sumber air panas, giliran nyali kami yang diuji. Trek ini berada persis di tubir tebing. Pijakannya hanya berupa batu-batu gunung yang bagian bawahnya terendam aliran air panas.

Setelah lolos dari air panas, kami memutuskan berkemah karena matahari sudah hampir terbenam. Ini merupakan psikotes tahap kedua. Di sini, saya menyadari bahwa ketiga teman kami yang hobi naik gunung itu adalah anggota tim yang paling setia kawan. Sementara yang lain menghangatkan diri di dalam tenda sambil minum susu dan kopi, mereka dengan giat memasak buat kami semua. Malam itu kami makan besar setelah seharian tidak bertemu dengan nasi. Selesai makan, kami semua tidur berjejal di dalam tenda yang semalaman kehujanan terus.

Menjelang matahari terbit, kami kembali mengemasi barang. Pendakian dilanjutkan ketika leret-leret sinar matahari mulai menerobos rimbun hutan, sementara embun dan sisa air hujan menetes dari dedaunan dan lumut-lumut yang menempel di batang pohon.

Melewati Kandang Badak (2.220 mdpl), medan pendakian semakin berat. Jalan setapak banyak dihalangi oleh batang-batang pohon besar yang tumbang melintang. Tapi ini masih belum seberapa berat sebab tak lama setelah itu, kami sampai di kaki sebuah tebing yang sangat terjal. Seolah-olah batu besar yang berdiri tegak menghalangi jalan. Kami sampai ternganga melihatnya.

Rupanya tebing itulah yang diceritakan kawan saya sebagai Tanjakan Setan. Melihat kecuramannya, memang tak salah disebut dengan nama itu. “Mestinya ini namanya Tanjakan Iblis,” kata kawan saya dengan kecut. Ini betul-betul uji nyali yang sebenarnya. Selama ini saya hanya terbiasa memanjatkan doa, tak pernah memanjat tebing. Apalagi securam itu. Belum mendaki pun, dengkul saya terasa gemetar seolah-olah baut engselnya perlu dikencangkan. Kawan-kawan saya juga terlihat gentar.

Tinggi tebing itu sekitar 10 m, kecuramannya 80-an derajat. Kawat baja untuk pegangan putus di tempat yang paling berbahaya. Selama beberapa belas menit, kami hanya berdiri di kaki tebing itu sambil terkesima menyaksikan beberapa pendaki naik turun dengan gesit. Sebagian dari mereka memanjat tebing tanpa berpegangan pada kawat baja sama sekali.

Melihat kami yang tampak gentar, mereka menawarkan diri untuk membantu. Seolah mereka sedang memberi pelajaran penting tentang solidaritas. Setelah mengumpulkan cukup keberanian, kami mencobanya satu demi satu, merangkak dengan sangat hati-hati. Tiap kali pindah pijakan, dengkul saya terasa semakin gemetar. Degup jantung saya sudah tidak keruan lagi. Saya sama sekali tidak berani menengok ke bawah. Ngeri! Jika tergelincir, kemungkinan besar gegar otak. Seringan-ringannya, luka berat.

Begitu lolos dari pijakan terakhir di ujung tebing paling atas, badan saya rasanya lega sekali sekalipun kaki masih gemetar. Di situ kami memutuskan untuk berhenti dulu, meredakan ketegangan yang baru saja kami alami. Kawan saya yang sudah pernah naik ke sini tak henti-hentinya menertawakan saya. “Siapa suruh naik ke Gede?” ledeknya sambil ketawa terpingkal-pingkal. Saya terima saja ejekannya, yang penting saya selamat jasmani rohani.

Ketika hendak meneruskan pendakian ke puncak, saya baru sadar glukosa di tubuh saya sudah menipis. Sejak pagi belum makan apa-apa. Lebih celaka lagi, cokelat di kantong saya juga sudah habis. Tak ada pilihan lain. Memasak di lereng gunung yang curam itu bukan pilihan bagus. Kami akhirnya melanjutkan pendakian di tanjakan yang kemiringannya sekitar 45 derajat.

Setelah beberapa jam mendaki, kami mulai mencium bau belerang sebagai pertanda telah sampai di bibir kawah. Benar saja, begitu keluar dari kelebatan pepohonan yang rapat, kami melihat kawah dan puncak Gunung Gede (2.958 mdpl). Angin dingin bertiup kencang sekali. Karena semua sudah lapar berat, kami mengeluarkan panci dan kompor untuk memasak mi instan. Satu orang dapat jatah separuh porsi. Dalam kondisi lapar berat seperti hari itu, separuh porsi mi instan rasanya cuma menjadi <i>slilit</i>.

