“Kerajaan” Soto Kadipiro [jajan jogja]

Yogyakarta punya tradisi kuliner yang lengkap, tak terkecuali dalam urusan soto. Kota ini punya soto ayam maupun soto daging sapi. Dalam urusan soto ayam, barangkali tak ada yang bisa menandingi ketenaran soto kadipiro. Di Yogya, nama kadipiro seolah menjadi nama generik soto ayam yang dijamin enak.

Cerita tentang kadipiro adalah cerita tentang “kerajaan soto” yang didirikan Karto Wijoyo. “Bapak saya mulai berjualan soto tahun 1921,” kata Widadi Dirjo Utomo, anak sekaligus penerus dinasti Karto Wijoyo. Tahun 1972, setelah bapaknya meninggal dunia, Widadi meneruskan usaha soto di tempat yang sama. “Saya anak sulung dari empat bersaudara tapi soto saya bukan soto sulung,” katanya membuat guyonan.

Jelas saja beda. Soto sulung berasal dari tradisi kuliner Madura, memakai daging sapi. Sementa soto kadipiro asli Ngayogyakarta, memakai daging ayam. Sotonya bening, tidak memakai santan. Kaldunya juga tidak banyak mengandung minyak.

Rasanya <i>soft</i>. Gurih kaldunya segar, bukan gurih yang berasal dari rempah yang pekat. “Bumbunya biasa saja,” kata Widadi. Sesuai tradisi Yogya, nasi tidak dihidangkan di piring yang terpisah tapi “ditenggelamkan” di dalam kuah soto bersama daging ayam, bawang goreng, daun seledri, tauge, dan potongan perkedel kentang.

Kalau tidak suka makan nasi yang terendam kuah, kita bisa pesan di awal agar nasinya dipisah di piring tersendiri. Jika tidak begitu, nasi selalu dicampur ke dalam kuah. Nasinya tidak begitu banyak tapi cukup mengenyangkan untuk ukuran perut kebanyakan orang. Kalau masih kurang, dua mangkuk soto tidak akan membuat kita kelengar. Tak perlu takut bayar terlalu mahal. Satu mangkuk hanya Rp7.500,-.

Daging yang dipakai selalu ayam kampung. Bukan ayam potong. Ayam-ayam itu dipasok secara khusus, tidak dibeli dari pasar pasar. Hanya ayam sehat yang dipakai. “Sebetulnya saya sudah melanggar kebiasaan Bapak,” kata Widadi. Pada masa bapaknya, hanya ayam babon (betina) yang dipakai karena dagingnya lebih enak daripada ayam jantan. Tapi sekarang, karena keterbatasan pasokan, Widadi memakai ayam betina maupun jantan. Ia juga tetap mempertahankan cara masak zaman dulu dengan memakai kayu bakar dan arang, bukan kompor.

Bangunan warung ini berupa rumah kayu yang kuno. Semua dinding, pintu, jendela, dan tiangnya masih berbahan kayu jati. Interiornya terkesan sederhana, apa adanya. Sangat Yogya sekali. Dindingnya ditempeli aneka macam lukisan, foto, dan puluhan almanak. Di langit-langit ruangan, di samping kipas angin, juga tergantung sangkar-sangkar burung. Tapi tak usah khawatir kecipratan air karena sangkar-sangkar ini hanya hiasan, tak ada penghuninya.

Di dinding warung terdapat sebuah tulisan yang bisa membuat kita tersenyum: <i>Silakan merokok sepuas-puasnya</i>. Seolah menegaskan kepada para pengunjung bahwa mereka sedang berada di Yogya, kota plesetan. Tapi Widadi menegaskan ini bukan bentuk pembangkangan terhadap peringatan pemerintah di bungkus rokok. Ini hanya bentuk solidaritas terhadap sesama perokok yang biasanya merasa ada sesuatu yang kurang kalau tidak mengisap rokok sehabis makan. “Tapi merokok itu tetap tidak baik,” katanya membolak-balik logika sambil ketawa terkekeh-kekeh.

Warung ini buka mulai pukul 08.00 pagi. Satu jam setelah buka, Soto Kadipiro langsung ramai pengunjung. Rombongan pembeli terus mengalir sampai jam makan siang. Tapi tak perlu takut kehabisan tempat karena jumlah meja kursinya bisa muat sekitar 80-an orang. Yang justru lebih perlu dikhawatirkan adalah soto habis.

Dalam mencari rezeki lewat jualan soto, Widadi menerapkan falsafah sekadarnya. Yogya sekali. Ia selalu membatasi jumlah dagangannya. Di hari biasa, ia memotong 100 ekor ayam. Di hari ramai, misalnya di akhir pekan, ia memotong 200 ekor ayam. Jika soto habis, warung akan segera tutup sekalipun masih pukul 12.00 siang.

Warung ini terletak di Jalan Wates No. 33, Yogyakarta. Dari pusat kota ke arah Wates, rumah makan bercat hijau ini terletak di sebelah kanan jalan. Selain warung ini, di kota Yogyakarta, masih ada beberapa warung yang juga menggunakan nama Soto Kadipiro. Yang unik, masing-masing rumah makan itu bukan merupakan cabang dari satu induk. Jadi, rasanya jelas berbeda. Warung-warung ini milik saudara-saudara Widadi. Karena masih satu keluarga, tidak ada perkara soto kadipiro asli dan palsu meskipun juga tidak ada hubungan satu sama lain. Ini hanya perkara kelanjutan dinasti Karto Wijoyo. (emshol)

Soto Kadiprio

Jln. Wates No. 33, Yogyakarta.

Telp. 0274 – 618722

Harga Rp7.500 per porsi

Buka mulai pukul 08.00 – habis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s