Perlu Dokter? Telepon Saja [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin
Sergey Brin, salah satu pendiri Google, tak berlebihan ketika sesumbar bahwa teknologi informasi akan menyebabkan revolusi besar dalam cara hidup manusia. Buktinya bisa kita lihat sekarang. Teknologi ini merasuk ke hampir semua bidang kehidupan. Tak terkecuali dunia kedokteran. Di masa depan, perkawinan antara teknologi informasi dan layanan kesehatan akan menciptakan pola baru hubungan dokter-pasein. Kalau pasien perlu dokter, ia cukup mengangkat telepon atau menyalakan komputer pribadi.
Cikal bakal babak baru layanan kedokteran semacam ini sudah bisa kita lihat sekarang dengan adanya layanan telemedisin (<i><i
style=””>telemedicine</i>). Di Indonesia, salah satu rumah sakit yang memelopori layanan ini adalah Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Nasional (PJN) Harapan Kita, Jakarta.
Di rumah sakit ini terdapat layanan telekardiologi, pemeriksaan jantung jarak jauh. Layanan ini mengawinkan teknologi informasi dengan teknologi medis di bidang elektrokardiografi (EKG, rekam jantung). Dengan layanan ini, seorang pasien yang berada di rumahnya bisa melakukan pemeriksaan EKG secara swalayan.
Di layanan kedokteran konvensional, seorang pasien yang hendak menjalani pemeriksaan EKG harus datang ke rumah sakit atau ke laboratorium klinik. Di sana ia harus ikut antre dengan pasien lain. Mungkin butuh waktu sampai beberapa jam.

<div
class=”MsoNormal”>Dengan telekardiologi, semua jalur yang panjang itu bisa dipangkas. Cukup seperempat jam saja. Ketika, misalnya, pasien merasa nyeri dada saat berolahraga di rumah, ia bisa melakukan pemeriksaan sendiri rekam jantungnya dengan alat yang namanya EKG-TT. Alat ini hanya seukuran genggaman tangan. Bobotnya hanya 140 g, panjangnya 109 cm. Sedikit lebih besar daripada ukuran rata-rata telepon genggam masa kini.

Cara penggunaan EKG-TT ini pun relatif gampang. Bisa dilakukan oleh kebanyakan orang awam. Tak perlu didampingi tenaga medis. Alat ini punya tiga elektrode. Ketiganya cukup ditempelkan di dada dan perut. Lalu detak jantung direkam dengan cara EKG-TT ditempelkan ke bagian-bagian tertentu dada. Proses perekaman hanya butuh waktu satu menit. Rekaman ini langsung tersimpan di dalam EKG-TT sebagai data suara.

<div
class=”MsoNormal”>Setelah itu, pasien bisa mengirim hasil rekaman itu ke <i>call center</i> Telekardiologi Nasional di PJN Harapan Kita. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan telepon. Proses pengiriman data juga hanya membutuhkan waktu satu menit. Di PJN Harapan Kita, sinyal suara ini kemudian diubah menjadi grafik elektrokardiogram dengan menggunakan <i>software</i> khusus. “Hasilnya sama dengan EKG biasa,” kata Rosita Akip, dari Bagian Telekardilogi Nasional PJN Harapan Kita.

