Bedah Otak untuk Gangguan Jiwa [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Penderita gangguan jiwa kini punya pilihan terapi baru. Namanya <i>psychosurgery</i>. Operasi saraf otak untuk mengatasi kelainan psikis. Teknik ini bisa dilakukan untuk mengobati berbagai jenis gangguan mental seperti skizofrenia, <i>obsessive compulsive disorder</i> (kecemasan yang berlebihan), depresi, sampai kecanduan narkoba.

Di cabang ilmu bedah saraf, sebetulnya <i>psychosurgery</i> bukan metode yang sama sekali baru. Di negara-negara yang ilmu kedokterannya relatif maju, misalnya di Amerika Serikat atau Cina, teknik ini sudah biasa dilakukan. Tapi di Indonesia, teknik ini bisa dibilang masih benar-benar baru.

Selama ini, gangguan jiwa biasanya diatasi dengan terapi farmakologis (menggunakan obat-obatan) dan psikoterapi (oleh psikiater). Teknik <i>psychosurgery</i> menawarkan pilihan lain yang juga sama-sama efektif. Terutama pada kondisi ketika obat-obatan sudah tidak bisa lagi diandalkan.

Metode terapi ini didasarkan pada fakta bahwa semua gangguan jiwa prosesnya terjadi di otak. Jika bagian otak yang menyebabkan gangguan itu bisa dimanipulasi, maka otomatis gangguan jiwa pun bisa dikendalikan. Ini bukan sekadar teori, tapi memang sudah terbukti secara klinis. “Tingkat keberhasilannya 80 – 90%,” kata dr. Alfred Sutrisno, Sp.BS, ahli bedah saraf Rumah Sakit Omni Internasional, Tangerang.

Otak, seperti yang kita tahu, merupakan pusat pikiran yang mengatur semua sikap dan kerja organ tubuh. Organ yang punya peran sangat vital ini tersusun dari miliaran sel-sel saraf. Sel-sel inilah yang bertanggung jawab terhadap timbulnya aneka gangguan kejiwaan, termasuk depresi, skizofrenia, kecemasan yang berlebihan, dan sebagianya.

Tiap-tiap gangguan jiwa ditandai dengan abnormalitas fungsi sel otak di daerah tertentu. Tempatnya berbeda-beda, sesuai dengan jenis gangguan jiwanya. Dengan alat pemindai MRI (<i>magnetic resonance imaging</i>) yang canggih, lokasi yang mengalami abnormalitas ini bisa ditentukan posisinya dengan tepat.

Sebelum menjalani <i>psychosurgery</i>, pasien menjalani pemindaian dengan MRI ini untuk mengetahui lokasi yang akan dioperasi. Lokasinya harus benar-benar tepat untuk menghindari salah sasaran. Jika sasaran meleset sedikit saja, maka operasi bisa berakibat fatal. Akibat buruknya tergantung dari lokasi otak yang menjadi korban salah sasaran itu.

Jika kebetulan korban salah sasaran itu adalah pusat bicara, maka setelah operasi, pasien bisa menjadi sulit diajak <i>ngomong</i>. Jika pusat gerak yang jadi korban, maka pasien bisa lumpuh. Jika yang kena adalah pusat berpikir, maka begitu keluar dari ruang operasi pasien akan menjadi linglung.

Karena alasan inilah, maka operasi bedah saraf ini harus dilakukan dengan kecermatan ekstra. Dokternya harus sangat teliti. Alatnya pun harus akurat. Kecanggihan dan akurasi MRI sangat menentukan hasil operasi. “Tapi kemungkinan salah sasaran itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena MRI sekarang canggih sekali, bisa menentukan lokasi yang harus dioperasi dengan ketepatan yang sangat tinggi,” jamin Alfred.

Pemindaian dengan MRI ini akan menghasilkan data berupa angka-angka yang menunjukkan lokasi sasaran dalam tiga dimensi. Data ini meliputi jarak, sudut, kemiringan, kedalaman, dan parameter koordinat lainnya. Selanjutnya angka ini digunakan untuk menyetel stereotactic, alat navigasi yang akan membimbing operasi menuju sasaran secara tepat.