Setelah puas mengambil foto dan menikmati pemandangan di puncak, kami melanjutkan perjalanan, turun ke Alun-alun Suryakencana (2.750 mdpl). Perjalanan masih sangat jauh. Menjelang matahari terbenam, kami sampai di Suryakencana, sebuah padang rumput puluhan hektar yang sepanjang sisinya dipenuhi bunga edelweis. Sebuah pemandangan yang luar biasa indah, terutama bagi penggemar bunga abadi ini. Saya sendiri lebih tertarik memandangi matahari senja yang pelan-pelan tenggelam di lengkung langit.

Tanpa membuang waktu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri alun-alun. Udara dingin sekali. Sekalipun memakai jaket, saya masih menggigil. (Di malam hari, udara di Suryakencana bisa mencapai 5 <sup>o</sup>C).

Memasuki hutan di lereng Gunung Putri, kami mulai memakai senter. Hutan sangat gelap, turunan amat curam. Jika tidak hati-hati, kaki bisa tersandung akar pohon. Di sini, kami mulai sempoyongan. Hanya kawan yang hobi naik gunung yang masih kuat berjalan. Hingga pukul sepuluh malam kami masih belum menyelesaikan separuh rute di hutan itu.

Saya sendiri sudah lapar bukan main karena seharian hanya makan separuh porsi mi instan. Air minum sudah habis. Makanan kecil sudah ludes sejak siang. Beberapa kawan menawari cokelat tapi saya bilang (pura-pura) tidak suka karena saya tahu mereka juga kelaparan.

Tak ada pilihan lain. Bermalam dan berkemah di lereng itu jelas tidak mungkin. Tak ada tanah datar yang muat untuk tiga buah tenda. Akhirnya kami terus berjalan dengan terpaksa. Pukul sebelas malam, ketika kami semakin kelaparan, semua sifat buruk kami mulai kelihatan. Mulai ada yang merengek, menggerutu, bahkan marah. Benar-benar psikotes yang sesungguhnya.

Suasana menjadi tidak nyaman. Saya sendiri jengkel karena harus menahan lapar yang luar biasa. Keringat dingin mulai keluar. Saya hapal betul, jika keringat dingin keluar, besoknya saya biasanya jatuh sakit. Sebelum keringat dingin itu keluar, saya masih dengan baik hati membantu kawan-kawan saya memilihkan turunan yang landai. Tapi ketika titik kritis lapar terlampaui, saya menjadi egois dan hanya berpikir tentang diri saya sendiri.

Setelah bertanya rute turun kepada ketua tim, akhirnya saya memutuskan berjalan sendiri di depan agar cepat sampai di Desa Gunung Putri. Sekalipun tidak tahu kondisi hutan, saya tidak peduli dengan kemungkinan tersesat. Dengan latar suara dahan-dahan yang bergesekan ditiup angin, malam itu saya berjalan sendirian seperti dikejar hantu. Tidak berhenti sama sekali meskipun badan saya tremor karena lapar.

Di tengah jalan, senter mulai redup padahal baterainya adalah cadangan terakhir. Akhirnya saya berjalan dengan bantuan sinar <i>autofocus</i> dari kamera saku saya. Setelah menempuh jarak sekitar 3 km dan beberapa kali terantuk akar pohon, saya berhasil keluar dari hutan Gunung Putri. Sayangnya, perkampungan sudah sepi karena lewat tengah malam.

Akhirnya saya menggeletakkan diri di sebuah gubuk di ladang. (Setelah ke sini kali kedua, saya tahu gubuk ini adalah warung). Sekitar setengah jam kemudian, tiga orang kawan saya menyusul. Rupanya kelaparan ini membuat kami semua egois, tak peduli terpisah satu sama lain.

Karena rombongan terakhir tidak muncul-mucul juga, akhirnya kami berempat memutuskan untuk melapor ke pos pendakian di Desa Gunung Putri. Dengan kaki diseret karena linu, kami mencari mobil pengangkut wortel untuk disewa ke Cipanas, mencari warung yang masih buka. Begitu memperoleh sinyal ponsel, kami mengirim pesan tentang posisi kami kepada kawan-kawan yang masih di dalam hutan. Dengan harapan, begitu keluar dari hutan, mereka segera menyusul kami.

Rupanya saat itu, karena sudah tidak kuat lagi berjalan, mereka memutuskan berhenti di gubuk di ladang. Pagi harinya, kami baru bertemu kembali di tempat penitipan mobil di Cibodas. Ketika kami semua berkumpul, kawan saya kembali mengejek seperti kemarin. “Siapa suruh naik ke Gede?” ledeknya sambil ketawa terpingkal-pingkal. Saya terima saja ejekannya. Yang penting saya selamat jasmani rohani.

Advertisements

3 thoughts on “Psikotes di Gunung Gede [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s