Psikotes di Gunung Gede (Bagian Kedua)

Pengalaman pertama mendaki Gunung Gede, sekalipun berakhir dengan kekacauan, tidak membuat saya kapok. Justru sebaliknya, begitu tiba di kantor, saya langsung merencanakan naik gunung berikutnya. Kali ini Gunung Merapi (2.891 mdpl), “daerah kekuasaan” Mbah Marijan.

Saya mengajak teman saya, yang kebetulan berasal dari Yogyakarta, tetangganya Mbah Marijan. Dia menjadi ketua tim. Sejak kecil ia sudah terbiasa naik ke gunung ini karena memang rumahnya tak jauh dari sana. Ketika Merapi sedang aktif, aliran lava panas dan wedhus gembel bisa terlihat dari jendela rumahnya.

Tak butuh persiapan khusus. Kali ini kami berangkat hanya bertiga. Kami mulai mendaki menjelang siang. Sebelum senja, kami sudah sampai di Pasar Bubrah (2.500 mdpl) di kaki puncak Merapi. Cepat sekali sampai karena sepanjang pendakian kami hanya sedikit istirahat. Berbeda jauh ketika mendaki Gunung Gede yang harus sering berhenti karena ngos-ngosan.

Pasar Bubrah ini mirip Alun-alun Suryakencana di Gunung Gede. Bedanya, di sini kering dan tandus. Tak banyak bunga edelweis. Yang banyak adalah batu-batu besar. Begitu sampai di sini, kami langsung mendirikan tenda, memasak, dan istirahat. Semua dikerjakan dengan sangat efisien.

Udara sangat dingin, angin bertiup kencang sekali. Saking dinginnya, saya sampai alergi dan biduran meskipun sudah memakai dua lapis jaket. Di dalam tenda, kami tidur dengan menggigil. Kata kawan saya, jika suhu dingin mencapai puncaknya, air di dalam botol bisa sampai membeku.

Esok paginya, kami mendaki puncak Merapi. Ini merupakan pengalaman kedua ketika saya merasakan kengerian seperti saat mendaki Tanjakan Setan di Gunung Gede. Lereng ke puncak Merapi dipenuhi oleh pasir, kerikil, dan batu-batu labil segala ukuran. Mulai dari yang seukuran sepatu sampai seukuran kerbau. Lerengnya curam, lebih dari 45 derajat. Jika ada sebuah batu yang menggelinding dari atas, maka orang yang di bawahnya harus segera berlindung. Sebab bisa saja batu kecil itu menggelindingkan batu lain yang lebih besar ke bawah. Itu sebabnya pendaki tidak disarankan berada di bawah pendaki lain dalam garis lurus.

Untungnya, ketika kami bertiga naik, hal itu tidak terjadi. Hanya sekitar satu jam kemudian, kami sudah sampai di puncaknya. Tempat ini dipenuhi oleh kabut. Kawan saya dengan antusias berfoto di Puncak Garuda yang rompal akibat letusan beberapa bulan sebelumnya. Dari sini Gunung Merbabu kelihatan dengan jelas, seperti dilingkupi oleh cincin awan. Kami saat itu benar-benar berada di atas awan.

Puncak Merapi ini merupakan titik petualangan terakhir. Tak banyak kejadian seru yang kami alami. Setelah itu kami turun. Sore harinya, kami sudah sampai di rumah, makan bakso, minum teh hangat, dan tidur berselimut.

Ketika kembali masuk kantor lagi, giliran teman saya yang “orang Merapi” ini mengajak saya ke Gunung Gede karena dia belum pernah ke sana. Saya iyakan saja permintaannya.

Kali ini saya yang menjadi penanggung jawab. Kami berangkat bertiga lagi. Dari kami bertiga, hanya satu orang yang baru pertama naik gunung.

Persiapan hanya dilakukan sehari menjelang berangkat. Sekalipun medan di Gunung Gede kali ini lebih berat karena bertepatan dengan musim hujan, semua berjalan lancar.

Sepanjang perjalanan kawan saya berkali-kali bertanya, apakah lokasi berkemah masih jauh. Saya menjawabnya jujur: masih jauh. Tapi saya diprotes, katanya itu menunjukkan saya bukan tipe pemimpin yang bisa menyemangati bawahannya. Mestinya, kata dia, saya mengatakan sudah dekat meskipun sebetulnya masih jauh.

