Muhammad Mulja

Masih kuingat dulu, Tuan, ketika aku datang ke rumahmu di sebuah siang. Kukayuh pedal sepeda federal pinjaman seorang kawan, kutempuh jarak belasan kilometer di bawah hujan hanya untuk menemuimu dan minta tanda tanganmu. Dan ketika aku sampai di depan pagar pintu rumahmu, kau menyambutku dengan wajah merah menahan marah. Tanpa basa-basi kau bilang kesal menungguku sambil menonton siaran tinju. Tahukah, Tuan, betapa gentarnya diriku waktu itu?

Tapi setelah itu kau hibur aku dengan ceritamu. Saat kau masih menjadi mahasiswa, seminggu sekali pedal sepedamu terasa berat dikayuh tiap kali kau berangkat untuk praktikum resep. Sebuah cerita yang sangat lucu. Sangat tidak harmoni dengan potongan badanmu yang gempal tinggi besar.

Masih kuingat dulu, Tuan, tiap kali kau masuk ruang kuliah, aku selalu memperhatikan sepatumu yang selalu mengeluarkan suara desis udara mampat yang terjebak di antara solnya. Dengan suaramu yang selalu menggelegar dan berapi-api, selesai menjelaskan cara kerja tabung katoda, kau tak pernah lupa mengajak kami menertawakan para penggemar sinetron, termasuk istrimu sendiri, yang terisak-isak di depan tivi. Keluar dari kelas, aku mungkin segera lupa dengan materi kuliahmu, tapi aku tak pernah melupakan bagian terakhir tentang sinetron itu.

Semua kuliahmu terdengar seperti khotbah di telingaku. Tiap kali berada di kelasmu, aku merasa seolah-olah seluruh bangunan ilmu pengetahuan ditegakkan di atas kimia analisis, bukannya filsafat. Seolah-olah cabang ilmu lain hanyalah rongsokan benda-benda tak berguna yang harus ditenggelamkan ke dasar Samudera Pasifik. Apakah kau masih suka menggunakan kata-kata ini menjelang akhir hayatmu, Tuan?

Semangatmu, Tuan. Itu yang selalu aku kagum darimu. Bahkan, kudengar katanya kau masih bersemangat mengajar ketika kau mestinya berada di kamar periksa dokter. Benarkan itu, Tuan? Aku sama sekali tidak heran mendengarnya karena aku yakin kau pun tak akan keberatan menghabiskan hidupmu untuk membuktikan bahwa A sama dengan nol. Apakah kau sudah membuktikannya, Tuan, menjelang kematianmu?

Hidupmu bukan sebuah sinetron. Kini orang-orang yang kau cintai punya alasan untuk menangis, dan kami juga punya alasan untuk berdoa dan berbela sungkawa.

Advertisements

2 thoughts on “Muhammad Mulja

  1. Pesan yg selalu beliau katakan setelah menyampaikan materi “printed in the heart and save in the bone”.Beliaulah yg paling rajin menegur “memarahi” kami yang sering duduk memenuhi anak tangga..Yang paling tak terlupakan, usaha ramahku thd beliau selama 5 tahun tak sekalipun terbalas, tetep so cool and no expression.. :)Whatever, doa kami menyertai kepergianmu, bapak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s