Setelah itu, dokter akan membuat dua lubang kecil untuk menembus tengkorak pasien. (Selesai operasi, lubang ini dijahit lagi.) Lewat lubang ini, alat operasi dimasukkan. Dokter melakukan operasi dengan bantuan data-data hasil MRI tadi.

Pada saat operasi berlangsung, pasien dalam keadaan sadar. Ia hanya menjalani bius lokal, bukan bius total. Pada <i>psychosurgery</i> yang canggih, operasi dilakukan dengan bantuan komputer. Dokter tahu lokasi yang dituju dengan bantuan grafik di komputer. Pada <i>psychosurgery</i> yang lebih manual, alat operasi berbentuk mirip jarum yang dimasukkan ke dalam otak. Begitu sampai di lokasi yang dituju, alat ini akan mengeluarkan gelombang elektromagnetik. Gelombang ini akan membakar sel saraf yang bertanggung jawab terhadap gangguan kejiwaan yang diderita pasien. Baik yang menggunkan komputer maupun yang manual, hasilnya sama-sama akurat.

<b>Mengobati kecanduan</b>

Selain bisa untuk mengatasi skizofrenia dan gangguan psikiatri sejenisnya, <i>psychosurgery</i> juga bisa digunakan untuk mengatasi parkinson, epilepsi, dan anoreksia (gangguan nafsu makan). Belakangan juga terbukti teknik ini bisa digunakan untuk mengatasi kecanduan narkoba. Pengembangan <i>psychosurgery</i> untuk mengatasi masalah-masalah ini pun dasar pemikirannya masih sama. Bahwa semua masalah psikiatri di atas dikendalikan di otak. Tak terkecuali problem kecanduan narkoba.

Kata Alfred, seorang pecandu mengalami dua jenis ketagihan, yaitu ketagihan farmakologis terhadap obat dan ketagihan psikis. Kecanduan jenis kedua ini terjadi karena di dalam otaknya ada mekanisme yang disebut sebagai <i>reward system</i>. Mekanisme inilah yang menyebabkan pecandu terus membutuhkan narkoba. Proses ini terjadi di otak. Sel saraf yang mengendalikannya berbeda dengan sel saraf yang bertanggung jawab terhadap gangguan mental lain, misalnya skizofrenia. Jika sel saraf yang mengatur <i>reward system</i> ini diblok, maka kecanduan pun bisa disetop.

Tidak semua jenis penyakit jiwa bisa diobati dengan terapi ini. Namun, penyakit-penyakit dan gangguan psikiatri yang disebut di atas pada umumnya bisa diobati dengan <i>psychosurgery</i>. Tingkat keberhasilannya sama, sekitar 80 – 90%. Angka keberhasilan ini terhitung cukup tinggi untuk sebuah operasi yang perlu ketelitian ekstra seperti <i>psychosurgery</i>.

Kedudukan terapi ini bukan menggantikan terapi yang sudah ada, yaitu terapi farmakologis dan psikoterapi. Tidak semua jenis gangguan mental di atas perlu ditangani dengan <i>psychosurgery</i>. Teknik ini hanya dilakukan setelah melalui pertimbangan yang ketat oleh psikiater. Misalnya karena penyakitnya sudah parah dan obat-obatan sudah tidak mempan.

Sesudah operasi, pasien tidak otomatis akan seratus persen meninggalkan obat-obatan yang sebelumnya diminum. Bisa saja kemungk
inan ini terjadi. Tapi yang lebih mungkin, ia masih meneruskan minum obatnya tapi dengan dosis yang lebih kecil.

Di Indonesia, terapi ini masih sama sekali baru. Salah satu faktornya karena biayanya cukup mahal. Sekali tindakan <i>psychosurgery</i>, dokter harus menggunakan alat pembakar sel saraf yang sekali pakai harus dibuang. Harganya sekitar AS $3.000,-. Hampir Rp30 juta. Biaya rumah sakitnya sekitar Rp50 juta. Total jenderal untuk sekali tindakan membutuhkan biaya sekitar Rp80 juta. Cukup mahal untuk orang kebanyakan. Tapi untuk seorang pecandu kelas berat, biaya ini bisa lebih murah daripada biaya material dan imaterial yang harus dikeluarkan karena kecanduannya.