Saya tidak tahu apakah analisis psikologinya ini betul atau tidak. Yang saya tahu, saya lebih suka bersabar terhadap kondisi faktual yang kurang menyenangkan daripada bersemangat untuk sebuah keyakinan yang menipu.

Dulu, saat mendaki pertama, ketua tim selalu mengatakan bahwa lokasi yang dituju sudah dekat. Waktu itu saya menyangka jawaban tersebut sebagai jawaban faktual atas kondisi yang sebenarnya. Belakangan, saya tahu ternyata itu adalah jawaban standar pendaki gunung kepada orang lain.

Di lereng gunung, informasi jarak dan waktu tempuh bisa sangat jauh berbeda dari kondisi yang sebenarnya. Jika seseorang bilang 50 m, mungkin saja jarak sebenarnya adalah 150 m. Jika seorang pendaki bilang setengah jam, mungkin saja waktu tempuh sebetulnya adalah satu setengah jam.

Sebenarnya jawaban semacam ini niatnya baik. Supaya yang bertanya tidak patah semangat. Tapi saya sendiri lebih suka dengan jawaban apa adanya. Sebab dengan cara itu saya bisa mengatur energi saya. Karena itu, ketika kawan saya bertanya waktu tempuh, saya selalu menjawab masih jauh.

Bahkan ketika saya tahu sumber air panas tinggal beberapa puluh meter lagi, saya masih juga mengatakan perjalanan masih akan memakan waktu satu jam lagi. Maka begitu sampai di sumber air panas beberapa menit kemudian, saya tertawa karena merasa telah memberikan kejutan yang menyenangkan buat mereka.

Kami mencapai lokasi berkemah di sumber air panas lebih cepat tiga jam jika dibandingkan dengan pendakian pertama. Karena siangnya kami sudah dua kali makan nasi yang kami bawa dari bawah, malam itu kami memutuskan untuk tidak memasak. Besok pagi saja, sekalian dipakai sebagai
bekal naik ke puncak.

Tapi saat berangkat tidur, kawan saya yang baru pertama naik gunung merasa badannya sakit sampai mual dan muntah. Sebuah awal yang kurang baik, pikir saya. Kami kemudian menyalakan kompor gas di bawah hujan untuk memasak air dan mi instan. Setelah minum air madu hangat dan makan mi instan, ia bisa tidur dan segar kembali. “<i>Oalah</i>, ternyata kamu mau minta makan to? Bilang saja lapar, enggak usah <i>pakewuh</i>” ledek saya kepadanya. Dia senyam-senyum saja. Dulu saya diledek, kini giliran saya meledek. “Makanya kalau mau naik gunung, jangan <i>nggoda</i> cewek,” kata saya kepadanya.

Esok paginya, kami melanjutkan pendakian dengan membawa bekal nasi yang baru saja kami masak. Kami tidak ingin kejadian tahun lalu terulang lagi.

Di pendakian hari kedua lagi-lagi hujan. Saat melewati Tanjakan Setan, tebing menjadi lebih licin. Tapi kali ini saya sudah tidak merasa ngeri seperti dulu. Kami bertiga dengan lancar melewatinya tanpa bantuan pendaki lain.

Ketika sampai di puncak, hujan semakin deras. Jaket, celana, bahkan sampai kaos dalam pun basah semua sekalipun kami sudah memakai <i>rain coat</i>. Saking dinginnya, kami sampai menggigil kedinginan meskipun berada di depan kompor gas saat memasak mi instan. Jarak pandang di puncak tertutup kabut yang cukup tebal. Kawah di bawah sama sekali tidak kelihatan. Kawan saya sampai menggerutu karena ia tidak bisa memperoleh foto bagus di sini.

Rupanya hujan dan suhu dingin di sini sudah menelan korban. Di puncak, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang salah seorang dari mereka jatuh sakit sebab tak kuat dingin. Karena khawatir mengalami kejadian yang sama, kami memutuskan untuk langsung turun ke Suryakencana.

Sampai di sini, hujan berhenti. Cuaca cerah. Hamparan bunga edelweis yang segar tampak membentang. Kawan saya, yang menggerutu saat berada di puncak, kini bisa tersenyum dan memotret sepuas-puasnya di padang sabana ini.

