Thamrin – Sudirman [gedabrusan]


Paklek, apakah kau betul-betul paham makna gengsi? Ingatkah Paklek umur berapa engkau mulai mengenal kata ini dan memahami maknanya sebagai sebuah pengalaman kejiwaan?

Hari ini aku duduk di dekat jendela sebuah bis ekonomi yang melewati ruas jalan paling rapi di Jakarta. Di kanan kiriku gedung-gedung tinggi menjulang seperti istana-istana batu yang dipahat kaum Tsamud.

Dari jendela bis, aku melihat orang-orang berpakain rapi keluar dari gedung-gedung batu itu untuk mencari makan siang. Yang laki-laki memakai dasi, necis, klimis, perlente. Kemeja dan celananya tampak baru disetrika tadi pagi. Lipatan kainnya saja masih tajam, mungkin bisa dipakai untuk mengiris gudir Hoen Kwe. Yang perempuan anggun-anggun, memakai pakaian yang berlipit-lipit di pundaknya, entah apa namanya. Sebagian bahkan tampak seksi, seperti para pemain sinetron di televisi.

Tapi tahukah Paklek ke mana mereka pergi makan siang? Mereka tidak makan ke restoran-restoran yang lalat tak berani mendekat ke mejanya, tapi ke warung-warung kakilima di belakang gedung, yang tak beda jauh dengan warung Mpok Cum.

Aku tahu warung-warung tujuan mereka karena beberapa kali aku makan di sana. Saat hendak masuk ke dalam warung, mereka biasanya menggulung lengan kemeja dan memasukkan dasinya ke dalam baju atau menyelempangannya ke belakang pundak.

Aku tak tahu gaji mereka, Paklek. Soalnya aku juga tak paham apakah ada hubungan antara necis baju dengan besarnya gaji. Yang aku yakin, mereka pastilah sedang berjuang melawan sebuah perasaan yang kita kenal sebagi “gengsi” itu.

Kota ini memang penuh ironi, Paklek. Dan aku sendiri adalah bagian dari ironi itu. Di sini aku benar-benar menjumpai bukti bahwa separuh dari hidup kita adalah ironi, dan separuhnya lagi adalah humor.

Dari jalan raya, kami hanya melihat gedung-gedung megah itu. Yang kalau Paklek masuk ke dalamnya, mungkin Paklek akan melepas sandal karena menyangka lantainya suci dan bisa dipakai untuk sembahyang. Saking bersihnya gedung-gedung itu, jika kita buang air besar di WC-nya, kita tidak beristinjak dengan air tapi dengan kertas. Persis seperti kalau kita peper saat buang hajat di ladang.

Semua gedung di sini tampak megah dan bersih seperti itu, baik dari depan maupun dari dalam. Tapi jika kita pergi ke belakangnya, kita akan menjumpai sebuah dunia yang sama sekali lain di mana rumah-rumah kumuh berdiri di pinggir got-got seukuran kali dengan air berwarna hitam mengalir di sana. Sebuah pemandangan yang akan membuat Piala Adipura seperti sebuah sindiran.

Tak jauh dari warung-warung itu, di sebuah halte yang penuh, aku melihat orang-orang yang tampak tidak bahagia dengan transaksi tawar-menawar dalam hidup mereka. Sebagian dari mereka kelihatannya sedang mencari kerja. Mungkin perasaan seperti yang aku alami inilah yang dulu menginspirasi Iwan Fals menggubah lagu Sarjana Muda, sebuah senandung yang bagiku terdengar lebih seperti sebuah maskumambang itu.

Tapi tidak semuanya tampak kurang bahagia, Paklek. Sebagian yang lain kelihatan begitu bersemangat menjalani hidup mereka. Mungkin karena mereka sudah mengikuti pelatihan seratus jam tentang Cara Membuat Uang Mengejar-ngejar Kita Sampai Kita Jatuh Sakit. Atau, mungkin saja pelatihan motivasi tentang Cara Menghipnotis Orang Lain Supaya Mereka Bisa Kita Tipu dan Mau Membeli Dagangan Kita.

Paklek tak usah heran. Urusan hipnotis yang aku ceritakan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan gendam, ilmu hitam yang biasa dipakai pencoleng untuk membegal korbannya. Kapan-kapan akan aku terangkan lebih jelas. Untuk saat ini, Paklek berdoa saja supaya suatu saat bisa berkunjung ke Jakarta. Nanti aku akan dengan senang hati mengajak Paklek berjalan-jalan di sini, menyusuri ruas jalan yang sedang aku ceritakan ini. Tolong juga katakan kepada Emak, kapan-kapan aku ingin difoto dalam pakaian necis seperti mereka, dan mengirimkan fotonya buat Emak. Dia pasti akan pangling denganku.

Advertisements

2 thoughts on “Thamrin – Sudirman [gedabrusan]

  1. emshol said: Cara Membuat Uang Mengejar-ngejar Kita Sampai Kita Jatuh Sakit. Atau, mungkin saja pelatihan motivasi tentang Cara Menghipnotis Orang Lain Supaya Mereka Bisa Kita Tipu dan Mau Membeli Dagangan Kita.

    –> jangan buka rahasia perusahaan dong, mas emshol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s