Selain mahal, operasi ini juga masih menyisakan risiko kegagalan sebesar 10 – 20%. Secara berkelakar, Alfred mengatakan risiko gagal bisa terjadi bukan hanya sesudah operasi, tapi bisa juga sebelum operasi dilakukan. Seperti yang ia alami ketika hendak melakukan <i>psychosurgery</i> pada seorang penderita skizofrenia. Waktu itu keluarga pasien juga sudah menyetakan persetujuannya. Pasien sendiri juga sudah menyatakan bersedia. Maklum, seorang penderita skizofrenia biasanya bisa diajak bicara secara normal jika ia tidak sedang kumat. Tindakan operasi juga sudah dijadwalkan. Tapi menjelang operasi, ternyata si pasien kabur. Walhasil, operasi pun gagal di tahap paling awal.

Boks-1:

Rawan Kesalahan dan Penyalahgunaan

Sejauh ini negara yang paling banyak melakukan <i>psychosurgery</i> adalah Cina. “Cina sekarang maju sekali kedokterannya. Kita kalah jauh,” kata Alfred membandingkan dengan Indonesia. Selain karena teknologinya cukup maju, Cina juga menerapkan aturan yang relatif lebih longgar.

Di seluruh dunia, tindakan <i>psychosurgery</i> dilakukan di bawah pengawasan yang sangat ketat. Lebih ketat daripada operasi-operasi jenis lainnya. Beberapa negara bahkan punya lembaga khusus yang mengatur regulasinya. Wajar saja, operasi ini menyangkut otak, organ vital yang sangat rawan. Jika dokternya tidak kompeten, akibatnya bisa fatal. Jika operasi salah sasaran, pasien bisa mendapat problem baru.

Selain itu, operasi ini juga rawan disalahgunakan. Jika dokternya tidak bertanggung jawab, ia bisa saja mengubah otak pasien sesuai keinginannya. Dengan ilmunya, dokter bisa dengan sengaja merusak pusat bicara atau pusat gerak pasien, misalnya. Sesudah operasi, pasien bisa lumpuh atau tidak bisa bicara.

Boks-2:

Menipu Otak

Salah satu teknik lain bedah saraf yang masih “saudara kandung” <i>psychosurgery</i> adalah pemasangan alat neuromodulator di otak. Ini alat khusus yang ukurannya sangat kecil, fungsinya menyetop sinyal rasa sakit yang dikirimkan oleh organ tubuh ke otak. Dengan kata lain, alat ini bekerja “menipu” otak sehingga ia tidak bisa lagi menerima sinyal nyeri.

Pemasangan neuromodulator ini misalnya dilakukan pada penderita <i>back pain</i> (istilah awamnya, saraf kejepit) yang sudah tidak bisa ditolong dengan bedah saraf biasa. Seperti kita tahu, penderita <i>back pain</i> ini merasakan nyeri akibat sarafnya terjepit oleh bantalan tulang belakang. Gangguan ini biasanya diterapi dengan bedah saraf biasa. Pada kondisi tertentu, tindakan bedah saraf tidak bisa lagi menyelesaikan masalah ini. Operasi sudah dilakukan, kadang sampai beberapa kali, tapi nyeri tetap saja tidak hilang. Bahkan kadang tambah parah. Pada kondisi itulah, pemasangan neuromodulator bisa menjadi pilihan.

Dengan adanya neuromodulator, sinyal rasa nyeri yang berasal dari tulang belakang diblok sehingga tidak sampai ke otak. Penderita tidak lagi disiksa oleh rasa nyeri hebat. Fungsi alat ini hanya menyelesaikan masalah nyeri. Saraf yang terjepit masih tetap terjepit. Tapi setidaknya penderita bisa hidup normal karena tidak lagi tersiksa oleh nyeri yang tak tertahankan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s