<b>Telekardiologi ini merupakan layanan 24 jam. Jadi, kapan pun pasien merasa perlu memeriksa jantungnya, di PJN Harapan Kita selalu ada petugas pengolah data dan dokter ahli jantung yang berjaga</b>. Setelah elektrokardiogram dicetak, dokter akan membaca dan memberikan interpretasi atas hasil pemeriksaan
jarak jauh itu. Jika diperlukan, dokter bisa langsung bicara kepada pasien.
Hasil interpretasi dokter ini dalam bentuk laporan tertulis, seperti yang kita dapat saat melakukan pemeriksaan EKG di rumah sakit atau laboratorium klinik. Hasil ini kemudian akan langsung dikirim balik kepada pasien lewat faks. Bisa faks rumah, jika ada, atau klinik langganannya. <b>Total waktu yang dibutuhkan mulai dari perekaman, pengiriman, pengolahan, dan pemeriksaan dokter hanya sekitar seperempat jam! Jauh lebih cepat daripada jika pasien harus datang ke rumah sakit</b>.
<b>Penting di saat genting</b>
Layanan telekardiologi ini terutama sangat berguna pada kondisi darurat, misalnya pada saat pasien mengalami serangan jantung. Dalam
keadaan darurat seperti itu, keselamatan jiwa pasien jelas sangat ditentukan oleh kecepatan penanganan. Makin cepat pasien ditangani, makin besar kemungkinan jiwanya bisa diselamatkan.
Dengan pemeriksaan jarak jauh, pasien bisa mengetahui kesehatan jantungnya hanya dalam tempo seperempat jam. Setelah itu, dengan petunjuk dari dokter telekardiologi, ia bisa langsung memutuskan tindakan apa yang harus ia lakukan saat itu juga.
Di layanan konvensional, ketika pasien mengalami serangan jantung, mungkin ia akan butuh waktu berjam-jam sampai ia mendapatkan penanganan dokter. Mungkin saja saat itu, masa emas penanganannya sudah lewat. Dengan bantuan telekardiologi, waktu pemeriksaan bisa dipersingkat. Sehingga kalaupun pasien harus dibawa ke rumah sakit, dengan berbekal hasil tele-EKG itu, begitu sampai di
sana ia bisa langsung mendapatkan penanganan.
Layanan telekardiologi ini hanya salah satu contoh aplikasi telemedisin. Masih banyak lagi aplikasi layanan kesehatan jarak jauh lainnya. Contoh lain yang juga sudah dilakukan di rumah sakit di Indonesia adalah teleradiologi, pemeriksaan radiologi jarak jauh. Seperti yang sudah dicoba di RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta dan RS Internasional Omni, Tangerang.
Layanan ini sangat berguna, misalnya, buat pasien yang terkena serangan stroke. Terutama jika serangan stroke terjadi ketika dokter spesialis tidak berada di rumah sakit, misalnya pada tengah malam.
Dengan teleradiologi, begitu pasien sampai di rumah sakit, ia bisa langsung menjalani pemeriksaan radiologi CT-<i>scan</i> dan EKG. Hasil pemeriksaan ini kemudian dikirimkan dalam bentuk digital lewat <i>email</i> kepada dokter-dokter yang terkait. Dokter akan menganalisis hasil pemeriksaan itu dari komputer pribadinya. Mereka bisa saling berdiskusi lewat jaringan komunikasi biasa. Sehingga, ketika dokter bedah saraf tiba di rumah sakit, pasien sudah dipersiapkan menjalani operasi. Dengan cara ini, proses penanganan pasien bisa dilakukan dengan cepat tanpa membuang banyak waktu.
<b>Sekali lagi di sini jelas sekali peranan telemedisin dalam penangan pasien gawat darurat. Dengan teknologi informasi, jarak bukan halangan, waktu bisa dihemat.</b>