Setelah puas, kami langsung melanjutkan perjalanan. Ketika matahari terbenam, kami sudah mencapai hutan di lereng Gunung Putri. Kali ini perjalanan jauh lebih lancar daripada pendakian pertama. Saat itu saya memperkirakan, pukul sembilan atau sepuluh malam, kami sudah mencapai Desa Gunung Putri.

Tapi rupanya dugaan saya meleset. Kejadian tak terduga kami alami di sini. Di tengah hutan itu, kami bertemu dengan tiga orang pendaki yang sedang mengalami musibah. Mereka awalnya mendaki berenam. Di tengah jalan, salah seorang dari mereka muntah darah dan pingsan karena tidak kuat. Tiga orang dari mereka turun mencari bantuan. Pendaki yang pingsan ini dibopong turun. Tinggal mereka bertiga di lereng gunung dan harus turun ke bawah.

Masing-masing orang terpaksa membawa dua tas. Bebannya dua kali lipat lebih berat daripada saat berangkat. Jelas ini bukan perkara gampang karena membuat mereka tak kuat berjalan lama. Sebentar-sebentar harus berhenti. Di tengah perjalanan mereka kehabisan baterai senter sehingga terpaksa harus berhenti di tengah hutan sampai kemudian kami datang.

Beruntung, bekal baterai maupun makanan yang kami bawa masih cukup banyak. Kami kemudian berbagi air dan makanan serta membantu membawakan barang (yang ringan, tentunya) dan menyenteri jalan mereka. Pukul sepuluh malam, salah satu dari mereka mual-mual dan tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan mendirikan tenda di tanah sempit yang tidak rata.

Saat berada di dalam tenda, di tengah malam itu kami mendengar seorang penjual menawarkan nasi uduk. Nasi uduk? Di atas gunung? Ada-ada saja. Dulu, waktu pertama mendaki, kami juga berpapasan dengan penjual nasi uduk. Saat itu saya juga sedang berada di dalam tenda. Jadi tak bisa melihat orangnya. Saya membayangkan betapa beratnya perjuangan penjual nasi uduk itu mencari nafkah. Dia harus naik turun gunung di bawah hujan sambil memanggul nasi uduk hanya untuk mendapatkan beberapa ribu rupiah. Tapi waktu itu tak ada dari kami yang keluar tenda untuk membeli dagangannya.

Satu tenda, yang menurut spesifikasi pabriknya mestinya hanya untuk dua orang, saat itu kami pakai berenam. Semuanya duduk dengan menekuk lulut. Kaki yang sakit menjadi tambah pegal karena harus ditekuk terus-terusan. Kami terus duduk dalam posisi demikian sampai menjelang pukul sembilan pagi karena hujan tak juga reda. Begitu reda, kami langsung mengemasi barang, melanjutkan perjalanan.

Tak butuh waktu lama, hanya satu jam kemudian kami sudah keluar dari hutan. Setelah melewati ladang wortel dan bawang perei, kami sampai di gubuk yang dulu kami pakai untuk istirahat. Begitu bertemu “peradaban”, kami memutuskan berhenti di warung itu untuk minum teh hangat dan pisang goreng. Mungkin karena dua hari lebih kami berjalan terus, rasa teh hangat dan pisang goreng itu nikmat sekali. Saat makan nasi di Desa Gunung Putri pun, semuanya terasa begitu lezat.

Setelah makan, ternyata petualangan kami masih belum berakhir. Ketika mencarter mobil ke Cipanas, kami baru sadar bahwa mobil yang kami sewa itu mobil “BBG” (berbahan bakar gravitasi, bukan bensin). Sepanjang jalan, mesin mobil itu mogok tapi ia tetap berjalan karena rutenya memang menurun terus sampai di Cipanas. Yang membuat saya ketar-ketir, remnya juga bermasalah. Sepanjang jalan, kami mencium bau kampas yang panas. Tiap kali mesin dinyalakan, asap mengepul dari mesin di sisi sopir. Betul-betul gawat!

Tapi untungnya mobil bisa sampai ke Cipanas dengan selamat meskipun mesin sama sekali tidak bisa dinyalakan. Kocaknya, ketika kami turun di Cipanas dan mobil berbalik arah ke atas, mesin kembali menyala normal. Mobil yang aneh!

Petualangan ke Gunung Gede memang selalu tak terduga.

Advertisements

3 thoughts on “Psikotes di Gunung Gede (Bagian Kedua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s