Wang (2)




Nak, tidak ingatkah dulu engkau lahir dalam keadaan telanjang? Dan segera setelah itu, saat kau masih belum bisa membedakan baik dan buruk, saat kau masih belum bisa menyebut nama-nama benda, kau sudah mulai belajar cara memiliki dan menguasai benda-benda itu dari tangan orang lain.
Kini, ketika kau mulai mampu membeli, kau mengumpulkan benda-benda di dalam liang tempat tinggalmu seperti tikus yang menimbun biji-bijian. Lalu ketika kau merasa tempatmu terlalu penuh dengan benda-benda yang sebetulnya tidak kau perlukan semuanya, kau merasa tempat tinggalmu terlalu sempit. Kemudian kau menginginkan sebuah tempat yang lebih besar, yang sebetulnyajuga tidak terlalu kau perlukan. Lalu ketika kau merasa tempat tinggalmu terlalu jauh, kau mulai menginginkan kendaraan yang lebih nyaman.
Dan begitu seterusnya, kau tak akan berhenti. Kau akan semakin dikuasai oleh keinginan-keinginan. Kamu akan terus menghabiskan waktumu untuk mengumpulkan alat tukar serbaguna yang bisa kau gunakan untuk membeli benda-benda itu. Sampai suatu titik, ketika sebuah nasihat datang dalam hidupmu, kau akan bertanya heran, “Apakah ada yang salah denganku?”
Tidak ada, Nak. Sama sekali tidak ada yang salah denganmu. Kau hanya terlalu sibuk sampai lupa dengan janjimu yang pernah kau ucapkan dulu. Masing ingatkan, engkau, Nak?



Advertisements

3 thoughts on “Wang (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s