<div
class=”MsoNormal”>

<b>Manajemen bencana</b>
Selain telekardiologi dan teleradiologi, sebetulnya masih banyak aplikasi “tele-tele” yang lain. Bentuknya sama, yaitu penggabungan teknologi layanan kesehatan dengan teknologi informasi. Tapi di Indonesia, layanan “tele-tele” yang lain ini masih belum begitu populer karena memang layanan ini membutuhkan investasi yang besar.
Salah satu negara yang cukup maju di bidang telemedisin adalah Norwegia. Di sana, telemedisin merupakan program nasional. Norwegia mengembangkan layanan ini karena pola penyebaran penduduknya yang terpencar-pencar. Daripada harus membangun banyak pusat layanan kesehatan, negara ini lebih memilih memanfaatkan teknologi informasi.
<span
style=””> Pemerintah hanya membangun rumah sakit dengan layanan dokter spesialis di wilayah-wilayah tertentu saja. Di wilayah yang tidak memiliki layanan spesialis, dibangun layanan kesehatan telemedisin.
Jika ada warga yang sakit, ia bisa ditangani oleh petugas kesehatan yang buka praktik di dekat tempat tinggalnya. Petugas kesehatan tidak selalu dokter. Bisa saja perawat. Petugas kesehatan itu bisa berkonsultasi jarak jauh dengan dokter spesialis. Dokter konsultan bisa melihat kondisi pasien lewat tampilan video secara <i>real time</i>. Seperti saat kita berkomunikasi menggunakan ponsel video 3G tapi dengan monitor yang lebih besar.
Ini memang kelebihan telemedisin yang tidak bisa dilakukan di layanan kesehatan konvensional. <b>Dengan bantuan jaringan
komunikasi, layanan dokter kepada pasien bisa dilakukan dari tempat yang jaraknya puluhan kilometer</b>.
Di Indonesia, layanan semacam ini pernah dilakukan oleh RS Hasan Sadikin dan RS Mata Cicendo di Bandung setelah terjadinya musibah tsunami di Aceh. “Salah satu manfaat telemedisin itu memang untuk <i>disaster management</i>,” kata Dr. dr. Johan Harlan, MSc, Kepala Pusat Studi Informatika Kedokteran Universitas Gunadarma, Jakarta. Dengan bantuan telemedisin, dokter spesialis tidak perlu dikerahkan dalam jumlah banyak ke lokasi bencara yang sulit dijangkau.
Pada saat itu kedua rumah sakit di Bandung tersebut bekerja sama dengan RS Zainul Abidin di Banda Aceh. Sekalipun kedua
kota ini jaraknya beberapa ribu kilometer, ketiga rumah sakit itu bisa melakukan layanan kesehatan terpadu secara <i>online</i> dengan bantuan jaringan komunikasi. Jadi, saat ada pasien yang mengalami patah tulang di Banda Aceh, foto ronsen tulangnya bisa dikirim secara digital ke rumah sakit di Bandung. Lalu lewat telekonferensi, dokter di Bandung akan memberikan instruksi langsung kepada tenaga medis di Banda Aceh untuk melakukan tindakan yang diperlukan.
Dengan bantuan teknologi informasi, jarak bukan faktor yang berarti. Bandung – Aceh bukan masalah. Pada layanan telekardiologi PJN Harapan Kita, pasien yang sedang menunaikan haji di Mekah pun bisa mengirimkan rekam jantungnya ke Jakarta.
Bahkan di negara-negara berteknologi luar angkasa, jarak yang bisa diatasi dengan telemedisin bukan hanya jarak antarkota atau antarnegara, tapi jarak antara Bumi dan antariksa.
Ini merupakan bentuk lain aplikasi telemedisin. Pada saat peluncuran pesawat luar angkasa, cukup satu orang saja tenaga medis yang ikut dalam rombongan astronaut. “Kalau semua dokter ikut, rombongannya ‘kan jadi terlalu banyak orang,” canda Johan. Jika ada masalah kesehatan di antariksa, tenaga medis ini bisa melakukan telekonsultasi dengan dokter ahli di Bumi.
Telemedisin ini juga berguna di bidang militer atau misi eksplorasi daerah terpencil. Dengan bantuan jaringan komunikasi, misalnya lewat satelit, tak perlu terlalu banyak dokter yang diterjunkan ke
medan perang. Cukup beberapa orang saja. Kalau ada masalah, dokter di medan perang ini bisa melakukan telekonsultasi dengan dokter ahli di rumah sakit.
Sebagai sebuah terobosan di layanan kesehatan, telemedisin bukan sekadar gagah-gagahan. Ia adalah kebutuhan. Di masa depan, mau tidak mau, layanan kesehatan harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika tidak, para dokter akan tertinggal di belakang revolusi teknologi informasi yang terus melesat tanpa bisa dibendung.
Boks:
Alat Bisa
Dipinjam
Layanan telekardiologi di PJN Harapan Kita bisa menjangkau seluruh Indonesia. “Asalkan tersambung dengan jaringan telepon tetap,” kata Deniel Bey, staf PT Telemedikalindo, pemasok alat EKG-TT. Untuk wilayah Jabodetabek, pasien atau dokter praktik bisa menjadi anggota Telekardiologi Nasional dengan cara meminjam alat EKG-TT dari PJN Harapan Kita. Biaya pemeriksaan Rp2 juta untuk satu tahun atau 50 kali pengiriman data.Untuk wilayah non-Jabodetabek, anggota harus membeli sendiri alat EKG-TT. Harganya Rp5 juta. Biaya pemeriksaannya sama dengan wilayah Jabodetabek.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s